yang terluka yang menyembuhkan [3]

Jika kita sudah membiasakan diri dengan kesepian kita sendiri dan kerasan di rumah (jiwa) sendiri, saat itu kita sedang menjadi tuan rumah yang menawarkan hospitalitas kepada tamu-tamu kita.

Mengapa dikatakan bahwa hospitalitas dapat menyembuhkan?

Hospitalitas menyembuhkan karena menyingkirkan ilusi yang keliru bahwa keutuhan dapat diberikan oleh orang yang satu kepada yang lain. Ini menyembuhkan karena tidak meniadakan kesepian dan kepedihan orang lain, akan tetapi mengundangnya untuk mengenal kesepiannya pada tingkat di mana kesepian dan kepedihan itu dapat dibagirasakan. Banyak orang dalam hidupnya menderita karena dengan cemas mencari orang, pria ataupun wanita, peristiwa atau perjumpaan, yang diharapkan dapat menyingkirkan kesepian mereka. Akan tetapi kalau mereka masuk ke dalam rumah yang mempunyai hospitalitas yang sejati mereka segera melihat bahwa luka-luka mereka sendiri harus dimengerti tidak sebagai sumber keputusasaan dan kepahitan hidup, akan tetapi sebagai tanda bahwa mereka harus berjalan terus dengan sikap taat kepada suara luka-luka mereka sendiri yang memanggil.

 

sumber: Henri J.M. Nouwen, “Yang Terluka Yang Menyembuhkan: Pelayanan dalam Masyarakat Modern”, Yogyakarta, Kanisius, 1989, hlm.88. 

Iklan

yang terluka yang menyembuhkan [2]

bagaimana luka dapat menjadi sumber penyembuhan?

menjadikan luka-luka pribadi sebagai sumber penyembuhan tidak berarti menceritakan kepahitan-kepahitan hidup pribadi kepada orang lain, tetapi kesediaan terus-menerus untuk melihat kepedihan dan penderitaan pribadi sebagai yang muncul dari dasar keadaan manusia yang dialami oleh semua orang.

Bagaimana penyembuhan terjadi? Penyembuhan terjadi melalui hospitalitas (sikap sebagai tuan rumah yang baik, keramahtamahan). Hospitalitas itu suatu sikap di mana kita berusaha untuk menembus ketakutan kita sendiri dan membuka rumah kita bagi orang asing, seperti kita menerima seorang peziarah yang keletihan. Hospitalitas merupakan kemampuan untuk memberi perhatian kepada tamu. Ini sangat sulit karena biasanya kita dikuasai oleh kepentingan-kepentingan, kecemasan dan ketegangan-ketegangan kita sendiri. Ini semua menghalangi kita untuk mengambil jarak dari diri kita sendiri untuk memberi perhatian kepada orang lain.

Sungguh berat untuk memberi perhatian karena pamrih kita sendiri. Kalau pamrih kita yang menang, pertanyaan tidak lagi, “Siapa dia?” akan tetapi “Apa yang dapat saya peroleh dari dia?” Kita tidak memberi perhatian kepada orang lain, akan tetapi memaksakan diri kita kepadanya dengan rasa ingin tahu yang tidak mengenakkan.

Siapa pun yang mau memberikan perhatian tanpa pamrih, harus kerasan di rumahnya sendiri–artinya, ia harus menemukan pusat hidupnya di dalam hatinya sendiri. Konsentrasi yang mengarah ke meditasi dan kontemplasi menjadi prasyarat untuk hospitalitas yang sejati. Kalau jiwa kita resah, kalau kita diombang-ambingkan oleh beribu-ribu rangsangan yang berbeda-beda dan saling bertentangan, kalau kita selalu berada di tengah-tengah kerumunan, gagasan-gagasan dan kecemasan-kecemasan dunia ini, bagaimana kita dapat menciptakan ruang yang dapat dimasuki oleh orang lain dengan bebas tanpa merasa diri mereka sebagai pengganggu yang tidak diharapkan?

Secara paradoks, dengan menarik diri ke dalam diri kita sendiri bukan karena kasihan kepada diri sendiri akan tetapi karena rendah hati, kita menciptakan ruang bagi orang lain agar ia menjadi dirinya sendiri dan datang kepada kita dengan caranya sendiri. Dengan menarik diri, kita membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri, membiarkan orang lain menari dengan tarian mereka sendiri, melagukan senandung mereka sendiri dan berbicara dengan bahsa mereka sendiri tanpa rasa takut. Kalau demikian, kehadiran kita tidak lagi mengancam dan menuntut, akan tetapi mengundang dan membebaskan.

Mengundurkan diri adalah suatu proses yang menyakitkan dan sepi, karena proses ini memaksa kita menghadapi langsung keadaan diri kita sendiri dengan segala keindahan dan kerapuhannya. Kalau kita tidak takut untuk masuk ke dalam diri batin kita sendiri dan memusatkan perhatian pada gerak jiwa kita sendiri, kita mengetahui bahwa hidup berarti dicintai. Pengalaman ini mengatakan kepada kita bahwa aku hanya dapat mencintai karena kesadaran bahwa aku dilahirkan oleh kasih; bahwa aku hanya dapat memberi karena aku sadar bahwa hidupku adalah anugerah…[bersambung]

 

sumber: Henri J.M. Nouwen, “Yang Terluka Yang Menyembuhkan: Pelayanan dalam Masyarakat Modern”, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hlm. 86-87.

yang terluka yang menyembuhkan [1]

Di zaman ini, orang mudah terluka. Bentuk “luka” di zaman hiruk-pikuk ini adalah kesepian, keterasingan, terbuang, dan terkucilkan. Kita hidup dalam suatu masyarakat di mana kesepian merupakan salah satu dari luka-luka manusia yang paling menyakitkan. Ada banyak upaya yang dilakukan manusia untuk lari atau mengusir kesepian itu: menjalani kiat-kiat psikoterapi, mengikuti seminar-seminar dan latihan-laithan yang didukung oleh para ahli, menciptakan liturgi yang semarak, dan lain-lain.

Cara hidup Kristen tidak menyingkirkan kesepian kita, namun melindunginya dan menghargainya sebagai pemberian yang berharga. Luka kesepian itu serupa Grand Canyon–suatu goresan yang dalam pada permukaan eksistensi kita yang menjadi sumber keindahan dan pengenalan diri yang tidak dapat kering.

Seringkali kita tidak sabar dan tidak mau tahu akan hal yang sudah kita ketahui, yaitu bahwa tidak ada kasih maupun persahabatan, tidak ada pelukan atau ciuman, tidak ada komunitas, atau kebersamaan lain, tidak ada pria maupun wanita yang akan pernah dapat memuaskan keinginan kita untuk dibebaskan dari keadaan kesepian. Banyak perkawinan kandas karena baik suami maupun istri tidak mampu memenuhi keinginan yang seringkali tersembunyi, bahwa pasangannya dapat membebaskannya dari kesepian. Banyak pula orang selibat yang hidup dengan pikiran naif bahwa dalam perkawinan kesepian mereka akan cair…[bersambung]

sumber: Henri J.M. Nouwen, “Yang Terluka Yang Menyembuhkan”, Yogyakarta, Kanisius, 1989, hlm. 79-84