”Win, kami pergi main sepakbola dulu ya…”

Sabtu, 17 Mei 2008.

“Win, kami pergi main sepakbola dulu ya…sampai bertemu lagi di lain waktu dan tempat”, demikian kata perpisahan yang saya ucapkan kepada Winar. Mungkin itu adalah kata perpisahan yang paling sadis yang pernah saya ucapkan. Kurang lebih satu bulan sebelum Kaul Pertama, saya dan fr. Yan diutus oleh Pater Magister untuk menemani teman seangkatan kami yang hendak kembali ke rumahnya itu. Ia mengundurkan diri dari Ordo Serikat Yesus. Saya, fr. Yan, Winar, dan Pater Magister Leo Agung Sardi, SJ berangkat bersama ke terminal Bus Bawen, Ungaran. Lalu Pater Magister melanjutkan perjalanan ke Jogja. Tingallah kami bertiga. Winar membawa sebuah ransel gunungnya yang berat dan besar. Ketika itu kira-kira pukul 4 sore. Sambil menunggu bus yang menuju Ciledug, kami ngobrol bersama dan mengenang kembali pengalaman hidup di Novisat St. Stanislaus Girisonta.

***

Saya mendaftar ke Serikat Yesus bersama sekitar 13 orang solisitan (pendaftar). Dari 13 Solisitan itu, ada sembilan orang yang diterima menjadi kandidat. Dua minggu pertama dalam masa kandidatur, satu kandidat mengundurkan diri. Sebelum penerimaan jubah, satu lagi teman kami meninggalkan Serikat. Beberapa minggu kemudian, satu teman lagi memilih untuk melepaskan jubahnya. Setelah Retret Agung Tertutup, angkatan kami berjumlah enam orang. Katanya, angkatan ini adalah angkatan novisiat yang paling sedikit jumlahnya dalam 10 tahun belakangan itu. Ketika Novis Secundi (tahun kedua), yang berjumlah sebelas orang, menjalani Eksperimen Luar Rumah, tugas-tugas kebidelan diurus oleh kami berenam. Giliran tugas ronda malam terasa cepat. Setiap orang bertugas setiap tiga hari sekali. Begitu juga dengan tugas khotbah, dan tugas-tugas kebidelan (kepanitiaan) lainnya. Taman Novisiat kelihatan tidak rapi, karena rumput tumbuh lebih cepat daripada kerja kami. Rasanya senang sekali ketika kami diperkenankan membersihkan lantai gang novisiat dengan menggunakan tongkat pel. Ketika makan siang resmi, novis yang bisa ikut makan ada tiga orang. Tiga novis yang lainnya bertugas menjadi lektor, ministrare (bertugas sebagai pelayan), dan lavare (bertugas mencuci piring). Syukurlah bahwa selama Novis Secundi menjalani Eksperimen Luar Rumah, tidak ada nostri (yesuit) yang meninggal. Kurang lebih dua tahun kami lalui formasi di Novisiat dengan jumlah novis yang sedikit itu. Di tahun kedua, ada pula saat-saat yang serupa dengan ketika kami di tahun pertama, yaitu saat Novis Primi mejalani Retret Agung Tertutup. Meskipun demikian, jumlah novis yang sedikit tidak bisa menjadi alasan untuk mengabaikan tugas-tugas atau hal-hal sederhana dalam hidup sehari-hari. Jumlah novis yang sedikit itu memungkinkan kami untuk belajar mengatur waktu dan menentukan prioritas. Dengan jumlah novis yang sedikit itu pula, perkenalan di antara kami menjadi semakin intensif dan erat. Sampai sebulan sebelum Kaul Pertama, Winar, teman seangkatan kami, memilih untuk menempuh jalan hidup sebagai awam.

***

Tak terasa sudah satu jam kami mengenang sekilas pengalaman suka dan duka di Novisiat. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Bus jurusan Ciledug belum singgah ke terminal Bawen. Saya dan fr. Yan saling melirik satu sama lain; saling memberi isyarat bahwa saat itu adalah saat untuk olahraga di Novisiat. Olahraga favorit saya adalah sepakbola. Hobi ini bahkan menjadi kelekatan tak teratur. ”Win, kami pergi main sepakbola dulu ya. Sampai bertemu lagi di lain waktu dan tempat”, dengan perasaan ringan, saya berpamitan dengan Winar walaupun bus yang akan ia tumpangi belum juga datang.

Dalam perjalanan dari terminal Bawen menuju Novisiat, muncul pertanyaan dalam hati saya: “Apakah pilihan saya benar?” Saya lebih memilih bermain sepakbola daripada menunggui Winar, yang sendirian dengan ranselnya yang besar dan berat, menanti kedatangan bus yang menjemputnya. Muncul rasa ragu, namun bersamaan dengan itu tidak ada kesadaran untuk kembali ke terminal. Dengan perasaan ragu itu, permainan sepakbola sore itu terasa tidak menyegarkan. Pada malam harinya, ketika presentasi missio kepada Pater Magister, kami menceritakan apa yang terjadi. Bisa diduga bagaimana reaksi Pater Magister. Beliau tampak sedih dan kecewa atas perbuatan kami. Pater Magister mengungkapkan bahwa saat itu kami berdua diutus mewakili Serikat untuk menemani teman seangkatan yang hendak meninggalkan Serikat. Pater Magister heran, bagaimana perasaan saya dapat sedemikian tumpul sampai-sampai saya tega meninggalkan teman seangkatan demi hobi itu. Tak ada yang bisa saya katakan. Saya menerima sepenuhnya kesalahan saya itu. Saya telah mengabaikan kepercayaan yang diberikan baik oleh Pater Magister maupun olehWinar. Saya masih membayangkan bagaimana Winar akan lebih mudah mengangkat ransel beratnya ke bagasi bus seandainya ada kami berdua. Juga, bagaimana ia akan merasa lebih diteguhkan atas pilihannya seandainya saya masih di sana, melambaikan tangan, saat busnya menjauh dari terminal. Dalam rasa bersalah itu, rasanya semua yang saya lakukan adalah buruk. Muncul keraguan sungguhkah aku menerima Winar dan teman-teman lainnya sebagai sahabat dalam Tuhan? Karena kurangnya pemberian diri bagi orang lain, layakkah saya mengucapkan kaul? Seandainya dikeluarkan dari Serikat, saya menerima keputusan itu. Saking skrupelnya (merasa amat bersalah), rasanya segala keutamaan dan hal baik yang sudah saya kembangkan selama dua tahun di novisiat itu menjadi sia-sia; seperti kata pepatah ’karena nila setitik, rusak susu sebelanga.’ Bahkan setelah 3 tahun menjalani formasi studi, ketika mengingat pengalaman itu, rasa sesal itu masih muncul. Saya belajar bahwa ikatan relasi di dalam komunitas hendaknya bukan sekadar ikatan profesional, melainkan sampai pada ikatan berdasarkan semangat pemberian diri. Meskipun Yesuit tidak mengucapkan kaul hidup berkomunitas, namun Yesuit juga dituntut untuk punya semangat pemberian diri bagi komunitas dan orang lain. Di dalam pengalaman ini saya melihat bahwa mengolah rasa lekat tak teratur terhadap hobi dan kesenangan pribadi lainnya itu penting, namun yang lebih penting lagi adalah senantiasa bertanya pada diri: “apakah aku mau memberikan diri bagi: angkatan, komunitas, Serikat, bagi orang-orang yang kulayani, dan bagi Allah?”. Ini adalah pengalaman yang paling konyol yang saya alami selama di Novisiat, namun sekaligus juga pengalaman yang amat berharga.

Sebagai penitensi (pertanggungjawaban) atas kecerobohan saya itu, sementara teman-teman bermain sepakbola, kami berdua mencabuti tapak liman di taman novisiat. Kami baru boleh bermain sepakbola setelah Kaul Pertama (kira-kira satu bulan tidak boleh ikut bermain sepakbola). Kami juga membuat surat permohonan maaf kepadaWinar.

Selasa, 24 Juni 2008, saya dan empat teman seangkatan mengikrarkan Kaul Pertama. Pada hari itu, Winar datang ke Novisiat. Ia menghadiri Ekaristi Kaul kami, dan dengan ekspresi yang ceria dan bahagia, ia mengucapkan selamat kepada kami.

+a.d.m.g+

Iklan