Siapa percaya, dia melihat dan menembus jauh.

Siapa percaya, dia melihat dan menembus jauh.

Siapa berdoa, dia tak tinggal berdiri di hadapan cermin–

berhenti pada dirinya dan puas mengagumi wajahnya.

Ia melihat lebih jauh, melampaui dirinya.

Kita bukanlah perekayasa dan pembuat keberadaan kita.

Hidup ini sungguh penuh dengan kejutan, yang menegangkan.

Hidup ini pergi lebih jauh melampaui apa yang kita rencanakan dan kerjakan.

Kita tidak hanya hidup dari pasar untung dan rugi.

Kita hidup dari kepercayaan, harapan dan cinta

pendeknya, dari apa yang tidak dapat kita buat dan kita beli.

Itu semuanya mengubah kita–dan dunia.

 

sumber: (Franz Kamphaus: Weltblick, dlm.: “Konradsblatt, 10, 2004, hlm.18), dalam “Gaya Filsafat Nietzsche” (Yogyakarta: Galang Press, 2004), karangan A. Setyo Wibowo, SJ.

Iklan

Tuhan Yang Tak Dikenal (Nietzsche)*

Aku ingin mengenalmu, Yang Tak Dikenal

Kau yang merebut kedalaman jiwaku

Kau yang menghempas hidupku seperti badai

Kau yang tak bisa ditangkap, kau yang seleluhur denganku

Aku ingin mengenalmu, bahkan melayanimu.

 

*Puisi ini ditulis oleh Nietzsche ketika ia berumur 20 tahun.

Pikiran itu Bebas (Die Gedanken sind frei!)

(Lagu Mahasiswa dari Abad ke-19)

Pikiran itu bebas:

Siapa gerangan sanggup menerkanya?

Ia lewat terlintas begitu saja

Ibarat bayang-bayang malam

Tak ada seorang pun bisa mengetahuinya

Tak ada pemburu bisa menembaknya

Tetap saja begitu:

Pikiran itu bebas.

Aku memikirkan apa yang kuinginkan

Dan apa yang membuatku bahagia

Tapi semuanya terjadi secara diam-diam dalam ketenangan, juga tentang kesenonohannya.

Keinginan dan hasratku

Tak bisa ditahan oleh siapa pun

Tetap saja begitu: Pikiran itu bebas!

(Aku cinta kopi panasku,

Tapi aku cinta terutama pada Allahku

Hanya dia sajalah

Yang paling kusenangi

Di sini aku tengah duduk sendirian,

Ditemani secangkir kopiku

Tapi tetap kurasakan Allahku hadir juga:

Sebab pikiran itu bebas.)*

Itulah sebabnya aku tak ambil peduli

Pada pelbagai perkara yang bikin gundah

Demikian juga aku tak pernah mau

Menyusahkan diri dengan keluh kesah

Sebab bagaimanapun juga di dalam hatinya

Orang bisa saja tetap tertawa dan bercanda

Dan berpikir juga:

Pikiran itu bebas!

(Die Gedanken sind frei!)

*Bagian ini bukan teks aslinya; ditambahkan penulis.