Platon dan Akademia [iii]

Di Athena Platon mendirikan sebuah sekolah di sebuah wilayah yang berada di luar kota, yang dianggap suci dan didedikasikan kepada pahlawan Yunani Kuno Academus. Nama sekolah itu berasal dari nama pahlawan itu, Academia, yang didirikan pada tahun 387 SM. Di sekolah itu terdapat lapangan, sebuah gimnasium, dan beberapa tempat pemujaan, salah satunya adalah tempat pemujaan Athena, dewi pelindung kota Athena. Tujuan Platon mendirikan sekolah itu adalah untuk mengajarkan kepada orang muda suatu cara untuk menjadi seorang pemimpin yang handal, yang disebut sebagai filsuf-pemimpin atau penasehat bijaksana dari para pemimpin. Pada masa ini, Platon mulai menulis karyanya, yaitu MenoSymposium, dan mungkin Politeia. Platon yakin bahwa jika seorang filsuf-pemimpin berkuasa, pemimpin tersebut akan adil, kuat karena keutamaan yang dimilikinya.

Pada tahun 367 SM, Dionisius I wafat, meninggalkan Dionisius II yang masih muda untuk memimpin kerajaannya. Paman Dionisius II, Dion meminta Platon, sahabat dan gurunya itu, untuk mendampingi Dionisius II. Itu merupakan kesempatan bagi Platon untuk mewujudkan idenya yang tertulis dalam Politeia mengenai filsuf-pemimpin. Melihat gejolak politik yang sedang terjadi di Sisilia, dan situasi raja muda itu sendiri yang sulit untuk didik, Platon tidak banyak berharap bahwa usahanya akan berhasil. Namun, Dion merupakan sahabat baiknya, dan bagi Dion sedikit harapan itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Maka Platon melakukan perjalan menuju Syracusa untuk segera mendidik raja muda Dionisius II, sebelum dewan pemerintahan tirani yang terbentuk berhasil menghasut anak itu. Celakanya, dewan kerajaan menuduh kematian raja disebabkan oleh Dion. Empat bulan setelah Platon tiba, Dion dituduh melakukan persekongkolan dan diasingkan. Setelah dua tahun, Platon memutuskan untuk meninggalkan Sisilia karena situasi saat itu sedang dalam keadaan perang dan raja tidak mempunyai waktu untuk mengikuti pendidikannya. Platon memohon kepada Dionisius II untuk mengizinkannya kembali ke Athena, dan berjanji kepada raja bahwa ia akan kembali ke Sisilia bersama dengan Dion setelah perang berakhir. Pada tahun 365 SM, Platon dan sahabatnya Dion, kembali ke Academia dan Platon melihat bahwa keterlibatannya di dunia politik sudah berakhir. Platon menghabiskan 4 tahun berikutnya dengan mengajar dan menulis. Namun tahun 361 SM, Dionisius II mengalami perubahan hati yang mendadak dan memohon agar Platon kembali ke Syracuse untuk memberikan pendidikannya. Pada awalnya Platon menolak. Ia tidak percaya akan ketulusan raja dan sesuai perjanjian bahwa ia akan kembali ke Syracusa bersama dengan Dion, bukan sendirian. Dionisius II didukung oleh Archytas dari Tarentum, seorang filsuf yang dihargai oleh Platon. Pada akhirnya, Platon tidak dapat menolak permintaan Dionisius II. Ia diperkenankan datang ke Syracusa bersama dengan Dion. Platon kembali ke Syracusa untuk yang ketiga kalinya. Namun, perjalanannya itu akan berujung pada kegagalan. Dionisius II mengambil seluruh tanah dan milik Dion. Dion digunakan sebagai alasan untuk menahan Platon di istana. Setiap kali Platon meminta untuk kembali ke Athena, Dionisius akan memintanya untuk menunggu sampai beberapa waktu lagi, dan berkata bahwa keberadaan Platon di istana itu akan membantu masa depan Dion. Untunglah, Platon berhasil mengirim surat kepada Archytas, yang menemui Dionysius dan membujuk raja agar memperbolehkan Platon kembali ke Athena. Kesal dengan perlakukan keponakannya terhadap Platon, Dion berencana untuk melakukan pemberontakan melawan raja, dan meminta Platon untuk bergabung dengannya untuk yang terakhir kalinya. Kali ini, Platon menolak ajakan itu dan berpegang teguh pada pilihannya. Ia merasa sudah cukup hidup dalam dunia politik, usianya sudah lanjut dan tidak berkepentingan lagi dengan pertempuran. Platon kembali ke Academia pada tahun 360 SM. Ia berusia 67 tahun.

Selama tiga belas tahun di akhir masa hidupnya, Platon menulis karyanya The Laws dan Timaeus-Kritias. Pada masa itu pula Platon berjumpa dengan Aristoteles dan mengajarkan kepadanya pengetahuan dan kebijaksanaannya, seperti yang telah dilakukan Sokrates kepadanya. Platon meninggal tahun 347 SM di usianya yang ke-80. Sekolahnya tetap berlangsung sampai tahun 529 M, ketika Kaisar Justinian menutupnya. Academia telah berdiri selama 916 tahun dan membuat menjadi institusi pendidikan tertua dalam sejarah.

sumber:

Dirangkum dari Brian ProffittPlato Within Your Grasp, (New Jersey: Wiley Publishing, 2004)4-10.

Iklan