penolakan diri [2]

Mungkin engkau berpikir, bahwa engkau lebih digoda oleh kesombongan daripada oleh penolakan diri. Tetapi, bukankah sebenarnya kesombongan adalah sisi lain penolakan diri? Bukankah kesombongan menyelimuti dirimu dengan pujian, agar orang tidak melihat dirimu sebagaimana engkau sendiri melihatnya? Bukankah akhirnya kesombongan adalah bentuk lain dari perasaan tidak berguna? Baik penolakan diri maupun kesombongan menjauhkan diri kita dari realitas keberadaan kita yang sama, dan mempersulit atau bahkan tidak memungkinkan terbentuknya komunitas yang bersahabat. Aku sungguh-sungguh menyadari, bahwa di balik kesombonganku tersembunyi rasa tidak percaya diri, seperti halnya di balik penolakan diriku tersembunyi kesombonganku. Baik ketika aku sedang berjaya maupun ketika aku sedang tersuruk, aku terpisah dari benearan diriku dan pandanganku mengenai kenyataan terganggu. 

 

Kuharap engkau mulai dapat melihat godaan penolakan diri yang ada dalam dirimu, entah dalam bentuk kesombongan atau rasa tidak percaya diri. Tidak jarang penolakan diri hanya dilihat sebagai ekspresi neurosis orang yang tidak yakin akan dirinya. Namun neurosis seringkali merupakan pernyataan psikis dari kekalutan hidup manusia yang lebih dalam: kalut karena merasa tidak sungguh-sungguh diterima dalam lingkungan umat manusia. Penolakan diri adalah musuh paling besar bagi kehidupan rohani karena berlawanan dengan suara adikodrati yang menyatakan diri kita sebagai yang “dikasihi”. Diri kita sebagai yang dikasihi menyatakan inti kebenaran keberadaan kita. 

 

(bersambung…)

sumber: Henri J.M. Nouwen, Engkau Dikasihi: Pegangan Hidup dalam Dunia Modern, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995, 20 – 21.

Iklan