hening [2]

Sekali kita memutuskan untuk menyediakan waktu untuk hening, kita memperkembangkan suati sikap penuh perhatian terhadap suara Tuhan di dalam diri kita. Pada mulanya, pada hari-hari pertama, minggu-minggu pertama, atau bahkan bulan-bulan pertama, boleh jadi kita merasa bahwa kita hanya membuang-buang waktu. Pada mulanya mungkin saat hening tidak lebih dari saat di mana kita dibanjiri oleh berbagai macam pikiran dan perasaan yang muncul dari tempat-tempat tersembunyi dari budi kita.

Seorang penulis kristen kuno menggambarkan tahap pertama dari doa dalam kesunyian sebagai pengalaman seseorang yang setelah bertahun-tahun hidup dengan pintu-pintu yang terbuka, tiba-tiba memutuskan untuk menutup pintunya. Tamu-tamu yang biasa datang dan masuk rumahnya berkerumun di sekitar pintu, heran mengapa tidak boleh masuk. Hanya kalau kemudian mereka tahu bahwa kedatangan mereka tidak diterima, merek secara berangsur-angsur tidak akan datang lagi. Inilah pengalaman orang yang memutuskan untuk masuk ke dalam keheningan setelah menghayati kehidupan tanpa disiplin rohani sebelumnya. Padamulanya, berbagai gangguan tetap muncul. Akhirnya, karena semakin tak diperhatikan gangguan-gangguan itu akan semakin memudar…

sumber: Henri J.M. Nouwen, Cakrawala Hidup Baru, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1986, hlm. 42.

Iklan

dikasihi [1]

Suara yang lembut dan halus yang menyebut aku sebagai yang dikasihi, sampai kepadaku dengan berbagai cara yang tak terhitung macamnya. Orangtuaku, kawan-kawan, guru, mahasiswa-mahasiswi dan orang lain yang pernah melintas dalam kehidupanku, semua menyuarakan suara itu dengan nada yang berbeda-beda. Sangat banyak orang dengan kasih dan kelembutan memberikan perhatian kepadaku. Aku diajar dan dididik dengan kesabaran dan keteguhan hati. Aku didukung untuk terus maju pada saat aku akan berhenti, dan didorong untuk mencoba lagi pada saat aku gagal. Aku dipuji dan diberi ucapan selamat pada waktu aku berhasil…namun toh semua tanda kasih ini tidak cukup untuk meyakinkan diriku bahwa aku dikasihi.

 

Di balik penampilanku yang kelihatannya percaya diri, tersembunyi pertanyaan, “Kalau semua orang yang menyirami hidupku dengan begitu banyak perhatian dapat melihat dan mengetahui diriku yang sesungguhnya, apakah mereka akan tetap mengasihi aku?” 

 

Pertanyaan yang menyesakkan ini, yang berakar dalam batinku yang gelap, terus-menerus mengejarku dan membuat aku lari dari tempat asal suara lembut yang menyebut aku sebagai yang dikasihi dapat didengar. 

 

Aku yakin engkau menangkap apa yang kubicarakan ini. Bukankah seperti halnya aku, engkau juga mengharapkan seseorang, sesuatu atau suatu peristiwa akan melintas dalam kehidupan dan memberikan kedamaian batin lestari yang nengkau harapkan? Bukankah engkau sering berharap, “Semoga buku, gagasan, kursus, perjalanan, pekerjaan, atau hubungan ini dapat memenuhi keinginan hatimu yang paling dalam?” Namun selama engkau menungguh datangnya saat yang misterius itu, engkau lari ke sana ke mari, selalu merasa cemas dan tidak tenang, penuh nafsu dan marah, tidak pernah merasa puas sutuhnya. Engkau tahu, inilah yang disebut kompulsi yang membuat kita terus maju dan sibuk, tetapi sekaligus membuat kita bertanya-tanya kita akan sampai ke mana, Inilah langkah yang membawa orang sampai pada kekeringan rohani dan merasa diri “habis”. Inilah jalan menuju kematian rohani. 

 

Engkau dan aku tidak perlu mematikan diri. Kita adalah orang-orang yang dikasihi. Kita sudah sangat dikasihi jauh sebelum orangtua, guru, suami atau istri, anak-anak, dan kawan-kawan mengasihi atau melukai kita. Inilah kebenaran hidup kita. Inilah kebenaran yang kuharapkan kauyakini. Inilah kebenaran yang dinyatakan oleh suara yang berkata, “Engkau kukasihi.”

 

(bersambung…)

sumber: Henri J.M. Nouwen, Engkau Dikasihi: Pegangan Hidup dalam Dunia Modern, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995, 22 – 23