Lilin Bernyala

IMG_0254

Ada deretan lilin bernyala dan lelehan lilin terserak di bawahnya di Gereja St. Antonius Padua, Yogyakarta. Foto ini saya ambil pada tanggal 30 Juli 2019, saat saya bersama tujuh teman diakon sedang gladi resik untuk tahbisan imamat kami pada keesokan harinya. Saat itu sambil melihat lilin itu, saya membatin: Jika saya bisa bersinar sampai saat ini, itu karena ada pengorbanan dari orang lain.

Setiap lilin mewakili doa-doa permohonan dan syukur. Nyala api itu mengingatkan saya pada kehadiran Roh Kudus yang sering dilukiskan dengan lidah api yang bernyala di atas kepala para murid pada peristiwa Pentekosta. Ada banyak nyala api, tapi semuanya berasal dari satu Roh. Ada doa yang bhineka ditujukan pada Allah yang Eka. Itulah gereja, kita berbeda tetapi disatukan oleh Roh yang satu dan sama.

Dalam hidup sepertinya lebih mudah untuk berkutat pada pertanyaan: “apa yang berbeda di antara kita?”, daripada “apa yang bisa menyatukan kita?” Kita bisa mengambil lilin itu dan menggunakan terangnya untuk menuntun langkah kita dalam kegelapan. Demikian pula di dalam peziarahan hidup, kita menggunakan terang Roh Kudus untuk memandang realitas di sekitar kita. Jika dunia melihat ideologi Kiri dan Kanan, Konservatif dan Progresif, Hitam dan Putih, untung dan rugi, Roh melihat semuanya sebagai satu identitas: anak-anak yang berasal Allah yang satu dan sama.

Jika kita melihat lelehan lilin yang terserak di bawah itu, itulah rahasia dari kesatuan kita, yaitu pemberian diri. Roh Kudus sejatinya adalah pemberian. Dengan memberikan dirinya, Roh menjaga kesatuan kita. Itulah Allah yang kita imani, bukan Allah yang merampas milik kita, melainkan Allah yang memberikan diriNya untuk kita. Demikianlah Gereja lahir karena pemberian dan bertumbuh karena memberikan dirinya bagi orang lain.

 

di kesunyian malam

Tuhan, malam telah larut.

Aku masih di tengah jalan,

dan merasa, betapa semuanya sunyi,

di lampu merah ketika aku harus berhenti,

di pengisian bahan bakar, di tepi-tepi jalan,

semuanya menjadi sepi,

lain dengan suasana ramai di pagi hari.

 

Aku merasakan kesunyian itu.

Biarkan ya Tuhan, kesunyian itu membelai aku,

dan membersihkan aku.

Sepanjang hari banyak kata aku hamburkan,

setiap saat kata-kata dituangkan,

dan meracuni aku serta duniaku.

 

Curahkanlah anugerah-Mu agar aku bisa diam,

diam yang membuat aku dapat mengenangkan kembali

siapa saja yang kujumpai hari ini,

dan pada siapa aku harus berterima kasih;

diam yang membuat aku ingat

akan peristiwa, waktu, dan saat,

di mana aku merasa tersengat dan tergugat

untuk makin mencintai sesamaku;

diam yang membuat aku memberi maaf,

pada siapa yang melukai aku,

dan meminta maaf

pada siapa yang telah aku lukai.

 

Dalam kesunyian malam ini, Tuhan,

anugerahilah aku dengan diam,

di mana dengan-Mu aku dapat bercakap-cakap

seperti seorang anak terhadap bapak.

Tuhan, dalam sunyinya malam ini,

aku sungguh ingin berdiam diri,

agar aku dapat merasakan kedamaian dan ketenteraman-Mu.

Puaskanlah kerinduanku akan-Mu, ya Tuhan.

 

(G.P. Sindhunata, SJ)

Izinkan aku mencintai-Mu

“Izinkan aku mencintai-Mu, Tuhanku,
dengan setiap nafas kehidupan yang kuhirup.
Izinkan aku mencintai-Mu, Tuhanku,
setiap detak jantungku kupasrahkan pada-Mu.

Meski pikiranku tak mampu memahami-Mu,
meski kehendakku tak menentu,
belaskasih-Mu menghalau kegelapan yang pekat dalam jiwaku,
memancarkan cahaya, menghembuskan kehidupan, dan menenangkan kegalauan dalam jiwaku.

Meski hatiku tak sanggup mencintai-Mu,
bahkan ketika semangatku mulai pudar,
cinta-Mu padaku melingkupi segala rasa takutku, segala tindakanku, seluruh diriku, dan seluruh keberadaanku.”