“momen terpanggil”

Coba dengarkan monolog singkat dari Anies Baswedan (AB) itu. Mulai detik awal sampai menit 4 detik 20. Itu semua omongan yang umum, mungkin hampir tidak ada bedanya dengan sharing ahli politik atau calon presiden lainnya. Suatu omongan yang normatif sifatnya…

Namun omongan di awal itu menjadi berbeda, menjadi berisi, menjadi bermakna, setelah kita mendengarkan sharing personal AB mulai menit 4 detik 21 dan seterusnya.

***

Saya tuliskan ulang apa yang disharingkan oleh AB mulai menit 4 detik 21:

“Ini cerita pribadi. Mungkin bagi orang lain cerita ini dirasa tidak terlalu penting. Namun bagi saya (pengalaman) ini mendasar.

Jadi pada tanggal 17 Agustus kemarin, saya hadir di upacara peringatan 17 Agustus di Istana Merdeka. Waktu itu bukan saya yang diundang. Saya hadir mewakili ahli waris AR Baswedan, (almarhum) kakek saya. Jadi yang diundang adalah ahli waris. Saya datang ke sana karena saya yang berada di Jakarta. Lalu (saya) mengikuti upacara itu, dan bendera itu dinaikkan ke atas dengan (diiringi lagu) Indonesia Raya. Dalam hitungan menit (bendera itu) sampai di puncak.

Pada saat proses (pengibaran bendera) itu terjadi saya lalu membayangkan (bahwa) saya berdiri di sini mewakili kakek saya yang menghibahkan seluruh hidupnya untuk perjuangan menaikkan bendera itu. Bendera itu bisa sampai ke puncak tiang karena adanya “iuran” darah, “iuran” tenaga, “iuran” nyawa jutaan orang Indonesia, dan waktu itu kakek saya termasuk dalam proses (perjuangan/iuran) itu. Dan saya berdiri di sini mewakili beliau di tempat itu. (Saat itu) Muncul dalam benak saya tentang almarhum AR Baswedan.

Pada saat itu saya harus memutuskan apakah saya harus menerima tawaran untuk mengikuti konferensi atau tidak. Ini adalah tawaran untuk masuk ke rute yang terjal. Haruskah saya jika saya bertemu dengan kakek saya, (saya) mengatakan pada beliau bahwa saya tidak mau ambil jalan ini. Saya tidak mau ikut mengurusi. Kenapa? karena saya takut dikritik. Saya takut dicaci. Karena wilayah politik hari ini berbeda dengan wilayah politik pada saat beliau terlibat. Pada saat mereka terlibat, mereka adalah orang-orang yang menjaga integritas di dalam berpolitik. Hari ini (berpolitik) itu mengalami penurunan yang luar biasa. Haruskah saya bilang bahwa saya tidak mau. Saya takut dikritik. Di situ sebenarnya saya katakan “tidak!” Saya siap. Saya akan hadapi ini semua. Saya akan hadapi rute ini dan saya akan bisa katakan jika saya harus bertemu (almarhum kakek saya). Saya akan bilang (bahwa) saya ikut turun tangan seperti kakek saya dulu; memilih untuk turun tangan; dan biarkan anak-anak saya nanti menengok pada catatan yang sekarang ada dan (melihat bahwa) orang tuanya tak mundur, tak gentar, hanya karena khawatir dikritik sana-sini. Saya melihat badai kritik ini sebagai sebuah konsekuensi normal atas potret wilayah politik sekarang.

Jadi tujuhbelasan kemarin itu menadi sebuah “turning point” (titik balik) yang luar biasa dan pada saat itu kemudian saya merasa yakin. Bismillah. Saya ambil rute ini. Saya luruskan niatnya, saya tegaskan sikapnya, dan saya ambil putusannya. Saya jalani dan insyaallah dengan ini saya ikut turun tangan untuk mewarnai dan memberi makna bagi republik yang kita cintai ini…”

***

Bagaimana kesan Anda setelah mendengarkan sharing itu? Apa yang secara spontan muncul dalam benak Anda?

Ketika mendengarkan itu, saya seperti mendengarkan sharing panggilan seorang imam/pastor. Karena saya seorang yesuit, tentu pertama-tama yang muncul dalam ingatan saya adalah panggilan hidup menjadi yesuit. Yang pertama-tama muncul dalam ingatan saya adalah “momen” ketika saya memutuskan untuk berani (dengan bantuan rahmat Tuhan) mengucapkan tiga kaul: miskin, murni, taat di hadapan Sakramen Maha Kudus. Kalau Anda seorang suami atau istri, mungkin hal pertama yang muncul dalam ingatan Anda adalah saat ketika Anda memutuskan untuk menikah; atau “momen” saat Anda mengucapkan janji perkawinan (untuk setia dalam susah maupun senang) di hadapan imam.

Saya menyebut “momen” saat AB menghadiri upacara Tujuhbelasan itu sebagai “momen terpanggil” (untuk terlibat dalam dunia politik). “Momen” itu begitu luhur, mulia, dan saya percaya bersifat ilahi karena berasal dari Yang Ilahi. Saat kita berada dalam “momen” itu rasanya segala perkara, tantangan, kesulitan, dan semua beban dalam hidup akan dapat kita hadapi; rasanya berapi-api, berkobar, penuh semangat. Dalam bahasa yang familiar dengan dunia saya, dalam “momen” itu kita merasakan “konsolasi” (penuh penghiburan dan hati melulu terarah pada Yang Ilahi).

Saya rasa Bung AB juga merasakan hal yang serupa. Saat itu dia terpanggil untuk mengabdi bangsa dan negara. Ia terpanggil untuk melakukan suatu hal yang luhur; terpanggil pada suatu kebaikan. Saya yakin bahwa panggilan itu berasal dari Yang Luhur dan Yang Baik, pada Sesuatu di luar dirinya dan yang lebih besar dari dirinya. Saat bung AB mengalami “momen” itu, rasanya ia siap menanggung segala resiko dan tantangan (kritikan) yang ada. Dia siap mengambil keputusan untuk turun tangan menjadi calon presiden dan berjuang bagi Indonesia (seperti saya pada saat itu siap mengucapkan kaul murni, miskin, dan taat). Pada “momen” tujuhbelasan itu, hatinya begitu berkobar.

Namun, api panggilan yang berkobar itu tidak akan bertahan lama. Ada kalanya kobaran itu meredup dan hampir padam. Memang saat “momen” terpanggil itu terjadi, rasanya segala sesuatu bisa kita hadapi. Namun berbeda halnya saat kita berada dalam dunia sehari-hari, dalam rutinitas, dalam dunia politik sehari-hari yang penuh dengan intrik dan hal-hal tetek bengek. Setiap orang pernah mengalami “momen” terpanggil (dan antara orang yang satu dengan yang lain mengalaminya secara berbeda), namun tidak setiap orang bisa menghidupi “api panggilan” yang luhur itu dalam rutinitas yang penuh dengan hal-hal remeh-temeh dan tetek bengek hidup harian; tidak setiap orang bisa menghidupinya sampai akhir hayat.

semoga bung AB mampu untuk setia menjaga kobaran api panggilan untuk menjadi negarawan dalam hidup sehari-hari, bahkan dalam dunia politik yang terlanjur dipahami oleh sebagian besar orang Indonesia sebagai “ladang dosa”.

Iklan

Izinkan aku mencintai-Mu

“Izinkan aku mencintai-Mu, Tuhanku,
dengan setiap nafas kehidupan yang kuhirup.
Izinkan aku mencintai-Mu, Tuhanku,
setiap detak jantungku kupasrahkan pada-Mu.

Meski pikiranku tak mampu memahami-Mu,
meski kehendakku tak menentu,
belaskasih-Mu menghalau kegelapan yang pekat dalam jiwaku,
memancarkan cahaya, menghembuskan kehidupan, dan menenangkan kegalauan dalam jiwaku.

Meski hatiku tak sanggup mencintai-Mu,
bahkan ketika semangatku mulai pudar,
cinta-Mu padaku melingkupi segala rasa takutku, segala tindakanku, seluruh diriku, dan seluruh keberadaanku.”

”Win, kami pergi main sepakbola dulu ya…”

Sabtu, 17 Mei 2008.

“Win, kami pergi main sepakbola dulu ya…sampai bertemu lagi di lain waktu dan tempat”, demikian kata perpisahan yang saya ucapkan kepada Winar. Mungkin itu adalah kata perpisahan yang paling sadis yang pernah saya ucapkan. Kurang lebih satu bulan sebelum Kaul Pertama, saya dan fr. Yan diutus oleh Pater Magister untuk menemani teman seangkatan kami yang hendak kembali ke rumahnya itu. Ia mengundurkan diri dari Ordo Serikat Yesus. Saya, fr. Yan, Winar, dan Pater Magister Leo Agung Sardi, SJ berangkat bersama ke terminal Bus Bawen, Ungaran. Lalu Pater Magister melanjutkan perjalanan ke Jogja. Tingallah kami bertiga. Winar membawa sebuah ransel gunungnya yang berat dan besar. Ketika itu kira-kira pukul 4 sore. Sambil menunggu bus yang menuju Ciledug, kami ngobrol bersama dan mengenang kembali pengalaman hidup di Novisat St. Stanislaus Girisonta.

***

Saya mendaftar ke Serikat Yesus bersama sekitar 13 orang solisitan (pendaftar). Dari 13 Solisitan itu, ada sembilan orang yang diterima menjadi kandidat. Dua minggu pertama dalam masa kandidatur, satu kandidat mengundurkan diri. Sebelum penerimaan jubah, satu lagi teman kami meninggalkan Serikat. Beberapa minggu kemudian, satu teman lagi memilih untuk melepaskan jubahnya. Setelah Retret Agung Tertutup, angkatan kami berjumlah enam orang. Katanya, angkatan ini adalah angkatan novisiat yang paling sedikit jumlahnya dalam 10 tahun belakangan itu. Ketika Novis Secundi (tahun kedua), yang berjumlah sebelas orang, menjalani Eksperimen Luar Rumah, tugas-tugas kebidelan diurus oleh kami berenam. Giliran tugas ronda malam terasa cepat. Setiap orang bertugas setiap tiga hari sekali. Begitu juga dengan tugas khotbah, dan tugas-tugas kebidelan (kepanitiaan) lainnya. Taman Novisiat kelihatan tidak rapi, karena rumput tumbuh lebih cepat daripada kerja kami. Rasanya senang sekali ketika kami diperkenankan membersihkan lantai gang novisiat dengan menggunakan tongkat pel. Ketika makan siang resmi, novis yang bisa ikut makan ada tiga orang. Tiga novis yang lainnya bertugas menjadi lektor, ministrare (bertugas sebagai pelayan), dan lavare (bertugas mencuci piring). Syukurlah bahwa selama Novis Secundi menjalani Eksperimen Luar Rumah, tidak ada nostri (yesuit) yang meninggal. Kurang lebih dua tahun kami lalui formasi di Novisiat dengan jumlah novis yang sedikit itu. Di tahun kedua, ada pula saat-saat yang serupa dengan ketika kami di tahun pertama, yaitu saat Novis Primi mejalani Retret Agung Tertutup. Meskipun demikian, jumlah novis yang sedikit tidak bisa menjadi alasan untuk mengabaikan tugas-tugas atau hal-hal sederhana dalam hidup sehari-hari. Jumlah novis yang sedikit itu memungkinkan kami untuk belajar mengatur waktu dan menentukan prioritas. Dengan jumlah novis yang sedikit itu pula, perkenalan di antara kami menjadi semakin intensif dan erat. Sampai sebulan sebelum Kaul Pertama, Winar, teman seangkatan kami, memilih untuk menempuh jalan hidup sebagai awam.

***

Tak terasa sudah satu jam kami mengenang sekilas pengalaman suka dan duka di Novisiat. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Bus jurusan Ciledug belum singgah ke terminal Bawen. Saya dan fr. Yan saling melirik satu sama lain; saling memberi isyarat bahwa saat itu adalah saat untuk olahraga di Novisiat. Olahraga favorit saya adalah sepakbola. Hobi ini bahkan menjadi kelekatan tak teratur. ”Win, kami pergi main sepakbola dulu ya. Sampai bertemu lagi di lain waktu dan tempat”, dengan perasaan ringan, saya berpamitan dengan Winar walaupun bus yang akan ia tumpangi belum juga datang.

Dalam perjalanan dari terminal Bawen menuju Novisiat, muncul pertanyaan dalam hati saya: “Apakah pilihan saya benar?” Saya lebih memilih bermain sepakbola daripada menunggui Winar, yang sendirian dengan ranselnya yang besar dan berat, menanti kedatangan bus yang menjemputnya. Muncul rasa ragu, namun bersamaan dengan itu tidak ada kesadaran untuk kembali ke terminal. Dengan perasaan ragu itu, permainan sepakbola sore itu terasa tidak menyegarkan. Pada malam harinya, ketika presentasi missio kepada Pater Magister, kami menceritakan apa yang terjadi. Bisa diduga bagaimana reaksi Pater Magister. Beliau tampak sedih dan kecewa atas perbuatan kami. Pater Magister mengungkapkan bahwa saat itu kami berdua diutus mewakili Serikat untuk menemani teman seangkatan yang hendak meninggalkan Serikat. Pater Magister heran, bagaimana perasaan saya dapat sedemikian tumpul sampai-sampai saya tega meninggalkan teman seangkatan demi hobi itu. Tak ada yang bisa saya katakan. Saya menerima sepenuhnya kesalahan saya itu. Saya telah mengabaikan kepercayaan yang diberikan baik oleh Pater Magister maupun olehWinar. Saya masih membayangkan bagaimana Winar akan lebih mudah mengangkat ransel beratnya ke bagasi bus seandainya ada kami berdua. Juga, bagaimana ia akan merasa lebih diteguhkan atas pilihannya seandainya saya masih di sana, melambaikan tangan, saat busnya menjauh dari terminal. Dalam rasa bersalah itu, rasanya semua yang saya lakukan adalah buruk. Muncul keraguan sungguhkah aku menerima Winar dan teman-teman lainnya sebagai sahabat dalam Tuhan? Karena kurangnya pemberian diri bagi orang lain, layakkah saya mengucapkan kaul? Seandainya dikeluarkan dari Serikat, saya menerima keputusan itu. Saking skrupelnya (merasa amat bersalah), rasanya segala keutamaan dan hal baik yang sudah saya kembangkan selama dua tahun di novisiat itu menjadi sia-sia; seperti kata pepatah ’karena nila setitik, rusak susu sebelanga.’ Bahkan setelah 3 tahun menjalani formasi studi, ketika mengingat pengalaman itu, rasa sesal itu masih muncul. Saya belajar bahwa ikatan relasi di dalam komunitas hendaknya bukan sekadar ikatan profesional, melainkan sampai pada ikatan berdasarkan semangat pemberian diri. Meskipun Yesuit tidak mengucapkan kaul hidup berkomunitas, namun Yesuit juga dituntut untuk punya semangat pemberian diri bagi komunitas dan orang lain. Di dalam pengalaman ini saya melihat bahwa mengolah rasa lekat tak teratur terhadap hobi dan kesenangan pribadi lainnya itu penting, namun yang lebih penting lagi adalah senantiasa bertanya pada diri: “apakah aku mau memberikan diri bagi: angkatan, komunitas, Serikat, bagi orang-orang yang kulayani, dan bagi Allah?”. Ini adalah pengalaman yang paling konyol yang saya alami selama di Novisiat, namun sekaligus juga pengalaman yang amat berharga.

Sebagai penitensi (pertanggungjawaban) atas kecerobohan saya itu, sementara teman-teman bermain sepakbola, kami berdua mencabuti tapak liman di taman novisiat. Kami baru boleh bermain sepakbola setelah Kaul Pertama (kira-kira satu bulan tidak boleh ikut bermain sepakbola). Kami juga membuat surat permohonan maaf kepadaWinar.

Selasa, 24 Juni 2008, saya dan empat teman seangkatan mengikrarkan Kaul Pertama. Pada hari itu, Winar datang ke Novisiat. Ia menghadiri Ekaristi Kaul kami, dan dengan ekspresi yang ceria dan bahagia, ia mengucapkan selamat kepada kami.

+a.d.m.g+