refleksi

Menjalani kehidupan tidaklah cukup kalau hanya menjalaninya saja. Kita perlu tahu kehidupan apa yang kita jalani. Kehidupan yang tidak direfleksikan adalah kehidupan yang tidak bernilai. Hakikat manusia adalah di mana kita mengontemplasikan hidup kita, berpikir tentangnya, mendiskusikannya, menilainya, dan membentuk opini tentang kehidupan tersebut. Separo hidup kita adalah untuk merefleksikan kehidupan macam apa yang sedang kita jalani ini. Apakah kehidupan itu bernilai? Baik? Jelek? Lama? Baru? Apakah arti semuanya itu?

 

Kegembiraan paling besar seperti juga rasa sakit terbesar dalam menjalani kehidupan tidak hanya timbul dari apa yang kita jalani, tetapi terutama dari bagaimana kita berpikir dan merasakan kehidupan yang kita jalani. Miskin dan kaya, sukses dan gagal, centik dan jelek, bukanlah semata-mata fakta kehidupan. Semuanya adalah realitas yang dihayati masing-masing individu dengan cara yang sangat berbeda, tergantung dari penempatannya dalam kerangka yang lebih luas. Seorang miskin yang membandingkan kemiskinannya dengan kekayaan tetangganya dan memikirkan perbedaan tersebut, akan menjalani kehidupannya yang miskin dengan cara yang sangat berlainan dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai tetangga kaya dan yang tidak pernah mampu melakukan perbandingan.

 

Refleksi mutlak diperlukan untuk pertumbuhan, pengembangan, dan perubahan. Di situ terletak kekuatan khas manusia.

 

Kita perlu melihat secara kritis apa yang kita jalani. Diperlukan keberanian yang besar untuk melakukannya, karena pada waktu kita mulai memperhatikan, kita bisa menjadi ngeri akan apa yang kita lihat. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan dan kita tidak tahu bagaimana menjawabnya. Keraguan akan muncul tentang hal-hal yang kita pikir telah kita ketahui secara pasti. Ketakutan bisa muncul dari tempat-tempat yang tidak terduga. Lalu kita akan tergoda untuk berkata, “Jalani saja hidup ini apa adanya. Semua pemikiran-pemikiran tentang kehidupan hanya akan mempersulit keadaan saja.” Meskipun begitu secara naluriah kita tahu, tanpa memperhatikan kehidupan secara kritis, kita akan kehilangan pandangan dan arah kita. Ibarat meminum anggur dalam piala, jika kita meminumnya tanpa memegangnya terlebih dahulu, maka dengan mudah kita menjadi mabuk dan berangan-angan tanpa tujuan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s