michael (x)

Michael berusia 13 tahun. Ia menjadi pemulung di Payatas. Di dalam lukisan, ia berdiri nomor dua dari kanan.

“Bagaimana rasanya?” tanya Joey.

“Rasanya masam karena sudah busuk. Namun ini masih ok, minimal bisa mengisi perut. Pada malam hari kami tidak mempunyai makanan. Makanan ini tidak akan tersisa, karena merupakan makanan spesial.” Demikian ungkap Michael ketika menjelaskan tentang masakannya, Pagpag. Pagpag merupakan campuran makanan basi yang dipungut dari tempat yang kadangkala juga menjadi tempat membuang bangkai kucing, tikus, anjing. Tentu saja rasa masakan itu tak terbayangkan, seperti neraka.

Hidupnya setiap hari dihabiskan di antara tumpukan sampah. Tempat pembuangan sampah itu dijaga oleh petugas keamanan. Kerja mereka sungguh teroganisir. Setiap harinya datang lebih dari 400 truk. Kira-kira truk itu membawa 1800 ton sampah dalam jangka waktu 16 jam. Mereka, para pemulung bisa tahu jika truk itu datang karena bau sampah yang begitu menyengat. Baunya begitu pekat sampai menempel pada pakaian dan kulit. Tak terbayangkan bagaimana mereka bekerja di musim hujan. Sesekali ia juga harus berkelahi dengan sekelompok preman yang mencoba merampas hasil pulungannya.

Michael mulai menjadi pemulung sejak berumur 7 tahun. Ia dipaksa bekerja agar keluarganya dapat bertahan hidup, dan agar ia dapat membeli makanan.

“Aku di sini setiap hari. Aku tidak peduli dengan bau busuk ini. Aku bahkan dapat makan sisa-sisa dari manusia. Yang penting adalah susu untuk saudaraku yang paling muda.” Ia kehilangan masa kecilnya. Lingkungan dan situasi memaksanya untuk menjadi tua lebih cepat.

Di penghujung hari, ia berjalan menuruni tumpukan sampah itu menuju rumah kecilnya, di mana kakek dan saudaranya menanti. Setiap harinya, Michael mengumpulkan uang 120 Peso. Anak-anak lain biasanya hanya mendapatkan 20 – 50 Peso. Dari tumpukan sampah itu, Michael mengumpulkan plastik, botol, koran, karton, besi, lalu menjualnya ke toko barang bekas.

Michael adalah bocah pemberani, lebih tepatnya bocah yang tidak punya rasa takut akan bahaya. Lingkungannya yang keras membentuknya menjadi seperti itu. Perkelahian dengan preman dapat berujung pada kematian. Kepalanya pernah diterjang dengan besi pengais sampah. Teman sekelompoknya ada yang dipungkul tengkuknya dan meninggal pada keesokan harinya karena pengais itu menancap di kepalanya.

“Kelak jika besar nanti kamu ingin menjadi apa?”

Mother fucker. Aku tidak pernah memikirkan hal itu lagi. Aku pernah mencoba menghisap sabu-sabu. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan.”

“Apakah itu baik?”

“Hmmm…ya. Kamu tidak perlu memikirkan apa-apa. Kamu membiarkan dirimu melayang. Aku tidak dapat memikirkan apa pun. Ketika sedang “sakau” aku dapat memecahkan kepala temanku. Aku pernah hendak memukul temanku. Aku amat terganggu karena ia mengangguku. Ia juga memegang botol. Akan kuhajar dia sekarang.” Demikian ungkap Michael tanpa rasa takut akan kematian.

Joey mengajaknya untuk makan di McDonald pada siang itu. Namun wajahnya acuh, seperti anjing galak. Joey sadar bahwa ketika kita memperlakukan anak semacam ini dengan kenyamanan seperti makanan, minuman, dan bahkan ketika kita melayaninya dengan cara yang paling sopan, mereka hanya akan menatapmu. Mereka akan menatap kita dengan penuh curiga, karena tidak ada dalam benak mereka ide mengenai kebaikan. Kebaikan adalah sesuatu yang asing bagi mereka. Dunia mereka disesaki oleh kotoran dan skeptis bahwa tidak ada sesuatu pun yang mempunyai tujuan baik. Segala sesuatu dan setiap orang adalah sampah.

 

***

 

Joey amat terkejut menjumpai realitas hidup macam itu. Dunia di mana ia pernah tinggal amat berbeda. Ia amat menikmati reputasi baik yang dimiliki perusahaannya. Orang-orang percaya pada setiap perkataannya dan menghargai nama baiknya. Kepercayaan senantiasa dipegangnya. Namun, saat ini kerendahanhatinya diuji. Ia merasa kebaikannya ditantang. Apa yang aku dapat dengan perbuatan baikku? Bukan itu pertanyaannya, bukan berapa banyak yang aku dapatkan atau berapa banyak orang yang kusapa, melainkan seberapa besar cinta yang kuberikan untuk melayani Kristus.

Berikut ini adalah kutipan pidato dari Bunda Teresa dalam acara penyerahan penghargaan Nobel pada tahun 1979:

“Tidaklah cukup bagi kita untuk mengatakan: Aku mencintai Tuhan, tapi aku tidak mencintai orang lain. Santo Yohanes mengatakan bahwa kamu adalah pembohong jika kamu mengatakan bahwa kamu mencintai Tuhan dan kamu tidak mencintai orang lain. Bagaimana kamu dapat mencintai Tuhan yang tidak dapat kamu lihat, jika kamu tidak mencintai orang lain yang dapat kamu lihat, yang kamu sentuh, yang dengannya kamu hidup. Maka amatlah penting bagi kita untuk menyadari bahwa mecintai, yang sesungguhnya, membuat kita terluka. Tindakan mencintai kita membuat Yesus terluka. Cintanya terhadap kita melukai dirinya. Dan untuk memastikan agar kita mengingat kasihnya yang begitu besar, ia menjadikan dirinya roti hidup untuk memuaskan rasa lapar kita akan kasihnya. Kita lapar akan Tuhan, karena kita telah diciptakan demi kasih itu. Kita telah diciptakan seturut rupanya. Kita telah diciptakan untuk mencintai dan dicintai, dan ia telah menjadi manusia untuk memungkinkan kita mencintai seperti ia mencintai kita. Ia menjadi orang yang lapar-yang telanjang-yang tidak mempunyai tempat tinggal-yang sakit-yang ada dalam penjara-yang kesepian-yang tidak diinginkan-dan ia mengatakan: kamu telah melakukan itu untuk diriku. Lapar akan cinta kita, dan ini merupakan rasa lapar dari orang-orang miskin di sekitar kita. Ini merupakan rasa lapar yang harus kita temukan; itu mungkin ada di dalam rumah kita sendiri.”

Puncak kemuliaan pelayanan Yesus bukan pada saat Ia memberi makan 5000 orang, ketika orang-orang begitu terkesan dan ingin mengangkatnya menjadi raja, bukan pula dalam kemegahannya saat memasuki gerbang Yerusalem, namun dalam peristiwa salib di mana di sana hanya tinggal Rasul Yohanes dan Ibu Maria, dan dalam peristiwa kebangkitannya yang tidak ada seorang pun menyaksikannya secara langsung.

Yesus menjanjikan kepada kita tempat untuk mendapat kelegaan hidup, tempat untuk bersandar. Namun kelegaan itu bergantung pada kemampuan dan kerelaan kita untuk berbagi beban dengan Kristus, dan keterbukaan kita untuk belajar daripada-Nya tentang kelemah-lembutan dan kerendahan hati. Tanpa berbagi beban, tidak ada pembelajaran. Pembelajaran itu hanya mungkin, bagi orang-orang Kristen, “hanya jika Roh Kudus hadir di tengah-tengah kita, dan bukan roh ketidakpercayaan, curiga, cinta-diri, dan keputusasaan.”

 

bersambung…

 


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s