piala

IMG_1503

Di sekolahku sedang panen piala. Piala itu diperebutkan setiap siswa dalam suatu lomba. Yang mengangkat piala itu adalah juara. Ada kepuasan tersendiri jika berhasil mengangkat piala itu. Segala jerih lelah dan jatuh-bangun dalam persiapan lomba segera terobati saat mengangkat piala itu. Piala itu menjadi sebentuk apresiasi dan bukti bahwa aku siswa berprestasi. Piala diangkat oleh sang jawara, disambut dengan tepuk tangan meriah, ucapan selamat, pujian, senyuman. pokoknya hebat.

Ada piala yang secara naluriah tak seorang pun menginginkannya. Piala apa? Piala yang setiap kali diangkat dalam Ekaristi. Mengapa? Karena piala itu berisi derita. Piala itu diangkat dalam keheningan. tak ada tepuk tangan. Yang ada adalah deretan pertanyaan: “dapatkah kamu minum piala itu? Dapatkah kamu mengosongkannya hingga tuntas?” Tetapi mengapa kita harus minum piala itu? Di situ terdapat begitu banyak rasa sakit, begitu banyak penderitaan, dan begitu banyak kekejaman. Mengapa kita harus minum piala itu? Bukankah lebih mudah menjalani kehidupan secara normal dengan rasa sakit minimal dan kesenangan maksimal?”

“Dapatkah kamu minum piala yang akan Kuminum?” itu tanya yesus kepada sahabat-sahabatnya. piala itu penuh kepahitan. Siapa yang mau meminumnya? Ia sendiri sempat takut dan kecewa. “ya, tuhanku, jikalau sekiranya mungkin, biarkan piala ini lalu dari padaku.” tapi kenapa ia masih mengatakan “ya”? tak masuk di akal. Dalam kekecewaannya, ia tidak melemparkan piala itu. Ia tetap memegang piala itu dengan kedua tangannya. Ia mau minum semuanya sampai tuntas. Ini bukan pertunjukkan kemauan keras atau kepahlawanan yang heroik. Ini adalah jawaban “ya” yang mendalam kepada Yang Esa, kekasih hati-Nya yang terluka.

Piala derita itu sekaligus juga piala sukacita. Sukacita tersembunyi dalam penderitaan. Kita lupa akan kebenaran ini dan selalu diselubungi kegelapan kita sendiri. Begitu mudahnya pandangan akan kegembiraan kita hilang dan hanya kesedihan yang kita bicarakan, seolah-olah itulah satu-satunya realitas yang ada. Piala penderitaan adalah juga piala sukacita. Tepatnya, apa yang menyebabkan kita bersedih dapat menjadi lahan subur bagi kegembiraan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s