“bernafas panjang dalam keberanian spekulatif…”

 Sebuah Harapan
(Franz Magnis-Suseno, SJ)

Perkenankan saya ucapkan suatu harapan
Saya mengharapkan…
bahwa filsafat di Indonesia
tidak berhenti pada uraian tipe pengantar,
aforisme sana sini dan lontaran omongan santai

Saya mengharapkan…
suatu usaha falsafi yang serius dan argumentatif
yang kritis, mendalam dan mendasar (gründlich)
yang tidak malas untuk menjalani die Anstrengung
des Begriffs, ketekadan untuk memahami pemikiran
para filosof besar betapa pun beratnya.

Saya mengharapkan…
Kekuatan bernafas panjang dalam keberanian spekulatif
Karena tanpa keberanian semacam itu,
peta bumi ilmu pengetahuan di negara kita
abu-abu belaka warnanya.

[tanda tangan FMS]

Iklan

berani: tahu apa yang ditakuti

Chicken Little (karangan: Mark Twain)

(sumber gambar: http://www.childrenstory.info/childrenstories/hennypenny.html)

Suatu hari, seekor ayam kecil bernama Chicken Little sedang berjalan-jalan di tengah hutan. Lalu, tiba-tiba sebuah biji jagung jatuh di atas kepalanya. Hal itu membuatnya begitu ketakutan hingga gemetar. Ia begitu terkejut hingga sebagian bulunya rontok.

“Tolong! Tolong!” teriak Chicken Little. “Langit runtuh! Aku harus mengatakannya kepada raja!” Dalam keadaan takut, Chicken Little lari, pergi menghadap raja.

Di tengah perjalanan, Chicken Little bertemu dengan seekor ayam betina yang kikir. Henny Penny namanya. “Hendak ke manakah engkau, Chicken Little?” tanya Henny Penny.

“Oh, tolonglah aku!” teriak Chicken Little. “Langit runtuh!”

“Bagaimana kamu tahu bahwa langit runtuh?” tanya Henny Penny.

“Oh! Aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, dan mendengarnya dengan telingaku. Sebagian dari langit itu jatuh di atas kepalaku!” seru Chicken Little.

“Ini mengerikan, sungguh mengerikan!” Henny Penny berkotek. “Lebih baik kita lari.” Mereka berdua pun lari sekencang mungkin.

Kemudian mereka berjumpa dengan Ducky Lucky, si bebek yang selalu beruntung. “Hendak ke manakah kalian, Chicken Little dan Henny Penny?” tanya si bebek.

“Langit runtuh! Langit runtuh! Kita akan mengatakannya kepada raja!” sahut mereka.

“Bagaimana kalian tahu?” tanya Ducky Lucky.

“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, dan mendengarnya dengan telingaku, dan sebagian dari langit itu jatuh di atas kepalaku,” kata Chicken Little.

“Astaga! Astaga!” Ducky Lucky berkoek. “Lebih baik kita lari!” Maka mereka bertiga lari sekencang mungkin untuk memberitahukan berita gawat itu kepada raja.

Kemudian, mereka berpapasan dengan si angsa yang pemalas , Goosey Loosey, yang sedang berjalan sambil menggoyang-goyangkan buntutnya.

“Halo! Chicken Little , Henny Penny, dan Ducky Lucky,” sapa Goosey Loosey. “Mengapa kalian terburu-buru?”

“Kita sedang berlari demi menyelamatkan diri kita!” ciap Chicken Little.

“Langit runtuh!” kotek Henny Penny.

“Dan kita berlari untuk mengatakannya kepada raja!” sahut Ducky Lucky.

“Bagaimana kalian tahu bahwa langit runtuh?” tanya Goosey Loosey.

“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, dan mendengarnya dengan kedua telingaku, dan sebagian dari langit itu jatuh di atas kepalaku,” jawab Chicken Little.

“Waduh!” Goosey Loosey berkuak. “Lebih baik aku ikut lari bersama kalian.” Mereka pun berlari dalam ketakutan yang hebat menyeberangi padang rumput.

Di tengah-tengah padang rumput, mereka bertemu dengan Turkey Lurkey, si kalkun pengintai  yang sedang  mengigal maju-mundur.

“Hallo, Chicken Little, Henny Penny, Ducky Lucky, dan Goosey Loosey,” sapanya. “Kalian hendak pergi ke mana dalam keadaan tergesa-gesa seperti itu?”

“Tolong! Tolong!” teriak Chicken Little.

“Kita sedang lari menyelamatkan nyawa kami!” kotek Henny Penny.

“Langit runtuh!” kuak Ducky Lucky.

“Dan kita berlari untuk mengatakannya kepada raja!” sahut Goosey Loosey.

“Bagaimana kalian tahu bahwa langit runtuh?” tanya Turkey Lurkey.

“Aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, mendengarnya dengan kedua telingaku, dan sebagian dari langit itu jatuh di atas kepalaku,” jawab Chicken Little.

“Astaga! Aku selalu menduga bahwa suatu saat langit akan runtuh,” kokok Turkey Lurkey. “Aku lebih baik lari bersama kalian.”

Maka mereka semua lari dengan segala ketakutan mereka, sampai mereka bertemu dengan si rubah yang licik, Foxy Loxy.

“Hei,hei,” kata Foxy Loxy. “Ke mana kalian pergi pada hari yang indah ini?”

“Tolong! tolong!” teriak Chicken Little, Henny Penny, Ducky Lucky, Goosey Loosey, dan Turkey Lurkey secara bersamaan. “Ini bukan lagi hari yang baik. Langit runtuh, dan kita sedang berlari untuk mengatakannya kepada raja!”

“Bagaimana kalian tahu bahwa langit runtuh?” kata Foxy Loxy.

“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, dan mendengarnya dengan kedua telingaku, dan sebagian dari langit itu jatuh di atas kepalaku,” kata Chicken Little.

“Aku mengerti,” kata Foxy Loxy. “Hmm, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan menuju istana raja.”

Maka Foxy Loxy menuntun Chicken Little, Henny Penny, Ducky Lucky, Goosey Loosey, dan Turkey Lurkey menyeberangi ladang dan melalui hutan. Ia menuntun mereka menuju liangnya, dan sejak saat itu mereka tidak pernah melihat raja untuk mengatakan kepadanya bahwa langit runtuh.

***

Plato di dalam salah satu karyanya yang berjudul “Lakhes” memberi definisi tentang keberanian. Katanya, keberanian berarti tahu (episteme) apa yang harus ditakuti dan apa yang harus dipercayai (dalam arti bisa dihadapi karena mampu dilampaui).” Seseorang yang tidak tahu apa-apa tidak bisa dikatakan sebagai pemberani. Misalnya, seorang anak kecil tidak takut bermain di tengah hutan sendirian. Kita tidak bisa mengatakan anak kecil itu sebagai pemberani, karena ia tidak tahu bahwa di hutan tersebut ada binatang buas. Anak itu tampak sebagai ceroboh daripada pemberani.

Kita sudah melihat dalam cerita tentang Chicken Little di atas. Para unggas tersebut tak tahu apa yang seharusnya mereka takuti, yaitu rubah. Mereka justru takut pada “isu” tentang langit yang runtuh, yang sebenarnya hanyalah sebutir jagung yang jatuh mengenai kepala Chicken Little.

Tidak ada manusia di kolong langit ini yang tidak pernah merasa takut. Tapi tidak banyak di antara kita yang sungguh-sungguh “tahu” (episteme: pengetahuan komprehensif) apa yang sebenarnya kita takuti. Rasa takut ada berbagai macam bentuk dan tingkatan. Yang perlu kita sadari bukanlah rasa takut biasa (takut anjing, takut maling, takut macet), melainkan rasa takut yang lebih mendalam. Misalnya, takut akan masa depan anak dan keluarga kita; bagi orang yang berpacaran, takut untuk menikah/berkomitmen untuk hidup berkeluarga; bagi pasangan suami-istri yang baru saja menikah (juga bagi saya yang menjalani hidup sebagai calon imam),  mungkin ketakutan yang muncul adalah takut tidak setia. Sebagai warga, kita pun menyimpan ketakutan akan masa depan bangsa Indonesia. Yang membedakan antara manusia dan hewan adalah kesadaran. Dengan kesadaran itu kita memaknai setiap perbuatan atau tindakan kita. Pada gilirannya kita pun akan melakukan sesuatu yang kita anggap bermakna atau bernilai. Sebagai manusia yang berkesadaran, sering pula muncul ketakutan bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu yang berharga, bernilai, bermakna, entah bagi diri kita atau orang lain. Sebagai manusia, kita pun takut akan sesuatu yang pasti dan tak terhindarkan, yaitu kematian. Kadang-kadang, kita pun tidak berani mengakui/menerima bahwa diri kita takut, dan dengan segala cara kita tutupi ketakutan itu. Ketakutan senantiasa ada dalam hidup kita, tak mungkin hilang. Tapi, jangan biarkan ketakutan itu menyelubungi hidup kita, membuat hidup kita menjadi gelap, melumpuhkan, dan mengendalikan setiap keputusan yang kita ambil. Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan pengendalian rasa takut dengan menggunakan kesadaran. Kenali diri kita, sadari apa isi ketakutan kita, dengan begitu kita bisa maju selangkah mendekati keberanian.

sumber:

1. Lih. “Chicken Little” dalam: Bennet, J. William (Ed.), The Book of Virtues: A Treasury of Great Moral Stories, (New York: Simon & Schuster, 1993), 443-444.

2. Plato: Lih. Setyo Wibowo, A. (Penerjemah & Penafsir), Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes), (Jakarta: Indonesia Publishing, 2011). Lihat juga: Plato, “Lakhes”, dalam: Cooper, John M. (Ed.), Plato: Complete Works, (Cambridge: Hackett Publishing Company, 1997), 664-686.