yang terluka yang menyembuhkan [1]

Di zaman ini, orang mudah terluka. Bentuk “luka” di zaman hiruk-pikuk ini adalah kesepian, keterasingan, terbuang, dan terkucilkan. Kita hidup dalam suatu masyarakat di mana kesepian merupakan salah satu dari luka-luka manusia yang paling menyakitkan. Ada banyak upaya yang dilakukan manusia untuk lari atau mengusir kesepian itu: menjalani kiat-kiat psikoterapi, mengikuti seminar-seminar dan latihan-laithan yang didukung oleh para ahli, menciptakan liturgi yang semarak, dan lain-lain.

Cara hidup Kristen tidak menyingkirkan kesepian kita, namun melindunginya dan menghargainya sebagai pemberian yang berharga. Luka kesepian itu serupa Grand Canyon–suatu goresan yang dalam pada permukaan eksistensi kita yang menjadi sumber keindahan dan pengenalan diri yang tidak dapat kering.

Seringkali kita tidak sabar dan tidak mau tahu akan hal yang sudah kita ketahui, yaitu bahwa tidak ada kasih maupun persahabatan, tidak ada pelukan atau ciuman, tidak ada komunitas, atau kebersamaan lain, tidak ada pria maupun wanita yang akan pernah dapat memuaskan keinginan kita untuk dibebaskan dari keadaan kesepian. Banyak perkawinan kandas karena baik suami maupun istri tidak mampu memenuhi keinginan yang seringkali tersembunyi, bahwa pasangannya dapat membebaskannya dari kesepian. Banyak pula orang selibat yang hidup dengan pikiran naif bahwa dalam perkawinan kesepian mereka akan cair…[bersambung]

sumber: Henri J.M. Nouwen, “Yang Terluka Yang Menyembuhkan”, Yogyakarta, Kanisius, 1989, hlm. 79-84

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s