yang terluka yang menyembuhkan [2]

bagaimana luka dapat menjadi sumber penyembuhan?

menjadikan luka-luka pribadi sebagai sumber penyembuhan tidak berarti menceritakan kepahitan-kepahitan hidup pribadi kepada orang lain, tetapi kesediaan terus-menerus untuk melihat kepedihan dan penderitaan pribadi sebagai yang muncul dari dasar keadaan manusia yang dialami oleh semua orang.

Bagaimana penyembuhan terjadi? Penyembuhan terjadi melalui hospitalitas (sikap sebagai tuan rumah yang baik, keramahtamahan). Hospitalitas itu suatu sikap di mana kita berusaha untuk menembus ketakutan kita sendiri dan membuka rumah kita bagi orang asing, seperti kita menerima seorang peziarah yang keletihan. Hospitalitas merupakan kemampuan untuk memberi perhatian kepada tamu. Ini sangat sulit karena biasanya kita dikuasai oleh kepentingan-kepentingan, kecemasan dan ketegangan-ketegangan kita sendiri. Ini semua menghalangi kita untuk mengambil jarak dari diri kita sendiri untuk memberi perhatian kepada orang lain.

Sungguh berat untuk memberi perhatian karena pamrih kita sendiri. Kalau pamrih kita yang menang, pertanyaan tidak lagi, “Siapa dia?” akan tetapi “Apa yang dapat saya peroleh dari dia?” Kita tidak memberi perhatian kepada orang lain, akan tetapi memaksakan diri kita kepadanya dengan rasa ingin tahu yang tidak mengenakkan.

Siapa pun yang mau memberikan perhatian tanpa pamrih, harus kerasan di rumahnya sendiri–artinya, ia harus menemukan pusat hidupnya di dalam hatinya sendiri. Konsentrasi yang mengarah ke meditasi dan kontemplasi menjadi prasyarat untuk hospitalitas yang sejati. Kalau jiwa kita resah, kalau kita diombang-ambingkan oleh beribu-ribu rangsangan yang berbeda-beda dan saling bertentangan, kalau kita selalu berada di tengah-tengah kerumunan, gagasan-gagasan dan kecemasan-kecemasan dunia ini, bagaimana kita dapat menciptakan ruang yang dapat dimasuki oleh orang lain dengan bebas tanpa merasa diri mereka sebagai pengganggu yang tidak diharapkan?

Secara paradoks, dengan menarik diri ke dalam diri kita sendiri bukan karena kasihan kepada diri sendiri akan tetapi karena rendah hati, kita menciptakan ruang bagi orang lain agar ia menjadi dirinya sendiri dan datang kepada kita dengan caranya sendiri. Dengan menarik diri, kita membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri, membiarkan orang lain menari dengan tarian mereka sendiri, melagukan senandung mereka sendiri dan berbicara dengan bahsa mereka sendiri tanpa rasa takut. Kalau demikian, kehadiran kita tidak lagi mengancam dan menuntut, akan tetapi mengundang dan membebaskan.

Mengundurkan diri adalah suatu proses yang menyakitkan dan sepi, karena proses ini memaksa kita menghadapi langsung keadaan diri kita sendiri dengan segala keindahan dan kerapuhannya. Kalau kita tidak takut untuk masuk ke dalam diri batin kita sendiri dan memusatkan perhatian pada gerak jiwa kita sendiri, kita mengetahui bahwa hidup berarti dicintai. Pengalaman ini mengatakan kepada kita bahwa aku hanya dapat mencintai karena kesadaran bahwa aku dilahirkan oleh kasih; bahwa aku hanya dapat memberi karena aku sadar bahwa hidupku adalah anugerah…[bersambung]

 

sumber: Henri J.M. Nouwen, “Yang Terluka Yang Menyembuhkan: Pelayanan dalam Masyarakat Modern”, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hlm. 86-87.

Iklan

Izinkan aku mencintai-Mu

“Izinkan aku mencintai-Mu, Tuhanku,
dengan setiap nafas kehidupan yang kuhirup.
Izinkan aku mencintai-Mu, Tuhanku,
setiap detak jantungku kupasrahkan pada-Mu.

Meski pikiranku tak mampu memahami-Mu,
meski kehendakku tak menentu,
belaskasih-Mu menghalau kegelapan yang pekat dalam jiwaku,
memancarkan cahaya, menghembuskan kehidupan, dan menenangkan kegalauan dalam jiwaku.

Meski hatiku tak sanggup mencintai-Mu,
bahkan ketika semangatku mulai pudar,
cinta-Mu padaku melingkupi segala rasa takutku, segala tindakanku, seluruh diriku, dan seluruh keberadaanku.”

Lebih dari Kata

Kata bukan hanya kata belaka, tanpa isi tanpa daya. Kata memang bisa menjadi mantra bahkan sabda, penuh daya. Dengan suatu kata kita dapat membuat orang lain tersenyum bahagia. Tapi dengan kata pula kita mampu menyayat hati hingga luka. Kata bisa juga menimbulkan ketakutan bahkan orang bisa merasa hancur oleh kata-kata kutukan orang tua. Dengan kata manusia menyingkapkan kebenaran, tapi dengan kata pula manusia menutup nista. Kata yang digunakan untuk menutup-nutupi nista bukan lagi kata melainkan dusta. Kata yang memberi hidup dan terang adalah sabda: “sabda-Mu adalah pelita bagi kaki-kakiku.”

Namun kata tak pernah cukup. Memang, suatu makna dapat tersingkap melalui rangkaian kata. Tapi ada suatu hal yang menjadi bermakna justru dalam ketaktersingkapannya.

Bukankah kita berebutan berkicau mengungkapkan ide dan rasa. Lupa bahwa kata tak pernah cukup dan bisa luput menangkap dan mengungkap makna. Setiap kali berkata-kata rasanya selalu ada yang tak terkatakan. Demikianlah, di dalam apa yang kita katakan selalu ada yang tak terkatakan. Ada kalanya, ide dan rasa sepenuhnya terungkap bukan dalam rangkaian kata, melainkan dalam diam dan hening. Kita berebut mengusir sepi lewat kata. Lupa bahwa sepi hanya bisa diatasi bukan dengan berkata, tapi dengan menerima kesepian itu dalam diam dan hening, dalam ketiadaan kata.

Ada bahasa yang tidak menggunakan kata tapi menggunakan laku nyata, yaitu bahasa cinta. “Cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata,” demikain ungkap St. Ignasius dari Loyola. Artinya, semakin kamu banyak berkata-kata, semakin kamu luput mengungkap Sang Sabda, dan semakin kamu tersesat dalam jerat kata. Dia Yang Tak Terkatakan sepenuhnya terungkap bukan dengan rangkaian kata, melainkan dengan tindakan cinta.

Tindakan bukanlah bahasa verbal, melainkan bahasa tubuh. Romo Mangunwijaya mengatakan bahwa tubuh adalah bahasa yang mewartakan batin. Selain dengan kata-kata verbal, makna atau hal yang sifatnya batiniah dapat diungkapkan melalui tubuh.

 

Romo Mangunwijaya menambahkan pernyataannya: “bila kita perhatikan bahasa manusia yang spontan dan wajar, maka kita berbahasa dengan kata-kata mulut. Itu betul, tapi lebih dari itu. Kata-kata selalu disertai dengan mimik wajah yang bersinar atau cemberut. dengan oleng kepala atau muka tegak menengadah. Dengan bahu yang terangkat acuh tak acuh atau membongkok lesu. Dengan tangan berkecak pinggang atau hormat menyembah. Dengan pinggang melenggang goda atau dada membusung sombong. Dengan kaki lurus siap siaga atau bersimpuh santai. Semua itu ikut berbicara dengan bahasa badan yang tidak sulit ditangkap oleh manusia yang masih memiliki citarasa yang sehat…

 

…Bahkan sebelum bayi bisa mengucap sepatah kata pun, ia berbahasa dengan senyum serta mata bening yang menjawab sanjungan ibu. Dan anak kecil merangkul leher kakak cilik meminta lindungan. Hati muda mana tidak berdendang bila tangan-tangan tertentu melambai, sedangkan lirikan sepasang mata penuh makna mengucapkan cerita? Dan bukankah mulut melompong sudah berkata seribu pertanyaan? Tangan menengadah pengemis buta, kaki-kaki penari kuda lumping, duduk sila sang biarawati yang sedang samadi di muka sakramen mahakudus; ya semya itu adalah bahasa manusia yang manusiawi benar, dan biasanya lebih jujur dan jelas bicaranya daripada kata-kata lidah yang tak bertulang. Bila kita melihat seluruh tata semesta alam raya dan diri manusia yang begitu teratur, indah mengagumkan, maka kita merasakan betapa Wahyu Tuhan lebih diperagakan daripada diucapkan.”