sibuk

satu ciri khas yang paling jelas dari kehidupan kita adalah bahwa kita sibuk. Kita mengalami hari-hari kita penuh dengan hal-hal yang harus kita kerjakan, orang-orang yang harus kita jumpai, rencana-rencana yang harus kita selelsaikan, surat-surat yang harus kita balas dan janji-janji yang harus kita tepati. Kehidupan kita seringkali nampak seperti koper yang hampir jebol karena terlalu banyak muatan. Dalam kenyataan, kita hampir selalu merasa tidak mampu menyelesaikan rencana-rencana kita sendiri.

Ada kejengkelan karena tugas-tugas yang tak terselesaikan, janji-janji yang tak terpetai serta rencana-rencana yang tak terwujud. Selalu ada sesuatu yang lain yang seharusnya kita ingat, kita kerjakan dan katakan. Selalu ada orang-orang yang tidak sempat kita temui, kita balas suratnya atau kita ajak bicara. Maka, meskipun kita sangat sibuk kita selalu merasa cemas karena tak pernah dapat menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita.

Tetapi yang aneh adalah bahwa sulit untuk tidak sibuk. Kesibukan sudah menjadi status simbol. Orang-orang mengharapakan kita menjadi orang sibuk dengan otak yang dipenuhi macam-macam hal. Seringkali rekan kita berkata: “Saya kira, seperti biasanya, engkau sibuk” dan kata-kata ini dimaksudkan sebagai pujian. Mereka mendukung pandangan umum bahwa sibuk itu baik. Lalu mereka yang tidak tahu apa yang akan dikerjakannya di masa datang justru membuat teman-temannya bingung. “Sibuk” seringkali disamakan saja dengan “menjadi penting”. Kebiasaan mengawali pembicaraan “saya tahu engkau sibuk, tetapi apakah dapat menyisihkan satu menit saja untukku”, menunjukkan bahwa satu menit yang diambil dari orang yang sibuk dipandang jauh lebih berharga daripada satu jam yang diambil dari orang yang pekerjaannya sedikit.

Dalam masyarakat yang menganggungkan prestasi, menjadi sibuk, mempunyai kegiatan, telah menjadi salah satu cara kalau tidak mau disebut satu-satunya cara yang terbaik untuk menampilkan identitas diri. Tanpa kesibukan bukan jaminan ekonomis, tetapi mainan terancamnya identitas. Ini menerangkan mengapa orang begitu takut menghadapi masa pensiun. Siapa kita ini kalau sudah tak punya kesibukan, kalau sudah tak punya kegiatan?

sumber: Henri J.M. Nouwen, Cakrawala Hidup Baru, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1986, hlm. 16-17.

Iklan

hening [2]

Sekali kita memutuskan untuk menyediakan waktu untuk hening, kita memperkembangkan suati sikap penuh perhatian terhadap suara Tuhan di dalam diri kita. Pada mulanya, pada hari-hari pertama, minggu-minggu pertama, atau bahkan bulan-bulan pertama, boleh jadi kita merasa bahwa kita hanya membuang-buang waktu. Pada mulanya mungkin saat hening tidak lebih dari saat di mana kita dibanjiri oleh berbagai macam pikiran dan perasaan yang muncul dari tempat-tempat tersembunyi dari budi kita.

Seorang penulis kristen kuno menggambarkan tahap pertama dari doa dalam kesunyian sebagai pengalaman seseorang yang setelah bertahun-tahun hidup dengan pintu-pintu yang terbuka, tiba-tiba memutuskan untuk menutup pintunya. Tamu-tamu yang biasa datang dan masuk rumahnya berkerumun di sekitar pintu, heran mengapa tidak boleh masuk. Hanya kalau kemudian mereka tahu bahwa kedatangan mereka tidak diterima, merek secara berangsur-angsur tidak akan datang lagi. Inilah pengalaman orang yang memutuskan untuk masuk ke dalam keheningan setelah menghayati kehidupan tanpa disiplin rohani sebelumnya. Padamulanya, berbagai gangguan tetap muncul. Akhirnya, karena semakin tak diperhatikan gangguan-gangguan itu akan semakin memudar…

sumber: Henri J.M. Nouwen, Cakrawala Hidup Baru, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1986, hlm. 42.

waktu cepat berlalu

Waktu cepat berlalu. Detik ini mudah bergeser menjadi masa lalu. Pagi dengan cepat berganti siang, siang berganti malam. Sepanjang pengalaman manusia, di setiap relung bumi serta alam semesta yang didiaminya berlangsunglah suatu kenyataan rumit yang disebut waktu. Jam, yang mewakili matahari dan bintang, mengatur waktu bangun, waktu pergi ke sekolah atau bekerja, waktu memasak nasi atau memakannya, ataupun waktu beristirahat.

Waktu tidak hanya mengatur kegiatan manusia, tetapi juga diri atau kehidupan manusia itu sendiri. Denyut nadi manusia menunjukkan waktu, yakni waktu tenang atau sebaliknya; getaran listrik di dalam otaknya mengatur irama untuk tidur atau berjaga.

Waktu memberikan kehidupan dan juga kehancuran serta kematian. Mekarnya bunga bakung ditentukan oleh jam; tampak indah di kala fajar kemudian lalu pada siang hari. Ada bunga yang menakjubkan: saya belum pernah melihatnya tapi pernah membacanya di buku; katanya, mekarnya bunga itu diatur oleh jam biologis; karena tangkainya hanya kuat menahan satu bunga, maka sekuntum bunga mekar setiap pagi serta layu pada malam harinya untuk memberikan tempat bagi kuntum bunga berikutnya. Dedaunan tumbuh seusai dengan penanggalan; migrasi hewan terjadi sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Bukit-bukit belum ada di tempatnya seratus juta tahun yang lalu dan akan lenyap seratus juta tahun kemudian; bahkan bintang pun bergeser mengikuti pergantian abad dan cepat atau lambat akhirnya akan padam juga. Tak ada sesuatu pun di bawah matahari, atau di atasnya, yang tidak dapat dikatakan: “Ini pun pada waktunya akan menemui ajalnya.”

Waktu adalah guru agung, obat mujarab, penghalal dan perombak yang luar biasa. Waktu tidak bergerak, tetapi dapat hilang meninggalkan kita atau berlalu melampaui kita. Kita dapat menghemat waktu atau menyia-nyiakannya, menggunakan waktu atau memboroskannya (waktu adalah uang!), bahkan kita dapat memberikan ketukan irama padanya ataupun mengisi kesenggangannya.

Di satu sisi manusia hidup dalam waktu dan bahkan juga terikat oleh waktu; namun di sisi lain, manusia dapat mengatasi waktu. Manusia dapat menangkap kembali masa lampau. Manusia juga dapat menghadirkan sesuatu dengan menggunakan imajinasi serta kemampuannya melihat ke masa depan dan ingatannya. Ingatan (melihat masa lampau) dan kemampuan melihat ke masa depan merupakan inti kecerdasan manusia. Kemampuan manusia untuk menangani waktu, untuk memanfaatkan masa lampau dan masa depan sebagai pedoman bagi tindakannya pada saat kini adalah justru merupakan ciri khas manusia.

Tuhan, waktu berlalu begitu cepat. Peristiwa yang beberapa tahun lalu menyita perhatianku kini hanyalah ingatan yang tak jelas; konflik yang beberapa bulan lalu tampak begitu krusial dalam hidupku kini tampak begitu sepele dan tak berarti; kegelisahan batin yang begitu mengganggu tidurku beberapa minggu yang lalu kini menjadi perasaan yang tawar; buku yang kubaca beberapa hari lalu dengan penuh minat kini tampak tak penting; pikiran dan gagasan cemerlang yang muncul beberapa jam yang lalu kini tak lagi menarik untuk dipikirkan dan sudah tergantikan dengan gagasan lainnya.

Mengapa aku sedemikian terjebak dalam rasa mendesak dan terburu-buru? Mengapa aku tidak dapat menyadari bahwa Engkau adalah kekal, bahwa kerajaan-Mu abadi, dan bagi-Mu seribu tahun sama dengan sehari lamanya? Ya Tuhan, izinkanlah aku masuk dalam hadirat-Mu dan di sana mencecap keabadian, ketiadaanwaktu, dan cinta-Mu yang tak berkesudahan; supaya dengan demikian aku dapat melepaskan diri dari kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran karena terikat oleh waktu. “Carilah terlebih dahulu Kerajaan Allah,” demikian kata-Mu, “dan segalanya akan diberikan kepada-Mu.” Segala sesuatu yang terikat oleh waktu akan menunjukkan arti yang sebenarnya ketika aku dapat melihatnya dari tempat di mana Engkau ingin aku melihatnya, tempat di mana ada cinta-Mu yang tak lekang oleh waktu…

 

(sumber: [1] Samuel A. Goudsmit, dkk.(ed.), Waktu, Jakarta: Tira Pustaka Jakarta, 1981, hlm. 9-10; [2] Evelyn Bence (ed.), Morning with Henri J.M. Nouwen: Readings and Reflections, Ohio: St. Anthony Messenger Press, 1997.)