Ketekunan dan Spiritualitas Studi [ii]

…melanjutkan renungan dari Rm. G.P. Sindhunata, SY…

Orang yang sungguh bermatiraga hanya membutuhkan seperempat jam untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan.”

– St. Ignasius Loyola

Latar belakang kata-kata itu: 22 November 1554, Jerome Nadal (1507-1580) berbincang-bincang dengan Ignasius tentang permintaan mendesak para Yesuit di Alcala, supaya diperbolehkan memperpanjang waktu doa, lebih daripada yang sudah digariskan oleh Serikat. Nadal melaporkan, bahwa ia mengijinkan komunitas Alcala untuk menambah setengah jam pada waktu doa, yang sudah ditentukan oleh konstitusi bagi skolastik. Nadal bilang, ia mendukung dan membela secara personal kemauan para Yesuit Spanyol itu. Malahan ia mendesak Ignatius untuk menyetujui permintaan itu.

Waktu itu Ignasius sedang sakit dan terbaring di tempat tidurnya. Ignasius mendengar semuanya, tapi tak memberi komentar apa-apa. Baru keesokan harinya, Ignasius memberikan reaksi. Di hadapan beberapa saudara, termasuk Pater Luis Goncalves da Camara, Ignasius kelihatan “marah”, dan menegur Nadal. Dengan kata yang keras, ia menyesalkan Nadal yang tak berhasil menundukkan Yesuit Spanyol pada peraturan Serikat tentang doa. Dan menurut Camara, keluarlah kata-kata pedas di atas. Nadal hanya terdiam. Ia seakan mengakui, ia belum benar-benar paham akan keyakinan Ignasius tentang doa, seperti dituliskan dalam Konstitusi. Camara juga terkejut akan reaksi Ignasius itu. Namun ia kagum betapa Nadal mau menerima dengan rendah hati teguran keras itu.

Dalam kisah ini jelas, bahwa doa seorang Yesuit bukanlah doa umumnya para biarawan. Doa Yesuit adalah doa dari dan tentang hidup hariannya, bahkan hidup hariannya sendiri adalah doanya. Doa ini lebih berat daripada sekadar menepati ketentuan-ketentuan doa formal, serta jam-jam doa formal. Doa ini harus berlangsung sepanjang hari, dalam setiap tetek bengek hidup harian yang kelihatannya tak mengandung Allah sama sekali. Doa ini berat, atau malahan lebih berat daripada sekadar menepati waktu doa formal, karena doa itu menuntut askese yang luar biasa, bahkan doa itu sendiri adalah askese, seperti diterangkan oleh Pater Karl Rahner di atas.

Hidup doa itu sangat dekat dengan penghayatan kemiskinan kita (P. Arrupe). Kemiskinan tidak pertama-tama kemiskinan lahiriah, tapi memilih kerja keras. (Jelas pula bahwa “semangat kemiskinan tidak dihayati dengan sungguh-sungguh bila secara spontan kita tidak memilih hidup bekerja keras, tidak menjaga kesehatan secara wajar, dan tidak mengusahakan disiplin dan tertib hidup pribadi”).

Kemiskinan juga berarti ketergantungan: Lihatlah para pekerja rendahan: “Di antara para pekerja yang sungguh-sungguh miskin tidak ada kebebasan untuk memilih pekerjaan, tempat atau waktu untuk bekerja, pemimpin atau kawan kerja, dan mereka juga masih terpaksa meninggalkan tanah air mereka … Maka dari itu, sebagaimana kita ingin sama dengan orang kecil dan lemah di dunia, kita perlu yakin, betapa besar nilainya hidup dalam ketergantungan itu, justru karena kita hidup bersama dan berkaul kemiskinan. Ketergantungan kita bukanlah hina, sebaliknya amat luhur, karena merupakan pilihan bebas kita, yang tergerak oleh cinta kepada Kristus, Hamba yang direndahkan. Dengan begitu kita ikut ambil bagian dalam cinta dan Hati-Nya yang tertuju kepada yang paling hina…

Sudahkah studi kita alami dalam rangka kita mengalami kemiskinan secara real, yakni kemiskinan pekerja-pekerja rendahan, yang harus bekerja tanpa ampun sepanjang hari, yang tergantung tanpa bebas memilih? Ataukah studi hanya salah satu pilihan di samping pilihan lain? Kalau demikian kita sudah terlalu mewah, dan tidak lagi mengalami kemiskinan sebagai solidaritas terhadap mereka yang tak punya pilihan lain, kecuali harus bekerja dengan keras untuk menutupi nafkahnya.

Jika kita mengisi hidup harian kita dengan studi, dan studi itu kita alami sebagai sebentuk ketergantungan, yang membuat kita tidak boleh lagi seenaknya memilih dalam hidup harian ini, maka hidup harian kita tidak hanya berdimensikan kemiskinan, tapi juga menjadi doa: doa skolastik yang miskin, yang menyadari bahwa hidupnya sama sekali tergantung pada studi, yang harus dijalani dengan tekun, rajin, tanpa pamrih, karena hidup hariannya memang sedang menghendaki dia untuk menjalankan askese demikian.

Latihan Rohani no. 93: “Kehendakku ialah menaklukkan seluruh tanah orang-orang kafir. Barangsiapa mau ikut aku dalam usaha itu, haruslah puasa dengan makanan yang sama seperti makananku sendiri, begitu pula minuman, pakaian dsb. Siang hari harus membanting tulang, dan malam hari ikut bersama aku, dsb, Kelak ia akan mendapat bagian dalam kemenangan bersama aku, sebagaimana dulu ambil bagian dalam susah payahku.” (Similiter debet laborare, ut ego, interdiu, et vigilare noctu, etc,  ut ita deinde particeps mecum fiat victoriam sicut fuerit laborum).

LR 97: “Mereka yang mau lebih mencintai dan menjadi unggul dalam segala hal yang bersangkutan dengan pengabdian kepada Raja Abadi dan Tuhan semesta, tidak hanya akan mempersembahkan diri seutuhnya untuk berjuang; tetapi lebih lanjut bertindak melawan hawa nafsu, cinta kedagingan dan dunia dalam dirinya…”(non solum offerent se totos ad laborem, sed etiam agendo contra suam propriam sensualitatem, et contra suum amorem carnalem et mundanum…).

Teks Kitab Suci untuk direnungkan

  • Mat 25: 14-30: Mau bekerja karena hormat dan kasih pada Allah
  • 2 Tes 3: 1-10: Menjauhkan diri dari orang yang tidak mau melakukan pekerjaan… Siapa tidak mau bekerja, jangan makan… janganlah hidup dengan tidak tertib dan melakukan hal-hal yang tidak berguna.
  • Rom 8: 26-30: Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
  • Mas 126: 5: Orang yang menabur dengan mencucurkan airmata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
Iklan

Ketekunan dan Spiritualitas Studi [i]

Para frater dan bruder Serikat Yesus (SY) yang sedang belajar filsafat di Jakarta secara rutin menjalani rekoleksi bersama setiap akhir bulan. Ada macam-macam tema yang direnungkan, antara lain:

Sabtu, 24 – Minggu, 25 September 2011: “Radikalisme Agama” dipandu oleh Rm. Ismartono, SY.

22-23 Oktober 2011: “Kemiskinan Yesuit” oleh Rm. Bambang Rudianto, SY.

26-27 November 2011: “Ketekunan, Spiritualitas Studi” dipandu oleh Rm. G.P. Sindhunata, SY.

Jumat, 9 Maret 2012: Berbagi pengalaman dan pemikiran dari Dr. Yanuar Nugroho tentang “Dunia IT dan Kita”.

28-29 April 2012: “Hidup Selibat dalam Serikat Yesus” oleh Rm. Paul Suparno, SY.

26-27 Mei 2012: “Tantangan Dunia Teknologi Informasi” oleh Rm. Hari Suparwito, SY.

dan lain-lain.

Berikut ini, saya bagikan renungan dari Rm. G.P. Sindhunata, SY mengenai Ketekunan dan Spiritualitas Studi dalam Serikat Yesus. Renungan dari Romo Sindhu ini bukan hanya relevan untuk para frater dan bruder SY, melainkan juga untuk kita semua yang sedang bergulat dan bertekun dalam studi kita. Selamat berefleksi. +a.m.d.g.+

Sulit Berkonsentrasi

dan Sulit Memilih Mana yang Lebih Penting?

Bagaimana kita masih dapat berkonsentrasi di tengah demikian banyak arus informasi di dunia digital ini?

Titik tolak pertanyaan ini adalah realitas keterbatasan kita. Daya perhatian kita pun sangat terbatas. Secara ekonomis dapat dikatakan: daya perhatian termasuk sumber yang terbatas. Jika kita tidak me-manage-nya, kita akan menderita gangguan neurologist, defisit daya perhatian yang berakibat pada gangguan terhadap daya untuk memperhatikan, burn-out atau depresi. Untuk mengatasi hal itu kita mesti mengarahkan perhatian kita pada perhatian itu sendiri.  Pertanyaannya: manakah yang bisa kita abaikan, dan manakah yang boleh kita pertahankan? Kita mempunyai demikian banyak informasi, manakah yang paling penting?

 Perhatian = Mata uang

Perhatian (daya perhatian) merupakan kemampuan individual untuk berkonsentrasi pada aspek yang penting, dan menyisihkan hal-hal yang tidak penting. Secara ekonomis, daya perhatian itu malahan seperti mata uang, yang punya nilai tukar dan harus dirawat dengan hati-hati seperti emas. Media, politik, ekonomi, iklan, masing-masing mencari strategi untuk berlomba-lomba memperebutkan perhatian masyarakat itu. Mereka berebut, karena “sumber daya perhatian” itu amat terbatas. Orang hanya bisa mencurahkan perhatiannya hanya pada beberapa hal saja. (Bayangkan, betapa sulitnya agama, atau khotbah, merebut perhatian orang, yang sudah mencurahkan perhatiannya lebih ke TV, sinetron, hiburan, HP dan sebagainya).

 Informasi melahap perhatian (Herbert Simon, ekonom peraih hadiah nobel).

Makin banyak berita menghampiri kita, makin sedikit waktu untuk mencernakannya. Daya ingat kerja (Arbeitgedächtnis – Ulrich Schnabel, dlm.: Die Zeit, 28 April 2011) kita sangat terbatas. Kecepatan berpikir kita, kemampuan kita untuk memfokus, untuk memilih dan memutuskan, tergantung pada ingatan kerja ini. Sayang kapasitasnya terbatas.

Apakah kita bisa mengolah informasi atau memisahkan yang penting dari yang tidak penting juga, itu tergantung pada kapasitas kerja yang tersedia dalam dalam otak kita itu. Harap diingat, untuk menghilangkan informasi yang menganggu, kita juga harus bisa mengklasifikasikannya sebagai tidak penting. Sementara, ingatan kerja itu juga tidak terlalu menjamin. Kondisinya seperti komputer, jika terjadi error sedikit saja, semua sistem tidak jalan lagi. Dan masing-masing orang punya kapasitas dan kekuatannya sendiri.

Cobalah mengetes, apakah Anda mampu menangani daftar ini: booking pesawat, membereskan surat, membersihkan sampah, mengurus pajak, membeli roti, memperbaiki sepeda, mencuci pakaian… Ingatlah semua itu dalam kepala Anda, dan kerjakanlah. Sampai tiga, mungkin belum ada masalah, lebih dari itu, otak kita sudah terganggu.

Ingatan kerja itu juga erat berhubungan dengan penguasaan diri dan penguatan kehendak. Makin besar kapasitas ingatan itu (itu artinya: ingatan itu tak terlalu dibebani), makin mudah orang mengontrol diri, dan melawan tekanan dari luar. Makin kapasitas itu kecil (artinya: makin dibebani dari luar), makin melemah pula kehendak dan kemampuan kontrol diri. Karena sangat dibebani, kekuatan kehendak juga meluntur. Sang aku akan kelelahan, seperti otot yang terus meregang: Kalau itu terjadi, kita tidak lagi dapat memisahkan mana yang penting dan mana yang tidak penting, kita akan kehilangan untuk berhenti pada yang pokok.

Menurut penelitian, terlalu banyaknya pilihan dan hal yang datang dari luar juga juga bisa melumpuhkan cinta. Karena itu kita perlu:

1. Meminimalisir arus dari luar yang terus mendesak untuk masuk ke dalam ingatan kerja kita.

2. Terus menerus rajin melatih ingatan kerja: melatih konsentrasi.

3. Berani bertanya: apa yang sungguh kita inginkan?

Itulah tantangan diskretio kita. Sadarilah betapa terbatasnya kapasitas perhatian dan ingatan kita. Mohon: agar dapat menggunakannya dengan tahu diri dan sebaik-baiknya. Artinya, tiap hari kita ditantang untuk berkonsentrasi terhadap mana yang lebih penting dalam hidup kita. Sadarkah kita, setelah habis-habisan nonton TV, perhatian kita akan terkuras, dan kita tidak mampu lagi untuk berkonsentrasi dan memberikan perhatian yang maksimal pada studi kita?

Diskretio itu bisa kita jalankan, jika kita sadar akan hidup harian kita, dan menjadikan hidup kita doa. Dan dalam tradisi Serikat, itulah yang sesungguhnya disebut askese. Untuk itu kita ingin belajar dari Pater Karl Rahner, bagaimana kita bisa membuat hidup harian kita jadi doa.

Kita sudah berdoa dalam hidup harian. Tapi kenyataannya, hidup harian itu tetap tinggal sebagai hidup harian. Tiap hari kita merasa jiwa kita seperti sebuah jalan raya yang digilas hidup harian dengan pelbagai tetek bengek memusingkan, dengan pelbagai omong kosong ke sana ke mari tanpa isi, dengan keingintahuan yang tanpa ujung pangkal, dengan hal-hal yang sama sekali tidak penting. Semuanya datang tanpa kita bisa menolaknya. Hidup harian dengan segala yang tak bisa kita tolak memenuhi kita hingga kita merasa “rumah kita, sampai keatap-atapnya penuh berluberan dengan tetek bengek hidup harian”. Sampai kita mati nanti, apa yang tertinggal pada kita, kecuali hidup harian itu? Bagaimana kita bisa sampai kepada “Apa dan Siapa yang paling kita perlukan, yakni Tuhan sendiri” di tengah hidup harian yang rasanya tak mungkin mengantar kita ke sana? Bagaimana hidup harian itu sendiri bisa menjadi doa?

Itu bisa terjadi, bila kita tidak lari dari hidup harian itu! Kita harus membawanya ke mana pun kita pergi, karena hidup harian kita itu adalah kita sendiri. Karena itu jalan yang tersedia bagi kita hanyalah hidup harian, dengan segala tugas kesusahan dan jerih payahnya. Maka hidup harian “diatasi” bukan dengan melarikan diri darinya, tapi dengan bertahan di dalamnya. Akibatnya: Tuhan haruslah dicari dalam hidup harian itu. Hidup harian haruslah menjadi “Hari Tuhan”. Masuk ke dalam hidup harian berarti pulang ke dalam Tuhan. Karena itu hidup harian adalah “pertobatan kita”: Hidup harian menjadi doa kita!

Bagaimana mungkin itu terjadi? Itu terjadi, jika kita memberikan cinta dan sanggup melepaskan diri dari kepentingan kita. Dan hidup harian kita adalah guru yang paling baik, yang paling bisa mendidik kita untuk kedua ilmu tersebut: Melepaskan diri dan mencinta. Dan itu semuanyalah yang bisa membuat kita “menanggalkan egoisme”. Syaratnya: jika kita mau mengatakan “ya” pada hidup harian kita, mau menerimanya tanpa mengeluh. Lalu membiarkan segala egoisme dan keterkurungan diri kita “digilas” oleh hidup harian itu. Jika itu terjadi, pelahan-lahan tapi pasti, Tuhan sendiri yang akan memimpin dan mengendalikan kita dalam hidup harian kita. Hati kita akan disadarkan oleh cinta yang diam dan tenang, dan itu adalah cinta akan-Nya. Ya hidup harian membuat kita “mati”, dan Allah sendiri yang hidup. Namun itu terjadi tanpa kita sadari, dan tak seorang lainpun menyadarinya.

Sehari-hari kita selalu suka membangun tembok untuk melindungi diri kita. Jika kita tak ingin membangun tembok itu lagi, tak ingin lagi tersembunyi di dalamnya, jika kita membiarkan diambilnya “kegembiraan dan keamanan kita”, yang sampai sekarang kita anggap penting, dan ketika diambil kita tak lagi merasa bingung, juga jika usaha kita seakan tanpa hasil, saat itulah hidup harian telah mendidik kita perlahan-lahan.

Dan kita akan merasakan, betapa kita menjadi kaya justru karena kita memberi, kita menjadi penuh justru karena kita mau berpantang, kita menjadi gembira karena mau berkorban. Pada saat itulah kita menjadi bebas dan terlepas dari kurungan kita sendiri. Karena kita bebas, maka kita dimampukan untuk terbuka pada cinta yang lebih besar: cinta terhadap Tuhan yang tak terbatasi oleh apa pun. Jelaslah, semuanya itu terjadi karena kenyataan: bagaimanakah kita bertahan dan kuat dalam hidup harian kita. Hidup harian itu bisa tinggal begitu-begitu saja, tapi bisa juga membuat kita “bebas” dan “penuh cinta”.

Jadi hidup harian kita mempunyai salib, atau bahkan hidup harian kita sendiri adalah salib. Pada salib itu hidup kita disalibkan, dan kita mati tergantung padanya. Namun pada saat yang sama, dari sanalah kita dibangkitkan dan dalam arti ini hidup harian kita adalah bangkit dan terbitnya cinta. Kalau demikian, seluruh hidup harian kita menjadi nafas cinta, nafas kerinduan, nafas kesetiaan, napas iman, napas kesediaan, dan nafas penyerahan diri kepada Tuhan.

Jika demikian, hidup harian kita akan menjadi doa, doa tanpa kata-kata. Doa itu tak kelihatan, tak mencolok, tanpa hiasan, sungguh doa hidup harian. Jika lewat hidup harian, kita menerima diri kita, kerinduan kita, keterbelengguan kita, dan karena itu dalam kepahitan kita tidak dipahitkan, dalam hal yang biasa kita tidak dibiasakan, dalam keseharian kita tidak di-keseharian-kan, dalam kekecewaan kita tidak dikecewakan, jika kita lewat hidup harian dibimbing menuju ke kesabaran, kebaikan, kedamaian, kelemahlembutan, pengampunan, dan kesanggupan untuk menerima, kesetiaan yang tanpa pamrih, maka pada saat itulah hidup harian kita menjadi doa: doa hidup harian! Karena itu janganlah kamu hanya berdoa bagi dan dalam hidup harianmu, tapi jadikanlah hidup harianmu sebuah doa!

(bersambung…)