hening [2]

Sekali kita memutuskan untuk menyediakan waktu untuk hening, kita memperkembangkan suati sikap penuh perhatian terhadap suara Tuhan di dalam diri kita. Pada mulanya, pada hari-hari pertama, minggu-minggu pertama, atau bahkan bulan-bulan pertama, boleh jadi kita merasa bahwa kita hanya membuang-buang waktu. Pada mulanya mungkin saat hening tidak lebih dari saat di mana kita dibanjiri oleh berbagai macam pikiran dan perasaan yang muncul dari tempat-tempat tersembunyi dari budi kita.

Seorang penulis kristen kuno menggambarkan tahap pertama dari doa dalam kesunyian sebagai pengalaman seseorang yang setelah bertahun-tahun hidup dengan pintu-pintu yang terbuka, tiba-tiba memutuskan untuk menutup pintunya. Tamu-tamu yang biasa datang dan masuk rumahnya berkerumun di sekitar pintu, heran mengapa tidak boleh masuk. Hanya kalau kemudian mereka tahu bahwa kedatangan mereka tidak diterima, merek secara berangsur-angsur tidak akan datang lagi. Inilah pengalaman orang yang memutuskan untuk masuk ke dalam keheningan setelah menghayati kehidupan tanpa disiplin rohani sebelumnya. Padamulanya, berbagai gangguan tetap muncul. Akhirnya, karena semakin tak diperhatikan gangguan-gangguan itu akan semakin memudar…

sumber: Henri J.M. Nouwen, Cakrawala Hidup Baru, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1986, hlm. 42.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s