refleksi

Menjalani kehidupan tidaklah cukup kalau hanya menjalaninya saja. Kita perlu tahu kehidupan apa yang kita jalani. Kehidupan yang tidak direfleksikan adalah kehidupan yang tidak bernilai. Hakikat manusia adalah di mana kita mengontemplasikan hidup kita, berpikir tentangnya, mendiskusikannya, menilainya, dan membentuk opini tentang kehidupan tersebut. Separo hidup kita adalah untuk merefleksikan kehidupan macam apa yang sedang kita jalani ini. Apakah kehidupan itu bernilai? Baik? Jelek? Lama? Baru? Apakah arti semuanya itu?

 

Kegembiraan paling besar seperti juga rasa sakit terbesar dalam menjalani kehidupan tidak hanya timbul dari apa yang kita jalani, tetapi terutama dari bagaimana kita berpikir dan merasakan kehidupan yang kita jalani. Miskin dan kaya, sukses dan gagal, centik dan jelek, bukanlah semata-mata fakta kehidupan. Semuanya adalah realitas yang dihayati masing-masing individu dengan cara yang sangat berbeda, tergantung dari penempatannya dalam kerangka yang lebih luas. Seorang miskin yang membandingkan kemiskinannya dengan kekayaan tetangganya dan memikirkan perbedaan tersebut, akan menjalani kehidupannya yang miskin dengan cara yang sangat berlainan dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai tetangga kaya dan yang tidak pernah mampu melakukan perbandingan.

 

Refleksi mutlak diperlukan untuk pertumbuhan, pengembangan, dan perubahan. Di situ terletak kekuatan khas manusia.

 

Kita perlu melihat secara kritis apa yang kita jalani. Diperlukan keberanian yang besar untuk melakukannya, karena pada waktu kita mulai memperhatikan, kita bisa menjadi ngeri akan apa yang kita lihat. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan dan kita tidak tahu bagaimana menjawabnya. Keraguan akan muncul tentang hal-hal yang kita pikir telah kita ketahui secara pasti. Ketakutan bisa muncul dari tempat-tempat yang tidak terduga. Lalu kita akan tergoda untuk berkata, “Jalani saja hidup ini apa adanya. Semua pemikiran-pemikiran tentang kehidupan hanya akan mempersulit keadaan saja.” Meskipun begitu secara naluriah kita tahu, tanpa memperhatikan kehidupan secara kritis, kita akan kehilangan pandangan dan arah kita. Ibarat meminum anggur dalam piala, jika kita meminumnya tanpa memegangnya terlebih dahulu, maka dengan mudah kita menjadi mabuk dan berangan-angan tanpa tujuan…

Iklan

piala

IMG_1503

Di sekolahku sedang panen piala. Piala itu diperebutkan setiap siswa dalam suatu lomba. Yang mengangkat piala itu adalah juara. Ada kepuasan tersendiri jika berhasil mengangkat piala itu. Segala jerih lelah dan jatuh-bangun dalam persiapan lomba segera terobati saat mengangkat piala itu. Piala itu menjadi sebentuk apresiasi dan bukti bahwa aku siswa berprestasi. Piala diangkat oleh sang jawara, disambut dengan tepuk tangan meriah, ucapan selamat, pujian, senyuman. pokoknya hebat.

Ada piala yang secara naluriah tak seorang pun menginginkannya. Piala apa? Piala yang setiap kali diangkat dalam Ekaristi. Mengapa? Karena piala itu berisi derita. Piala itu diangkat dalam keheningan. tak ada tepuk tangan. Yang ada adalah deretan pertanyaan: “dapatkah kamu minum piala itu? Dapatkah kamu mengosongkannya hingga tuntas?” Tetapi mengapa kita harus minum piala itu? Di situ terdapat begitu banyak rasa sakit, begitu banyak penderitaan, dan begitu banyak kekejaman. Mengapa kita harus minum piala itu? Bukankah lebih mudah menjalani kehidupan secara normal dengan rasa sakit minimal dan kesenangan maksimal?”

“Dapatkah kamu minum piala yang akan Kuminum?” itu tanya yesus kepada sahabat-sahabatnya. piala itu penuh kepahitan. Siapa yang mau meminumnya? Ia sendiri sempat takut dan kecewa. “ya, tuhanku, jikalau sekiranya mungkin, biarkan piala ini lalu dari padaku.” tapi kenapa ia masih mengatakan “ya”? tak masuk di akal. Dalam kekecewaannya, ia tidak melemparkan piala itu. Ia tetap memegang piala itu dengan kedua tangannya. Ia mau minum semuanya sampai tuntas. Ini bukan pertunjukkan kemauan keras atau kepahlawanan yang heroik. Ini adalah jawaban “ya” yang mendalam kepada Yang Esa, kekasih hati-Nya yang terluka.

Piala derita itu sekaligus juga piala sukacita. Sukacita tersembunyi dalam penderitaan. Kita lupa akan kebenaran ini dan selalu diselubungi kegelapan kita sendiri. Begitu mudahnya pandangan akan kegembiraan kita hilang dan hanya kesedihan yang kita bicarakan, seolah-olah itulah satu-satunya realitas yang ada. Piala penderitaan adalah juga piala sukacita. Tepatnya, apa yang menyebabkan kita bersedih dapat menjadi lahan subur bagi kegembiraan.

di kesunyian malam

Tuhan, malam telah larut.

Aku masih di tengah jalan,

dan merasa, betapa semuanya sunyi,

di lampu merah ketika aku harus berhenti,

di pengisian bahan bakar, di tepi-tepi jalan,

semuanya menjadi sepi,

lain dengan suasana ramai di pagi hari.

 

Aku merasakan kesunyian itu.

Biarkan ya Tuhan, kesunyian itu membelai aku,

dan membersihkan aku.

Sepanjang hari banyak kata aku hamburkan,

setiap saat kata-kata dituangkan,

dan meracuni aku serta duniaku.

 

Curahkanlah anugerah-Mu agar aku bisa diam,

diam yang membuat aku dapat mengenangkan kembali

siapa saja yang kujumpai hari ini,

dan pada siapa aku harus berterima kasih;

diam yang membuat aku ingat

akan peristiwa, waktu, dan saat,

di mana aku merasa tersengat dan tergugat

untuk makin mencintai sesamaku;

diam yang membuat aku memberi maaf,

pada siapa yang melukai aku,

dan meminta maaf

pada siapa yang telah aku lukai.

 

Dalam kesunyian malam ini, Tuhan,

anugerahilah aku dengan diam,

di mana dengan-Mu aku dapat bercakap-cakap

seperti seorang anak terhadap bapak.

Tuhan, dalam sunyinya malam ini,

aku sungguh ingin berdiam diri,

agar aku dapat merasakan kedamaian dan ketenteraman-Mu.

Puaskanlah kerinduanku akan-Mu, ya Tuhan.

 

(G.P. Sindhunata, SJ)