A Smile (Leslie Gibson)

A smile costs nothing, but gives much. It enriches those who give it. It takes but a moment, but the memory of it sometimes lasts forever.

None is so rich of mighty that he can get along without it, and none is so poor but that he cannot be made richer by it.

A smile creates happiness in the home, promotes good will in business and is the cornerstone of friendship. It can perk up the weary, bring cheer to the discouraged, sunshine to the sad, and is nature’s best antidote for trouble.

Yet it cannot be bought, beeged, borrowed or stolen, for it is something that is of no value to anyone until it is given away.

When people are too tired to give you a smile, give them one of yours. No one needs a smile so much as he who has none to give [97].

Sumber:

Robert Holden, Laughter: The Best Medicine. The Healing Power if Happiness, Humour, and Laughter, (London: HarperCollinsPublisher, 1993), 97.

Iklan

Laughter Revelations

(the picture: http://thejobofwork.blogspot.com/2011/03/on-laughter.html)

(1) Laughter is loving. We can learn to love through laughter. Like love, laughter is fun, celebration and togetherness. To keep laughing can help us to keep loving.

(2) Laughter is freedom. Through laughter we can bring all our emotions into play. Expressing ourselves through laughter can inspire us to express ourselves in other ways. Laughter liberates us.

(3) Laughter is natural. Each time we truly laugh we are spontaneous, creative, free.

(4) Laughter is accepting. No ifs, no oughts, no musts and no-should-bes. When we are laughing we delight in non-prefect moments and in a non-ideal world. Through laughter we live life as it is, not as “if only”.

(5) Laughter is forgiveness. Resentment is hard, heavy and makes our bodies tight; with laughter, we travel swiftly and our hearts are light.

(6) Laughter teaches tolerance. Laughter promotes patience and helps us to see the bright side of things. Trough laughter we learn to tolerate ourselves, and others.

(7) Laughter is a language. Laughter talks, laughter listens. Laughter is the human touch. We contact one another through laughter.

(8) Laughter is play. Life is play, love is play and laughter is play. All is play. To play your part well, there will be times when you will need to frown and smile, weep and sing, cry and laugh.

(9) Laughter is belonging. No you, no me, no them and us. No isolation, no division and noseparation. Laughter links us all together in experience, learning and fun.

(10) Laughter is living. It is a celebration, a victory and a success, for when we are laughing we are truly alive [91].

Reference:

 Robert Holden, Laughter: The Best Medicine. The Healing Power if Happiness, Humour, and Laughter, (London: HarperCollinsPublisher, 1993), 91.

Tawa dan Masyarakat

Ada satu hal yang tidak bisa diterima oleh setiap orang pada diri kita, yaitu jika kita tidak mempunyai sense of humour.

Antropolojests (Anthropology of Jokes): Darimana asalnya tawa? Ada yang mengatakan bahwa tertawa merupakan kekhasan manusia. Tidak ada makhluk lain yang mempunyai kemampuan untuk tertawa. Apakah tertawa itu suatu bawaan sejak lahir atau sesuatu yang dipelajari? Mungkinkah ada organ tertawa di suatu tempat dalam jantung?

Ada yang mengatakan bahwa tertawa bukanlah kekhasan manusia. Kita telah mewarisi tawa dari pendahulu kita yaitu kera. Charles Darwin mengatakan bahwa ketika menghadapi ancaman, kera bereaksi dengan menunjukkan giginya; suatu gejala yang mirip ketika manusia tersenyum atau tertawa untuk meredam agresi dan mengkomunikasikan kontrol dirinya. “ha ha ha” manusia juga berhubungan dengan “wo wo wo” pada kera. Anjing tertawa dengan ekornya. Lumba-lumba, kucing juga mempunyai sense of play. Tertawa dapat terjadi lintas spesies. Namun kita tetap tidak tahu darimana tawa berasal. Mungkin tawa itu merupakan rahmat yang datang dari Tuhan. Kita pun bisa bertanya darimana tawa-Nya itu berasal, dan tuhan pun akan tertawa [73].

Defining Laughter: Kita tertawa begitu banyak, begitu sering, dan tertawa dalam menanggapi banyak hal. Sebagai contoh, kita mungkin tertawa dalam menanggapi ketidakpantasan, kejutan, kemenangan atau kebahagiaan. Terhadap hal-hal yang rumit: kita juga terkadang tertawa ketika kita sedang bersedih, cemas, kalah, menderita, lelah, dan pusing. Segala sesuatu, dalam beberapa waktu, beberapa tempat, kepada beberapa orang, ketika kondisinya baik; semuanya dapat menjadi momen untuk tertawa [79].

Tertawa merupakan suatu fenomena yang tidak dapat diprediksi. Tertawa bisa merupakan gejala fisik; dalam beberapa hal, tertawa merupakan ekspresi atau pembebasan emosi; tawa juga memanifestasikan fenomena sosial; juga ekspresi dari jiwa [80].

Wabah Tawa: Dalam sejarah Inggris, tertawa pernah hendak dihilangkan oleh orang-orang puritan (puritan ethics). Victorians melihat tawa sebagai tingkah laku yang tidak beradab; tawa merupakan hasil dari pikiran yang tidak dewasa. Foto-foto keluarga Victorian menunjukkan absennya tawa, kelucuan, dan di atas semuanya, foto itu menunjukkan absennya cinta [80].

Tawa dan Karakter: Tertawa merupakan bahasa. Saat tertawa, kita mengatakan kepada orang lain sedikit tentang siapa diri kita, di mana kita berada, apa yang kita pikirkan, dan bagaimana perasaan kita. Tawa kita mengkomunikasikan kepribadian kita. “Men show their character in nothing more clearly than by what they think laughable” (Goethe). Sesuatu yang privat menjadi publik ketika kita tertawa. Ralph Waldo Emerson mengingatkan bahwa “seorang manusia harus sadar tentang bagaimana ia tertawa, karena dengan tertawa ia menunjukkan segala kesalahannya.” Kita perlu tertawa kepada hidup dan tertawa bersama kehidupan. Tertawa ‘kepada’ hidup seringkali bersifat defensif, mengolok-olok, dan memecah-belah; tertawa bersama kehidupan membantu kita untuk merasa nyaman, menghubungkan, dan mempersatukan kita. Orang yang bahagia dan percaya diri adalah orang yang “tertawa bersama”; sedangkan orang yang “tertawa kepada” …cenderung merupakan orang yang tidak bahagia dan tidak percaya diri [83].

Orang yang tidak pernah tertawa sama sekali, bukan saja cocok dengan bencana, melainkan hidupnya sendiri akan menjadi bencana. Begitu juga dengan orang yang tertawa terlalu banyak: “tidak ada orang yang lebih menyedihkan dibandingkan dengan orang yang terlalu banyak tertawa. (Jean Paul Ricther). Terlalu banyak tertawa bisa jadi mengkomunikasikan sedikitnya kebahagiaan. Di balik sebuah tawa, ada banyak cerita yang hendak disampaikan.

Karakter yang perlu dibanggakan adalah ketika seseorang mampu menertawai dirinya sendiri. Kemampuan untuk menertawai diri sendiri menunjukkan ego yang sehat, percaya diri, kuat, imajinatif, dan mempunyai kenyamanan batin yang dalam. Mudah bagi kita untuk merasa nyaman dengan orang yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri.

Jenis Tawa: Tawa adalah label, senyummu adalah tanda tangan, gurauanmu adalah baju perangmu. Kita semua tertawa secara berbeda. Tipe tertawa sesuai dengan tipe seseorang. Kemampuan yang sehat untuk tertawa dapat membantu kita mengkespresikan semua emosi, pikiran dan perasan, itu karena tertawa itu sendiri begitu ekspresi. Tawa kita mempunyai ritme khusus, tekanan, jeda, volume, dan durasi yang khusus. Tawamu adalah semacam password atau sandi dan tanda. Ketika kita tertawa terhadap orang lain, bagaimana kita melakukannya? “lip smiler’, cheesy grin, twinkle smilers, sweet smilers, wry smilers, tee-hee smilers, half-smile, body-smilers, hearty laughter, belly laughter, seal laughter, laughing one’s head of, laughing up one’s sleeve, horse laugh, burst laughter, giggles, chortles, chuckles, hoots, cackles, sniggers, guffaws [84].

Tawa dan Relasi: Persahabatan seringkali lahir dari momen ceria dan tertawa. Fyodor Dostoyevsky mengatakan “seseorang dapat mengetahui orang lain dari tawanya, dan jika kamu menyukai tawa seseorang sebelum kamu tahu apa pun tentang orang itu, kamu dapat dengan yakin mengatakan bahwa ia adalah orang baik.” [85]

Joking Relationships: Keluarga bermain bersama, tinggal bersama, mudah untuk tertawa bersama, dan dengan begitu mereka mudah untuk hidup bersama. Tawa dapat membawa keluarga melewati waktu kebahagiaan dan tantangan, kemenangan dan kekalahan, penuh pencerahan dan putus asa, persetujuan dan pertentangan. Tawa menyampaikan cinta dan rasa saling memiliki di dalam keluarga. Tertawa sama pentingnya bagi anak seperti vitamin atau mineral. Jika tawa dalam keluarga tidak bertumbuh, maka anak pun tidak dapat bertumbuh [86].

Cinta and Tawa: Ketiadaan tawa dalam sebuah relasi dapat menunjukkan bahwa sedang terjadi suatu masalah yang serius [90].

Sumber:

Robert Holden, Laughter: The Best Medicine. The Healing Power if Happiness, Humour, and Laughter, (London: HarperCollinsPublisher, 1993), 73-90.