sweet-7-teen

Perayaan Sweet Seventeen. Itu hal baru yang saya jumpai dalam dunia remaja di kolese tempat saya bekerja saat ini. Entahlah, mungkin itu idaman setiap gadis di kolese ini, yaitu supaya ulangtahunnya yang ketujuhbelas dirayakan. Sweet Seventeen itu rasanya khas perayaan para gadis remaja. Di Kolese de Britto, Kolese Kanisius, Kolese PIKA, Kolese St. Mikel Solo, apalagi seminari Mertoyudan, tidak ada perayaan semacam itu. Maklum, semua muridnya anak cowok. Hanya Kolese Loyola yang muridnya terdiri dari cewek dan cowok. 

 

Dari pengalaman saya, selama kurang dari 2 tahun bekerja di Kolese Loyola, biasanya perayaan Sweet Seventeen diadakan di hotel, ballroom, convention hall, rumah makan, cafe, dan sejenisnya. Nuansanya identik dengan pesta, meriah, dan tak jarang glamor. Yang pernah saya lihat, rangkaian acaranya adalah photobooth, flashback foto-foto masa kecil bersama dengan keluarga, pemotongan kue, make a wish, doa, kuis-kuis, doorprize, games, sharing dari orangtua, makan, dan sebagainya. Dan jangan lupa bagi setiap tamu undangan diharapkan (meskipun tidak wajib) mengenakan pakaian sesuai dengan dresscode yang ditentukan oleh yang berulangtahun. Yang diundang biasanya teman dekat (syukur-syukur mampu secara ekonomi), teman sekelas, teman setempat les, teman sehobi, keluarga, guru, dan juga teman saat SMP atau SD dulu. Ya begitulah, fenomena anak muda yang saya kenali di kolese ini. Singkat kata, acaranya meriah dan menyenangkan.

 

Siang ini. Minggu, 16 Maret 2014.

Ada undangan perayaan Sweet Seventeen dari seorang murid. Setelah mendengar kabar rencana acaranya, saya dengan mantap mengatakan bahwa saya akan hadir. Pukul 10.30. Perayaan Sweet Seventeen diawali dengan Perayaan Ekaristi bersama keluarga dan anak-anak dari beberapa panti asuhan di sekitar Semarang! Perayaan Ekaristi berlangsung sederhana. Dalam kesempatan homili, salah satu imam bertanya, “Encis, mengapa kamu mau mengadakan sweetseventeen di tempat seperti ini bersama dengan orang-orang yang tidak kamu kenali ini? Bukankah lebih baik kamu adakan acara ini di daerah asalmu supaya orangtuamu tidak jauh-jauh datang kemari?” Jawabnya, “ya, teman-teman saya semuanya ada semarang. Kalau saya mengadakan acara di daerah asal, nanti nggak ada yang bisa datang. Selain itu, di kolese kan diajarkan mengenai compassion, berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan kasih sayang. Maka saya undang juga teman-teman dari beberapa panti asuhan yang ada di semarang ini.” Setelah misa, acara dilanjutkan dengan ramah-tamah bersama teman, anak-anak panti asuhan, oma-opa panti jompo, dan keluarga. 

Di setiap kolese jesuit, ada slogan yang berbunyi: “to be a man and women for and with others“. Setiap murid kolese hampir pasti tahu slogan itu. Namun nampaknya, setiap murid mempunyai pemahaman yang berbeda-beda mengenai kata “others” dalam slogan itu. Sepertinya, “others” lebih diterjemahkan sebagai “sesama” (menjadi manusia bagi dan bersama sesama – to be a man and women for and with others). “Sesama” itu bisa berarti teman dekat, teman sekelas, teman sehobi, teman se-SMP, teman se-agama, teman sepermainan, teman seangkatan, keluarga, dan sebagainya, yang penting orang-orang yang sudah kita kenali, yang masih berada dalam lingkaran terdekat kita.

 

Slogan itu menjadi lebih radikal jika kata “others” diartikan sebagai “yang lain” (atau orang lain). “yang lain” berarti orang-orang yang selama ini belum kita kenali. Mereka bisa jadi sehobi, bisa pula tidak; bisa jadi satu sekolah, bisa pula orang yang sama sekali asing bagi kita. Dalam pengalaman siang tadi, Encis masuk pada pemahaman yang radikal mengenai slogan “to be a man and women for and with others“, menjadi manusia bagi dan bersama yang lain. “Yang lain” yang hadir dalam perayaan sweet seventeennya adalah anak-anak dari beberapa (kurang lebih tiga) panti asuhan yang ada di Semarang. Mereka orang-orang yang hampir pasti tidak bisa membalas kebaikan yang dibagikan oleh Encis siang ini. Memang demikianlah hakekat dari memberi, yaitu tanpa pamrih (tanpa mengharapkan kembalian).

 

 

Mungkin ada murid kolese yang membaca refleksi saya ini, lalu mengumpat dalam hati: “itu kan hak keluarga saya atau mereka mau menentukan perayaan ulangtahunnya seperti apa, untuk apa diatur-atur oleh orang lain. Entah mau dirayakan atau tidak, entah siapa saja yang mau diundang, entah perayaan di sini atau di sana.” Memang setiap orang muda, termasuk juga setiap murid kolese, punya hak untuk menentukan cara mereka merayakan ulangtahun. Siapakah saya ini sehingga berhak untuk mengadili? Sambil dalam hati saya menyimpan rasa berasalah dan mungkin juga frustrasi karena sebagai pendidik kami dipanggil untuk menawarkan paradigma keluhuran nilai-nilai competence, consecience, dan compassion, namun apa daya tawaran paradigma itu tidak kesampaian. amdg.      

 

 

   

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s