Santai

Pada tulisan sebelumnya, kita telah melihat pandangan Marx mengenai kerja. marx tuding kapitalisme sebagai dalang di balik kemerosotan makna kerja dewasa ini. Marx memberi solusi dengan menghapus Hak Milik. Lafargue sepaham dengan Marx mengenai peran antagonis dari Kapitalisme dalam drama kehidupan ini. Namun, Lafargue mempunyai solusi yang berbeda dengan Marx. Ia menawarkan pengurangan jam kerja. Sebelum kita lebih jauh melihat pandangan Lafargue mengenai kerja dan hidup santai, perlulah kita mengenal pribadi Lafargue secara lebih dekat.

A. Siapakah Paul Lafargue?

Paul Lafargue dilahirkan di Kuba pada tanggal 16 Juni 1842. Ia adalah seorang jurnasil sosialis Marxis revolusioner asal Perancis, kritikus sastra, penulis dan aktivis politik. Dia menjadi menantu Karl Marx setelah dia menikah dengan putri kedua Marx, Laura. Karyanya yang paling terkenal adalah The Right to Be Lazy. Lafargue menghabiskan sebagian besar hidupnya di Perancis, dan juga pernah tinggal di Inggris dan Spanyol. Pada usia 69 tahun, tanggal 26 November 1911, dia dan Laura tewas dalam bunuh diri yang telah direncanakan bersama.[1]

Di awal karier intelektual dan politiknya di Paris, Lafargue bergabung dengan seksi Perancis di International Workingmen’s Association (Internasional Pertama), sebagai seorang anarkis Proudhonian. Namun kemudian ia segera terpengaruh oleh pemikiran dua tokoh, yaitu Marx dan Auguste Blanqui. Antara tahun 1873 dan 1882, Lafargue tinggal di London dan hidup dengan pendapatan yang terbatas. Ia beberapa kali terpaksa meminta uang kepada Engels. Mulai tahun 1880, Lafargue kembali bekerja sebagai editor Koran L’Egalite. Saat itu ia mulai menerbitkan draft pertama The Right to Be Lazy. Pada tahun 1882, dia masuk ke dalam lingkar inti politik sosialis Perancis. Dia mulai mengarahkan aktivitas Partai Pekerja Perancis (Parti Ouvrier Francais/POF) pada perjuangan berhadapan dengan opsi-opsi sayap kiri: Anarkisme dank au Radikal “Jacobin” dan Blanquis. Di dalam POF, ia berperan meluaskan doktrin-doktrin orisinal Marxis, tetapi juga menambahkan ide-ide orisinalnya sendiri. Dia juga berperan aktif dalam aktivitas-aktivitas publik seperti pemogokan dan pemilu, dan pernah dipenjara beberapa kali.[2]

B. Kerja menurut Paul Lafargue

Pemikiran Paul Lafargue mengenai kerja dapat kita temukan dalam salah satu tulisannya yang paling terkenal, yaitu The Right to Be Lazy (Hak untuk Malas). Di dalam pamflet tersebut, Lafargue menghadapkan Hak untuk Kerja—yang banyak dianut oleh kaum pekerja saat itu, dengan Hak untuk Malas. Menurutnya, di masa sosialisme orang cukup bekerja selama tiga jam sehari dan di waktu lain ia bisa bermalasan dan makan seenaknya. Komunisme dipahami sebagai keadaan di mana orang akan dapat hidup seenaknya.[3] Berikut ini akan kita lihat secara lebih mendetail pemikiran Lafargue mengenai kerja dan hak untuk malas.

1. Dogma yang Membawa Malapetaka[4]

Menurut Lafargue, di negara tempat kapitalis berekspansi, kelas pekerja telah dicemari oleh suatu khayalan. Khayalan itu adalah kecintaan pada kerja, hasrat mati-matian akan kerja. Di dalam masyarakat kapitalis, kerja merupakan penyebab dari segala kemerosotan intelektual manusia dan segala kesengsaraan. Dogma tersebut disebarkan oleh para ekonom, kapitalis, dan kaum moralis Kristen. Mereka menanamkan ke dalam benak setiap buruh suatu dogma: kesejahteraan sosial hanya bisa diperoleh dengan bekerja. Dengan membiarkan dirinya digerogoti oleh dogma kerja, kelas proletariat—yang merupakan kelompok mayoritas di dalam suatu bangsa beradab—telah mengkhianati nalurinya dan meremehkan misinya di dalam sejarah umat manusia. Lafargue menyebut bahwa zaman itu sebagai abad kerja, abad kelukaan, kesengsaraan dan korupsi. Di zaman itu orang-orang memuja Dewa Kemajuan, anak sulung kerja.

Lafargue merunut situasi kerja dalam masa lampau. Di zaman Yunani Kuno, menurutnya, kerja hanya dilakukan oleh budak-budak, sementara orang bebas hanya mengenal latihan atau olahraga untuk tubuh dan pikiran. Para filsuf zaman kuno mengajarkan kemuakan terhadap kerja. Mereka memandang kerja sebagai suatu kemerosotan manusia bebas. “Yesus, dalam kotbahnya di atas bukit, mengkotbahkan kebersantaian: ‘Perhatikanlah bunga bakung di ladang, bagaimana bunga-bunga itu tumbuh: mereka tidak bekerja keras, juga mereka tidak berputar: namun kukatakan kepada kalian bahwa, bahkan Solomon sekalipun dalam segala kebesarannya tidaklah tersusun bagus seperti salah satu dari bunga-bunga ini.”, demikian ungkap Lafargue.

Dengan merunut pada sejarah tersebut, Lafargue ingin memperkuat pendapatnya bahwa kerja adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Kerja mengekang kebebasan kaum miskin. Kerja sekaligus menjadi teror, di mana orang miskin harus bekerja dua belas sampai empat belas jam dalam sehari. Bagi Lafargue, kerja adalah sarana bagi kelas pemilik pabrik untuk menghisap/meraup keuntungan sebesar-besarnya dari tenaga pekerja buruh pria, perempuan, anak-anak.

Paul Lafargue mengatakan bahwa jauh lebih baik menebarkan sampar dan meracuni mata air daripada mendirikan pabrik kapitalis di tengah suatu populasi pedesaan. Kerja buruh menjauhkan pekerja dari kesenangan, kesehatan dan kebebasan, serta semua hal yang membuat hidup menjadi lebih indah dan bermakna.

Diungkapkan oleh Lafargue suatu gambaran cukup detail yang menyentuh hati tentang situasi buruh perempuan dan anak-anak di Mulhouse, Dornach.

“Kerja dimulai pukul lima pagi dan berakhir pada pukul delapan malam, baik di musim panas maupun musim dingin. Sungguh memilukan melihat mereka tiba setiap pagi di kota dan berangkat tiap malam. Di antara mereka ada banyak perempuan yang pucat, seringkali berjalan telanjang kaki melewati lumpur, dan mereka yang tidak punya payung di saat hujan atau salju turun, memakai celemek atau roknya untuk menutupi kepalanya. Juga ada sejumlah besar anak yang sama kotornya, sama pucatnya, dibalut dengan pakaian rombeng, berminyak karena terkena oli mesin yang jatuh ke tubuhnya saat mereka bekerja. Dulu mereka terlindungi lebih baik dari hujan karena pakaian mereka tahan air; namun, berbeda dengan para perempuan yang baru disebutkan tadi, mereka tidak membawa bekalnya untuk hari itu dalam sebuah keranjang, melainkan membawa di tangannya atau menyembunyikan di balik pakaiannya sebisa mereka beberapa potong roti yang akan berguna bagi mereka untuk makanan sampai saatnya mereka pulang ke rumah. Jadi, penderitaan anak-anak dan perempuan itu sungguh tak tertanggungkan. Itu masih ditambah lagi dengan letihnya perjalanan setiap hari. Konsekuensinya, mereka sampai di rumah dengan dipenuhi kebutuhan untuk tidur, dan keesokan harinya mereka bangun sebelum penuh istirahatnya agar bisa mencapai pabrik saat jam buka.”

Kerja di pabrik lebih tepat dikatakan sebagai penyiksaan daripada sebagai suatu tugas atau kerja.

2. Konsekuensi dari Keberlebihan Produksi[5]

Lafargue melihat bahwa mesin-mesin produksi (teknologi) dapat membebaskan para buruh dari kerja paksa. Seorang pekerja perempuan yang bagus dengan jarum-jarumnya hanya mampu membuat lima lubang jala dalam waktu satu menit, sedangkan mesin rajut khusus bisa menghasilkan 30.000 lubang jala dalam waktu yang sama. Jadi, setiap menit kerja mesin ini setara dengan seratus jam kerja buruh perempuan tersebut. Seharusnya, setiap menit kerja mesin ini memberi perempuan pekerja itu sepuluh hari waktu untuk istirahat. Namun, kenyataannya, teknologi dijadikan instrumen oleh kelas pemilik modal untuk memperpanjang jam kerja dan mempersingkat waktu santai dan libur para buruh.

Dengan masuknya mesin-mesin produksi ke dalam pabrik, tingkat produksi semakin tinggi. Akibatnya, terjadi kelebihan produksi. Kelebihan produksi ini berdampak bagi kelas pekerja sekaligus bagi kelas kapitalis. Kelas kapitalis mendapati dirinya terkutuk ke dalam kemalasan dan kesenangan yang terpaksa, ke dalam ketidak-produktifan dan konsumsi berlebihan. Para kapitalis hanyut dalam kemewahan tanpa batas, makanan berlebihan, pesta seks berlebihan yang mendatangkan penyakit kelamin. Para wanita menjadi korban mode. Para buruh hanya menjadi kelas yang kurang beruntung, yang mengabdikan dirinya khusus untuk memuaskan selera yang sia-sia dan mahal dari kelas-kelas kaya: para pemotong intan, pembuat renda, penyulam, para penjilid buku mewah, para perempuan penjahit yang dipekerjakan di villa-villa untuk menghias gaun-gaun yang mahal, dan lain-lain. Segala kemanjaan tersebut membuat kelas pemilik semakin mensterilkan dirinya dari derita para buruh. Khawatir terhadap ancaman pemberontakan kaum buruh, kaum kapitalis melindungi dirinya dengan para penjaga, polisi, hakim dan sipir penjara.

Dengan dipengaruhi dogma kerja, para buruh melakukan produksi berlebihan, para buruh memilih hidup pasif dengan berpantang. Para buruh yang menggigil kedinginan dan kelaparan, menolak untuk memakai kain yang mereka tenun, menolak meminum anggur dari kebun-kebun anggur yang mereka rawat. Keberlebihan produksi semakin tak terbendung.

Para kapitalis memilih beberapa strategi untuk mengatasi produksi yang tak terkendali tersebut. Mereka menjual barang-barangnya ke luar negeri. Selain itu, mereka memalsukan setiap produk untuk mempermudah penjualan dan memperpendek umur produk tersebut. Strategi tersebut membuat buruh semakin jauh dari hidup santai dan semakin tergantung pada kelas pemilik. Sementara para pengusaha, dari strategi tersebut, memperoleh laba yang lebih besar. Dengan strategi pemalsuan tersebut para pengusaha mengalami penurunan kualitas moral. ”Para pengusaha membungkam teriakan suara hatinya dan bahkan melanggar hukum-hukum kejujuran perdagangan.”, ungkap Lafargue.

Menurut Lafargue, untuk memperkuat produksi manusia, strategi yang perlu diambil adalah mengurangi jam kerja dan melipatgandakan hari gajian dan hari pesta. Situasi yang dilihat oleh Lafargue adalah kerja untuk satu tahun dipaksakan kepada kaum buruh untuk dikerjakan dalam enam bulan. Lafargue berpendapat bahwa lebih baik membagi secara rata kerja satu tahun tersebut selama dua belas bulan, dengan begitu memberikan waktu bagi pekerja untuk berpuas diri dengan enam atau lima jam sehari sepanjang tahun. Dengan porsi kerja harian yang terjamin dan kenaikan upah, para buruh tidak akan lagi iri dan bersaing terhadap buruh lain.

Bagi Lafargue, kerja paksa menggerogoti kemanusiaan para pekerja. Karena digilakan oleh dogma kerja tersebut “mereka bukan lagi manusia, melainkan kepingan-kepingan manusia…mereka membunuh di dalam dirinya sendiri segala indera/bakat yang indah, hingga mengakibatkan tak ada apa-apa lagi yang hidup dan tumbuh subur selain kegilaan yang ganas akan kerja. Seperti burung beo, mereka mengulangi pelajaran si ekonom: ’Marilah kita bekerja, mari kita bekerja untuk meningkatkan kemakmuran nasional,’” tegasnya.

3, Lagu Baru untuk Musik Baru[6]

Pada bagian akhir dari pamfletnya ini, Lafargue menyampaikan suatu tatanan atau sistem masyarakat yang baru. Di dalam sistem yang baru ini kerja adalah sesuatu yang dilarang, dan bukan dipaksakan. Terjadi pembalikan kelas. Kelas kapitalis dan segala aparatnya: pemimpin agama dan kaum moralis, pengacara dan pembuat hukum, kaum borjuis dan bangsawan, serdadu, hakim, wartawan, agen, semuanya akan melakukan kerja rendahan dan kerja paksa. Singkatnya, mereka akan menjadi pelayan bagi kaum proletar. Sedangkan kaum proletar melawan prasangka etika kristen, etika ekonomi dan etika pemikiran bebas, yang semuanya menuntut hak untuk bekerja. Kaum proletariat harus menuntut hak-hak kemalasan, membiasakan diri untuk tidak bekerja, kecuali hanya tiga jam sehari dan menyediakan seluruh waktu lainnya siang dan malam bersantai, berpesta, dan menikmati seks. Kerja hanyalah bumbu bagi senangnya kebersantaian, dan bukan kebersantaian sebagai selingan atas kerja yang tak terkendali.

Salah satu gambaran tatanan baru tersebut, ia gambarkan demikian: “Kaum komunias dan koletivis akan makan, minum dan menari sepuas hatinya, para anggota akademi ilmu moral dan politik, para pendeta yang berjubah dan yang mengenakan jas, baik dari kalangan ekonomi, Katholik, Protestan, Yahudi, maupun gereja positivis dan pemikiran bebas; para propagandis Malthusianisme dan propagandis Kristen, altruistik, etika independen ataupun dependen, yang berpakaian dengan warna kuning, akan dipaksa memegang sebatang lilin sampai lilin itu membakar jarinya, akan kelaparan di hadapan meja-meja yang dipenuhi daging, buah-buahan dan bunga-bunga, dan akan sangat menderita menanggung dahaga di hadapan bergentong-gentong minuman. Empat kali dalam setahun, seiring pergantian musim, mereka akan diikat dan dibekap seperti anjing pemutar gerinda asahan dalam roda-roda besar dan dihukum untuk memutar geinda selama sepuluh jam.”

Di akhir pamfletnya, Lafargue mengatakan bahwa mesin adalah penyelamat umat manusia, penyelamat yang akan melepaskan manusia dari kerja kasar dan kerja upahan, sang dewa yang akan member manusia waktu luang dan kebebasan.


[1] Lih. Paul Lafargue, Hak untuk Malas (terj.),Yogyakarta: Jalasutra, 2008, hlm. xxi.  

[2] Lih. Ibid., hlm. xxii-xxvii.

[3] Lih. Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010, hlm. 246.

[4] Bagian ini dirangkum dari buku “Hak untuk Malas” karangan Paul Lafargue, hlm. 1-32.

[5] Bagian ini dirangkum dari buku “Hak Untuk Malas” karangan Paul Lafargue, hlm. 33-54.

[6] Bagian ini dirangkum dari buku “Hak Untuk Malas” karangan Paul Lafargue, hlm. 56-74.

Iklan

Kerja (menurut Karl Marx)

Menurut Marx, pekerjaan adalah tindakan manusia yang paling dasar. Dalam pekerjaan, manusia membuat dirinya menjadi nyata. Kerja adalah salah satu ciri yang membedakan manusia dari makhluk-ciptaan lainnya, yang kegiatannya untuk melestarikan hidupnya tidak dapat disebut kerja.

1. Pekerjaan, Kegiatan Khas Manusia.

Manusia adalah makhluk ganda yang menarik. Di satu pihak ia adalah “makhluk alami” seperti binatang—ia membutuhkan alam untuk hidup. Di lain pihak ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing—ia harus terlebih dahulu menyesuaikan alam dengan kebutuhan-kebutuhannya. Manusia bekerja secara bebas dan universal. Bebas, karena ia dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsung. Universal, karena di satu pihak ia dapat memakai pelbagai cara untuk tujuan yang sama, di lain pihak ia dapat menghadapi alam tidak hanya dalam kerangka salah satu kebutuhannya.

2. Pekerjaan sebagai Obyektivasi Manusia

Bekerja berarti bahwa manusia memberikan bentuknya sendiri dari obyek alami. Melalui pekerjaan itu, manusia mengobyektivasikan dirinya ke dalam alam. Bakat dan kemampuannya tidak tinggal dalam anagan-angannya, melainkan telah menjadi obyek yang nyata. Manusia dapat melihat dirinya di dalam pekerjaannya. Kerja menjadi cerminan hakekat manusia.

Manusia tidak bekerja sendirian. Kebutuhan-kebutuhannya dapat ia penuhi melalui hasil pekerjaan orang lain. Begitu pula hasil pekerjaan kita pun berguna untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Penerimaan dan penghargaan orang lain terhadap hasil kerja kita, membuat kita merasa diakui. Kita merasa berarti karena tahu bahwa kita mampu memenuhi kebutuhan orang lain. Pekerjaan menjadi sesuatu yang menggembirakan karena orang lain menerima dan menghormati hasil pekerjaan kita. Di situ tampak bahwa manusia pada hakekatnya bersifat sosial, dan hakekat itu nyata di dalam pekerjaan. Melalui pekerjaan, manusia membuktikan diri sebagai makhluk sosial.

Kerja memiliki dimensi historis. Alam, tradisi-tradisi pengetahuan manusia, ilmu pengetahuan, alat-alat kerja, dunia kita dan segala isinya bukanlah sesuatu yang ada begitu saja, melainkan warisan hasil pekerjaan generasi-generasi sebelumnya. Dunia kita dan segala isisnya merupakan produk sejarah.

3. Keterasingan dalam Pekerjaan

Karena pekerjaan merupakan sarana perealisasian diri manusia, maka seharusnya bekerja memberikan kepuasan dan kegembiraan. Namun dalam kenyataannya, khususnya bagi para buruh dalam sistem kapitalis, pekerjaan justru mengasingkan mereka. Dalam sistem kapitalis, pekerjaan dilakukan secara terpaksa. Di dalam pekerjaan itu manusia tidak berkembang dan semakin terasing dari dirinya sendiri dan orang lain.

1)      Terasing dari dirinya sendiri

Keterasingan dari dirinya sendiri mempunyai tiga sisi. Pertama, si pekerja menjadi terasing dari produknya. Pekerja tidak memiliki hasil pekerjaannya. Produknya adalah milik pemilik pabrik. Dengan begitu, yang dikerjakannya tak ada artinya bagi dirinya. Kedua, karena produk pekerjaan terasing darinya, tindakan bekerja itu sendiri pun kehilangan arti bagi si pekerja. Di dalam pekerjaannya, manusia tidak dapat mewujudkan hakekatnya sebagai manusia bebas dan universal. Ia bekerja karena terpaksa, demi bertahan hidup. Di situ ia mengalami keterasingan dari pekerjaannya. Ketiga, bekerja adalah tindakan hakiki manusia. Di dalam pekerjaan yang dijalankan secara terpaksa, semata-mata demi mencari nafkah, manusia memperalat dirinya. Bekerja bukan lagi untuk mengembangkan diri atau merealisasikan bakat dan kemampuan, melainkan untuk bertahan hidup. Ia tidak lagi bebas karena bekerja atas dasar paksaan majikan, dan pekerjaannya tidak lagi universal, karena melulu terarah pada pemenuhan fisik dalam hidup sehari-hari.

2)      Terasing dari orang lain

Terasing dari hakekat dirinya berarti juga manusia terasing dari sifat sosialnya. Ia terasing dari sesamanya. Di dalam keterasingan dari sesama terdapat kepentingan-kepentingan yang bertentangan. Pertama, terjadi perbedaan kelas antara kelas pekerja dan kelas pemilik. Kedua kelas ini saling bertentangan satu sama lain. Pertentangan tersebut bukanlah pertentangan emosional tidak saling menyukai, melainkan pertentangan kepentingan. Kelas pemilik menginginkan keuntungan setinggi-tingginya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya (biaya produksi, upah buruh dan fasilitas pekerja seminimal mungkin). Sedangkan para buruh menginginkan upah setinggi mungkin dengan jaminan fasilitas kerja yang optimal. Dengan demikian kelas pekerja dan kelas pemilik terasing satu sama lain. Kedua, selain pertentangan antar-kelas secara vertikal, terjadi pula pertentangan kepentingan secara horizontal: antara sesama buruh atau antara sesama pemilik modal. Para buruh berebut tempat kerja, sementara para pemilik berebut pasar.

Keterasingan dari orang lain terlihat dalam fakta bahwa saya menjadi orang yang sepenuhnya egois. Saya hanya akan memenuhi kebutuhan orang lain, sejauh itu memberi keuntungan pada saya. Manusia menjadi terasing dari hakekatnya sebagai makhluk sosial. Manusia bertindak bukan demi sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri, melainkan melulu demi keuntungan diriku. Sesuatu yang disebut sebagai ”keuntungan” itu secara konkret adalah uang. Uang menandakan keterasingan manusia dai alam dan sesamanya. Di dunia kapitalisme, misalnya orang meninati sawah bukan karena keindahan sawah yang luas dan padi yang emnguning, melainkan sebagai tempat penanaman modal atau tempat untuk memperluas wilayah pabrik. Yang penting nilai uangnya dan bukan alam itu sendiri.

4. Hak Milik Pribadi

Menurut Marx, sistem hak milik pribadi merugikan kaum pekerja. Dengan adanya sistem hak milik, majikan memonopoli kesempatan kerja. Majikan hidup dari penghisapan tenaga kerja buruh, sedangkan buruh harus menyangkal diri dan memperbudak diri pada majikan. Majikan sendiri mengalami keterasingan dari hakikatnya. Pengembangan dirinya mandeg. Ia hanya secara pasif menikmati hasil kerja orang lain, padahal nikmat pasif saja tidak mengembangkan manusia. Sistem hak milik pribadi mengasingkan baik pemilik maupun pekerja dari dirinya sendiri: pemilik terasing dari pekerjaan dan pekerja tidak berkembang dalam dirinya. Pada akhirnya, penyebab segala keterasingan manusia adalah penataan produksi menurut sistem hak milik pribadi.

Marx menjelaskan bahwa sistem hak milik pribadi tidak boleh dinilai semata-mata negatif. Hak milik pribadi adalah akibat yang tidak dapat dihindari dalam sejarah. Dalam sejarah, umat manusia mengalami tiga tahap perkembangan: (1)tahap masyarakat purba, sebelum ada pembagian kerja atau semua dilakukan bersama-sama. (2)tahap pembagian kerja sekaligus tajap hak milik pribadi dan tahap keterasingan. (3)tahap kebebasan, yaitu apabila hak milik pribadi sudah dihapus. Hak milik pribadi memacu manusia untuk terus-menerus mengembangkan kebudayaannya. Misalnya, kelas atas yang memaksa bahkan menindas rakyat untuk membangun jalan raya Anyer-Panarukan, Kaisar yang menindas rakyat untuk membangun tembok pertahanan raksasa di Cina, dan sebagainya. Itu semua demi kebutuhan-kebutuhan jangka panjang.

Menurut Marx, komunisme adalah solusi atas masalah keterasingan manusia dengan alam dan dengan sesamanya. Komunisme memampukan manusia untuk merealisasikan diri secara bebas dan universal.

sumber: 

Dirangkum dari:  Franz Magnis-Suseno, “Keterasingan dalam Pekerjaan”, dalam Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010, hlm. 87-104.