Sehati Seperasaan [1]

Kata compassion berasal dari dua kata Latin, pati dan cum, yang bersama-sama berarti menderita bersama. Belas kasih menuntut kita untuk pergi ke tempat di mana ada luka, masuk ke tempat-tempat di mana ada penderitaan, ikut serta dalam keterpecahan, ketakutan, kebingungan dan kecemasan. Belas kasih menantang kita untuk berteriak bersama mereka yang ada dalam penderitaan, untuk berkabung bersama mereka yang kesepian, untuk menangis bersama mereka yang mencucurkan air mata. Belas kasih menuntut kita untuk menjadi lemah bersama yang lemah, ringkih bersama yang ringkih, tak berdaya bersama yang tak berdaya. Belas kasih berarti keterlibatan penuh dalam keadaan sebagai manusia. 

Belas kasih yang dimengerti sebagai menderita bersama ini sering kali menimbulkan suatu penolakan yang mendalam dan bahkan protes dalam diri kita. Kita perlu mengakui penolakan ini untuk menyadari bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang kita inginkan atau sesuatu yang menarik bagi kita. Sebaliknya penderitaan adalah hal yang ingin kita hindari. Karena itu, belas kasih tidak ada di antara jawaban-jawaban kita yang paling wajar…

Mungkin inilah cara sebagian besar dari kita merasa, berpikir, kalau kita jujur dengan diri kita sendiri. Belas kasih bukanlah pusat perhatian kita, bukan juga pendirian utama dalam kehidupan. Apa yang sesungguhnya kita inginkan adalah berhasil dalam kehidupan, maju, menjadi yang pertama, menjadi yang lain. Kita tidak bercita-cita untuk menderita bersama dengan orang lain. Sebaliknya, kita mengembangkan metode-metode dan teknik-teknik yang dapat menjauhkan kita dari penderitaan. Rumah-rumah sakit dan kamar mati seringkali menjadi tempat untuk menyembunyikan yang sakit dan yang mati. Penderitaan tidak menarik, untuk tidak mengatakan memuakkan dan menjijikkan. Semakin kurang kita dihadapkan padanya, semakin baik. Inilah sikap dasar kita, dan dalam kerangka ini belas kasih tidak lebih daripada penghapus kecil yang lunak di ujung sebuah pensil panjang yang keras… 

 

(sumber: Henri J.M. Nouwen, Sehati Seperasaan: Sebuah Permenungan Tentang Hidup Kristen, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1987, 16-18).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s