sibuk

satu ciri khas yang paling jelas dari kehidupan kita adalah bahwa kita sibuk. Kita mengalami hari-hari kita penuh dengan hal-hal yang harus kita kerjakan, orang-orang yang harus kita jumpai, rencana-rencana yang harus kita selelsaikan, surat-surat yang harus kita balas dan janji-janji yang harus kita tepati. Kehidupan kita seringkali nampak seperti koper yang hampir jebol karena terlalu banyak muatan. Dalam kenyataan, kita hampir selalu merasa tidak mampu menyelesaikan rencana-rencana kita sendiri.

Ada kejengkelan karena tugas-tugas yang tak terselesaikan, janji-janji yang tak terpetai serta rencana-rencana yang tak terwujud. Selalu ada sesuatu yang lain yang seharusnya kita ingat, kita kerjakan dan katakan. Selalu ada orang-orang yang tidak sempat kita temui, kita balas suratnya atau kita ajak bicara. Maka, meskipun kita sangat sibuk kita selalu merasa cemas karena tak pernah dapat menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita.

Tetapi yang aneh adalah bahwa sulit untuk tidak sibuk. Kesibukan sudah menjadi status simbol. Orang-orang mengharapakan kita menjadi orang sibuk dengan otak yang dipenuhi macam-macam hal. Seringkali rekan kita berkata: “Saya kira, seperti biasanya, engkau sibuk” dan kata-kata ini dimaksudkan sebagai pujian. Mereka mendukung pandangan umum bahwa sibuk itu baik. Lalu mereka yang tidak tahu apa yang akan dikerjakannya di masa datang justru membuat teman-temannya bingung. “Sibuk” seringkali disamakan saja dengan “menjadi penting”. Kebiasaan mengawali pembicaraan “saya tahu engkau sibuk, tetapi apakah dapat menyisihkan satu menit saja untukku”, menunjukkan bahwa satu menit yang diambil dari orang yang sibuk dipandang jauh lebih berharga daripada satu jam yang diambil dari orang yang pekerjaannya sedikit.

Dalam masyarakat yang menganggungkan prestasi, menjadi sibuk, mempunyai kegiatan, telah menjadi salah satu cara kalau tidak mau disebut satu-satunya cara yang terbaik untuk menampilkan identitas diri. Tanpa kesibukan bukan jaminan ekonomis, tetapi mainan terancamnya identitas. Ini menerangkan mengapa orang begitu takut menghadapi masa pensiun. Siapa kita ini kalau sudah tak punya kesibukan, kalau sudah tak punya kegiatan?

sumber: Henri J.M. Nouwen, Cakrawala Hidup Baru, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1986, hlm. 16-17.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s