hening [1]

…membawa keheningan ke dalam hidup kita adalah satu di antara disiplin yang paling penting namun juga paling sukar. Bahkan meskipun kita mungkin mempunyai keinginan yang mendalam untuk hening, kita juga mengalami gangguan waktu kita memasuki saat dan tempat yang sunyi. Segera sesudah kita berada sendirian, tanpa orang yang dapat diajak berbicara, tanpa televisi yang dapat ditonton. Tanpa hal-hal lain, suatu keadaan kacau muncul dalam hati kita. Kekacauan ini dapat sedemikian mengganggu dan membingungkan sehingga sukar bagi kita untuk tidak menjadi sibuk lagi.

Oleh sebab itu, masuk kamar dan menutup pintu tidak berarti bahwa kita dapat langsung menutup semua keraguan, kecemasan, ketakutan, kenangan-kenangan buruk, pertentangan-pertentangan yang tak terselesaikan, perasaan marah dan nafsu-nafsu yang meluap-luap. Sebaliknya, ketika kita merasa sudah menyingkirkan gangguan-gangguan dari luar, kita sering menemukan bahwa gangguan-gangguan dari dalam diri kita menampilkan diri dengan pengaruhnya yang paling kuat. Kita sering kali menggunakan gangguan-gangguan dari luar untuk melindungi diri kita dari gangguan-gangguan batin. Tidak mengherankan kalau sukar bagi kita untuk berada sendirian. Menghadapi pertentangan-pertentangan dalam batin dapat membawa rasa sakit yang terlalu berat untuk ditanggung…

sumber: Henri J.M. Nouwen, Cakrawala Hidup Baru, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1986, hlm. 41.

Iklan

Sehati Seperasaan [3]

Allah adalah Allah beserta kita. Allah mengambil bagian dalam kehidupan kita dalam solidaritas. Ini tidak berarti bahwa Allah memecahkan persoalan-persoalan kita, memperlihatkan kepada kita jalan keluar dari kebingungan kita, atau memberikan jawaban-jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kita. Ia mungkin saja melakukan semua itu, tetapi solidaritasnya ada dalam kenyataan bahwa Ia rela bersama kita masuk ke dalam persoalan-persoalan, kebingungan-kebingungan, dan pertanyaan-pertanyaan kita. Itulah kabar gembira dari Allah yang mengambil wujud daging manusiawi.

(sumber: Henri J.M. Nouwen, Sehati Seperasaan: Sebuah Permenungan Tentang Hidup Kristen, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1987, 27).

Sehati Seperasaan [2]

Kapankah kita merasakan adanya kebahagiaan dan penghiburan sejati? Apakah ketika seseorang mengajar kita bagaimana berpikir atau bertindak? Apakah ketika kita mendapatkan nasihat kita harus pergi ke mana atau berbuat apa? Apakah ketika kita mendengar kata-kata yang menghibur atau memberi pengharapan? Mungkin, kadang-kadang. Tetapi yang sungguh berarti adalah bahwa dalam saat-saat di mana kita merasa sakit dan menderita, seseorang ada bersama kita. Lebih penting daripada setiap tindakan tertentu atau nasihat adalah kehadiran seseorang yang memberi perhatian. 

Kalau seseorang berkata kepada kita di tengah-tengah suatu krisis, “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan atau apa yang harus saya kerjakan, tetapi saya ingin engkau menyadari bahwa saya ada bersama engkau, bahwa saya tidak akan meninggalkanmu sendirian,” kita memiliki seorang teman yang membuat kita merasakan penghiburan dan harapan. 

Dalam zaman yang sangat penuh dengan metode dan teknik yang dirancang untuk mengubah manusia, untuk mempengaruhi tingkah laku mereka, dan untuk membuat mereka melakukan hal-hal yang baru dan memikirkan ide-ide yang baru, kita sudah kehilangan anugerah yang sederhana tetapi sulit yaitu, untuk hadir satu bagi yang lain. 

Kita telah kehilangan anugerah itu karena kita telah dibuat percaya bahwa kehadiran harus berguna. kita mengatakan, “Mengapa saya mengunjungi orang ini? Saya tidak dapat berbuat sesuatu  pun. Bahkan saya tidak mempunyai apa-apa untuk saya katakan. Apa gunanya?” Sementara itu, kita telah melupakan bahwa sering kali dalam kehadiran yang tidak berguna, tanpa maksud, dan sederhana bagi orang lainlah kita merasakan penghiburan dan kebahagiaan.

Sekadar berada bersama dengan seseorang adalah sukar karena menuntut kita untuk berbagi rasa dalam kelemahan yang lain, masuk bersama dengan dia ke dalam kelemahan dan ketidakpercayaan, menjadi bagian dari ketidakpastian, dan melepaskan kemampuan untuk mendendalikan situasi dan menentukan diri. Meski demikian, kalau ini terjadi, kekuatan baru dan pengharapan baru dilahirkan.  

Mereka yang memberikan kebahagiaan dan penghiburan kepada kita dengan berada dan tinggal bersama kita dalam saat-saat sakit, kesedihan yang mendalam atau kegelapan rohani sering kali menjadi begitu dekat dengan kita seperti mereka yang punya ikatan darah dengan kita. Mereka memperlihatkan solidaritasnya dengan kita dengan secara suka-rela memasuki lingkup kehidupan kita yang gelap, tak terpeta. Karena itu, mereka adalah orang-orang yang membawa pengharapan baru untuk membantu kita menemukan arah-arah baru. 

 

(sumber: Henri J.M. Nouwen, Sehati Seperasaan: Sebuah Permenungan Tentang Hidup Kristen, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1987, 25-26).