Mencinta dengan Berani Kehilangan

(Sumber: UTUSAN – Dalam Segala Mencari Dia, No. 08, Tahun ke-62, Agustus 2012, hlm. 2-3)

Oleh Gabriel Possenti Sindhunata, SY

Kita adalah manusia yang mudah sekali tergantung pada sesuatu. Misalnya, dengan kreativitas dan keringat, kita membentuk sebuah perkumpulan atau lembaga. Setelah sekian lama, tak ingin kita melepaskannya, walau kita sudah terbukti tidak mampu menanganinya. Kita ingin terus campur tangan, padahal kemampuan kita sudah tidak sesuai lagi dengan tantangan zaman.

Kita juga ingin terus memiliki harta kita, mulai dari yang paling besar dan berharga sampai yang paling kecil dan tak berarti. Banyak hal seharusnya bisa kita lepas, tetapi kita merasa kehilangan bila melepasnya. Banyak orang lain membutuhkannya, walau bekas sekalipun, tetapi kita merasa tetap membutuhkannya, walau sebanarnya tidak kita pakai lagi. Kita seperti anak kecil, yang tidak mau kehilangan mainannya. Jangankan diambil, dipinjam saja, anak itu akan menangis.

Tidak hanya dalam hal harta dan karya, dalam hal relasi pun kita tak pernah mau kehilangan. Contoh paling mencolok adalah relasi orang tua dan anak. Orang tua merasa telah memelihara, membesarkan, mendidik, dan menemani anak-anaknya. Anak-anak makin hari makin besar dan dewasa, dan datanglah saat, ketika mereka harus menentukan masa depannya sendiri. Perpisahan mau tak mau terjadi, dan kerap kali orang tua merasa sedih, rasanya tak ingin perpisahan itu terjadi. Mengapa kita harus disalahkan, jika kita tak mau kehilangan anak kita? Tidakkah kita sungguh mencintai mereka, sampai kita tak mau kehilangan mereka?

Cinta memang tidak sesederhana yang kita kira. Menurut pujangga Gereja Agustinus, kita harus membedakan adanya dua cinta. Pertama, amor concupiscientiae atau cinta kenafsuan dan amor benevolentiae atau cinta kemurahan hati. Dengan amor concupiscientiae, kita merasa sungguh mencintai seseorang. Kita membuat apa saja demi yang kita cintai. Kita rela untuk memberikan apa yang lebih baik baginya. Namun, pada saat yang sama, kita dicekam rasa takut, jangan-jangan kita akan kehilangan dia yang kita cintai. Karena itu kita berusaha, mesti ada jaminan dan kepastian, bahwa kita takkan kehilangan dia. Akibatnya, kita memproteksi dengan berlebih-lebihan yang kita cinta. Kita harus memiliki dia seterusnya.

Menurut penulis rohani, Andreas Knapp, tanpa kita sadari, kita sering mencinta dengan amor concupiscientiae itu. Itulah sebabnya mengapa, misalnya, kita tak mau kehilangan anak kita. Mereka sudah dewasa, dan harus menempuh jalan hidupnya sendiri, juga dengan risiko, bahwa mereka akan mengalami kegagalan. Kita tidak rela. Demikian juga kita tidak rela lengser dari karya buatan kita, ketika waktunya tiba. Kita tidak merasa bahwa cinta macam ini justru menghancurkan anak yang kita cinta, atau karya yang telah kita cipta. Semuanya jadi tergantung pada kita, sampai anak atau karya buatan kita tidak dapat berkembang dengan lebih baik. Itulah saat di mana semuanya akan mulai hancur, dan sia-sialah segala yang kita buat dan bangun.

Cinta demikian lain dengen amor benevolentiae. Amor benevolentiae, cinta kemurahan hati, membuat kita berani melepas. Kita justru bergembira, bila orang yang kita cinta menempuh jalannya sendiri. Dengan cinta macam ini, kita tidak membentuk anak-anak kita sesuai dengan gambaran keinginan kita. Memang, kehilangan itu menyakitkan, tetapi karena cinta yang murah hati, kita diberanikan untuk merelakannya. Kita juga tak dicekam oleh kegelisahan karena kehilangan itu menyakitkan, tetapi karena cinta yang murah hati, kita diberanikan untuk merelakannya. Kita juga tak dicekam oleh kegelisahan karena kehilangan itu. Kita malah senang, bila orang yang kita cintai meraih apa yang lebih baik daripada yang bisa kita bayangkan, karena sekarang ia telah menempuh jalan hidupnya sendiri.

Karena amor benevolentiae itu, kita jadi sadar: siapa sungguh mencinta, dia harus berpikir bahwa kebebasan dan perkembangan orang lain jauh lebih penting daripada terpenuhinya keinginan kita sendiri. Cinta macam ini juga akan membelalakkan diri kita bahwa, kita tak pernah bisa memaksakan kebahagiaan apa pun kepada orang lain, betapa pun kita mempunyai maksud yang terbaik sekalipun untuknya. Dan kita lalu tahu, bahwa jika kita selalu mau mengontrol dan memiliki orang yang kita cinta, juga demi kebaikan yang kita bayangkan, kita hanya akan menghancurkan cinta yang ingin kita berikan kepadanya.

Menurut Andreas Knapp, kita takkan pernah mampu mencinta dengan amor benevolentiae sepenuh-penuhnya. Sebab yang ada dalam dasar hati kita terdalam adalah ketakutan akan kehilangan orang yang kita cinta. Juda karena hati kita selalu merasa, hanya dengan “tidak kehilangan” kita bisa mengatur orang lain agar mereka meraih kebaikannya. Bagaimana kita dapat memperoleh cinta yang murah hati itu? Itu hanya bisa terjadi, bila kita merenungkan dan merasa-rasakan, bagaimana Tuhan sendiri mencintai kita.

Bila itu kita lakukan, kita akan tahu, bahwa Tuhan adalah cinta yang murah hati itu sendiri. Tuhan pasti tahu, apa yang baik buat kita, dan di mana kelemahan kita, dan apa yang membuat kita akan jatuh dan gagal. Toh Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya untuk mencintai kita. Dengan kata lain Tuhan mencintai kita dengan menyerahkan semua kebebasan pada kita sendiri. Dengan kebebasan itu, kita bisa menentukan sendiri apa yang kita inginkan. Jadi, Tuhan juga merisikokan, bahwa kesalahan manusia mungkin saja terjadi dan membawa kesulitan baginya. Tuhan bahkan siap, jika manusia melupakan-Nya dan memusuhi-Nya. Tetapi bagi Tuhan, kebebasan yang Dia berikan kepada manusia adalah suci, sehingga Dia tidak ingin memanfaatkan kita atau memaksakan sebuah rencana kepada kita. “Singkatnya, Tuhan tak ingin mengkontrol dan mengekangi kita,” kata Andreas Knapp.

Kita mesti kagum dan bersyukur, betapa Tuhan mempunyai cinta yang demikian murah hati kepada kita. Sepatutnyalah kita mohon, agar kita juda dianugerahi cinta seperti cinta-Nya. Hanya cinta seperti cinta-Nyalah yang membuat kita mampu mencintai sesama seperti seharusnya. Dan cinta macam itulah yang akhirnya membebaskan kia dari segala ketakutan akan kehilangan orang yang kita cinta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s