Suka Cita

Pujangga, imam dan filsuf pernah bertanya: “apakah tertawa adalah dosa?”; “Apakah Allah menikmati guyonan yang baik?”; “Apakah jiwa itu mudah geli?”; “Apakah mungkin kita membawa humor ketika melewati lubang jarum?”; “ Apakah akan ada tanda ‘dilarang tertawa’ di surga?”; “Apakah humor akan menodai lingkaran suci di kepala, atau akan membuatnya semakin bersinar?”

Kita tahu bahwa tertawa itu baik untuk fisik dan emosi, namun apakah baik juga untuk kerohanian kita? Apakah tertawa mempunyai pengaruh spiritual yang positif? Tenang saja, it will be okay to laugh at heaven.

Humor dapat secara rohani mengangkat memperbaharui kita dengan kesehatan spiritual yang berlimpah. Salah satu fungsi utama dari tertawa adalah membebaskan kita, meskipun hanya sesaat, dan membebaskan roh sukacita yang ada dalam lubuk batin kita.

Pengalaman tertawa dengan penuh sukacita akan membawa kita semakin dekat pada kepenuhan hidup [115].

A Gospel of Joy [116-120]

Semua tradisi kerohanian di dunia ini berasal dari kitab sukacita. Kristen, Yahudi, Islam, Hindu dan Buddha saling berbagi kesamaan bahwa mereka semua mengungkapkan ajaran spiritual yang kaya akan perintah suci mengenai kasih, perayaan, sukacita dan kegembiraan. Jakob Boehme, seorang mistik asal Jerman, berkata bahwa “kita semua adalah senar di dalam konser sukacita Allah.”

Sepanjang sejarah, sukacita, kehangatan dan tawa spiritualitas telah sering disingkirkan oleh kelompok separatis, kelompok yang terlalu serius, yang terlalu saleh, dan oleh agama penderitaan. Konsekuensinya, suatu waktu Allah yang bersukacita, bersahabat, dan bermain tenggelam dalam gambaran Allah ciptaan manusia yang menghukum dan menakutkan. Akhirnya, kita diajarkan untuk meyakini bahwa tertawa dan sukacita bukanlah gambaran dari yang ilahi, melainkan merupakan karya dari yang jahat.

Di dalam Injil Kristen banyak ditemukan kutipan-kutipan yang menunjukkan sukacita: Yohanes 15:11; Kisah Para Rasul 13:52; Lukas 6:21. Dalam tradisi Katolik ada Tujuh Peristiwa Sukacita Perawan Maria: Kabar Sukacita, Maria mengunjungi Elisabet, Kelahiran, Penampakan orang majus, Yesus di temukan di bait Allah, Kebangkitan,dan diangkat ke surga. Martin Luther pernah mengatakan bahwa “Jika aku tidak diizinkan untuk tertawa di surga, aku tidak akan pergi ke sana.”

Buddhis mempunyai tradisi mengenai Buddha yang tertawa, yang kegembiraannya, tawa dan pencerahannya mengangkat/mentransendensikan segala derita, sakit dan ketidaktahuan duniawi. Kita Suci umat Buddha, Dhammapada, menyemangati kita degan kegembiraan. Pada bab 15, ayat 197-200, dikatakan bahwa: “O let us live in joy, in love amongst those who hate! Among men who hate, let us live in love.O let us live in joy, in helath amongst those who are ill! Among men who are ill, let us live in health. O let us live in joy, in peace amongst those who struggle! Among men who struggle, let us live in peace. O let us live in joy, although having nothing! In joy let us live like spirits og light!” [117]

Spiritualitas tanpa disertai dengan sumber abadi dari tawa, kegembiraan dan sukacita membuat hati yang tandus dan gelap. Sukacita merupakan esensi dari pembebasan dan merupakan manifestasi dari seseorang yang sedang belajar untuk semakin utuh. Lao Tzu, filsuf Taoisme, menyadari bahwa tertawa merupakan bagian esensial dalam hidup: “If there were no laughter, the Tao would not be what it is.” Orang Hindu dan Yogis dari Timur mengikuti jalan tertentu dari Yoga, yaitu Bhakti Yoga, yang jika diterjemahkan berarti “Kesatuan dengan Tuhan melalui cinta dan sukacita.” Di dalam Upanishad dituliskan bahwa “when a man has heard and has understood and, finding the essence, reaches the Inmost, then he finds joy in the Source of joy.” Dan dalam Upanishad dikatakan pula bahwa “Sukacita berasal dari Tuhan. Siapa yang dapat hidup dan siapa yang dapat bernafas jika sukacita Brahman tidak mengisi alam semesta ini?” [118]

Bhagavad Gita mengatakan secara langsung, “Esensi dari adanya kita, diri kita, adalah Sukacita, Ananda. Ananda biasanya merupakan nama guru spiritual untuk mengingatkan mereka bahwa (1) esensi dari mereka adalah sukacita, (2) misi mereka adalah sukacita, (3) pengabdian mereka adalah sukacita, (4) dan tujuan mereka adalah sukacita. Anandamayi Ma suatu ketika mengirimkan sebuah kontemplasi tentang tertawa yang menggarisbawahi kekayaan relasi antara spiritualitas dan sukacita: “Laugh as much as you can—it will release all the contractions in your body, let your laughing come from the deepest part of your heart, let it shake you from head to toe, if your soul is asleep you will only laugh from your lips, I want to see you laughing with your mouth—with your heart—with all your life’s breath.To do this, try to bring about a harmonious connection between your inner self and your outer self, with all the energy you have, dedicate yourself to God alone then your laughing will pour forth joy everywhere.”

Kata “pleasure”(kesenangan) dan “joy” (suka cita) secara tradisional menjelaskan dua jenis yang berbeda dari kebahagiaan: kesenangan menunjukkan bahwa kebahagiaan didapat melalui obyek material, emosional, dan fisik, yang dicari dan menjadi tujuan; sukacita menunjukkan bahwa kebahagiaan dibangung berdasarkan pada spiritualitas dan kesadaran diri. Kesenangan bersifat sementara; sedangkan sukacita melampaui semua peristiwa yang terjadi dalam ruang dan waktu.

Sukacita merupakan tujuan, sekaligus kunci untuk masuk pada kedalaman spiritualitas. Spirituality without heart, without fun, and without laughter is like a Heaven with no angels and an Earth with no sunlight. Seluruh tradisi agama-agama besar menawarkan kepada kita cara berada dan bertindak yang memampukan kita untuk menerima dan bersukacita.

Tertawa merupakan rahmat dari tuhan. Tuhan merupakan pencipta tawa yang adalah baik, demikian ungkap Philo, Filsuf Yunani pada Abad Pertama. Gambaran tradisional tentang Sang Pencipta, seringkali melukiskan gambaran para diktator yang kejam, namun kemudian seiring perkembangan waktu, selalu ada guru-guru spiritual yang dapat menuntun pada ketentraman sejati. Tertawa merupakan bagian dari doa: tertawa merupakan nyanyian jiwa, lirik kerohanian yang penuh sikacita [120].

Sumber:

Robert Holden, Laughter: The Best Medicine. The Healing Power if Happiness, Humour, and Laughter, (London: HarperCollinsPublisher, 1993), 115-120.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s