yang terluka yang menyembuhkan [3]

Jika kita sudah membiasakan diri dengan kesepian kita sendiri dan kerasan di rumah (jiwa) sendiri, saat itu kita sedang menjadi tuan rumah yang menawarkan hospitalitas kepada tamu-tamu kita.

Mengapa dikatakan bahwa hospitalitas dapat menyembuhkan?

Hospitalitas menyembuhkan karena menyingkirkan ilusi yang keliru bahwa keutuhan dapat diberikan oleh orang yang satu kepada yang lain. Ini menyembuhkan karena tidak meniadakan kesepian dan kepedihan orang lain, akan tetapi mengundangnya untuk mengenal kesepiannya pada tingkat di mana kesepian dan kepedihan itu dapat dibagirasakan. Banyak orang dalam hidupnya menderita karena dengan cemas mencari orang, pria ataupun wanita, peristiwa atau perjumpaan, yang diharapkan dapat menyingkirkan kesepian mereka. Akan tetapi kalau mereka masuk ke dalam rumah yang mempunyai hospitalitas yang sejati mereka segera melihat bahwa luka-luka mereka sendiri harus dimengerti tidak sebagai sumber keputusasaan dan kepahitan hidup, akan tetapi sebagai tanda bahwa mereka harus berjalan terus dengan sikap taat kepada suara luka-luka mereka sendiri yang memanggil.

 

sumber: Henri J.M. Nouwen, “Yang Terluka Yang Menyembuhkan: Pelayanan dalam Masyarakat Modern”, Yogyakarta, Kanisius, 1989, hlm.88. 

Iklan

Tersenyumlah!

Tersenyumlah meski perih dan luka hatimu.
Saat awan gelap menghadang, kamu akan berhasil melewatinya jika kamu berani tersenyum menghadapi ketakutan dan deritamu. Tersenyumlah…dan mungkin esok kamu akan melihat indahnya cahaya mentari yang berhasil menembus awan gelap itu.

bergembiralah, tegakkan kepalamu.
sembunyikan setiap jejak kepedihan.
Di saat air mata nyaris tak terbendung,
di saat itulah kamu harus tetap bertahan.

Tersenyumlah…tidak ada gunanya kamu bersedih.
Hanya dengan tersenyum kamu akan menemukan bahwa hidup ini masih layak untuk dihidupi.