waktu cepat berlalu

Waktu cepat berlalu. Detik ini mudah bergeser menjadi masa lalu. Pagi dengan cepat berganti siang, siang berganti malam. Sepanjang pengalaman manusia, di setiap relung bumi serta alam semesta yang didiaminya berlangsunglah suatu kenyataan rumit yang disebut waktu. Jam, yang mewakili matahari dan bintang, mengatur waktu bangun, waktu pergi ke sekolah atau bekerja, waktu memasak nasi atau memakannya, ataupun waktu beristirahat.

Waktu tidak hanya mengatur kegiatan manusia, tetapi juga diri atau kehidupan manusia itu sendiri. Denyut nadi manusia menunjukkan waktu, yakni waktu tenang atau sebaliknya; getaran listrik di dalam otaknya mengatur irama untuk tidur atau berjaga.

Waktu memberikan kehidupan dan juga kehancuran serta kematian. Mekarnya bunga bakung ditentukan oleh jam; tampak indah di kala fajar kemudian lalu pada siang hari. Ada bunga yang menakjubkan: saya belum pernah melihatnya tapi pernah membacanya di buku; katanya, mekarnya bunga itu diatur oleh jam biologis; karena tangkainya hanya kuat menahan satu bunga, maka sekuntum bunga mekar setiap pagi serta layu pada malam harinya untuk memberikan tempat bagi kuntum bunga berikutnya. Dedaunan tumbuh seusai dengan penanggalan; migrasi hewan terjadi sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Bukit-bukit belum ada di tempatnya seratus juta tahun yang lalu dan akan lenyap seratus juta tahun kemudian; bahkan bintang pun bergeser mengikuti pergantian abad dan cepat atau lambat akhirnya akan padam juga. Tak ada sesuatu pun di bawah matahari, atau di atasnya, yang tidak dapat dikatakan: “Ini pun pada waktunya akan menemui ajalnya.”

Waktu adalah guru agung, obat mujarab, penghalal dan perombak yang luar biasa. Waktu tidak bergerak, tetapi dapat hilang meninggalkan kita atau berlalu melampaui kita. Kita dapat menghemat waktu atau menyia-nyiakannya, menggunakan waktu atau memboroskannya (waktu adalah uang!), bahkan kita dapat memberikan ketukan irama padanya ataupun mengisi kesenggangannya.

Di satu sisi manusia hidup dalam waktu dan bahkan juga terikat oleh waktu; namun di sisi lain, manusia dapat mengatasi waktu. Manusia dapat menangkap kembali masa lampau. Manusia juga dapat menghadirkan sesuatu dengan menggunakan imajinasi serta kemampuannya melihat ke masa depan dan ingatannya. Ingatan (melihat masa lampau) dan kemampuan melihat ke masa depan merupakan inti kecerdasan manusia. Kemampuan manusia untuk menangani waktu, untuk memanfaatkan masa lampau dan masa depan sebagai pedoman bagi tindakannya pada saat kini adalah justru merupakan ciri khas manusia.

Tuhan, waktu berlalu begitu cepat. Peristiwa yang beberapa tahun lalu menyita perhatianku kini hanyalah ingatan yang tak jelas; konflik yang beberapa bulan lalu tampak begitu krusial dalam hidupku kini tampak begitu sepele dan tak berarti; kegelisahan batin yang begitu mengganggu tidurku beberapa minggu yang lalu kini menjadi perasaan yang tawar; buku yang kubaca beberapa hari lalu dengan penuh minat kini tampak tak penting; pikiran dan gagasan cemerlang yang muncul beberapa jam yang lalu kini tak lagi menarik untuk dipikirkan dan sudah tergantikan dengan gagasan lainnya.

Mengapa aku sedemikian terjebak dalam rasa mendesak dan terburu-buru? Mengapa aku tidak dapat menyadari bahwa Engkau adalah kekal, bahwa kerajaan-Mu abadi, dan bagi-Mu seribu tahun sama dengan sehari lamanya? Ya Tuhan, izinkanlah aku masuk dalam hadirat-Mu dan di sana mencecap keabadian, ketiadaanwaktu, dan cinta-Mu yang tak berkesudahan; supaya dengan demikian aku dapat melepaskan diri dari kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran karena terikat oleh waktu. “Carilah terlebih dahulu Kerajaan Allah,” demikian kata-Mu, “dan segalanya akan diberikan kepada-Mu.” Segala sesuatu yang terikat oleh waktu akan menunjukkan arti yang sebenarnya ketika aku dapat melihatnya dari tempat di mana Engkau ingin aku melihatnya, tempat di mana ada cinta-Mu yang tak lekang oleh waktu…

 

(sumber: [1] Samuel A. Goudsmit, dkk.(ed.), Waktu, Jakarta: Tira Pustaka Jakarta, 1981, hlm. 9-10; [2] Evelyn Bence (ed.), Morning with Henri J.M. Nouwen: Readings and Reflections, Ohio: St. Anthony Messenger Press, 1997.)

Iklan

“bernafas panjang dalam keberanian spekulatif…”

 Sebuah Harapan
(Franz Magnis-Suseno, SJ)

Perkenankan saya ucapkan suatu harapan
Saya mengharapkan…
bahwa filsafat di Indonesia
tidak berhenti pada uraian tipe pengantar,
aforisme sana sini dan lontaran omongan santai

Saya mengharapkan…
suatu usaha falsafi yang serius dan argumentatif
yang kritis, mendalam dan mendasar (gründlich)
yang tidak malas untuk menjalani die Anstrengung
des Begriffs, ketekadan untuk memahami pemikiran
para filosof besar betapa pun beratnya.

Saya mengharapkan…
Kekuatan bernafas panjang dalam keberanian spekulatif
Karena tanpa keberanian semacam itu,
peta bumi ilmu pengetahuan di negara kita
abu-abu belaka warnanya.

[tanda tangan FMS]