Kelahiran Platon dan Situasi Athena [i]

Kira-kira 2400 tahun setelah kematiannya, nama Platon tetap kita kenal. Melalui tulisan-tulisannya, dan melalui biografi tentang Platon yang ditulis belakangan ini, kita mendapatkan gambaran yang baik mengenai kehidupan Platon.

Nama asli Platon adalah Aristokles. Ia lahir dalam keluarga yang terpandang di Athena, dan mempunyai dua kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Ia merupakan keturunan para pemimpin, termasuk Codrus, raja terakhir Athena. Keluarganya mempunyai posisi politis yang kuat dan aktif dalam masyarakat Athena. Hubungan politis ini akan mempengaruhi hidup Platon kemudian. Ayahnya meninggal ketika Platon masih amat muda. Demi menjaga tradisi Athena, yaitu seorang perempuan tidak boleh memimpin suatu keluarga, ibunya kemudian menikah lagi. Dengan keluarga yang demikian, Platon akan mendapatkan pendidikan yang terbaik yang bisa diberikan oleh keluarganya. Ada yang mengatakan bahwa Platon merupakan orang yang terlatih baik secara fisik maupun mental. Dengan tubuhnya yang kuat dan kemampuan atletiknya, Platon beberapa kali memenangkan kejuaraan gulat, olahraga yang amat populer di Yunani pada waktu itu. Meskipun keluarganya amat sejahtera, Platon tidaklah begitu menikmati kepemimpinan keluarganya itu. Ia merasa tidak puas dengan undang-undang demokrasi pada saat itu. Kesejahteraan tidaklah cukup baginya. Platon merindukan kejayaan keluarganya di masa lampau, ketika mereka menjadi pemimpin dari Athena di mana tak banyak bangsawan yang menyamainya.

Tidak lama sebelum lahirnya Platon, negara-kota Athena terlibat dalam perang dengan Sparta. Situasi perang ini akan berpengaruh pada hidup Platon. Athena dan Sparta sudah lama saling berselisih dalam hal pendekatan politik. Athena lebih memilih pendekatan demokrasi di dalam pemerintahannya, sedangkan Sparta memilih kepemimpinan tirani-militeristik. Meskipun ekspansi Sparta lebih luas daripada Athena, namun tentara Sparta selalu ditaklukkan oleh prajurit Athena. Sparta pun pernah didesak untuk melakukan gencatan senjata selama 30 tahun.

Sparta tidak puas dengan keadaan damai yang dipaksakan itu. Mereka lalu membangun pasukan untuk kembali menyerang Athena. Pada tahun 431 SM, empat tahun sebelum kelahiran Platon, akibat pertempuran kecil di daerah perbatasan, Sparta berhasil menemukan alasan untuk menyerang kembali Athena. Konfrontasi antara Sparta dan Athena tidak dapat dihindari. Sparta menyerbu dengan perbandingan angkatan darat dua banding satu atas pasukan Athena. Namun Athena memiliki senjata andalan, yaitu jumlah armada laut yang begitu besar. Armada laut itu digunakan untuk menyerang secara langsung markas darat Sparta. Keadaan mengalami jalan buntu, tidak ada kepastian pihak mana yang akan memenangkan pertempuran. Akhirnya, dua kota tersebut sepakat untuk kembali melakukan gencatan senjata selama 50 tahun. Gencatan senjata ini dikenal dengan “Perjanjian Damai Nikias.” Nikias adalah pemimpin umum tentara Athena pada waktu itu. Ia membantu mengupayakan perjanjian damai itu, yang isinya pada prinsipnya membiarkan kedua pihak kembali ke wilayahnya masing-masing tanpa kehilangan apa pun dan tanpa mendapatkan apa pun. Ia merupakan jenderal yang sabar dan amat hati-hati, namun ia mempunyai seorang saingan dalam pemerintahan Athena yang nantinya akan membawa masalah yang lebih besar daripada yang pernah dilakukan oleh Sparta. Saingannya itu bernama Alcibiades, tokoh politik dan orator yang handal. Pada tahun 415 SM, ketika Platon berusia 12 tahun, Alcibiades menyakinkan para pemimpin Athena untuk melakukan ekspansi besar-besaran dengan mengirim angkatan darat dan armada lautnya untuk menaklukkan salah satu negara-kota di pulau Sicilia. Rencana Imperium Athena adalah meraih kemenangan dan dengan begitu akan menambah kesejahteraan dan kekuasaan bagi Imperium Athena. Sayangnya, angkatan darat, yang masih dipimpin oleh Nikias, berhasil dikalahkan oleh lawan, dan salah satu dari armada laut terkuat milik Athena telah dibakar dan ditenggelamkan di pelabuhan Syracusa pada tahun 413 SM. Sparta memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Athena. Keadaan menjadi lebih buruk karena, Persia, yang pernah ditahan oleh Athena ketika akan memasuki Yunani pada paruh pertama abad ke-5 SM, mengambil kesempatan itu untuk menuntut balas dendam. Dengan pasukan yang terbatas, Athena memberikan perlawanan yang baik. Mereka berhasil menahan pasukan lawan itu selama beberapa tahun. Namun tahun 405 SM, armada laut Athena yang tersisa berhasil dikalahkan. Satu tahun kemudian, Athena menyerah sepenuhnya pada Sparta. Dengan kemenangan itu, Sparta merubuhkan dinding pertahanan kota Athena, melarang Athena untuk memiliki armada laut, dan menempatkan “bonekanya” di dalam pemerintahan Athena. Kelompok yang terdiri dari 30 orang Athena itu akan dikenal sebagai “Tiga Puluh Tiran” (Thirty Tyrants). Kakek Platon dan kakek buyutnya termasuk di antara “Tiga Puluh Tiran” itu. Mereka mengajak Platon, yang saat itu berusia 23 tahun untuk terlibat dalam pemerintahan yang baru itu. Tawaran itu ditolak oleh Platon.


sumber:

Dirangkum dari Brian Proffitt, Plato Within Your Grasp, (New Jersey: Wiley Publishing, 2004), 4-10.

Iklan

”Win, kami pergi main sepakbola dulu ya…”

Sabtu, 17 Mei 2008.

“Win, kami pergi main sepakbola dulu ya…sampai bertemu lagi di lain waktu dan tempat”, demikian kata perpisahan yang saya ucapkan kepada Winar. Mungkin itu adalah kata perpisahan yang paling sadis yang pernah saya ucapkan. Kurang lebih satu bulan sebelum Kaul Pertama, saya dan fr. Yan diutus oleh Pater Magister untuk menemani teman seangkatan kami yang hendak kembali ke rumahnya itu. Ia mengundurkan diri dari Ordo Serikat Yesus. Saya, fr. Yan, Winar, dan Pater Magister Leo Agung Sardi, SJ berangkat bersama ke terminal Bus Bawen, Ungaran. Lalu Pater Magister melanjutkan perjalanan ke Jogja. Tingallah kami bertiga. Winar membawa sebuah ransel gunungnya yang berat dan besar. Ketika itu kira-kira pukul 4 sore. Sambil menunggu bus yang menuju Ciledug, kami ngobrol bersama dan mengenang kembali pengalaman hidup di Novisat St. Stanislaus Girisonta.

***

Saya mendaftar ke Serikat Yesus bersama sekitar 13 orang solisitan (pendaftar). Dari 13 Solisitan itu, ada sembilan orang yang diterima menjadi kandidat. Dua minggu pertama dalam masa kandidatur, satu kandidat mengundurkan diri. Sebelum penerimaan jubah, satu lagi teman kami meninggalkan Serikat. Beberapa minggu kemudian, satu teman lagi memilih untuk melepaskan jubahnya. Setelah Retret Agung Tertutup, angkatan kami berjumlah enam orang. Katanya, angkatan ini adalah angkatan novisiat yang paling sedikit jumlahnya dalam 10 tahun belakangan itu. Ketika Novis Secundi (tahun kedua), yang berjumlah sebelas orang, menjalani Eksperimen Luar Rumah, tugas-tugas kebidelan diurus oleh kami berenam. Giliran tugas ronda malam terasa cepat. Setiap orang bertugas setiap tiga hari sekali. Begitu juga dengan tugas khotbah, dan tugas-tugas kebidelan (kepanitiaan) lainnya. Taman Novisiat kelihatan tidak rapi, karena rumput tumbuh lebih cepat daripada kerja kami. Rasanya senang sekali ketika kami diperkenankan membersihkan lantai gang novisiat dengan menggunakan tongkat pel. Ketika makan siang resmi, novis yang bisa ikut makan ada tiga orang. Tiga novis yang lainnya bertugas menjadi lektor, ministrare (bertugas sebagai pelayan), dan lavare (bertugas mencuci piring). Syukurlah bahwa selama Novis Secundi menjalani Eksperimen Luar Rumah, tidak ada nostri (yesuit) yang meninggal. Kurang lebih dua tahun kami lalui formasi di Novisiat dengan jumlah novis yang sedikit itu. Di tahun kedua, ada pula saat-saat yang serupa dengan ketika kami di tahun pertama, yaitu saat Novis Primi mejalani Retret Agung Tertutup. Meskipun demikian, jumlah novis yang sedikit tidak bisa menjadi alasan untuk mengabaikan tugas-tugas atau hal-hal sederhana dalam hidup sehari-hari. Jumlah novis yang sedikit itu memungkinkan kami untuk belajar mengatur waktu dan menentukan prioritas. Dengan jumlah novis yang sedikit itu pula, perkenalan di antara kami menjadi semakin intensif dan erat. Sampai sebulan sebelum Kaul Pertama, Winar, teman seangkatan kami, memilih untuk menempuh jalan hidup sebagai awam.

***

Tak terasa sudah satu jam kami mengenang sekilas pengalaman suka dan duka di Novisiat. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Bus jurusan Ciledug belum singgah ke terminal Bawen. Saya dan fr. Yan saling melirik satu sama lain; saling memberi isyarat bahwa saat itu adalah saat untuk olahraga di Novisiat. Olahraga favorit saya adalah sepakbola. Hobi ini bahkan menjadi kelekatan tak teratur. ”Win, kami pergi main sepakbola dulu ya. Sampai bertemu lagi di lain waktu dan tempat”, dengan perasaan ringan, saya berpamitan dengan Winar walaupun bus yang akan ia tumpangi belum juga datang.

Dalam perjalanan dari terminal Bawen menuju Novisiat, muncul pertanyaan dalam hati saya: “Apakah pilihan saya benar?” Saya lebih memilih bermain sepakbola daripada menunggui Winar, yang sendirian dengan ranselnya yang besar dan berat, menanti kedatangan bus yang menjemputnya. Muncul rasa ragu, namun bersamaan dengan itu tidak ada kesadaran untuk kembali ke terminal. Dengan perasaan ragu itu, permainan sepakbola sore itu terasa tidak menyegarkan. Pada malam harinya, ketika presentasi missio kepada Pater Magister, kami menceritakan apa yang terjadi. Bisa diduga bagaimana reaksi Pater Magister. Beliau tampak sedih dan kecewa atas perbuatan kami. Pater Magister mengungkapkan bahwa saat itu kami berdua diutus mewakili Serikat untuk menemani teman seangkatan yang hendak meninggalkan Serikat. Pater Magister heran, bagaimana perasaan saya dapat sedemikian tumpul sampai-sampai saya tega meninggalkan teman seangkatan demi hobi itu. Tak ada yang bisa saya katakan. Saya menerima sepenuhnya kesalahan saya itu. Saya telah mengabaikan kepercayaan yang diberikan baik oleh Pater Magister maupun olehWinar. Saya masih membayangkan bagaimana Winar akan lebih mudah mengangkat ransel beratnya ke bagasi bus seandainya ada kami berdua. Juga, bagaimana ia akan merasa lebih diteguhkan atas pilihannya seandainya saya masih di sana, melambaikan tangan, saat busnya menjauh dari terminal. Dalam rasa bersalah itu, rasanya semua yang saya lakukan adalah buruk. Muncul keraguan sungguhkah aku menerima Winar dan teman-teman lainnya sebagai sahabat dalam Tuhan? Karena kurangnya pemberian diri bagi orang lain, layakkah saya mengucapkan kaul? Seandainya dikeluarkan dari Serikat, saya menerima keputusan itu. Saking skrupelnya (merasa amat bersalah), rasanya segala keutamaan dan hal baik yang sudah saya kembangkan selama dua tahun di novisiat itu menjadi sia-sia; seperti kata pepatah ’karena nila setitik, rusak susu sebelanga.’ Bahkan setelah 3 tahun menjalani formasi studi, ketika mengingat pengalaman itu, rasa sesal itu masih muncul. Saya belajar bahwa ikatan relasi di dalam komunitas hendaknya bukan sekadar ikatan profesional, melainkan sampai pada ikatan berdasarkan semangat pemberian diri. Meskipun Yesuit tidak mengucapkan kaul hidup berkomunitas, namun Yesuit juga dituntut untuk punya semangat pemberian diri bagi komunitas dan orang lain. Di dalam pengalaman ini saya melihat bahwa mengolah rasa lekat tak teratur terhadap hobi dan kesenangan pribadi lainnya itu penting, namun yang lebih penting lagi adalah senantiasa bertanya pada diri: “apakah aku mau memberikan diri bagi: angkatan, komunitas, Serikat, bagi orang-orang yang kulayani, dan bagi Allah?”. Ini adalah pengalaman yang paling konyol yang saya alami selama di Novisiat, namun sekaligus juga pengalaman yang amat berharga.

Sebagai penitensi (pertanggungjawaban) atas kecerobohan saya itu, sementara teman-teman bermain sepakbola, kami berdua mencabuti tapak liman di taman novisiat. Kami baru boleh bermain sepakbola setelah Kaul Pertama (kira-kira satu bulan tidak boleh ikut bermain sepakbola). Kami juga membuat surat permohonan maaf kepadaWinar.

Selasa, 24 Juni 2008, saya dan empat teman seangkatan mengikrarkan Kaul Pertama. Pada hari itu, Winar datang ke Novisiat. Ia menghadiri Ekaristi Kaul kami, dan dengan ekspresi yang ceria dan bahagia, ia mengucapkan selamat kepada kami.

+a.d.m.g+

Haji Zaenuri yang Murah Hati

Perjumpaan dengan seorang haji, Zaenuri namanya, berkesan bagi saya.

Selasa, 15 Februari 2008.

Ini merupakan hari kedua dalam sembilan hari berziarah dari Ungaran menuju Purwokerto. Waktu kira-kira pukul 18.00. Hari sudah mulai gelap, Surya dan saya pun mulai lapar dan lelah, sudah saatnya mencari tempat untuk bermalam. Setelah ditolak dua kali, akhirnya kami sampai di rumah Haji Zaenuri di daerah Candiroto, Temanggung. Pada awalnya ia ragu pada kami yang tampak lusuh dan kumal. Kami menyampaikan niat kami untuk bermalam, sekaligus memberikan KTP sebagai tanda pengenal. Lalu beliau mencarikan kami tempat untuk bermalam, yaitu sebuah langgar di pinggir sawah yang berseberangan dengan rumahnya. Istri beliau menyediakan makan malam bagi kami. Setelah mandi, kami santap malam bersama di ruang keluarga, tempat di mana mereka biasa makan. Hidangan penutupnya adalah buah pisang, buah kesukaan saya. Setelah itu, kami diantar menuju langgar untuk istirahat. Tidak lama setelah berdoa dan merebahkan diri, kami pun terlelap.

Keesokan paginya, kami terpaksa bangun pukul 03.30.

Perjalanan jauh pada hari sebelumnya membuat kami merasa lelah. Berat rasanya untuk membuka mata. Ditambah lagi dengan udara dingin yang menembus sarung, membuat kami ingin menambah waktu tidur. Walaupun demikian, kami harus bangun karena akan dipakai untuk sholat subuh oleh warga. Kami hendak bergegas keluar, Haji Zaenuri sudah berada di depan pintu langgar. Beliau sedikit tersenyum, melihat mata kami yang tampak merah, lalu dengan tenang berkata, “dilanjutkan saja istirahatnya.” Kata itu benar-benar menghibur. Tanpa pikir panjang, kami kembali tidur dengan hati yang tenang.

Langgar itu seperti langgar pada umumnya, menjadi dua bilik, yang dibatasi oleh gordein. Sisi kiri untuk wanita, dan sisi kanan untuk laki-laki. Haji memperbolehkan kami tidur di sisi kiri. Sementara kami tidur, warga desa berdoa bersama di bilik sebelah. Kami terlelap sementara warga berdoa dengan lantang dan khidmat.

Haji Zaenuri orang yang baik hati. Beliau tidak menganggap kami sebagai ancaman. Kami diterima dalam keadaan kami apa adanya: kumal dan lelah. Banyak orang pada zaman sekarang yang menjaga ajaran dan agamanya secara ekstrem agar tidak tercemari orang-orang asing, Haji Zaenuri justru rela tempat ibadatnya dijadikan tempat istirahat bagi kami, dua orang muda yang tidak dikenalinya. Tidak hanya itu, beliau pun mengajak kami untuk makan di meja yang sama dan dengan menu makanan yang biasa mereka makan. Sejenak saya bertanya dalam batin: “Mengapa mereka begitu baik? Dari mana datangnya kebaikan itu?” Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu ada dalam teladan hidup Haji Zaenuri. Walaupun hanya bertemu semalam, saya merasakan bahwa beliau adalah orang yang tekun beribadat. Ketekunan itu membuahkan penghayatan iman yang mendalam. Penghayatan iman yang mendalam tidak menjadikan seseorang fanatik dan tertutup pada keyakinannya sendiri, melainkan membuat beliau semakin terbuka pada kebenaran bahwa Allah juga hadir di dalam sesama. Itu tampak pada keramahan beliau terhadap kami. Beliau memberi perhatian dan menghargai kami yang tidak seagama dengannya. Haji Zaenuri dalam praktik bersikap toleran kepada kami, melampaui tahap toleransi yang semata-mata formal. Ia tidak sekadar menerima kami, tapi juga menerima secara baik dan menghormati kesadaran religius kami.

Kebaikannya tulus. Kata Yesus,”hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu murah hati.” (Luk 6:36). Realisasi sabda ini saya jumpai dalam sikap Haji Zaenuri. Kebaikannya membuat saya beryukur akan kebaikan Allah.

Saat pagi, fajar merekah. Cahaya matahari perlahan menyapu embun di hamparan sawah. Waktu menunjukkan pukul 07.00. Setelah menghabiskan kopi panas yang disediakan oleh bu Zaenuri, kami pun mohon pamit. Bu Zaenuri memberikan kepada kami uang Rp 10.000 dan sekantong plastik kecil berisi permen untuk bekal perjalanan. Uangnya kami kembalikan. Mereka berdua tampak bisa memahami itu. Kami pun beranjak pergi, melanjutkan perjalanan.

+a.m.d.g+