ketika waktu berlalu

Tuhan, hidup berlalu begitu cepat. Peristiwa-peristiwa yang beberapa tahun lalu menyita perhatianku, kini telah menjadi kenangan yang samar; konflik-konflik dalam hidupku yang beberapa bulan lalu terlihat begitu krusial, kini terlihat sia-sia dan tak layak; pergulatan batin yang merenggut waktu tidurku beberapa minggu lalu, kini telah menjadi perasaan lampau yang tak kukenali lagi; buku-buku yang memenuhiku dengan kekaguman beberapa hari yang lalu, kini tidak terlihat penting; gagasan-gagasan yang menawan pikiranku hanya beberapa jam yang lalu, kini telah kehilangan daya dan telah tergantikan dengan gagasan-gagasan yang lain.

Mengapa begitu sulit untuk belajar dari pengalaman ini? Mengapa aku terus-menerus terjebak dalam kemendesakan dan kegentingan? Mengapa aku tidak melihat bahwa engkau adalah kekal, bahwa kerajaanmu ada untuk selamanya, dan bahwa bagimu seribu tahun lamanya seperti hari kemarin? Ya Tuhan, izinkanlah aku masuk dalam kehadiranmu dan di sana mencecap kekekalan, keabadian, cinta yang tak berkesudahan yang dengannya engkau mengundangku untuk membiarkan berlalu semua kecemasan, ketakutan, obsesi, dan kekhawatiranku yang terikat waktu. “Carilah dahulu Kerajaan Allah,” sabdamu, “dan segalanya akan ditambahkan kepadamu.” Segala yang terikat oleh waktu akan menunjukkan maknanya yang sejati ketika aku dapat melihatnya dari tempat yang engkau inginkan aku ada di sana, dalam cinta yang tak berkesudahan.

diterjemahkan dari: “Mornings with Henri J.M. Nouwen: Readings and Reflections”, Compiled by Evelyn Bence, Ohio: St. Anthony Messenger Press, 1997, no. 1, “As Time Goes By”.

Iklan

khawatir

Yang lebih memperbudak daripada kesibukan adalah kekhawatiran. Khawatir berarti memnuhi waktu dan tempat kita dengan hal-hal tertentu jauh sebelum kita mengalaminya. Inilah kecemasan dalam arti yang khusus. Benak kita dipenuhi dengan “seandainya”. Kita berpikir: “Bagaimana seandainya saya terserang flu? Bagaimana seandainya anak saya tidak pulang? Apa yang akan terjadi seandainya saya kehilangan pekerjaan? Bagaimana seandainya besok tidak ada cukup makanan? Bagaimana seandainya ada yang menyerang saya? Bagaimana seandainya tiba-tiba perang meletus? Bagaimana seandainya dunia kiamat? Bagaimana seandainya…? Semua pengandaian yang memenuhi pikiran kita ini membuat kita ceas dan terus-menerus mempertanyakan apa yang harus kita kerjakan dan apa yang harus kita katakan tentang sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Banyak bahkan mungkin semua, penderitaan kita disebabkan oleh kekhawatiran-kekhawatiran ini. Kemungkin perubahan jabatan, konflik-konflik keluarga, penyakit, wabah, perang nuklir, membuat kita merasa cemas, takut, curiga, bingung, dan muram. Semua itu menghalangi kita untuk mengalami kebebasan sepenuhnya.

Karena kita selalu mau mempersiapkan yang akan terjadi, kita jarang percaya pada apa yang sedang terjadi. Tak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa banyak tenaga manusia diserap oleh kekhawatiran-kekhawatiran yang menakutkan ini. Kehidupan individual dan kehidupan bersama kita begitu dibentuk oleh kecemasan-kecemasan akan hari esok sehingga sukar untuk sungguh-sungguh menghayati hari ini…

sumber: Henri J.M. Nouwen, Cakrawala Hidup Baru, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1986, hlm. 17.

sibuk

satu ciri khas yang paling jelas dari kehidupan kita adalah bahwa kita sibuk. Kita mengalami hari-hari kita penuh dengan hal-hal yang harus kita kerjakan, orang-orang yang harus kita jumpai, rencana-rencana yang harus kita selelsaikan, surat-surat yang harus kita balas dan janji-janji yang harus kita tepati. Kehidupan kita seringkali nampak seperti koper yang hampir jebol karena terlalu banyak muatan. Dalam kenyataan, kita hampir selalu merasa tidak mampu menyelesaikan rencana-rencana kita sendiri.

Ada kejengkelan karena tugas-tugas yang tak terselesaikan, janji-janji yang tak terpetai serta rencana-rencana yang tak terwujud. Selalu ada sesuatu yang lain yang seharusnya kita ingat, kita kerjakan dan katakan. Selalu ada orang-orang yang tidak sempat kita temui, kita balas suratnya atau kita ajak bicara. Maka, meskipun kita sangat sibuk kita selalu merasa cemas karena tak pernah dapat menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita.

Tetapi yang aneh adalah bahwa sulit untuk tidak sibuk. Kesibukan sudah menjadi status simbol. Orang-orang mengharapakan kita menjadi orang sibuk dengan otak yang dipenuhi macam-macam hal. Seringkali rekan kita berkata: “Saya kira, seperti biasanya, engkau sibuk” dan kata-kata ini dimaksudkan sebagai pujian. Mereka mendukung pandangan umum bahwa sibuk itu baik. Lalu mereka yang tidak tahu apa yang akan dikerjakannya di masa datang justru membuat teman-temannya bingung. “Sibuk” seringkali disamakan saja dengan “menjadi penting”. Kebiasaan mengawali pembicaraan “saya tahu engkau sibuk, tetapi apakah dapat menyisihkan satu menit saja untukku”, menunjukkan bahwa satu menit yang diambil dari orang yang sibuk dipandang jauh lebih berharga daripada satu jam yang diambil dari orang yang pekerjaannya sedikit.

Dalam masyarakat yang menganggungkan prestasi, menjadi sibuk, mempunyai kegiatan, telah menjadi salah satu cara kalau tidak mau disebut satu-satunya cara yang terbaik untuk menampilkan identitas diri. Tanpa kesibukan bukan jaminan ekonomis, tetapi mainan terancamnya identitas. Ini menerangkan mengapa orang begitu takut menghadapi masa pensiun. Siapa kita ini kalau sudah tak punya kesibukan, kalau sudah tak punya kegiatan?

sumber: Henri J.M. Nouwen, Cakrawala Hidup Baru, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1986, hlm. 16-17.