tawa dan tangis

Image

Orang yang girang tertawa terpingkal-pingkal sering mencucurkan air mata. Orang yang sedih mencucurkan air mata juga. Orang menangis karena penderitaan yang berat, tapi dalam saat kebahagiaan yang sangat dalam manusia menangis juga. Sangatlah biasa orang tertawa bila sedang bahagia, tapi dalam saat-saat kehancuran jiwa, ketika segala harapan terasa berpuing-puing, sering manusia tertawa. tertawa pahit.

Saat jiwa meluap dan raga jasmani terlalu terbatas untuk memuat rasa, pecahlah tangis ataupun ketawa. Bila orang malu atau grogi, bila anak ditanya dan tidak sanggup menajwab, bila kita sedang buntuk mencari penyelesaian soal, bila orang gugup tidak tah apa yang harus dikatakan, bila kita sedang macet atau menyerah pada suatu banjir persoalan, maka perisai timbul dan tanggul kita buat spontan sebagai pelindung terakhir: menangis atau tertawa.

Ada tawa yang berasal dari hati yang baik. Ada tawa yang berakar pada lumpur kedosaan. Tawa yang jahat itu mengejek, memojokkan, dan mengolok-olok orang lain. Tawa orang jahat timbul dari suatu ketakutan yang terselubung dan tertawa hanyalah merupakan suatu topeng belak, topeng ketakutan terhadap kekalahan.

Tawa manusia yang dekat dengan Allah itu seperti tawa anak-anak:merdeka, bersih, mengharukan, tanpa ancaman. Ia mampu tertawa bersama orang lain yang bergembira hati, terlebih ia mampu menertawakan kebodohan dirinya sendiri. Ia bisa tertawa dan terlebih lagi ia bisa menertawakan diri sendiri. Itulah orang merdeka. Tertawa yang datang dari hati itu tidak mengutuk tapi menolong.

Suatu saat kita akan alami bahwa antara tertawa dan menangis tidaklah ada jurang.

sumber: Y.B. Mangunwijaya, “Ragawidya: Religiositas Hal-hal Sehari-hari”. Kanisius. 1986.

Iklan

Tersenyumlah!

Tersenyumlah meski perih dan luka hatimu.
Saat awan gelap menghadang, kamu akan berhasil melewatinya jika kamu berani tersenyum menghadapi ketakutan dan deritamu. Tersenyumlah…dan mungkin esok kamu akan melihat indahnya cahaya mentari yang berhasil menembus awan gelap itu.

bergembiralah, tegakkan kepalamu.
sembunyikan setiap jejak kepedihan.
Di saat air mata nyaris tak terbendung,
di saat itulah kamu harus tetap bertahan.

Tersenyumlah…tidak ada gunanya kamu bersedih.
Hanya dengan tersenyum kamu akan menemukan bahwa hidup ini masih layak untuk dihidupi.

Lebih dari Kata

Kata bukan hanya kata belaka, tanpa isi tanpa daya. Kata memang bisa menjadi mantra bahkan sabda, penuh daya. Dengan suatu kata kita dapat membuat orang lain tersenyum bahagia. Tapi dengan kata pula kita mampu menyayat hati hingga luka. Kata bisa juga menimbulkan ketakutan bahkan orang bisa merasa hancur oleh kata-kata kutukan orang tua. Dengan kata manusia menyingkapkan kebenaran, tapi dengan kata pula manusia menutup nista. Kata yang digunakan untuk menutup-nutupi nista bukan lagi kata melainkan dusta. Kata yang memberi hidup dan terang adalah sabda: “sabda-Mu adalah pelita bagi kaki-kakiku.”

Namun kata tak pernah cukup. Memang, suatu makna dapat tersingkap melalui rangkaian kata. Tapi ada suatu hal yang menjadi bermakna justru dalam ketaktersingkapannya.

Bukankah kita berebutan berkicau mengungkapkan ide dan rasa. Lupa bahwa kata tak pernah cukup dan bisa luput menangkap dan mengungkap makna. Setiap kali berkata-kata rasanya selalu ada yang tak terkatakan. Demikianlah, di dalam apa yang kita katakan selalu ada yang tak terkatakan. Ada kalanya, ide dan rasa sepenuhnya terungkap bukan dalam rangkaian kata, melainkan dalam diam dan hening. Kita berebut mengusir sepi lewat kata. Lupa bahwa sepi hanya bisa diatasi bukan dengan berkata, tapi dengan menerima kesepian itu dalam diam dan hening, dalam ketiadaan kata.

Ada bahasa yang tidak menggunakan kata tapi menggunakan laku nyata, yaitu bahasa cinta. “Cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata,” demikain ungkap St. Ignasius dari Loyola. Artinya, semakin kamu banyak berkata-kata, semakin kamu luput mengungkap Sang Sabda, dan semakin kamu tersesat dalam jerat kata. Dia Yang Tak Terkatakan sepenuhnya terungkap bukan dengan rangkaian kata, melainkan dengan tindakan cinta.

Tindakan bukanlah bahasa verbal, melainkan bahasa tubuh. Romo Mangunwijaya mengatakan bahwa tubuh adalah bahasa yang mewartakan batin. Selain dengan kata-kata verbal, makna atau hal yang sifatnya batiniah dapat diungkapkan melalui tubuh.

 

Romo Mangunwijaya menambahkan pernyataannya: “bila kita perhatikan bahasa manusia yang spontan dan wajar, maka kita berbahasa dengan kata-kata mulut. Itu betul, tapi lebih dari itu. Kata-kata selalu disertai dengan mimik wajah yang bersinar atau cemberut. dengan oleng kepala atau muka tegak menengadah. Dengan bahu yang terangkat acuh tak acuh atau membongkok lesu. Dengan tangan berkecak pinggang atau hormat menyembah. Dengan pinggang melenggang goda atau dada membusung sombong. Dengan kaki lurus siap siaga atau bersimpuh santai. Semua itu ikut berbicara dengan bahasa badan yang tidak sulit ditangkap oleh manusia yang masih memiliki citarasa yang sehat…

 

…Bahkan sebelum bayi bisa mengucap sepatah kata pun, ia berbahasa dengan senyum serta mata bening yang menjawab sanjungan ibu. Dan anak kecil merangkul leher kakak cilik meminta lindungan. Hati muda mana tidak berdendang bila tangan-tangan tertentu melambai, sedangkan lirikan sepasang mata penuh makna mengucapkan cerita? Dan bukankah mulut melompong sudah berkata seribu pertanyaan? Tangan menengadah pengemis buta, kaki-kaki penari kuda lumping, duduk sila sang biarawati yang sedang samadi di muka sakramen mahakudus; ya semya itu adalah bahasa manusia yang manusiawi benar, dan biasanya lebih jujur dan jelas bicaranya daripada kata-kata lidah yang tak bertulang. Bila kita melihat seluruh tata semesta alam raya dan diri manusia yang begitu teratur, indah mengagumkan, maka kita merasakan betapa Wahyu Tuhan lebih diperagakan daripada diucapkan.”