penolakan diri

hadiah paling besar yang dapat kita berikan pada sahabat kita adalah ini: bahwa “engkau dikasihi”. Aku dapat memberikan hadiah itu hanya kalau aku sendiri merasakannya. Bukankah itu hakikat persahabatan: saling memberikan pengalaman bahwa kita sungguh dikasihi?

 

Ya, ada suara itu, yang datang dari atas dan dari dalam, berbisik lembut namun jelas: “Engkau Kukasihi, kepadamu Aku berkenan.” Pasti tidak mudah mendengarkan suara seperti itu di tengah-tengah dunia yang penuh dengan suara kasar: “Engkau bodoh, jahat, tak berguna, tercela, hina; engkau tidak diperhitungkan–kecuali kalau engkau dapat membuktikan yang sebaliknya.”

 

Suara-suara sumbang ini begitu keras dan terus-menerus terdengar sehingga kita mudah percaya kepadanya. Inilah perangkap yang sangat kuat: penolakan diri. Sudah lama aku sadar bahwa perangkap yang paling besar dalam kehidupan kita bukanlah keberhasilan, popularitas atau kekuasaan, melainkan penolakan diri. Keberhasilan, popularitas dan kekuasaan dapat menjadi godaan yang besar. Namun seringkali itu semua mempunyai kekuatan yang menyesatkan karena merupakan bagian atau berhubungan dengan godaan yang lebih luas yaitu penolakan diri. Kalau akhirnya kita percaya pada suara-suara yang mengatakan bahwa kita tidak berguna, tidak patut dihargai dan dicintai, maka keberhasilan, popularitas, dan kekuasaan dengan mudah dianggap sebagai jalan keluar yang mudah. Namun perangkap yang sesungguhnya adalah penolakan diri. Aku heran mengapa aku sendiri begitu cepat menyerah pada godaan ini. Kalau ada orang yang menuduh atau mengkritik aku, kalau aku ditolak, ditinggalkan dan diabiarkan sendirian, aku lalu berpikir: ‘sekarang semakin jelas bahwa aku tidak diperhitungkan.” Aku tidak mencoba bersikap kritis terhadap keadaan atau berusaha untuk memahami keterbatasanku sendiri dan orang lain, tetapi menyalahkan diriku sendiri – bukan menyalahkan tindakan-tindakanku, tetapi diriku. Sisi hidupku yang gelap mengatakan: “Aku tidak berguna..pantas kalau aku dikesampingkan, dilupakan, ditolak dan ditinggalkan.”

(bersambung…)

 

sumber: Henri J.M. Nouwen, Engkau Dikasihi: Pegangan Hidup dalam Dunia Modern, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995, 19 – 20. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s