bocah dan remah (xii)

Joey mengatakan bahwa ia menulis bab ini bukan dengan tinta melainkan dengan darahnya sendiri. Bocah kurus yang makan di bawah meja bersama seekor kucing tidak berasal dari jalanan di wilayah Metropolis, Filipina. Ia bukan bocah lapar yang meraung-raung di jalanan kota pada lama hari. “Bocah di bawah meja itu tak lain adalah diriku,” demikian ungkap Joey. Bocah itu adalah simbol imajiner dari orang-orang di waktu yang lampau, yang telah mengenyangkan dirinya dengan makanan yang tidak biasa namun pada akhirnya mengalami kelaparan yang luar biasa; seseorang yang memenuhi dirinya dengan macam-macam kesenangan hanya untuk menemukan dirinya berada di bawah meja menyantap remah-remah spiritual dan merangkak menuju cahaya.

 

Bocah Sudan yang tak dikenal

Model dari lukisan Joey ini adalah seorang bocah tak dikenal dalam sebuah foto. Foto itu memenangkan penghargaan “Pulitzer Prize” pada tahun 1994 selama terjadi kelaparan di Sudan (di daerah timur laut Afrika). Gambar itu menunjukkan kelaparan yang luar biasa. Seorang bocah kelaparan sekarat tergeletak di tanah. Bocah itu berjuang untuk menuju tempat persediaan makanan di Sudan pada tahun 1993. Di belakang bocah itu tampak seekor burung pemakan bangkai mengintainya, menunggu dengan sabar sampai bocah itu mati. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi kemudian, termasuk fotografernya, Kevin Carter.

Tiga bulan kemudian, Carter ditemukan tewas di dalam mobil akibat bunuh diri dengan cara menghirup karbon-monoksida di Johannesburg, Afrika Selatan. Ia bunuh diri pada usia 33 tahun. Di sampingnya terdapat surat yang ditulisnya: “Aku sungguh-sungguh minta maaf. Getirnya kehidupan menyingkirkan sukacita sampai titik di mana sukacita tidak lagi ada.” Ia bunuh diri karena depresi. Catatan-catatannya itu merupakan litani mimpi buruk, “aku dihantui oleh ingatan-ingatan akan pembunuhan dan jasad-jasad, kemarahan dan perih…dari bocah yang terluka dan kelaparan, dari kegatalan menembaki orang-orang gila, seringkali polisi, dari para eksekutor hukuman mati…”

Ada kesamaan di antara Bocah Sudan, Kevin, dan Joey. Ketiganya sama-sama merangkak di jalannya demi mencapai sesuatu yang layak. Kevin tidak berhasil mencapai garis akhir karena ia keluar dan mengakhiri hidupnya. Bocah yang merangkak inci demi inci demi mendapatkan makanan juga tidak diketahui bagaimana nasibnya. Joey merasa dirinya seperti seorang tentara yang merangkak dengan membawa senjata berat, kelelahan, berjuang, dan berusaha untuk keluar dari lubang persembunyian menuju cahaya. Namun ia telah merangkak menuju cahaya yang salah.

 

Pengalaman hidup Joey

Sebelumnya Joey begitu produktif dan bersemangat dalam bisnisnya. Keinginannya adalah melakukan hal-hal besar. Ia mengerjakan banyak proyek dalam waktu bersamaan. Ia selalu berjuang untuk membuktikan dirinya. Segala bakat dan kemampuan terbaiknya dikerahkannya. Sampai pada suatu ketika dunia seakan-akan berhenti berputar. Ia dinyatakan mengidap suatu penyakit. Pada cakrawala tak tampak mentari. Segalanya gelap gulita.

Joey yang sebelumnya tampak kuat, kokoh, dan energik itu tertunduk lesu dengan sebotol air di tangan kanan dan segelas urine pada tangan kirinya. Muncul pertanyaan besar dalam benaknya: “mengapa aku menderita penyakit ini?”. Pelan-pelan ia berusaha menerima kenyataan itu. Madame Jean Guyon, seorang mistikus asal Perancis pernah menuliskan: “If knowing the answers to life’s questions is absolutely necessary to you, then forget the journey. You will never make it, for this is a journey of unknowables–of unanswered questions, enigmas, incomprehensibles, and most of all, things unfair.” Kata-kata itu seperti menembus dadanya dan terbenam di dalam tubuhnya.

Akhir tahun 2004, satu tahun sebelum Joey melukis “Meja Harapan”, merupakan masa kelam dalam hidup Joey. Ia merasa gelisah dengan penyakitnya. Ia pergi ke beberapa rumah sakit dan menghadap banyak dokter termasuk psikiater. Ia melakukan bimbingan dengan imam dan awam namun tetap tidak ada hasilnya. Ia kehilangan berat badan dan menarik diri. Ia merasa seolah-olah berada di dalam lubang yang begitu dalam dan gelap, dan ingin sekali keluar dari lubang itu bahkan jika harus memanjatnya dengan menggenggam seutas tali yang penuh dengan duri dan pecahan kaca.

Satu hari sesudah Natal, di salah satu masa paling sulit dalam hidupnya, ia pergi ke dukun. Sambil membersihkan rambutnya dengan minyak kelapa, dukun itu menatap Joey dan bertanya, “Apa yang kamu cemaskan?”

“Kematian”

“Sebegitu pengecutnya dirimu. Jika kamu menginginkan mati, kamu tidak akan dapat melakukan apa-apa, bahkan memasuki ruang doa ini. Kamu hanya akan mencapai tangga dan kamu akan terjatuh.”

“Kamu tahu anakku…kamu harus berdevosi kepada St. Antonius dari Padua.” kata dukun itu.

Ibu Joey lalu menanggapi, “Bukankah ia adalah Santo Pelindung bagi orang-orang yang kehilangan?”

“Benar! Bukankah kamu kehilangan dirimu?”

Kami tertawa, namun kami sadar bahwa ia benar.

Dukun itu kemudian berkata, “Sekarang aku tahu mengapa perutmu terasa sakit. Kamu mempunyai patung yang terabaikan. Carilah patung itu! Dan berilah makan.”

Joey begitu ragu namun ia ingat bahwa dua tahun sebelumnya ia membawa model meja perjamuan dari Italia yang pernah digunakannya untuk mengembangkan produk-produknya. Setelah pameran berlalu, ia melupakan model itu dan membuangnya di gudang pabriknya. “Pergilah dan berilah makan kepada sesuatu yang kamu tinggalkan dalam keadaan lapar itu!”

Seperti seorang bodoh, dengan segera ia meninggalkan tempat itu sambil meletakkan uang 500 Peso di kotak donasi. Joey pergi ke tokonya untuk menemukan meja perjamuan itu. Ia kembali membongkar gudangnya yang penuh debu, dalam keadaan kalut menemukan piring dan mengisinya dengan nasi. Ia juga meletakkan buah dan makanan lainnya. Dalam waktu singkat, ada perjamuan di meja kosong itu. Yang ia lakukan adalah hal konyol, namun saat itu ia benar-benar putus asa.

Setelah itu penyakitnya bukannya membaik, justru semakin buruk. Tidak lama setelah itu, ia harus menjalani operasi pada Januari 2005. Ia melupakan semua patung-patung itu. Selama masa penyembuhan, Joey merangkak menuju kanvas dan meraih kuas. Ia ingin menjadi produktif. Kebutuhan untuk dibutuhkan (the need to be needed) mendorongnya. Ia mulai melukis Our Lady of Mediatrix, sosok yang ditemuinya dalam mimpi ketika ia dioperasi. Ketika hampir seluruh dinding rumahnya dipenuhi lukisan, ia melihat ada ruang kosong yaitu ruang makan. Ketika ia makan bersama, ia ingat bahwa anak-anaknya pilih-pilih dalam makanan dan banyak yang tidak dihabiskan. “Ada banyak anak yang kelaparan di luar sana dan bahkan di seluruh dunia ada banyak yang menderita.” Demikian ia selalu mengingatkan anak-anaknya. Ia sadar bahwa selama ini kata-katanya tidak didengarkan oleh anak-anaknya, maka ia berpikir untuk melukis Perjamuan Terakhir di tengah-tengah lingkungan kumuh agar mereka yang lapar menjadi tampak sungguh-sungguh hidup. Tidak lama setelah lukisan itu dipajang, orang-orang datang ke rumah Joey dan ceritapun tersebar. Orang-orang mengatakan bahwa lukisan itu menyentuh banyak hati dan menyembuhkan hidup banyak orang. Ini merupakan rahmat dari Tuhan.

Joey pun terkenang akan pengalaman konyol ketika ia berjumpa dengan dukun aneh. Ia sadar bahwa Tuhan dapat menggunakan orang-orang yang aku anggap remeh. Tuhan tetap dapat memancarkan cahaya kebijaksanaan-Nya melalui riak air. Sungguh benar, bahwa ada para murid yang sungguh kelaparan sedang menantiku. Para Rasul ini adalah anak-anak jalanan.

Sungguh menyakitkan untuk mengenang pengalaman di mana Joey dinyatakan sakit. Putus asa. Kata-kata Injil terasa tumpul. Mimpi buruk yang tak kunjung usai. “Apakah kita sungguh dapat mengandalkan Allah?”

Nabi Jeremia menulis tentang semak yang menanamkan akarnya di dalam tanah yang kering. Ketika musim hujan dan musim makmur tanaman itu tumbuh, namun pada musim kemarau tanaman itu menjadi layu dan mati. “Blessed is the man who trusts in the Lord, whose confidence is in Him. He will be like a tree planted by the water that sends out its roots by the stream. It does not fear when heat comes; Its leaves are always green. It has no worries in a year of drought and never fails to bear fruit.” Tuhan menjanjikan bahwa orang akan hidup tidak hanya di saat musim semi. Melainkan ia menunjukkan suatu iman yang membantu kita menghadapi musim dingin. Musim dingin akan datang, diikuti dengan musim panas. Jika akar iman kita menghujam begitu dalam sampai pada Air Hidup, kita akan dapat bertahan di saat susah dan tumbuh di musim semi.

Rasanya hanya dalam satu kedipan mata saja hidup berubah daripada menjadi kehancuran. Ia tidak pernah merasakan kepenuhan hidup. Bersama St. Thomas, ia berseru: “Aku sungguh percaya; tolonglah aku mengatasi ketidakpercayaanku.”

Baginya, Sang Guru Agung itu menghargai iman, seberapa besar dan kecilnya, setiap orang.  Ada pribadi-pribadi yang menjadi inspirasi bagi Joey, dalam memelihara pengharapan, yaitu Nelson Mandela dan Teilhard de Chardin (seorang Jesuit, sekaligus palaeontolog asal Perancis). Dalam masa konflik di Afrika, Nelson Mandela diasingkan dan ditawan bersama tawanan-tawanan lain. Satu hal yang membuat para tawanan tetap berpengharapan adalah: mereka bernyanyi bersama ketika mereka bekerja. Lagu-lagu itu mengingatkan mereka pada keluarga, rumah, dan suku yang perlahan mulai mereka lupakan.

Teilhard menganalogikan Tuhan sebagai seorang seniman: “Seperti seorang seniman yang mampu membuat kesalahan atau ketidakmurnian pada batu menjadi berarti dengan memahatnya atau membuat patung perunggu, demikian pula untuk menghasilkan garis yang elok atau sifat yang indah, Tuhan, tanpa menghindarkan kita dari kematian parsial atau kematian akhir, yang membentuk bagian penting dalam hidup kita, mengubah itu semua dengan mengintegrasikannya dalam rencana yang lebih baik—memampukan kita untuk percaya pada-Nya dengan penuh kasih. Bukan hanya penyakit kita yang tak terhindarkan itu, namun juga kesalahan-kesalahan kita, bahkan kesalahan yang sengaja kita lakukan, dapat dirangkul dalam transformasi itu, memampukan kita selalu untuk berpaling padanya. Tidak semuanya seketika menjadi baik ketika kita mencari Allah; namun segalanya dapat menjadi baik.”

Lukisan “Meja Harapan” merupakan jalan penyembuhan menuju kepenuhan. Baginya, itu adalah rahmat Tuhan. Sebenarnya dengan melukis itu ia sedang menceritakan kenyataan hidupnya. Pengalaman sakit itu menghasilkan krisis iman. Pada saat itu, Joey membutuhkan kejelasan. “Lord, heal my woundedness and brokenness and make me whole again.” Joey berkata : “Baru saat ini aku menyadari bahwa hari di saat aku sakit merupakan hari di mana aku mulai hidup.”

 

bersambung…

 


Iklan

dodoy (xi)

Malam tanpa bintang. Siang tanpa sinar matahari. Kamu mencari sinar harapan, namun tak kau temukan. Demikianlah hidup orang-orang yang tinggal di bawah kolong jembatan. Sebagian besar jembatan Metro Manila mempunyai perkumpulan. Mereka tinggal enam meter di bawah kolong jembatan, berjubal berhadapan dengan pipa-pipa selokan, merebut lelapnya tidur, melawan bau busuk, dan berebutan tempat dengan tikus-tikus kolong jembatan. Di kala subuh, anak-anak merayap-rayap melindungi diri dari gigitan kutu-kutu dan tikus-tikus. Di siang hari, mereka berkeliaran di pasar mengemis makanan dan mencuri dari orang-orang di jalanan. Di antara orang-orang inilah Dodoy hidup.

Ia sulit ditemui karena sejak tahun lalu, keluarganya berpindah-pindah dari kolong jembatan yang satu menuju kolong jembatan lainnya. Sangat sulit menjangkau tempat tinggal Dodoy karena untuk turun ke kolong jembatan hanya ada sebuah tangga kayu. Siang itu Joey bertemu dengan ibu Dodoy, yang sedang menyusui bayinya. Dodoy sedang sekolah. Joey mengatakan bahwa mereka cukup beruntung mempunyai tempat tinggal dengan atap yang kuat dan permanen. Ibu itu tertawa sambil berkata, “ya, namun cukup sering kepala kami terbentur dengan beton jembatan itu.”

Mereka membangun tempat tinggal persis di bawah jembatan sehingga tidak ada lagi ruang yang cukup untuk berdiri. Pilihannya adalah mereka duduk atau berbaring di atas potongan papan yang kotor. Menurut ibunya, Dodoy merupakan bocah yang rajin. Orangtuanya berusaha menyekolahkannya. Adik-adiknya tidak sekolah. Setelah Dodoy pulang dari sekolah, Joey bertemu dengannya dan bertanya: “Apakah kamu senang bahwa Yesus mengundangmu di dalam gambar itu?”

“Jika Yesus ada di sini, tempat tinggal kita tidak akan dihancurkan. Ia adalah seorang sahabat.” ungkap bocah berusia 8 tahun itu. Dodoy adalah anak yang rajin namun ia tidak mempunyai buku sekolah atau pun buku tulis.

Ayah dan ibunya tidak bekerja. Ketika itu ayahnya sedang tidur sambil mendengkur. Ia tidur sepanjang siang karena pada malam harinya ia berjaga, menjaga kedua saudara perempuannya yang dapat dilecehkan oleh para pemabuk yang berkeliaran ketika orang-orang tertidur. Ia memang lemah, namun ia berusaha untuk menjaga keluarganya. Untuk mendapatkan uang, mereka saling menolong satu sama lain, misalnya dengan mencucikan pakaian tetangganya. Namun kalau sedang terjadi masalah, mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Mereka pernah mengalami krisis yang begitu mendalam. Bayi mereka mengalami demam tinggi dan harus dirawat di rumah sakit. Dodoy menggigil selama beberapa hari dan hampir mati karena dehidrasi. Biaya rumah sakit mencapai 7000 peso dan ia tidak tahu ke mana harus mencari pertolongan. Ia menangis sedalam-dalamnya karena ketika kembali ke rumah terjadi badai dan air meluap sampai sebatas pinggang dan itu hampir menghanyutkan rumahnya. Hidup mereka begitu hancur. Suaminya menangis di tempat tidur dan menderita sakit perut  yang menyiksa yang membuatnya tak berdaya. Mereka tidak mempunyai uang untuk membeli obat atau membeli pengurang rasa sakit yang paling murah. Anaknya yang lain tidak makan 2 hari. Mereka hanya meminum air hujan dari selokan. Dodoy kecil mengumpulkan barang-barang mereka di bawah guyuran hujan lebat sambil membawa anjing mereka bernama “Tigere”, yang akhirnya hanyut. Mereka tanpa pertolongan dan tak berdaya.

***

Setiap orang mempunyai pengalaman krisisnya masing-masing. Dalam pengalaman itu tak ada satu iota pun daya yang tersisa. Kita merangkak putus asa dalam gelap, mencari sesuatu yang bisa kita jadikan pegangan. Kita seperti hilang/tersesat dalam labirin ketakutan dan ketidakberdayaan. Pengalaman tidak berdaya bukanlah cerita murahan yang sengaja diceritakan kepada orang lain untuk menarik simpati, agar orang lain merasa kasihan terhadapku. Bukan itu. Pengalaman tidak berdaya itu menjadi bersinar dan bermakna mendalam justru di dalam ketersembunyiannya, di dalam ketidakterungkapannya. Pengalaman itu tinggal dalam lubuk hatiku yang terdalam, menjadi bekal dalam hidup. Kebenaran perkataan Rasul Paulus, (dalam “II Korintus XII. 9-10: Jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih-karuniaku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”), tidak dapat dipikirkan, hanya dengan mengalami ketidakberdayaan itu, kita dapat sungguh-sungguh meyakini kebenarannya.

Ketika melihat gambar Yesus dalam “Meja  Harapan”, ibu Dodoy bertanya, “Mengapa wajah Yesus begitu sedih? Aku berharap kamu membuatnya kelihatan gembira karena lukisan ini berbicara tentang harapan. Yesus terlihat kalah. Kamu bahkan tak dapat menangkap sepintas harapan pada wajahnya.”

Tatapan-Nya kosong. Ia seperti memecah roti itu dalam kesendirian, seolah-olah bertanya pada diri-Nya sendiri, “Setelah santapan sederhana ini, kemudian apa yang akan terjadi…?” Dalam lukisan ini, Ia menjadi satu dengan kita dalam kelemahan. Yesaya menuliskan, “Ketika mereka menderita, ia juga menderita” (Yes 63:9). Meskipun ia Allah, ia tetap merasakan ketidakberdayaan. “Setelah aku memecah roti ini dan membagikannya pada anak-anak ini, apakah masih ada hari esok?” Ketidakberdayaan Yesus adalah ketidakberdayaan menyentuh hati orang lain agar melakukan apa yang Ia lakukan pada anak-anak miskin tersebut.

Joey kemudian menyampaikan kisah mengenai sebuah lukisan karya Holman Hunt, seniman asal Inggris. Judul lukisan itu: “the Light of the World”. Lukisan itu adalah lukisan Yesus yang mengetuk pintu kayu suatu rumah. Di sekitar pintu masuk rumah itu ditumbuhi tanaman anggur, tampak tak terawat, dan seolah-olah pintu itu telah sekian lama tidak pernah dibuka. Seseorang berdiri memandang lukisan itu dengan penuh perhatian, kemudian ia berkata kepada si pembuat lukisan, “Lukisan ini indah. Ada detail penting yang lupa untuk kamu lukiskan. Tidak ada gagang pintu! bagaimana pintu itu bisa dibuka kalau tidak ada gagangnya?” Pelukis itu kemudian menjelaskan bahwa hal itu sengaja dilakukannya karena pintu semacam itu hanya bisa dibuka dari dalam, dan bukan dari luar. Pintu itu melambangkan hati kita. Itu hanya dapat dibuka dari dalam diri kita. Itu bukan masalah bagi Tuhan, Ia Mahakuasa, Ia dapat saja membuka pintu itu dari luar namun Allah bukan seorang pendobrak pintu. Ia hanya mengetuk dengan lembut dan sabar. Ia biarkan kita membuka hari dengan kehendak bebas untuk menunjukkan betapa kita menerimanya dalam hati kita.

“Meja Harapan” juga merupakan lukisan dengan “open-ended story“. Lukisan itu sungguh-sungguh menjadi Hapag ng Pag-asa, tergantung dari orang yang melihatnya. Harapan memang berasal dari Allah, namun butuh keterlibatan dari manusia.

Ketika memandang jembatan tempat Dodoy tinggal, Joey memandang absennya apa yang dikatakan dunia sebagai keindahan. Tempat itu bau dan penuh tikus yang berkeliaran. Ketika hendak meninggalkan tempat itu, Joey dikejutkan oleh permintaan Dodoy dan keluarganya. Mereka berharap Joey akan kembali lagi untuk mengajar mereka tentang kitab suci. Dalam hati Joey berpikir, “Mereka juga lapar akan santapan spiritual, namun bagaimana aku dapat mengatakan kepada mereka tentang kasih Allah, sementara mereka hidup dalam kelaparan? Bagaimana mereka dapat berhubungan dengan Allah di surga sementara ayah mereka sendiri tidak menunjukkan cinta?” Joey pun merasa tak berdaya atas pertanyaan-pertanyaan dalam lubuk hatinya. Tampaknya tak akan ada orang yang mendengarkan jeritan orang-orang di bawah kolong jembatan ini. Terhadap hal itu Joey pun tak berdaya. Namun ia melihat harapan dalam wajah Dodoy. Ada kemungkinan yang tak terbatas apabila anak ini diberi kesempatan untuk hidup lebih baik.

bersambung…

michael (x)

Michael berusia 13 tahun. Ia menjadi pemulung di Payatas. Di dalam lukisan, ia berdiri nomor dua dari kanan.

“Bagaimana rasanya?” tanya Joey.

“Rasanya masam karena sudah busuk. Namun ini masih ok, minimal bisa mengisi perut. Pada malam hari kami tidak mempunyai makanan. Makanan ini tidak akan tersisa, karena merupakan makanan spesial.” Demikian ungkap Michael ketika menjelaskan tentang masakannya, Pagpag. Pagpag merupakan campuran makanan basi yang dipungut dari tempat yang kadangkala juga menjadi tempat membuang bangkai kucing, tikus, anjing. Tentu saja rasa masakan itu tak terbayangkan, seperti neraka.

Hidupnya setiap hari dihabiskan di antara tumpukan sampah. Tempat pembuangan sampah itu dijaga oleh petugas keamanan. Kerja mereka sungguh teroganisir. Setiap harinya datang lebih dari 400 truk. Kira-kira truk itu membawa 1800 ton sampah dalam jangka waktu 16 jam. Mereka, para pemulung bisa tahu jika truk itu datang karena bau sampah yang begitu menyengat. Baunya begitu pekat sampai menempel pada pakaian dan kulit. Tak terbayangkan bagaimana mereka bekerja di musim hujan. Sesekali ia juga harus berkelahi dengan sekelompok preman yang mencoba merampas hasil pulungannya.

Michael mulai menjadi pemulung sejak berumur 7 tahun. Ia dipaksa bekerja agar keluarganya dapat bertahan hidup, dan agar ia dapat membeli makanan.

“Aku di sini setiap hari. Aku tidak peduli dengan bau busuk ini. Aku bahkan dapat makan sisa-sisa dari manusia. Yang penting adalah susu untuk saudaraku yang paling muda.” Ia kehilangan masa kecilnya. Lingkungan dan situasi memaksanya untuk menjadi tua lebih cepat.

Di penghujung hari, ia berjalan menuruni tumpukan sampah itu menuju rumah kecilnya, di mana kakek dan saudaranya menanti. Setiap harinya, Michael mengumpulkan uang 120 Peso. Anak-anak lain biasanya hanya mendapatkan 20 – 50 Peso. Dari tumpukan sampah itu, Michael mengumpulkan plastik, botol, koran, karton, besi, lalu menjualnya ke toko barang bekas.

Michael adalah bocah pemberani, lebih tepatnya bocah yang tidak punya rasa takut akan bahaya. Lingkungannya yang keras membentuknya menjadi seperti itu. Perkelahian dengan preman dapat berujung pada kematian. Kepalanya pernah diterjang dengan besi pengais sampah. Teman sekelompoknya ada yang dipungkul tengkuknya dan meninggal pada keesokan harinya karena pengais itu menancap di kepalanya.

“Kelak jika besar nanti kamu ingin menjadi apa?”

Mother fucker. Aku tidak pernah memikirkan hal itu lagi. Aku pernah mencoba menghisap sabu-sabu. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan.”

“Apakah itu baik?”

“Hmmm…ya. Kamu tidak perlu memikirkan apa-apa. Kamu membiarkan dirimu melayang. Aku tidak dapat memikirkan apa pun. Ketika sedang “sakau” aku dapat memecahkan kepala temanku. Aku pernah hendak memukul temanku. Aku amat terganggu karena ia mengangguku. Ia juga memegang botol. Akan kuhajar dia sekarang.” Demikian ungkap Michael tanpa rasa takut akan kematian.

Joey mengajaknya untuk makan di McDonald pada siang itu. Namun wajahnya acuh, seperti anjing galak. Joey sadar bahwa ketika kita memperlakukan anak semacam ini dengan kenyamanan seperti makanan, minuman, dan bahkan ketika kita melayaninya dengan cara yang paling sopan, mereka hanya akan menatapmu. Mereka akan menatap kita dengan penuh curiga, karena tidak ada dalam benak mereka ide mengenai kebaikan. Kebaikan adalah sesuatu yang asing bagi mereka. Dunia mereka disesaki oleh kotoran dan skeptis bahwa tidak ada sesuatu pun yang mempunyai tujuan baik. Segala sesuatu dan setiap orang adalah sampah.

 

***

 

Joey amat terkejut menjumpai realitas hidup macam itu. Dunia di mana ia pernah tinggal amat berbeda. Ia amat menikmati reputasi baik yang dimiliki perusahaannya. Orang-orang percaya pada setiap perkataannya dan menghargai nama baiknya. Kepercayaan senantiasa dipegangnya. Namun, saat ini kerendahanhatinya diuji. Ia merasa kebaikannya ditantang. Apa yang aku dapat dengan perbuatan baikku? Bukan itu pertanyaannya, bukan berapa banyak yang aku dapatkan atau berapa banyak orang yang kusapa, melainkan seberapa besar cinta yang kuberikan untuk melayani Kristus.

Berikut ini adalah kutipan pidato dari Bunda Teresa dalam acara penyerahan penghargaan Nobel pada tahun 1979:

“Tidaklah cukup bagi kita untuk mengatakan: Aku mencintai Tuhan, tapi aku tidak mencintai orang lain. Santo Yohanes mengatakan bahwa kamu adalah pembohong jika kamu mengatakan bahwa kamu mencintai Tuhan dan kamu tidak mencintai orang lain. Bagaimana kamu dapat mencintai Tuhan yang tidak dapat kamu lihat, jika kamu tidak mencintai orang lain yang dapat kamu lihat, yang kamu sentuh, yang dengannya kamu hidup. Maka amatlah penting bagi kita untuk menyadari bahwa mecintai, yang sesungguhnya, membuat kita terluka. Tindakan mencintai kita membuat Yesus terluka. Cintanya terhadap kita melukai dirinya. Dan untuk memastikan agar kita mengingat kasihnya yang begitu besar, ia menjadikan dirinya roti hidup untuk memuaskan rasa lapar kita akan kasihnya. Kita lapar akan Tuhan, karena kita telah diciptakan demi kasih itu. Kita telah diciptakan seturut rupanya. Kita telah diciptakan untuk mencintai dan dicintai, dan ia telah menjadi manusia untuk memungkinkan kita mencintai seperti ia mencintai kita. Ia menjadi orang yang lapar-yang telanjang-yang tidak mempunyai tempat tinggal-yang sakit-yang ada dalam penjara-yang kesepian-yang tidak diinginkan-dan ia mengatakan: kamu telah melakukan itu untuk diriku. Lapar akan cinta kita, dan ini merupakan rasa lapar dari orang-orang miskin di sekitar kita. Ini merupakan rasa lapar yang harus kita temukan; itu mungkin ada di dalam rumah kita sendiri.”

Puncak kemuliaan pelayanan Yesus bukan pada saat Ia memberi makan 5000 orang, ketika orang-orang begitu terkesan dan ingin mengangkatnya menjadi raja, bukan pula dalam kemegahannya saat memasuki gerbang Yerusalem, namun dalam peristiwa salib di mana di sana hanya tinggal Rasul Yohanes dan Ibu Maria, dan dalam peristiwa kebangkitannya yang tidak ada seorang pun menyaksikannya secara langsung.

Yesus menjanjikan kepada kita tempat untuk mendapat kelegaan hidup, tempat untuk bersandar. Namun kelegaan itu bergantung pada kemampuan dan kerelaan kita untuk berbagi beban dengan Kristus, dan keterbukaan kita untuk belajar daripada-Nya tentang kelemah-lembutan dan kerendahan hati. Tanpa berbagi beban, tidak ada pembelajaran. Pembelajaran itu hanya mungkin, bagi orang-orang Kristen, “hanya jika Roh Kudus hadir di tengah-tengah kita, dan bukan roh ketidakpercayaan, curiga, cinta-diri, dan keputusasaan.”

 

bersambung…