Platon dan “Politeia”

Politeia terdiri dari sepuluh Buku. Buku I diawali dengan dialog Sokrates dan Kephalos (328b-331d). Kephalos muncul sebagai tokoh yang pertama kali mengatakan “adil” dan “tidak adil”. Kephalos kemudian digantikan oleh putranya, Polemarkhos (331e-335e). Mengacu pada puisi dari Simonides, Polemarkhos menjelaskan dikaiosune sebagai tindakan “memberikan apa yang menjadi hak masing-masing” atau “melakukan kebaikan-kebaikan kepada para sahabatnya dan kejahatan kepada musuh-musuh” (331c). Menurut Sokrates, kata ‘sahabat’ dan ‘musuh’ itu bersifat ambigu. Kita bisa keliru memahami seorang teman yang sebenarnya adalah musuh atau sebaliknya. Dengan ambiguitas seperti itu keadilan justru dapat berarti menolong yang jahat dan melukai yang baik (334b-335b). Diskusi tersebut dipotong oleh Thrasymakhos (336b-354c). Menurutnya, dikaiosune adalah “keuntungan bagi orang yang paling kuat” (338c). Pada akhirnya, Thrasymakhos tidak dapat menjawab tanggapan dari Sokrates. Ia pun memilih untuk diam dan menolak berdialog lagi.

Argumentasi pokok dari Politeia terdapat dalam Buku II, III, IV, VIII, dan IX. Dalam Buku II, Glaukon dan Adeimantos menginginkan agar Sokrates memperjelas tanggapannya terhadap Thrasymakhos. Menurut mereka orang yang tidak adil hidupnya lebih menguntungkan daripada orang yang adil. Dan, pada dasarnya setiap manusia lebih memilih melakukan ketidakadilan daripada keadilan. Untuk menanggapinya, Sokrates lalu membuat proyek polis dalam wacana (city in speech). Pertama-tama ia mencoba melihat keadilan dalam konteks yang lebih besar yaitu polis. Polis berawal dari adanya kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh diri sendiri. Manusia tidak bisa self-sufficient. Dibuatlah komunitas kecil yang terdiri dari empat orang pekerja yang saling melengkapi (370d). Komunitas semakin berkembang, disertai dengan perkembangan kebutuhan. Akhirnya perlu diadakan tentara untuk menjaga keamanan polis. Saat inilah Sokrates mulai membahas tentang bakat alamiah punggawa dan pendidikan awal para punggawa, yaitu lewat narasi, musik, dan gimnastik. Di dalam Buku III, Sokrates menyeleksi kisah-kisah kepahlawanan dan dewa-dewi yang dibuat oleh Homeros dan Hesiodos. Menurut Sokrates, kisah-kisah yang tidak sesuai dengan pertumbuhan para punggawa perlu disingkirkan, dan yang menunjang akan diterima. Selain itu, dibahas pula pentingnya pendidikan musik (pendidikan tentang keindahan) dan gimnastik (olah fisik) untuk menghasilkan para punggawa yang unggul. Sokrates akan menyampaikan mitos tentang tiga ras untuk meyakinkan rakyat agar menerima pembagian tiga kelas dalam polis, yaitu “ras emas” (para pemimpin atau filsuf), “ras perak” (para prajurit atau punggawa auksilier), serta “ras besi dan tembaga” (para petani dan pengrajin). Dengan menerima pembagian tersebut diharapkan para warga dapat mentaati polis dan menjalankan tugasnya masing-masing dalam polis tanpa terjadi perselisihan antar-kelas. Di Buku IV, Sokrates berupaya untuk mencari cara agar dikaiosune dapat diwujudkan dalam polis. Ia lalu membahas mengenai “tiga keutamaan pokok”: [1] keutamaan kebijaksanaan (pengetahuan, sophia) akan tampak dalam cara para punggawa memerintah secara hati-hati (428b). [2] Keutamaan keberanian (andreia – 430d) akan dimiliki para prajurit dan para penjaga hukum. [3] Keutamaan ugahari (temperantia, sophrosune)  dimiliki oleh siapa saja yang bisa mengendalikan nafsu-nafsu mereka. [4] Dan keadilan (dikaiosune, justice, keadilan, kebenaran, atau ketegakkan) yang merupakan keselarasan dari ketiga keutamaan sebelumnya. Tiga keutamaan itu mewakili masing-masing kelas dalam polis. Jika ketiga keutamaan pokok tersebut ditransposisikan ke dalam individu akan menjadi tiga tipe perilaku individu (434e): [1] orang yang berakal sehat; [2] orang yang impulsif dan dikendalikan oleh dorongan jiwa, dan [3] orang yang sekadar mengikuti naluri dasariah (nafsu makan, minum, uang, dan seks). [4] Manusia yang adil adalah manusia yang mampu menyelaraskan ketiga unsur tersebut dalam jiwanya. Ia memiliki dalam jiwanya keutamaan kebijaksanaan (mampu menciptakan aturan hidup secara bijaksana), keberanian (berani menjaga dan menjalankan aturannya, dan serba ugahari dengan segala keinginan inderawinya. Demikian pula polis yang adil (443c) adalah polis yang dapat menjaga keselarasan antar-kelas; masing-masing kelas dapat menjalankan tugasnya masing-masing sesuai dengan aturan polis yang dibuat oleh para pemimpin, dan tidak saling mencampuri urusan kelas lain. Sebaliknya, manusia yang tidak adil (adikia, injustice, ketidakadilan/ketidakbenaran hidupnya tidak dikendalikan oleh rasio, melainkan oleh nafsu-nafsu (thumos dan epithumia). Ketidakadilan adalah penyakit yang membusukkan jiwa (444b).

Dalam Buku VIII, Sokrates membahas mengenai ketidakadilan, yang digambarkannya dalam empat rejim politik yang membusuk, yaitu rejim timokrasi, oligarki, demokrasi, dan yang paling busuk adalah rejim tirani. Di Buku IX, Sokrates mendeskripsikan manusia tiranik sebagai manusia yang tampaknya saja berkuasa (karena bisa melakukan apa saja yang diinginkannya) namun sebenarnya ia adalah budak dari nafsu dan kenikmatan inderawinya (571a, 577d). Justru orang yang adil yang akan mengalami kebahagiaan yang sejati. Mereka mampu membedakan antara kenikmatan dan kebahagiaan sejati. Kebahagiaannya diperoleh bukan dengan pencarian atas apa yang nikmat, melainkan akan apa yang Benar dan Baik (583b).

Buku V, VI, dan VII merupakan digresi (pembelokkan)[ii] dalam argumentasi pokok Politeia. Di Buku V, Sokrates menyampaikan argumennya bahwa para wanita mempunyai peluang dan pendidikan yang sama dengan laki-laki untuk menjadi punggawa. Komunitas para punggawa (perempuan, laki-laki, dan anak-anak) mempunyai cara hidup yang teratur dan ketat, misalnya dalam hal harta milik, hidup berkeluarga, dan dalam menghasilkan keturunan. Sokrates pun menyampaikan bahwa polis ideal ini akan menguntungkan apabila para filsuf memerintah, atau kalau tidak, para penguasa diminta untuk mulai berfilsafat (473a). Di dalam Buku VI, disampaikan mengenai manusia paripurna (para filsuf). Mereka selalu ingin mencari “pengetahuan yang sebenarnya”, dan memiliki keutamaan kebijaksanaan, pengendalian diri, lepas bebas terhadap harta milik, jiwa besar, dan keberanian (484a). Namun biasanya mereka tidak diakui dan ditolak oleh warga polis-nya yang merasa lebih tahu dari tentang polis daripada filsuf tersebut. Disampaikan pula ajaran Sokrates mengenai ontologi dan epistemologi dalam “analogi matahari” dan “alegori garis”; keduanya terkait dengan “alegori gua” (Buku VII). Pada Buku VII, di dalam alegori gua digambarkan perjalanan berat para filsuf dari kawasan indrawi (kawasan yang bisa disentuh atau dilihat oleh indra) atau dunia sehari-hari, menuju pada kawasan pengertian, dan sampai pada Kebaikan itu sendiri. Tidak berhenti di situ, para filsuf mempunyai tanggung jawab untuk kembali ke dalam gua (memerintah polis). Para filsuf sendiri akan mendidik generasi mendatang dengan pendidikan yang tepat; dan pendidikan yang tertinggi adalah dialektika. Itu merupakan upaya Sokrates agar para filsuf dapat membuat undang-undang polis yang sesuai dengan Keadilan (504d).

Buku X merupakan bagian penutup di mana Sokrates mengkritik (lagi) karya-karya seni, termasuk puisi (595a-608b). Selain itu, Sokrates membahas mengenai konsekuensi lebih lanjut dari tindakan adil dan tidak adil; setelah kematian, ada hukuman bagi jiwa yang tidak adil dan pahala bagi jiwa yang adil. Jiwa manusia bersifat kekal (609a). Jiwa tetap dapat bertahan di hadapan kejahatan. Di bagian akhir Sokrates menyampaikan “mitos Er” (614c) yang menggambarkan keadaan dunia sesudah kematian.

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa tema utama Politeia adalah keadilan. Namun, jika lebih diperdalam, Politeia sebenarnya menyajikan kekayaan pemikiran Platon. Selain keadilan, di dalam Politeia dibahas pokok-pokok kajian mengenai politik, etika, pendidikan, epistemologi, ontologi, dan psikologi.[iii]


[i] Lih. Nickolas Pappas, Plato and the Republic, (London: Routledge, 1995), 27-183. Pappas menggambarkan skema Politeia sebagai berikut:

I

Pembuka: Apa itu keadilan?Apakah itu menguntungkan?

Argumen: Pada buku-buku ini disampaikan bahwa baik di dalam individu maupun polis terdapat daya atau kekuatan yang saling bertentangan satu sama lain. Di dalam polis terdapat kelas-kelas sosial, sementara dalam individu terdapat tiga bagian jiwa. Keadilan merupakan harmoni atau keselarasan di antara ketiga kekuatan tersebut. Jika ketiganya tidak harmonis maka akan menghasilkan ketidakbahagiaan. Di dalam polis akan terjadi anarki, sementara dalam jiwa individu akan terjadi kesengsaraan. Maka dari itu, keadilan merupakan sesuatu yang menguntungkan.

II

 

III

 

 

IV

V VI VII Digresi: dibahas mengenai polis yang adil, yang berbeda dengan polis yang sudah ada. Perbedaan itu tampak dalam perlakuannya terhadap perempuan, anak-anak, dan harta milik dari kelas pemimpin. Para pemimpin adalah para filsuf, karena hanya filsafat yang dapat mengetahui idea-idea dan kebaikan itu sendiri.

VIII

IX

X

Penutup: Puisi dan imortalitas jiwa

Ada skema lain, yaitu skema kubah dari Georges Leroux, Platon, la Republique, 28-29, sebagaimana dikutip oleh A. Setyo Wibowo dalam Naskah Kuliah Politeia S2, 15 September 2011, 6-7:

[9] KEADILAN

IV 427e-445e

(Dialektika tentang Dikaiosune)

[8] WANITA dan ANAK-ANAK

IV 425e-427c

(Berbagai aturan untuk komunitas)

[8] WANITA dan ANAK-ANAK

V 449a-461d

(Komunitas Para Wanita)

[7] PERANG dan DAMAI

III 414b-IV 423d

(Mandat Para Punggawa)

[7] PERANG dan DAMAI

V 461e-471c

(Komunitas Para Punggawa)

[6] PEMILIHAN PARA PUNGGAWA

III 412c-414c

(Kualitas Para Punggawa)

[6] PEMILIHAN PUNGGAWA

V-VI 471d-502c

(Para Filsuf Alamiah)

[5] MUSIK dan ILMU

II 376c-III 412c

(Mitologi, Musik, Gimnastik, Pendidikan Pertama bagi Para Punggawa)

[5] MUSIK dan ILMU

VI-VII 502a-541b

(Sains dan Dialektika: Pendidikan Sempurna bagi Filsuf-Raja)

[4] MUNCUL dan HANCURNYA NEGARA

II 367e-376c

(Metode Psiko-Politik dan Poleogoni/Munculnya Polis)

[4] MUNCUL dan HANCURNYA NEGARA

VIII 543a-IX 576b

(Keruntuhan secara Siklis Rejim-rejim Politik)

[3] KEUNTUNGAN dan KEBAHAGIAAN

I 336b-354c

(Tesus Thrasymakhos, Kritik terhadap Konsepsi Sofis tentang Dikaiosune)

[3] KEUNTUNGAN dan KEBAHAGIAAN

IX 576c-592b

(Kebahagiaan Orang yang Dikaios, Sanggahan terhadap Thrasymakhos)

[2] PUISI dan FILSUF

I 331e-336a

(Puisi dan Keadilan)

[2] PUISI dan FILSUF

X 595a-608d

(Pelarangan atas Puisi)

[1] MITOS dan ESKATOLOGI

I 327a-331d

(Konsepsi Tradisional tentang Dikaiosune)

[1] MITOS dan ESKATOLOGI

X 608c-621d

(Eskatologi dan Mitos tentang Pembalasan di Hari Akhir)

[ii] Nickolas Pappas menafsirkan bahwa Buku V, VI, dan VII merupakan pembelokkan dari argumentasi utama dalam Politeia. Georges Leroux mempunyai pendapat yang mendukung tafsiran Nickolas Pappas. Dalam “skema kubah”nya, Georges Leroux berpendapat bahwa argumentasi utama Platon mengenai “keadilan” (Dialektika tentang Dikaiosune) terdapat dalam Buku IV.

[iii] Lih. pokok-pokok kajian mengenai Politeia yang dipaparkan oleh C.D.C. Reeve di dalam bukunya yang berjudul: Philosopher-Kings: The Argument of Plato’s Republic, Cambridge: Hackett Publishing Company, Inc.,1988.

Iklan

Platon dan Akademia [iii]

Di Athena Platon mendirikan sebuah sekolah di sebuah wilayah yang berada di luar kota, yang dianggap suci dan didedikasikan kepada pahlawan Yunani Kuno Academus. Nama sekolah itu berasal dari nama pahlawan itu, Academia, yang didirikan pada tahun 387 SM. Di sekolah itu terdapat lapangan, sebuah gimnasium, dan beberapa tempat pemujaan, salah satunya adalah tempat pemujaan Athena, dewi pelindung kota Athena. Tujuan Platon mendirikan sekolah itu adalah untuk mengajarkan kepada orang muda suatu cara untuk menjadi seorang pemimpin yang handal, yang disebut sebagai filsuf-pemimpin atau penasehat bijaksana dari para pemimpin. Pada masa ini, Platon mulai menulis karyanya, yaitu MenoSymposium, dan mungkin Politeia. Platon yakin bahwa jika seorang filsuf-pemimpin berkuasa, pemimpin tersebut akan adil, kuat karena keutamaan yang dimilikinya.

Pada tahun 367 SM, Dionisius I wafat, meninggalkan Dionisius II yang masih muda untuk memimpin kerajaannya. Paman Dionisius II, Dion meminta Platon, sahabat dan gurunya itu, untuk mendampingi Dionisius II. Itu merupakan kesempatan bagi Platon untuk mewujudkan idenya yang tertulis dalam Politeia mengenai filsuf-pemimpin. Melihat gejolak politik yang sedang terjadi di Sisilia, dan situasi raja muda itu sendiri yang sulit untuk didik, Platon tidak banyak berharap bahwa usahanya akan berhasil. Namun, Dion merupakan sahabat baiknya, dan bagi Dion sedikit harapan itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Maka Platon melakukan perjalan menuju Syracusa untuk segera mendidik raja muda Dionisius II, sebelum dewan pemerintahan tirani yang terbentuk berhasil menghasut anak itu. Celakanya, dewan kerajaan menuduh kematian raja disebabkan oleh Dion. Empat bulan setelah Platon tiba, Dion dituduh melakukan persekongkolan dan diasingkan. Setelah dua tahun, Platon memutuskan untuk meninggalkan Sisilia karena situasi saat itu sedang dalam keadaan perang dan raja tidak mempunyai waktu untuk mengikuti pendidikannya. Platon memohon kepada Dionisius II untuk mengizinkannya kembali ke Athena, dan berjanji kepada raja bahwa ia akan kembali ke Sisilia bersama dengan Dion setelah perang berakhir. Pada tahun 365 SM, Platon dan sahabatnya Dion, kembali ke Academia dan Platon melihat bahwa keterlibatannya di dunia politik sudah berakhir. Platon menghabiskan 4 tahun berikutnya dengan mengajar dan menulis. Namun tahun 361 SM, Dionisius II mengalami perubahan hati yang mendadak dan memohon agar Platon kembali ke Syracuse untuk memberikan pendidikannya. Pada awalnya Platon menolak. Ia tidak percaya akan ketulusan raja dan sesuai perjanjian bahwa ia akan kembali ke Syracusa bersama dengan Dion, bukan sendirian. Dionisius II didukung oleh Archytas dari Tarentum, seorang filsuf yang dihargai oleh Platon. Pada akhirnya, Platon tidak dapat menolak permintaan Dionisius II. Ia diperkenankan datang ke Syracusa bersama dengan Dion. Platon kembali ke Syracusa untuk yang ketiga kalinya. Namun, perjalanannya itu akan berujung pada kegagalan. Dionisius II mengambil seluruh tanah dan milik Dion. Dion digunakan sebagai alasan untuk menahan Platon di istana. Setiap kali Platon meminta untuk kembali ke Athena, Dionisius akan memintanya untuk menunggu sampai beberapa waktu lagi, dan berkata bahwa keberadaan Platon di istana itu akan membantu masa depan Dion. Untunglah, Platon berhasil mengirim surat kepada Archytas, yang menemui Dionysius dan membujuk raja agar memperbolehkan Platon kembali ke Athena. Kesal dengan perlakukan keponakannya terhadap Platon, Dion berencana untuk melakukan pemberontakan melawan raja, dan meminta Platon untuk bergabung dengannya untuk yang terakhir kalinya. Kali ini, Platon menolak ajakan itu dan berpegang teguh pada pilihannya. Ia merasa sudah cukup hidup dalam dunia politik, usianya sudah lanjut dan tidak berkepentingan lagi dengan pertempuran. Platon kembali ke Academia pada tahun 360 SM. Ia berusia 67 tahun.

Selama tiga belas tahun di akhir masa hidupnya, Platon menulis karyanya The Laws dan Timaeus-Kritias. Pada masa itu pula Platon berjumpa dengan Aristoteles dan mengajarkan kepadanya pengetahuan dan kebijaksanaannya, seperti yang telah dilakukan Sokrates kepadanya. Platon meninggal tahun 347 SM di usianya yang ke-80. Sekolahnya tetap berlangsung sampai tahun 529 M, ketika Kaisar Justinian menutupnya. Academia telah berdiri selama 916 tahun dan membuat menjadi institusi pendidikan tertua dalam sejarah.

sumber:

Dirangkum dari Brian ProffittPlato Within Your Grasp, (New Jersey: Wiley Publishing, 2004)4-10.

Platon dan Sokrates [ii]

Tanpa ketekunan Platon, pemikiran dan ajaran dari Sokrates akan selamanya hilang. Platon berjumpa dengan Sokrates sebelum ia berusia 20 tahun. Sokrates mempunyai hubungan yang dekat dengan keluarga Platon, khususnya Charmides (saudara laki-laki ibunya) dan Critas (paman dari ibunya). Sebelum berguru pada Sokrates, Platon pernah belajar tentang cara hidup kelompok ningrat Athena. Aristoteles, yang kelak akan menjadi murid Platon, menulis bahwa Platon adalah seorang penyair ulung. Sampai berumur 20 tahun, minat Platon adalah puisi. Pada saat berumur 20 tahun, Platon memutuskan untuk membakar semua puisi-puisinya dan membaktikan seluruh perhatiannya pada filsafat. Ketika Platon mulai belajar di bawah asuhan Sokrates, ia mendalami apa yang menjadi minat Sokrates, yaitu substansi dan makna keutamaan. Platon, di awal kiprahnya sebagai seorang filsuf, telah dapat menggunakan latar belakang pendidikannya untuk menerapkan pertanyaan-pertanyaan mengenai keutamaan ke dalam politik dan moralitas. Platon amat handal dalam memadukan berbagai macam kajian, yaitu keutamaan, metafisika, epistemologi, dan politik, menjadi sebuah pertanyaan yang ia dekati dengan penalaran yang cermat dan metodis. Sejak awal berguru pada Sokrates hingga menjelang akhir hayatnya, perhatian utama Platon adalah pencarian akan makna keutamaan.

Tahun 403 SM, Tiga Puluh Tiran disingkirkan dan digantikan secara paksa oleh kelompok demokrasi baru. Kelompok ini amat menentang pemerintahan tiran. Setelah mendapatkan kembali kekuasaannya, kelompok demokrasi baru melakukan balas dendam terhadap kelompok oligarki dan siapa pun yang dianggap mendukung pemerintahan tiran. Sokrates dianggap sebagai seorang yang mendukung pemerintahan tiran. Sokrates mengajarkan kepada orang-orang muda Athena suatu gaya hidup yang bermartabat dan berkeutamaan, sebuah gaya hidup yang dianggap oleh pemerintah Athena sebagai anti-demokrasi. Pemerintah menyebarkan ketakutannya kepada rakyat. Pemerintah juga mengingatkan bahwa Sokrates mempunyai kesamaan dengan Tiga Puluh Tiran, sampai akhirnya ada desakan dari rakyat untuk menangkap Sokrates dan melarang ajarannya. Tahun 399 SM, Sokrates ditangkap dan dituduh merusak orang muda, terlibat dalam praktek keagamaan yang aneh, memperkenalkan dewa-dewa yang baru, dan seorang atheis. Platon dan para murid Sokrates yang lain berusaha membela Sokrates di pengadilan, namun usaha mereka sia-sia. Di dalam karyanya yang berjudul “Apology”, Platon mengatakan bahwa Sokrates dituduh bersalah dengan alasan yang sempit dan dihukum mati sebulan kemudian. Sokrates sendiri bersikap bahwa lebih baik menderita ketidakadilan daripada melakukannya. Oleh karena itu, ia memilih tetap tinggal di penjara dan menerima hukuman mati dari pemerintahannya yang tidak adil. Platon sering mengunjungi gurunya selama bulan-bulan akhir, namun ia tidak menghadiri eksekusi Sokrates.

Segera sesudah Sokrates dieksekusi, Platon dan teman-temannya berpindah ke dekat Megara, di mana sekolah kecil tentang ajaran Sokrates didirikan. Selama sembilan tahun berikutnya, Platon mulai menulis LachesProtagoras, dan Apology. Karya-karya ini dikenal sebagai dialog-dialog Sokratik, karena karya tersebut berbicara tentang Sokrates dan pemikirannya. Pada tahun 390 SM, pada usia 37, Platon melakukan perjalanan menuju sebelah selatan Italia. Di sana ia bertemu dengan Archytas dari Tarentum, yang kemudian memperkenalkan karya-karya Pythagoras kepada Platon. Kemudian di Sisilia, Platon berjumpa dengan Dion dari Syracusa, adik ipar Dionisius I, yang memerintah Sisilia dengan tangan besi. Dionisius menyangka bahwa Platon berupaya menghasut Dion untuk merebut takhtanya. Dionisius kemudian mengusir Platon dari Sisilia. Platon kembali ke Athena dan memulai tahap hidup selanjutnya.

sumber:

Dirangkum dari Brian ProffittPlato Within Your Grasp, (New Jersey: Wiley Publishing, 2004)4-10.