Pikiran itu Bebas (Die Gedanken sind frei!)

(Lagu Mahasiswa dari Abad ke-19)

Pikiran itu bebas:

Siapa gerangan sanggup menerkanya?

Ia lewat terlintas begitu saja

Ibarat bayang-bayang malam

Tak ada seorang pun bisa mengetahuinya

Tak ada pemburu bisa menembaknya

Tetap saja begitu:

Pikiran itu bebas.

Aku memikirkan apa yang kuinginkan

Dan apa yang membuatku bahagia

Tapi semuanya terjadi secara diam-diam dalam ketenangan, juga tentang kesenonohannya.

Keinginan dan hasratku

Tak bisa ditahan oleh siapa pun

Tetap saja begitu: Pikiran itu bebas!

(Aku cinta kopi panasku,

Tapi aku cinta terutama pada Allahku

Hanya dia sajalah

Yang paling kusenangi

Di sini aku tengah duduk sendirian,

Ditemani secangkir kopiku

Tapi tetap kurasakan Allahku hadir juga:

Sebab pikiran itu bebas.)*

Itulah sebabnya aku tak ambil peduli

Pada pelbagai perkara yang bikin gundah

Demikian juga aku tak pernah mau

Menyusahkan diri dengan keluh kesah

Sebab bagaimanapun juga di dalam hatinya

Orang bisa saja tetap tertawa dan bercanda

Dan berpikir juga:

Pikiran itu bebas!

(Die Gedanken sind frei!)

*Bagian ini bukan teks aslinya; ditambahkan penulis.

Iklan

Siapakah Yesuit itu?

Tembang: “Dhandhanggula Prasetya Purna” oleh Rm. L. A. Sardi, SY

Dedalane ngabdi ndherek Gusti

(Mengikuti jalan untuk mengabdi Tuhan)

Sawutuhe ing dalem Sarekat

(Seutuhnya di dalam Serikat)

Novisiat dhasarane

(Novisiat menjadi dasarnya)

Wose nggegulang kalbu

(Intinya mengolah hati)

Niba nangi jroning “probasi”

(Jatuh bangun selama “probasi”)

Tepung SJ lan kanca

(Mengenal SJ dan para sahabat)

Sanak nunggal laku

(Yang menjadi saudara dalam peziarahan yang sama)

Neges Jatining timbalan

(Mencari arti inti panggilan)

Gene mathuk prasetya denya antebi

(Mengucapkan janji dengan mantap)

Wadat, mlarat, lan taat

(Murni, miskin, dan taat)

Siapakah Yesuit itu?

Banyak jawaban yang muncul dari para Yesuit. Yesuit itu…

orang yang merasa dipanggil menjadi teman kerja Tuhan di dunia | orang yang terbakar oleh cintah Tuhan |pengikut Kristus. Tapi tidak hanya ikut makan, minum, tidur (melainkan) mengikuti kegiatan Kristus | ibarat seorang sutradara. Dia membaca teks kehidupan, tanda-tanda zaman, bisa mengkontemplasikan dan mewujudkannya (hingga) menjadi suatu karya yang mungkin bisa membawa orang terinspirasi |religius yang bisa manjing, ajur, ajer dalam situasi apa pun. Dengan orang kaya ia tidak minder. Dengan orang miskin ia tidak sombong. Dengan orang jahat atau orang yang dianggap tidak baik dia tidak kelihatan sok suci. Dengan orang bodoh ia bisa menemani. Dengan pemabuk bahkan ia tidak perlu merasa sendiri, sebab apa? Sebab bagi dia semuanya itu adalah tempat perjumpaan di mana dia harus menemukan dan memuliakan tuhannya |pendosa yang menyadari dirinya dipanggil dan rahmat dan cinta tuhan itu dirasakan jauh lebih besar dari kedosaan dan kekurangannya dan karena itu yesuit bersedia untuk selalu diutus untuk membagikan hidup yang meruipakjan anugerah dari tuhan.

 

Para Sahabat Menggambarkan Siapa Yesuit

Tanggapan lain muncul dari orang-orang yang berkarya bersama para Yesuit (di Univ. Sanatha Darma, SMA John de Britto,PIKA Semarang, dll). Yesuit itu…

suatu komunitas yang mengikuti jejak santo Ignasius untuk memperjuangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya bagi kaum muda | pengikut Kristus yang militan, yang mau bertobat dan kemudian mengobarkan semangat dan menyebarkan Kerajaan Allah secara radikal | pejuang-pejuang nilai-nilai humanitas yang luar biasa |sekelompok orang (atau) segerombolan yang mencoba untuk memperbaiki dunia. Tapi terlebih dahulu mereka mencoba untuk mengelola diri dengan siklus batin yang khas sesuai (teladan) Ignasius |racun dunia pendidikan di Indonesia dengan visi, idealisme-idealisme, (dan) nilai-nilai pendidikan yang coba dikonkretkan di setiap lembaga dan itu terus-menerus dilakukan | sekelompok atau seorang yang hangat dan gampang diajak ngomong, bersenda gurau kadang serius, kadang banyak gurau daripada seriusnya. Lebih banyak berguraunya.

 

Yesuit adalah para pendosa

Ada banyak tanggapan positif tentang Yesuit. Namun tak kalah banyak pula tanggapan dan pengakuan miring (yang juga positif) tentang Yesuit. Pengakuan ini diberikan oleh para yesuit sendiri dan juga para rekan kerja mereka. Keburukan dari Yesuit itu…

Kepalanya keras | Ndableg | Sombong, itu mesti sangat cocok (dengan karakter mereka) | Individualis | Kurang Koordinasi | Menganggap dirinya yang paling hebat | Sok tahu. Inginnya mengetahui semuanya tetapi belum tentu tahu | Nyuwun amit amit sewu. Sedikit angkuh. Sedikit bener dhewe. Sedikit menang dhewe, sedikit maju dhewe | Kalau kotbah tinggi sekali. Banyak yang sulit ditangkap oleh umat | Kurang belajar sejarah | Kurang mendarat. Kurang menyentuh tanah | Keras Kepala | Kalau mereka berkarya lebih dari satu orang dalam satu lembaga, acap kali mereka tidak rukun | Sedikit alot untuk menerima pendapat kami (rekan kerja) | Luarnya lembut, tapi kalau menerima ide agak sulit | Arogan | Susah diberi masukan | Sontoloyo | Kurang memahami hidup berkeluarga bagaimana mencari uang, mengelola uang untuk anak dan istri | Sok tahu. Sok ngatur-ngatur. Jaim (jaga image) | Narsis | Banyak yesuit yang juga menjadi selebritis.

 

Hanya Karena Rahmat Tuhan

Jika Yesuit itu penuh dengan kekurangan dan keburukan itu karena salah yesuitnya. Kalau ada kebaikan pada diri Yesuit, itu semua semata-mata karena kemurahan hati Tuhan. Apa keunggulan Yesuit?

Kebaikan Yesuit itu mulai dari ubun-ubun sampai telapak kaki | punya fondasi kerohanian yang luar biasa yaitu Latihan Rohani | tanggap terhadap situasi dunia | tahan Banting. Nggak mudah menyerah | siap sedia. Rela untuk diutus kapan pun dan di mana pun | keunggulan yesuit itu ada pada kemampuannya untuk berefleksi | bisa dipercaya | unggul dalam Discernment  | unggul dalam bukan dalam menjawab pertanyaan tetapi membuat pertanyaan | selalu up-to-date | Punya visi |  kerja dengan serius, dengan sepenuh, dan bisa dipercaya | bekerja keras dan pandai mencari jalan untuk hal-hal yang lebih baik | pejuang keras. Cukup militan di berbagai bidang | sekumpulan intelektual | selalu di frontier | tegas dalam menyampaikan prinsip-prinsip yang ingin ditawarkan kepada siapa pun | pintar, (punya) komitmen, fokus, gila, dan bekerja total.

Yesuit adalah pribadi yang siap-sedia diutus ke wilayah tapal batas. Apa artinya berjuang menembus tapal batas? Rm. R.B. Riyo Mursanto, SY (Provinsial): tapal batas yang dimaksud adalah batas-batas yang mengekang seseorang untuk tidak bebas berbuat sesuatu. Jadi batas-batas itu misalnya ketakutan untuk bekerja sendiri, atau khawatir untuk bekerja dengan orang lain, atau keragu-raguannya karena merasa tidak bisa. Lalu dia berhadapan dengan batas-batas itu. Kalau dia diutus ke wilayah tapal batas (frontier), itu artinya dia diutus untuk melampaui batas-batas (psikologis) itu dan menemukan sebuah keberanian baru: bekerja dengan orang lain, mengatasi keraguan dirinya, bertanya dengan orang-orang karena tidak tahu, dan menggalang resources yang ada.

 

Puisi

“Pendosa yang dipanggil Tuhan, Doa Seorang Yesuit” oleh Rm. G.P. Sindhunata, SY

Hendak kujahit dengan apa hatiku yang robek karena dosa

kecuali dengan benang cinta dan kerahimanmu yang tak terkira.

Dengan kuda berlari seribu aku menjauh darimu

namun kau tangkap aku selalu dengan tanganmu yang terluka bekas paku.

 

Kalau kau menghendaki aku,

mengapa kau biarkan aku selalu jatuh sampai sekian ribu hingga aku ingin lari darimu?

dan selau demikian jawabanmu:

“Kau memang pendosa di hadapanku

namun justru karena itu aku memanggilmu

menjadi sahabatku.”

 

Maka kaubiarkan aku terombang-ambing dalam deru

antara kesetiaan dan kejatuhan, antara kepastian dan kebimbangan.

Kapan berhenti keterombangambinganku ini?

“Saat kau tak ragu lagi, kau adalah sahabatku sampai mati

kendati dosamu yang kau tangisi setiap hari.”

 

Kini aku tahu, Tuhan, hatiku robek karena terluka

bukan oleh dosa tapi oleh cinta.

Luka karena cinta hanya akan sembuh oleh cinta,

karena itu tak lagi aku harus bersedih karena dosa.

 

Tuhan jangan biarkan lagi aku ragu.

Aku adalah sahabatmu.

Karena itu kau tega menggoreskan cinta di atas dosaku

hingga makin perihlah kerinduan hatiku akanmu.

 

Sumber:

Disarikan dari DVD Seri 10, Jubileum 150 tahun SY Indonesia: “Pergilah dan Kobarkanlah Dunia!”, Studio Audio Visual Puskat, Yogyakarta.

Ketekunan dan Spiritualitas Studi [ii]

…melanjutkan renungan dari Rm. G.P. Sindhunata, SY…

Orang yang sungguh bermatiraga hanya membutuhkan seperempat jam untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan.”

– St. Ignasius Loyola

Latar belakang kata-kata itu: 22 November 1554, Jerome Nadal (1507-1580) berbincang-bincang dengan Ignasius tentang permintaan mendesak para Yesuit di Alcala, supaya diperbolehkan memperpanjang waktu doa, lebih daripada yang sudah digariskan oleh Serikat. Nadal melaporkan, bahwa ia mengijinkan komunitas Alcala untuk menambah setengah jam pada waktu doa, yang sudah ditentukan oleh konstitusi bagi skolastik. Nadal bilang, ia mendukung dan membela secara personal kemauan para Yesuit Spanyol itu. Malahan ia mendesak Ignatius untuk menyetujui permintaan itu.

Waktu itu Ignasius sedang sakit dan terbaring di tempat tidurnya. Ignasius mendengar semuanya, tapi tak memberi komentar apa-apa. Baru keesokan harinya, Ignasius memberikan reaksi. Di hadapan beberapa saudara, termasuk Pater Luis Goncalves da Camara, Ignasius kelihatan “marah”, dan menegur Nadal. Dengan kata yang keras, ia menyesalkan Nadal yang tak berhasil menundukkan Yesuit Spanyol pada peraturan Serikat tentang doa. Dan menurut Camara, keluarlah kata-kata pedas di atas. Nadal hanya terdiam. Ia seakan mengakui, ia belum benar-benar paham akan keyakinan Ignasius tentang doa, seperti dituliskan dalam Konstitusi. Camara juga terkejut akan reaksi Ignasius itu. Namun ia kagum betapa Nadal mau menerima dengan rendah hati teguran keras itu.

Dalam kisah ini jelas, bahwa doa seorang Yesuit bukanlah doa umumnya para biarawan. Doa Yesuit adalah doa dari dan tentang hidup hariannya, bahkan hidup hariannya sendiri adalah doanya. Doa ini lebih berat daripada sekadar menepati ketentuan-ketentuan doa formal, serta jam-jam doa formal. Doa ini harus berlangsung sepanjang hari, dalam setiap tetek bengek hidup harian yang kelihatannya tak mengandung Allah sama sekali. Doa ini berat, atau malahan lebih berat daripada sekadar menepati waktu doa formal, karena doa itu menuntut askese yang luar biasa, bahkan doa itu sendiri adalah askese, seperti diterangkan oleh Pater Karl Rahner di atas.

Hidup doa itu sangat dekat dengan penghayatan kemiskinan kita (P. Arrupe). Kemiskinan tidak pertama-tama kemiskinan lahiriah, tapi memilih kerja keras. (Jelas pula bahwa “semangat kemiskinan tidak dihayati dengan sungguh-sungguh bila secara spontan kita tidak memilih hidup bekerja keras, tidak menjaga kesehatan secara wajar, dan tidak mengusahakan disiplin dan tertib hidup pribadi”).

Kemiskinan juga berarti ketergantungan: Lihatlah para pekerja rendahan: “Di antara para pekerja yang sungguh-sungguh miskin tidak ada kebebasan untuk memilih pekerjaan, tempat atau waktu untuk bekerja, pemimpin atau kawan kerja, dan mereka juga masih terpaksa meninggalkan tanah air mereka … Maka dari itu, sebagaimana kita ingin sama dengan orang kecil dan lemah di dunia, kita perlu yakin, betapa besar nilainya hidup dalam ketergantungan itu, justru karena kita hidup bersama dan berkaul kemiskinan. Ketergantungan kita bukanlah hina, sebaliknya amat luhur, karena merupakan pilihan bebas kita, yang tergerak oleh cinta kepada Kristus, Hamba yang direndahkan. Dengan begitu kita ikut ambil bagian dalam cinta dan Hati-Nya yang tertuju kepada yang paling hina…

Sudahkah studi kita alami dalam rangka kita mengalami kemiskinan secara real, yakni kemiskinan pekerja-pekerja rendahan, yang harus bekerja tanpa ampun sepanjang hari, yang tergantung tanpa bebas memilih? Ataukah studi hanya salah satu pilihan di samping pilihan lain? Kalau demikian kita sudah terlalu mewah, dan tidak lagi mengalami kemiskinan sebagai solidaritas terhadap mereka yang tak punya pilihan lain, kecuali harus bekerja dengan keras untuk menutupi nafkahnya.

Jika kita mengisi hidup harian kita dengan studi, dan studi itu kita alami sebagai sebentuk ketergantungan, yang membuat kita tidak boleh lagi seenaknya memilih dalam hidup harian ini, maka hidup harian kita tidak hanya berdimensikan kemiskinan, tapi juga menjadi doa: doa skolastik yang miskin, yang menyadari bahwa hidupnya sama sekali tergantung pada studi, yang harus dijalani dengan tekun, rajin, tanpa pamrih, karena hidup hariannya memang sedang menghendaki dia untuk menjalankan askese demikian.

Latihan Rohani no. 93: “Kehendakku ialah menaklukkan seluruh tanah orang-orang kafir. Barangsiapa mau ikut aku dalam usaha itu, haruslah puasa dengan makanan yang sama seperti makananku sendiri, begitu pula minuman, pakaian dsb. Siang hari harus membanting tulang, dan malam hari ikut bersama aku, dsb, Kelak ia akan mendapat bagian dalam kemenangan bersama aku, sebagaimana dulu ambil bagian dalam susah payahku.” (Similiter debet laborare, ut ego, interdiu, et vigilare noctu, etc,  ut ita deinde particeps mecum fiat victoriam sicut fuerit laborum).

LR 97: “Mereka yang mau lebih mencintai dan menjadi unggul dalam segala hal yang bersangkutan dengan pengabdian kepada Raja Abadi dan Tuhan semesta, tidak hanya akan mempersembahkan diri seutuhnya untuk berjuang; tetapi lebih lanjut bertindak melawan hawa nafsu, cinta kedagingan dan dunia dalam dirinya…”(non solum offerent se totos ad laborem, sed etiam agendo contra suam propriam sensualitatem, et contra suum amorem carnalem et mundanum…).

Teks Kitab Suci untuk direnungkan

  • Mat 25: 14-30: Mau bekerja karena hormat dan kasih pada Allah
  • 2 Tes 3: 1-10: Menjauhkan diri dari orang yang tidak mau melakukan pekerjaan… Siapa tidak mau bekerja, jangan makan… janganlah hidup dengan tidak tertib dan melakukan hal-hal yang tidak berguna.
  • Rom 8: 26-30: Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
  • Mas 126: 5: Orang yang menabur dengan mencucurkan airmata, akan menuai dengan bersorak-sorai.