Haji Zaenuri yang Murah Hati

Perjumpaan dengan seorang haji, Zaenuri namanya, berkesan bagi saya.

Selasa, 15 Februari 2008.

Ini merupakan hari kedua dalam sembilan hari berziarah dari Ungaran menuju Purwokerto. Waktu kira-kira pukul 18.00. Hari sudah mulai gelap, Surya dan saya pun mulai lapar dan lelah, sudah saatnya mencari tempat untuk bermalam. Setelah ditolak dua kali, akhirnya kami sampai di rumah Haji Zaenuri di daerah Candiroto, Temanggung. Pada awalnya ia ragu pada kami yang tampak lusuh dan kumal. Kami menyampaikan niat kami untuk bermalam, sekaligus memberikan KTP sebagai tanda pengenal. Lalu beliau mencarikan kami tempat untuk bermalam, yaitu sebuah langgar di pinggir sawah yang berseberangan dengan rumahnya. Istri beliau menyediakan makan malam bagi kami. Setelah mandi, kami santap malam bersama di ruang keluarga, tempat di mana mereka biasa makan. Hidangan penutupnya adalah buah pisang, buah kesukaan saya. Setelah itu, kami diantar menuju langgar untuk istirahat. Tidak lama setelah berdoa dan merebahkan diri, kami pun terlelap.

Keesokan paginya, kami terpaksa bangun pukul 03.30.

Perjalanan jauh pada hari sebelumnya membuat kami merasa lelah. Berat rasanya untuk membuka mata. Ditambah lagi dengan udara dingin yang menembus sarung, membuat kami ingin menambah waktu tidur. Walaupun demikian, kami harus bangun karena akan dipakai untuk sholat subuh oleh warga. Kami hendak bergegas keluar, Haji Zaenuri sudah berada di depan pintu langgar. Beliau sedikit tersenyum, melihat mata kami yang tampak merah, lalu dengan tenang berkata, “dilanjutkan saja istirahatnya.” Kata itu benar-benar menghibur. Tanpa pikir panjang, kami kembali tidur dengan hati yang tenang.

Langgar itu seperti langgar pada umumnya, menjadi dua bilik, yang dibatasi oleh gordein. Sisi kiri untuk wanita, dan sisi kanan untuk laki-laki. Haji memperbolehkan kami tidur di sisi kiri. Sementara kami tidur, warga desa berdoa bersama di bilik sebelah. Kami terlelap sementara warga berdoa dengan lantang dan khidmat.

Haji Zaenuri orang yang baik hati. Beliau tidak menganggap kami sebagai ancaman. Kami diterima dalam keadaan kami apa adanya: kumal dan lelah. Banyak orang pada zaman sekarang yang menjaga ajaran dan agamanya secara ekstrem agar tidak tercemari orang-orang asing, Haji Zaenuri justru rela tempat ibadatnya dijadikan tempat istirahat bagi kami, dua orang muda yang tidak dikenalinya. Tidak hanya itu, beliau pun mengajak kami untuk makan di meja yang sama dan dengan menu makanan yang biasa mereka makan. Sejenak saya bertanya dalam batin: “Mengapa mereka begitu baik? Dari mana datangnya kebaikan itu?” Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu ada dalam teladan hidup Haji Zaenuri. Walaupun hanya bertemu semalam, saya merasakan bahwa beliau adalah orang yang tekun beribadat. Ketekunan itu membuahkan penghayatan iman yang mendalam. Penghayatan iman yang mendalam tidak menjadikan seseorang fanatik dan tertutup pada keyakinannya sendiri, melainkan membuat beliau semakin terbuka pada kebenaran bahwa Allah juga hadir di dalam sesama. Itu tampak pada keramahan beliau terhadap kami. Beliau memberi perhatian dan menghargai kami yang tidak seagama dengannya. Haji Zaenuri dalam praktik bersikap toleran kepada kami, melampaui tahap toleransi yang semata-mata formal. Ia tidak sekadar menerima kami, tapi juga menerima secara baik dan menghormati kesadaran religius kami.

Kebaikannya tulus. Kata Yesus,”hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu murah hati.” (Luk 6:36). Realisasi sabda ini saya jumpai dalam sikap Haji Zaenuri. Kebaikannya membuat saya beryukur akan kebaikan Allah.

Saat pagi, fajar merekah. Cahaya matahari perlahan menyapu embun di hamparan sawah. Waktu menunjukkan pukul 07.00. Setelah menghabiskan kopi panas yang disediakan oleh bu Zaenuri, kami pun mohon pamit. Bu Zaenuri memberikan kepada kami uang Rp 10.000 dan sekantong plastik kecil berisi permen untuk bekal perjalanan. Uangnya kami kembalikan. Mereka berdua tampak bisa memahami itu. Kami pun beranjak pergi, melanjutkan perjalanan.

+a.m.d.g+

Iklan

“bernafas panjang dalam keberanian spekulatif…”

 Sebuah Harapan
(Franz Magnis-Suseno, SJ)

Perkenankan saya ucapkan suatu harapan
Saya mengharapkan…
bahwa filsafat di Indonesia
tidak berhenti pada uraian tipe pengantar,
aforisme sana sini dan lontaran omongan santai

Saya mengharapkan…
suatu usaha falsafi yang serius dan argumentatif
yang kritis, mendalam dan mendasar (gründlich)
yang tidak malas untuk menjalani die Anstrengung
des Begriffs, ketekadan untuk memahami pemikiran
para filosof besar betapa pun beratnya.

Saya mengharapkan…
Kekuatan bernafas panjang dalam keberanian spekulatif
Karena tanpa keberanian semacam itu,
peta bumi ilmu pengetahuan di negara kita
abu-abu belaka warnanya.

[tanda tangan FMS]