allah rutin sehari-hariku (Karl Rahner, SJ)

Image

Aku ingin membawa rutin kehidupanku sehari-hari ke hadirat-Mu, ya Tuhan, dan di hadirat-Mu ini aku ingin membicarakan hari-hari panjang dan saat-saat menjemukan yang berisi tetek-bengek selain Engkau.

Lihatlah rutin ini, ya Allah kelembutan. Pandanglah kami, manusia yang praktis tidak ada apa-apanya selain rutin. Dalam belas kasih-Mu yang penuh cinta lihatlah jiwaku, jalan yang dipadati oleh duyunan pengungsi belepotan, jalan yang berlubang-lubang…dan di jalan ini tak terhingga jumlah tetek-bengek, omong kosong dan kegiatan tanpa tujuan, keinginan tahu yang sumbang, pretensi adanya hal-hal penting padahal isinya hanya bahan tertawaan. Semua meluncur dalam sebuah arus yang tak kunjung henti.

Jika di hadirat-Mu dan di hadapan Kebenaran-Mu yang tak mengenal kata salah, apakah jiwaku tidak hanya mirip pasar di mana calo-calo murahan dari seluruh penjuru dunia berkumpul untuk menjual barang rombeng dari jagat ini? Bukankah ini persis mirip pasar krempyeng di mana aku dan orang-orang lain memamerkan barang klitikan kepada bondongan pengunjung yang tak bisa diam dan selalu bergerak menyemut? Bertahun-tahun yang lalu, ketika masih bocah dengan julukan “filsuf”, aku belajar bahwa sampai taraf tertentu jiwa merupakan segalanya. Ya Allah, betapa dalam perubahan arti kalimat besar itu! Betapa berbeda kedengarannya bagiku sekarang ini sewaktu jiwaku sudah berubah menjadi gudang raksasa di mana hari demi hari truk-truk membongkar muatan tanpa rencana, dan tanpa memilah-milah, ditumpuk brakbruk di setiap jengkal, di setiap tempat yang terlihat kosong, sampai setiap petak penuh dari atas sampai bawah dengan hal-hal yang sudah lusuh, hal yang remeh-remeh, hal-hal tanpa makna, yakni rutin!

Apakah jadinya aku, ya Allah terkasih, jika hidupku berjalan seperti ini? Apakah jadinya aku apabila semua muatan tiba-tiba tersapu bersih dari gudang? Bagaimanakah perasaanku pada saat kematianku? Pada saat itu tak akan ada lagi “rutin sehari-hari”. Pada saat itu tiba-tiba aku akan ditinggalkan oleh semua hal yang kini mengisi hari-hariku di sini di dunia ini!

Dan apakah diriku pada saat itu ketika aku hanya diriku dan ya hanya diriku saja? Jika aku tengok seluruh kehidupanku, aku bukanlah apa-apa selain rutin belaka, semua kesibukan dan kegiatan, sebuah gurun penuh bunyi kosong dan kemarahan tak bermakna. Tetapi apabila beban berat kematian pada suatu hari menekan kehidupan ini dan memeras segala isi yang telah dihimpun selama berhari-hari dalam masa bertahun-tahun, apakah yang akan menjadi hasil akhirnya?

Boleh jadi setelah dihitung-hitung, pada saat khayalan raksasa yang akan terjadi dari ilusi raksasa kehidupanku di bumi yang aku hayati dengan tak mengembangkan daya rekacipta, boleh jadi, ya Allah, jika Engkau berbelas kasihan kepadaku, hasil murni dari kehidupanku yang tak murni adalah hanya beberapa saat yang dibuat terang dan dibuat hidup oleh rahmat-Mu. Mungkin hanya pada saat itu aku melihat beberapa saat berharga ketika rahmat cinta-Mu telah berhasil menyelinap ke sudut gelap kehidupanku, di antara tumpukan barang rongsok yang mengisi rutin sehari-hariku.

Bagaimanakah aku dapat menebus keadaan papa ini? Bagaimanakah aku dapat berpaling ke satu-satunya hal yang perlu, yakni berpaling ke Dikau? Bagaimanakah aku dapat menghindari penjara rutin ini? Apakah Engkau sendiri melemparkan diriku ke rutin itu? Dan bukankah aku sudah berada di pengasingan dari saat pertama aku mulai menyadari bahwa kehidupanku harus diarahkan kepada-Mu? Bukankah aku sudah terjerat bundat dalam hal-hal sepele yang menjadi perhatianku sehari-hari, ketika pada diriku timbul kesadaran pertama bahwa aku tak boleh membiarkan diriku tercekik akibat beban rutin duniawi?

Bukankah Engkau adalah Penciptaku? Bukankah Engkau telah membuat diriku menjadi manusia? Dan apakah gerangan manusia itu selain makhluk yang tidak dimaksudkan untuk dirinya sendiri, makhluk yang melihat ketidakcukupannya sendiri, sehingga ia secara alami mau tak mau harus mendambakan ketakterhinggaan-Mu?

Apakah manusia itu selalu makhluk yang harus mengikuti desakan untuk lari mengejar bintang-bintang-Mu yang jauh sekali letaknya, yang harus selalu meneruskan perjalanan berburu dan memburu bintang itu sampai menempuh semua jalan raya dan lorong-lorong dunia, agar akhirnya melihat bintang-bintang-Mu masih saja menempuh jalannya sendiri yang tak tertata rapi dan terasa semakin menjauh saja?

Bahkan apabila aku harus mencoba menghindar dari rutinku dengan menjadi biarawan Trapis sehingga aku tak mempunyai hal-hal lain untuk dikerjakan kecuali menghabiskan waktuku untuk diam dan menyembah Hadirat-Mu yang suci, apakah ini memecahkan masalahku? Apakah itu benar-benar mengangkat diriku dari permukaan hidup rutinku?

Aku khawatir jangan-jangan tindakan itu semua tak akan membuahkan hasil demikian karena bahkan tindakan-tindakanku yang suci sekalipun tidak bebas dari debu karat jiwa rutin ini. Apabila aku merenungkan saat –saat yang aku habiskan di altar suci-mu, atau mengucapkan doa resmi Gereja-Mu dalam doa harian para imam, maka bagiku menjadi jelaslah bahwa aku sendirilah yang bertanggung jawab atas sebab-musabab mengapa hidupku menjadi sedemikian boyak. Bukan hal-hal duniawilah yang membuat hari-hariku menjadi membosankan dan tak bermakna, melainkan aku sendirilah yang menggali lubangnya! Lewat sikapku sendiri aku dapat mengubah peristiwa-peristiwa yang paling suci sekalipun menjadi keboyakan kelabu yang berupa rutin menjemukan. Hari-hariku bukan membuat aku menjadi membosankan, melainkan justru sebaliknya.

Maka dari itu sekarang aku lihat bahwa jika bagiku ada suatu jalan untuk mendekati Engkau, jalan itu pastilah harus melewati tengah-tengah kehidupan sehari-hariku yang biasa. Jika aku harus mencoba lari kepada-Mu dengan mengambil jalan lain, aku akan kedodoran, dan jika demikian, selain tidak mungkin langkah itu pun tak akan menyelesaikan apa-apa.

Tetapi adakah jalan yang melintasi kehidupan sehari-hariku yang dapat membawa diriku ke Diri-mu? Apakah jalan ini tidak semakin menjauhkan diriku dari Engkau? Apakah jalan itu tidak membenamkan diriku semakin dalam ke hiruk pikuk kesibukan duniawi di mana Engkau, Allah Raja keheningan, tidak tinggal?

Aku menyadari bahwa kami lambat laun bosan akan kegiatan demam-demam yang tampaknya sedemikian penting bagi jiwa dan hati muda. Aku mengetahui bahwa taedium vitae – kebosanan hidup yang diomongkan oleh para filsuf moral, dan perasaan kepuasan hidup yang dilaporkan Kitab-Mu sebagai pengalaman duniwi batrik-batrik-Mu, akan juga semakin menjadi nasibku sendiri. Rutinku sehari-hari langsung saja akan berubah menjadi kemuraman hidup dan dengan demikian secara tidak langsung membawa diriku kepada-Mu, sisi lain kehampaan duniawi yang tak mengenal batas.

Tetapi aku tak harus menjadi orang Kristiani untuk mengetahui itu. Sebab apa? Karena bukankah orang-orang kafir pun mengalaminya pula? Apakah ini jalan yang harus kutempuh setiap hari untuk menuju ke Diri-Mu? Apakah aku sampai ke hadirat-Mu karena hidup ini telah menyingkapkan wajah diri-Ku yang sebenarnya, dan akhirnya mengakui bahwa semuanya hanya kehampaan, semuanya adalah kesengsaraan?

Apakah jalan itu bukan lebih merupakan jalan menuju keputusasaan daripada jalan menuju ke Diri-Mu? Apakah jalan itu bukan kemenangan dan pemahkotaan rutin apabila hati manusia yang telah tak bernyala lagi tidak lagi menemukan butir kegembiraan terakhir dalam hal-hal yang dulu memberikan dia kelegaan, apabila bahkan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-harinya yang biasa dapat ia andalkan untuk memberikan pertolongan selama masa jenuh dan masa sepi kini telah terasa menjadi hambar?

Apakah hati yang telah capek dan lebih dekat kepada-Mu daripada hati yang masih muda dan gembira? Di manakah kami dapat berharap menemukan Dikau jika kegembiraan kami yang sederhana ataupn kesedihan kami yang sederhana pula tidak berhasil menyingkapkan Dikau bagi kami? Memang, kegembiraan kami dari hari ke hari tampaknya secara khusus dirancang untuk membuat kami lupa akan Dikau dan dengan kekecewaan-kekecewaan kami sehari-hari keadaannya tidak menjadi lebih baik: kekecewaan-kekecewaan itu membuat hati kami sedemikian sakit dan pahit sehingga tampaknya kami merasa kehilangan bakat yang pernah kami miliki untuk menemukan Dikau.

Ya Allah, tampaknya kami dapat kehilangan pandangan mengenai Engkau dalam segala hal yang kami lakukan. Bahkan bukan hanya doa, Kurban Kudus atau kesunyian biara, dan bahkan bukan hanya khayalan palsu dengan hidup sendiri dapat sepenuhnya menjaga kami dari bahaya ini. Dengan demikian jelaslah bahwa bahkan hal-hal suci yang bukan rutin ini akhirnya termasuk ke dalam rutin kami. Jelaslah, rutin bukan hanya bagian hidupku, bahkan bukan hanya bagian terbesar, melainkan seluruhnya. Setiap hari menjadi sehari-hari. Setiap hal yang aku lakukan adalah rutin, karena setiap hal dapat merampas kami dari satu-satunya yang aku perlukan, yakni Engkau, ya Allahku.

Tetapi di sisi lain, jika memang benarlah bahwa aku dapat kehilangan Engkau dalam setiap hal, harus benar pulalah jika aku dapat menemukan Engkau dalam setiap hal. Jika Engkau tidak memberikan tempat satu pun yang akan menjadi tempat pelarianku, tepat di mana aku pasti menemukan Engkau, jika setiap hal yang aku lakukan berarti kehilangan Engkau maka aku harus mampu menemukan Engkau di seberang tempat, di segala hal yang aku lakukan. Kalau tidak demikian, aku tidak akan dapat menemukan Engkau sama sekali, dan ini tidak dapat demikian karena aku tak mungkin ada tanpa Engkau. Maka aku harus mencari Engkau dalam semua hal. Jika setiap hari adalah sehari-hari, dan setiap hari adalah hari-Mu, dan setiap jam adalah jam rahmat-Mu.

Setiap hal adalah “setiap hari” dan hari-Mu pula. Dengan demikian, ya Allah, aku sekali lagi memahami sesuatu yang selalu telah aku ketahui, suatu kebenaran sekali lagi hidup kembali dalam hatiku yang sudah kerap dikatakan kepadaku oleh budiku—dan apakah arti serta nilai kebenaran budi dan pikiran apabila ini juga bukan kehidupan mati?

Berulang kali aku harus mengambil catatan tua tempat aku mencatata kutipan pendek tetapi penting dari Ruysbroeck bertahun-tahun silam. Aku harus membaca ulang agar dapat menangkap kembali siratan maknanya. Di sini aku selelau menemukan hiburan karena mau menemukan kembali bagaimana perasaan orang yang benar-benar saleh ini tentang hidupnya sendiri. Dan kenyataan bahwa aku masih menyukai kata-kata ini setelah sekian tahun hidup dalam rutin bagiku merupakan janji suci bahwa Engkau sekali waktu akan memberkati pula tindakan-tindakanku yang sederhana.

Allah datang pada kami terus-menerus, baik langsung maupun tidak langsung. Dari kami ia meminta kerja dan kesenangan, serta menghendaki agar masing-masing tak dihalangi oleh yang lain, melainkan dikuatkan. Dengan demikian manusia batin memiliki kehidupannya baik dalam kegiatan maupun dalam istirahat. Dan dia memang utuh sepenuhnya dalam masing-masing segi karena ia sepenuhnya ada dalam Allah apabila ia dengan senang hati beristirahat, dan ia sepenuhnya pula dalam dirinya apabila ia secara aktif bercinta.

Manusia batin selalu tertantang dan terdorong oleh Allah untuk memperbarui istirahat dan kerjanya. Dengan demikian ia menemukan keseimbangan; dengan demikian ia membuat jalannya menuju ke Allah dengan cinta jujur, cinta mesra dan kerja abadi. Dia masuk ke dalam Allah dengan menggunakan kecenderungan yang menyenangkan untuk menuju ke istirahat abadi. Dan selama ia tinggal dalam Allah, ia tetap keluar ke semua makhluk dalam cinta yang merangkul semua, dalam keutamaan dan keadilan. Dan itu adalah puncak kehidupan batin.

Mereka yang tidak mempunyai istirahat dan kerja sekaligus dalam satu tindakannya belum mencapai keadilan macam ini. Orang jujur pun tak mungkin terhalang dalam rekoleksi batinnya, karena dia berekoleksi baik dalam suka maupun dalam tindakan. Ia bagaikan kaca ganda yang memantulkan gambar di kedua sisi. Dalam papan atas jiwanya ia menerima Allah dengan segala anugerah-Nya, dalam papan bawah ia menerima citra badani lewat panca-indranya.

Aku harus belajar memiliki baik “keseharian” dan hari-Mu sekaligus dalam satu tindakan. Dalam menjalankan pekerjaan duniawi aku harus belajar memberikan diriku kepada Dikau, memiliki Dikau, satu-satunya hal dalam segala sesuatu. Tetapi bagaimana ini dapat terjadi? Hanya melalui Engkau, ya Allah. Hanya berkat pertolongan-Mu aku dapat menjadi manusia “batin” di tengah berbagai macam tugas sehari-hari. Hanya melalui Engkau aku dapat tetap di dalam diriku dengan Dikau apabila aku keluar dari diriku mengurusi perkara-perkara duniawi.

Bukan kegelisahan atau ketiadaan hidup dan bahkan bukan pula kematianlah yang dapat menyelematkan aku dari hilang leburku dengan urusan duniawi. Bukan filsuf modern, melainkan cinta terhadap Engkau sendirilah yang dapat menyelamatkan aku, yang merupakan tujuan dan daya tarik semua hal. Hanya Engkaulah pemenuhan dan kepuasan. Hanya Engkaulah yang cukup untuk diriku, bahkan untuk Dikau sendiri. Hanya cinta terhadap Engkau, ya Allah tak terhingga, yang membelah teras segala benda, dan sekaligus melampaui segalanya serta meloncat ke atas memasuki lingkup tak terhingga Diri-Mu, dengan mengangkat semua hal duniawi yang hilang dan mengubahnya menjadi madah pujian bagi ketakterhinggaan-Mu.

Di hadirat-Mu, semua keanekaan menjadi keekaan di dalam Diri-Mu, semua yang tersebar menyebar menunggal; dalam cinta-Mu semua yang melulu lahirian dijadikan sejati dan asli lagi. Dalam cinta-Mu semua kebuyaran segala perkara sehari-hari pulang kembali ke kemagriban keesaan-Mu yang tidak lain adalah hidup abadi.

Cinta yang dapat membiarkan rutinku sehari-hari tetap rutin tetapi toh mengubahnya menjadi kepulangan kepada-Mu ini—kecintaan ini—hanya Engkaulah yang dapat memberi. Maka apakah gerangan yang harus aku katakan kepada-Mu sekarang, sebab aku datang untuk menghamparkan semua rutin sehari-hariku di hadirat-Mu? Hanya ada satu yang dapat aku mohon, dan ini adalah anugerah-Mu yang paling sederhana dan paling mulia, yakni rahmat kasih-Mu.

Sentuhlah hariku dengan rahmat ini, ya Tuhan. Apabila aku menengadah dalam suka atau dalam duka untuk memohon barang sesuatu dari dunia ini, berilah agar melalui anugerah itu aku boleh mengetahui dan mencintai Engkau, pembuatnya dan tempat tinggal akhirnya. Engkau yang tidak lain adalah cinta sendiri, berilah aku rahmat cinta, berilah aku Diri-Mu sendiri sehingga seluruh hariku akhirnya dapat bermuara dalam hari kehidupan abadi-Mu itu!

sumber: Karl Rahner, Ekawacana dalam Keheningan (terj. J. Drost, SJ), Jakarta: Obor, 1996.  

Iklan

Siapakah Yesuit itu?

Tembang: “Dhandhanggula Prasetya Purna” oleh Rm. L. A. Sardi, SY

Dedalane ngabdi ndherek Gusti

(Mengikuti jalan untuk mengabdi Tuhan)

Sawutuhe ing dalem Sarekat

(Seutuhnya di dalam Serikat)

Novisiat dhasarane

(Novisiat menjadi dasarnya)

Wose nggegulang kalbu

(Intinya mengolah hati)

Niba nangi jroning “probasi”

(Jatuh bangun selama “probasi”)

Tepung SJ lan kanca

(Mengenal SJ dan para sahabat)

Sanak nunggal laku

(Yang menjadi saudara dalam peziarahan yang sama)

Neges Jatining timbalan

(Mencari arti inti panggilan)

Gene mathuk prasetya denya antebi

(Mengucapkan janji dengan mantap)

Wadat, mlarat, lan taat

(Murni, miskin, dan taat)

Siapakah Yesuit itu?

Banyak jawaban yang muncul dari para Yesuit. Yesuit itu…

orang yang merasa dipanggil menjadi teman kerja Tuhan di dunia | orang yang terbakar oleh cintah Tuhan |pengikut Kristus. Tapi tidak hanya ikut makan, minum, tidur (melainkan) mengikuti kegiatan Kristus | ibarat seorang sutradara. Dia membaca teks kehidupan, tanda-tanda zaman, bisa mengkontemplasikan dan mewujudkannya (hingga) menjadi suatu karya yang mungkin bisa membawa orang terinspirasi |religius yang bisa manjing, ajur, ajer dalam situasi apa pun. Dengan orang kaya ia tidak minder. Dengan orang miskin ia tidak sombong. Dengan orang jahat atau orang yang dianggap tidak baik dia tidak kelihatan sok suci. Dengan orang bodoh ia bisa menemani. Dengan pemabuk bahkan ia tidak perlu merasa sendiri, sebab apa? Sebab bagi dia semuanya itu adalah tempat perjumpaan di mana dia harus menemukan dan memuliakan tuhannya |pendosa yang menyadari dirinya dipanggil dan rahmat dan cinta tuhan itu dirasakan jauh lebih besar dari kedosaan dan kekurangannya dan karena itu yesuit bersedia untuk selalu diutus untuk membagikan hidup yang meruipakjan anugerah dari tuhan.

 

Para Sahabat Menggambarkan Siapa Yesuit

Tanggapan lain muncul dari orang-orang yang berkarya bersama para Yesuit (di Univ. Sanatha Darma, SMA John de Britto,PIKA Semarang, dll). Yesuit itu…

suatu komunitas yang mengikuti jejak santo Ignasius untuk memperjuangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya bagi kaum muda | pengikut Kristus yang militan, yang mau bertobat dan kemudian mengobarkan semangat dan menyebarkan Kerajaan Allah secara radikal | pejuang-pejuang nilai-nilai humanitas yang luar biasa |sekelompok orang (atau) segerombolan yang mencoba untuk memperbaiki dunia. Tapi terlebih dahulu mereka mencoba untuk mengelola diri dengan siklus batin yang khas sesuai (teladan) Ignasius |racun dunia pendidikan di Indonesia dengan visi, idealisme-idealisme, (dan) nilai-nilai pendidikan yang coba dikonkretkan di setiap lembaga dan itu terus-menerus dilakukan | sekelompok atau seorang yang hangat dan gampang diajak ngomong, bersenda gurau kadang serius, kadang banyak gurau daripada seriusnya. Lebih banyak berguraunya.

 

Yesuit adalah para pendosa

Ada banyak tanggapan positif tentang Yesuit. Namun tak kalah banyak pula tanggapan dan pengakuan miring (yang juga positif) tentang Yesuit. Pengakuan ini diberikan oleh para yesuit sendiri dan juga para rekan kerja mereka. Keburukan dari Yesuit itu…

Kepalanya keras | Ndableg | Sombong, itu mesti sangat cocok (dengan karakter mereka) | Individualis | Kurang Koordinasi | Menganggap dirinya yang paling hebat | Sok tahu. Inginnya mengetahui semuanya tetapi belum tentu tahu | Nyuwun amit amit sewu. Sedikit angkuh. Sedikit bener dhewe. Sedikit menang dhewe, sedikit maju dhewe | Kalau kotbah tinggi sekali. Banyak yang sulit ditangkap oleh umat | Kurang belajar sejarah | Kurang mendarat. Kurang menyentuh tanah | Keras Kepala | Kalau mereka berkarya lebih dari satu orang dalam satu lembaga, acap kali mereka tidak rukun | Sedikit alot untuk menerima pendapat kami (rekan kerja) | Luarnya lembut, tapi kalau menerima ide agak sulit | Arogan | Susah diberi masukan | Sontoloyo | Kurang memahami hidup berkeluarga bagaimana mencari uang, mengelola uang untuk anak dan istri | Sok tahu. Sok ngatur-ngatur. Jaim (jaga image) | Narsis | Banyak yesuit yang juga menjadi selebritis.

 

Hanya Karena Rahmat Tuhan

Jika Yesuit itu penuh dengan kekurangan dan keburukan itu karena salah yesuitnya. Kalau ada kebaikan pada diri Yesuit, itu semua semata-mata karena kemurahan hati Tuhan. Apa keunggulan Yesuit?

Kebaikan Yesuit itu mulai dari ubun-ubun sampai telapak kaki | punya fondasi kerohanian yang luar biasa yaitu Latihan Rohani | tanggap terhadap situasi dunia | tahan Banting. Nggak mudah menyerah | siap sedia. Rela untuk diutus kapan pun dan di mana pun | keunggulan yesuit itu ada pada kemampuannya untuk berefleksi | bisa dipercaya | unggul dalam Discernment  | unggul dalam bukan dalam menjawab pertanyaan tetapi membuat pertanyaan | selalu up-to-date | Punya visi |  kerja dengan serius, dengan sepenuh, dan bisa dipercaya | bekerja keras dan pandai mencari jalan untuk hal-hal yang lebih baik | pejuang keras. Cukup militan di berbagai bidang | sekumpulan intelektual | selalu di frontier | tegas dalam menyampaikan prinsip-prinsip yang ingin ditawarkan kepada siapa pun | pintar, (punya) komitmen, fokus, gila, dan bekerja total.

Yesuit adalah pribadi yang siap-sedia diutus ke wilayah tapal batas. Apa artinya berjuang menembus tapal batas? Rm. R.B. Riyo Mursanto, SY (Provinsial): tapal batas yang dimaksud adalah batas-batas yang mengekang seseorang untuk tidak bebas berbuat sesuatu. Jadi batas-batas itu misalnya ketakutan untuk bekerja sendiri, atau khawatir untuk bekerja dengan orang lain, atau keragu-raguannya karena merasa tidak bisa. Lalu dia berhadapan dengan batas-batas itu. Kalau dia diutus ke wilayah tapal batas (frontier), itu artinya dia diutus untuk melampaui batas-batas (psikologis) itu dan menemukan sebuah keberanian baru: bekerja dengan orang lain, mengatasi keraguan dirinya, bertanya dengan orang-orang karena tidak tahu, dan menggalang resources yang ada.

 

Puisi

“Pendosa yang dipanggil Tuhan, Doa Seorang Yesuit” oleh Rm. G.P. Sindhunata, SY

Hendak kujahit dengan apa hatiku yang robek karena dosa

kecuali dengan benang cinta dan kerahimanmu yang tak terkira.

Dengan kuda berlari seribu aku menjauh darimu

namun kau tangkap aku selalu dengan tanganmu yang terluka bekas paku.

 

Kalau kau menghendaki aku,

mengapa kau biarkan aku selalu jatuh sampai sekian ribu hingga aku ingin lari darimu?

dan selau demikian jawabanmu:

“Kau memang pendosa di hadapanku

namun justru karena itu aku memanggilmu

menjadi sahabatku.”

 

Maka kaubiarkan aku terombang-ambing dalam deru

antara kesetiaan dan kejatuhan, antara kepastian dan kebimbangan.

Kapan berhenti keterombangambinganku ini?

“Saat kau tak ragu lagi, kau adalah sahabatku sampai mati

kendati dosamu yang kau tangisi setiap hari.”

 

Kini aku tahu, Tuhan, hatiku robek karena terluka

bukan oleh dosa tapi oleh cinta.

Luka karena cinta hanya akan sembuh oleh cinta,

karena itu tak lagi aku harus bersedih karena dosa.

 

Tuhan jangan biarkan lagi aku ragu.

Aku adalah sahabatmu.

Karena itu kau tega menggoreskan cinta di atas dosaku

hingga makin perihlah kerinduan hatiku akanmu.

 

Sumber:

Disarikan dari DVD Seri 10, Jubileum 150 tahun SY Indonesia: “Pergilah dan Kobarkanlah Dunia!”, Studio Audio Visual Puskat, Yogyakarta.

Ketekunan dan Spiritualitas Studi [ii]

…melanjutkan renungan dari Rm. G.P. Sindhunata, SY…

Orang yang sungguh bermatiraga hanya membutuhkan seperempat jam untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan.”

– St. Ignasius Loyola

Latar belakang kata-kata itu: 22 November 1554, Jerome Nadal (1507-1580) berbincang-bincang dengan Ignasius tentang permintaan mendesak para Yesuit di Alcala, supaya diperbolehkan memperpanjang waktu doa, lebih daripada yang sudah digariskan oleh Serikat. Nadal melaporkan, bahwa ia mengijinkan komunitas Alcala untuk menambah setengah jam pada waktu doa, yang sudah ditentukan oleh konstitusi bagi skolastik. Nadal bilang, ia mendukung dan membela secara personal kemauan para Yesuit Spanyol itu. Malahan ia mendesak Ignatius untuk menyetujui permintaan itu.

Waktu itu Ignasius sedang sakit dan terbaring di tempat tidurnya. Ignasius mendengar semuanya, tapi tak memberi komentar apa-apa. Baru keesokan harinya, Ignasius memberikan reaksi. Di hadapan beberapa saudara, termasuk Pater Luis Goncalves da Camara, Ignasius kelihatan “marah”, dan menegur Nadal. Dengan kata yang keras, ia menyesalkan Nadal yang tak berhasil menundukkan Yesuit Spanyol pada peraturan Serikat tentang doa. Dan menurut Camara, keluarlah kata-kata pedas di atas. Nadal hanya terdiam. Ia seakan mengakui, ia belum benar-benar paham akan keyakinan Ignasius tentang doa, seperti dituliskan dalam Konstitusi. Camara juga terkejut akan reaksi Ignasius itu. Namun ia kagum betapa Nadal mau menerima dengan rendah hati teguran keras itu.

Dalam kisah ini jelas, bahwa doa seorang Yesuit bukanlah doa umumnya para biarawan. Doa Yesuit adalah doa dari dan tentang hidup hariannya, bahkan hidup hariannya sendiri adalah doanya. Doa ini lebih berat daripada sekadar menepati ketentuan-ketentuan doa formal, serta jam-jam doa formal. Doa ini harus berlangsung sepanjang hari, dalam setiap tetek bengek hidup harian yang kelihatannya tak mengandung Allah sama sekali. Doa ini berat, atau malahan lebih berat daripada sekadar menepati waktu doa formal, karena doa itu menuntut askese yang luar biasa, bahkan doa itu sendiri adalah askese, seperti diterangkan oleh Pater Karl Rahner di atas.

Hidup doa itu sangat dekat dengan penghayatan kemiskinan kita (P. Arrupe). Kemiskinan tidak pertama-tama kemiskinan lahiriah, tapi memilih kerja keras. (Jelas pula bahwa “semangat kemiskinan tidak dihayati dengan sungguh-sungguh bila secara spontan kita tidak memilih hidup bekerja keras, tidak menjaga kesehatan secara wajar, dan tidak mengusahakan disiplin dan tertib hidup pribadi”).

Kemiskinan juga berarti ketergantungan: Lihatlah para pekerja rendahan: “Di antara para pekerja yang sungguh-sungguh miskin tidak ada kebebasan untuk memilih pekerjaan, tempat atau waktu untuk bekerja, pemimpin atau kawan kerja, dan mereka juga masih terpaksa meninggalkan tanah air mereka … Maka dari itu, sebagaimana kita ingin sama dengan orang kecil dan lemah di dunia, kita perlu yakin, betapa besar nilainya hidup dalam ketergantungan itu, justru karena kita hidup bersama dan berkaul kemiskinan. Ketergantungan kita bukanlah hina, sebaliknya amat luhur, karena merupakan pilihan bebas kita, yang tergerak oleh cinta kepada Kristus, Hamba yang direndahkan. Dengan begitu kita ikut ambil bagian dalam cinta dan Hati-Nya yang tertuju kepada yang paling hina…

Sudahkah studi kita alami dalam rangka kita mengalami kemiskinan secara real, yakni kemiskinan pekerja-pekerja rendahan, yang harus bekerja tanpa ampun sepanjang hari, yang tergantung tanpa bebas memilih? Ataukah studi hanya salah satu pilihan di samping pilihan lain? Kalau demikian kita sudah terlalu mewah, dan tidak lagi mengalami kemiskinan sebagai solidaritas terhadap mereka yang tak punya pilihan lain, kecuali harus bekerja dengan keras untuk menutupi nafkahnya.

Jika kita mengisi hidup harian kita dengan studi, dan studi itu kita alami sebagai sebentuk ketergantungan, yang membuat kita tidak boleh lagi seenaknya memilih dalam hidup harian ini, maka hidup harian kita tidak hanya berdimensikan kemiskinan, tapi juga menjadi doa: doa skolastik yang miskin, yang menyadari bahwa hidupnya sama sekali tergantung pada studi, yang harus dijalani dengan tekun, rajin, tanpa pamrih, karena hidup hariannya memang sedang menghendaki dia untuk menjalankan askese demikian.

Latihan Rohani no. 93: “Kehendakku ialah menaklukkan seluruh tanah orang-orang kafir. Barangsiapa mau ikut aku dalam usaha itu, haruslah puasa dengan makanan yang sama seperti makananku sendiri, begitu pula minuman, pakaian dsb. Siang hari harus membanting tulang, dan malam hari ikut bersama aku, dsb, Kelak ia akan mendapat bagian dalam kemenangan bersama aku, sebagaimana dulu ambil bagian dalam susah payahku.” (Similiter debet laborare, ut ego, interdiu, et vigilare noctu, etc,  ut ita deinde particeps mecum fiat victoriam sicut fuerit laborum).

LR 97: “Mereka yang mau lebih mencintai dan menjadi unggul dalam segala hal yang bersangkutan dengan pengabdian kepada Raja Abadi dan Tuhan semesta, tidak hanya akan mempersembahkan diri seutuhnya untuk berjuang; tetapi lebih lanjut bertindak melawan hawa nafsu, cinta kedagingan dan dunia dalam dirinya…”(non solum offerent se totos ad laborem, sed etiam agendo contra suam propriam sensualitatem, et contra suum amorem carnalem et mundanum…).

Teks Kitab Suci untuk direnungkan

  • Mat 25: 14-30: Mau bekerja karena hormat dan kasih pada Allah
  • 2 Tes 3: 1-10: Menjauhkan diri dari orang yang tidak mau melakukan pekerjaan… Siapa tidak mau bekerja, jangan makan… janganlah hidup dengan tidak tertib dan melakukan hal-hal yang tidak berguna.
  • Rom 8: 26-30: Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
  • Mas 126: 5: Orang yang menabur dengan mencucurkan airmata, akan menuai dengan bersorak-sorai.