Lebih dari Kata

Kata bukan hanya kata belaka, tanpa isi tanpa daya. Kata memang bisa menjadi mantra bahkan sabda, penuh daya. Dengan suatu kata kita dapat membuat orang lain tersenyum bahagia. Tapi dengan kata pula kita mampu menyayat hati hingga luka. Kata bisa juga menimbulkan ketakutan bahkan orang bisa merasa hancur oleh kata-kata kutukan orang tua. Dengan kata manusia menyingkapkan kebenaran, tapi dengan kata pula manusia menutup nista. Kata yang digunakan untuk menutup-nutupi nista bukan lagi kata melainkan dusta. Kata yang memberi hidup dan terang adalah sabda: “sabda-Mu adalah pelita bagi kaki-kakiku.”

Namun kata tak pernah cukup. Memang, suatu makna dapat tersingkap melalui rangkaian kata. Tapi ada suatu hal yang menjadi bermakna justru dalam ketaktersingkapannya.

Bukankah kita berebutan berkicau mengungkapkan ide dan rasa. Lupa bahwa kata tak pernah cukup dan bisa luput menangkap dan mengungkap makna. Setiap kali berkata-kata rasanya selalu ada yang tak terkatakan. Demikianlah, di dalam apa yang kita katakan selalu ada yang tak terkatakan. Ada kalanya, ide dan rasa sepenuhnya terungkap bukan dalam rangkaian kata, melainkan dalam diam dan hening. Kita berebut mengusir sepi lewat kata. Lupa bahwa sepi hanya bisa diatasi bukan dengan berkata, tapi dengan menerima kesepian itu dalam diam dan hening, dalam ketiadaan kata.

Ada bahasa yang tidak menggunakan kata tapi menggunakan laku nyata, yaitu bahasa cinta. “Cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata,” demikain ungkap St. Ignasius dari Loyola. Artinya, semakin kamu banyak berkata-kata, semakin kamu luput mengungkap Sang Sabda, dan semakin kamu tersesat dalam jerat kata. Dia Yang Tak Terkatakan sepenuhnya terungkap bukan dengan rangkaian kata, melainkan dengan tindakan cinta.

Tindakan bukanlah bahasa verbal, melainkan bahasa tubuh. Romo Mangunwijaya mengatakan bahwa tubuh adalah bahasa yang mewartakan batin. Selain dengan kata-kata verbal, makna atau hal yang sifatnya batiniah dapat diungkapkan melalui tubuh.

 

Romo Mangunwijaya menambahkan pernyataannya: “bila kita perhatikan bahasa manusia yang spontan dan wajar, maka kita berbahasa dengan kata-kata mulut. Itu betul, tapi lebih dari itu. Kata-kata selalu disertai dengan mimik wajah yang bersinar atau cemberut. dengan oleng kepala atau muka tegak menengadah. Dengan bahu yang terangkat acuh tak acuh atau membongkok lesu. Dengan tangan berkecak pinggang atau hormat menyembah. Dengan pinggang melenggang goda atau dada membusung sombong. Dengan kaki lurus siap siaga atau bersimpuh santai. Semua itu ikut berbicara dengan bahasa badan yang tidak sulit ditangkap oleh manusia yang masih memiliki citarasa yang sehat…

 

…Bahkan sebelum bayi bisa mengucap sepatah kata pun, ia berbahasa dengan senyum serta mata bening yang menjawab sanjungan ibu. Dan anak kecil merangkul leher kakak cilik meminta lindungan. Hati muda mana tidak berdendang bila tangan-tangan tertentu melambai, sedangkan lirikan sepasang mata penuh makna mengucapkan cerita? Dan bukankah mulut melompong sudah berkata seribu pertanyaan? Tangan menengadah pengemis buta, kaki-kaki penari kuda lumping, duduk sila sang biarawati yang sedang samadi di muka sakramen mahakudus; ya semya itu adalah bahasa manusia yang manusiawi benar, dan biasanya lebih jujur dan jelas bicaranya daripada kata-kata lidah yang tak bertulang. Bila kita melihat seluruh tata semesta alam raya dan diri manusia yang begitu teratur, indah mengagumkan, maka kita merasakan betapa Wahyu Tuhan lebih diperagakan daripada diucapkan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s