dodoy (xi)

Malam tanpa bintang. Siang tanpa sinar matahari. Kamu mencari sinar harapan, namun tak kau temukan. Demikianlah hidup orang-orang yang tinggal di bawah kolong jembatan. Sebagian besar jembatan Metro Manila mempunyai perkumpulan. Mereka tinggal enam meter di bawah kolong jembatan, berjubal berhadapan dengan pipa-pipa selokan, merebut lelapnya tidur, melawan bau busuk, dan berebutan tempat dengan tikus-tikus kolong jembatan. Di kala subuh, anak-anak merayap-rayap melindungi diri dari gigitan kutu-kutu dan tikus-tikus. Di siang hari, mereka berkeliaran di pasar mengemis makanan dan mencuri dari orang-orang di jalanan. Di antara orang-orang inilah Dodoy hidup.

Ia sulit ditemui karena sejak tahun lalu, keluarganya berpindah-pindah dari kolong jembatan yang satu menuju kolong jembatan lainnya. Sangat sulit menjangkau tempat tinggal Dodoy karena untuk turun ke kolong jembatan hanya ada sebuah tangga kayu. Siang itu Joey bertemu dengan ibu Dodoy, yang sedang menyusui bayinya. Dodoy sedang sekolah. Joey mengatakan bahwa mereka cukup beruntung mempunyai tempat tinggal dengan atap yang kuat dan permanen. Ibu itu tertawa sambil berkata, “ya, namun cukup sering kepala kami terbentur dengan beton jembatan itu.”

Mereka membangun tempat tinggal persis di bawah jembatan sehingga tidak ada lagi ruang yang cukup untuk berdiri. Pilihannya adalah mereka duduk atau berbaring di atas potongan papan yang kotor. Menurut ibunya, Dodoy merupakan bocah yang rajin. Orangtuanya berusaha menyekolahkannya. Adik-adiknya tidak sekolah. Setelah Dodoy pulang dari sekolah, Joey bertemu dengannya dan bertanya: “Apakah kamu senang bahwa Yesus mengundangmu di dalam gambar itu?”

“Jika Yesus ada di sini, tempat tinggal kita tidak akan dihancurkan. Ia adalah seorang sahabat.” ungkap bocah berusia 8 tahun itu. Dodoy adalah anak yang rajin namun ia tidak mempunyai buku sekolah atau pun buku tulis.

Ayah dan ibunya tidak bekerja. Ketika itu ayahnya sedang tidur sambil mendengkur. Ia tidur sepanjang siang karena pada malam harinya ia berjaga, menjaga kedua saudara perempuannya yang dapat dilecehkan oleh para pemabuk yang berkeliaran ketika orang-orang tertidur. Ia memang lemah, namun ia berusaha untuk menjaga keluarganya. Untuk mendapatkan uang, mereka saling menolong satu sama lain, misalnya dengan mencucikan pakaian tetangganya. Namun kalau sedang terjadi masalah, mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Mereka pernah mengalami krisis yang begitu mendalam. Bayi mereka mengalami demam tinggi dan harus dirawat di rumah sakit. Dodoy menggigil selama beberapa hari dan hampir mati karena dehidrasi. Biaya rumah sakit mencapai 7000 peso dan ia tidak tahu ke mana harus mencari pertolongan. Ia menangis sedalam-dalamnya karena ketika kembali ke rumah terjadi badai dan air meluap sampai sebatas pinggang dan itu hampir menghanyutkan rumahnya. Hidup mereka begitu hancur. Suaminya menangis di tempat tidur dan menderita sakit perut  yang menyiksa yang membuatnya tak berdaya. Mereka tidak mempunyai uang untuk membeli obat atau membeli pengurang rasa sakit yang paling murah. Anaknya yang lain tidak makan 2 hari. Mereka hanya meminum air hujan dari selokan. Dodoy kecil mengumpulkan barang-barang mereka di bawah guyuran hujan lebat sambil membawa anjing mereka bernama “Tigere”, yang akhirnya hanyut. Mereka tanpa pertolongan dan tak berdaya.

***

Setiap orang mempunyai pengalaman krisisnya masing-masing. Dalam pengalaman itu tak ada satu iota pun daya yang tersisa. Kita merangkak putus asa dalam gelap, mencari sesuatu yang bisa kita jadikan pegangan. Kita seperti hilang/tersesat dalam labirin ketakutan dan ketidakberdayaan. Pengalaman tidak berdaya bukanlah cerita murahan yang sengaja diceritakan kepada orang lain untuk menarik simpati, agar orang lain merasa kasihan terhadapku. Bukan itu. Pengalaman tidak berdaya itu menjadi bersinar dan bermakna mendalam justru di dalam ketersembunyiannya, di dalam ketidakterungkapannya. Pengalaman itu tinggal dalam lubuk hatiku yang terdalam, menjadi bekal dalam hidup. Kebenaran perkataan Rasul Paulus, (dalam “II Korintus XII. 9-10: Jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih-karuniaku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”), tidak dapat dipikirkan, hanya dengan mengalami ketidakberdayaan itu, kita dapat sungguh-sungguh meyakini kebenarannya.

Ketika melihat gambar Yesus dalam “Meja  Harapan”, ibu Dodoy bertanya, “Mengapa wajah Yesus begitu sedih? Aku berharap kamu membuatnya kelihatan gembira karena lukisan ini berbicara tentang harapan. Yesus terlihat kalah. Kamu bahkan tak dapat menangkap sepintas harapan pada wajahnya.”

Tatapan-Nya kosong. Ia seperti memecah roti itu dalam kesendirian, seolah-olah bertanya pada diri-Nya sendiri, “Setelah santapan sederhana ini, kemudian apa yang akan terjadi…?” Dalam lukisan ini, Ia menjadi satu dengan kita dalam kelemahan. Yesaya menuliskan, “Ketika mereka menderita, ia juga menderita” (Yes 63:9). Meskipun ia Allah, ia tetap merasakan ketidakberdayaan. “Setelah aku memecah roti ini dan membagikannya pada anak-anak ini, apakah masih ada hari esok?” Ketidakberdayaan Yesus adalah ketidakberdayaan menyentuh hati orang lain agar melakukan apa yang Ia lakukan pada anak-anak miskin tersebut.

Joey kemudian menyampaikan kisah mengenai sebuah lukisan karya Holman Hunt, seniman asal Inggris. Judul lukisan itu: “the Light of the World”. Lukisan itu adalah lukisan Yesus yang mengetuk pintu kayu suatu rumah. Di sekitar pintu masuk rumah itu ditumbuhi tanaman anggur, tampak tak terawat, dan seolah-olah pintu itu telah sekian lama tidak pernah dibuka. Seseorang berdiri memandang lukisan itu dengan penuh perhatian, kemudian ia berkata kepada si pembuat lukisan, “Lukisan ini indah. Ada detail penting yang lupa untuk kamu lukiskan. Tidak ada gagang pintu! bagaimana pintu itu bisa dibuka kalau tidak ada gagangnya?” Pelukis itu kemudian menjelaskan bahwa hal itu sengaja dilakukannya karena pintu semacam itu hanya bisa dibuka dari dalam, dan bukan dari luar. Pintu itu melambangkan hati kita. Itu hanya dapat dibuka dari dalam diri kita. Itu bukan masalah bagi Tuhan, Ia Mahakuasa, Ia dapat saja membuka pintu itu dari luar namun Allah bukan seorang pendobrak pintu. Ia hanya mengetuk dengan lembut dan sabar. Ia biarkan kita membuka hari dengan kehendak bebas untuk menunjukkan betapa kita menerimanya dalam hati kita.

“Meja Harapan” juga merupakan lukisan dengan “open-ended story“. Lukisan itu sungguh-sungguh menjadi Hapag ng Pag-asa, tergantung dari orang yang melihatnya. Harapan memang berasal dari Allah, namun butuh keterlibatan dari manusia.

Ketika memandang jembatan tempat Dodoy tinggal, Joey memandang absennya apa yang dikatakan dunia sebagai keindahan. Tempat itu bau dan penuh tikus yang berkeliaran. Ketika hendak meninggalkan tempat itu, Joey dikejutkan oleh permintaan Dodoy dan keluarganya. Mereka berharap Joey akan kembali lagi untuk mengajar mereka tentang kitab suci. Dalam hati Joey berpikir, “Mereka juga lapar akan santapan spiritual, namun bagaimana aku dapat mengatakan kepada mereka tentang kasih Allah, sementara mereka hidup dalam kelaparan? Bagaimana mereka dapat berhubungan dengan Allah di surga sementara ayah mereka sendiri tidak menunjukkan cinta?” Joey pun merasa tak berdaya atas pertanyaan-pertanyaan dalam lubuk hatinya. Tampaknya tak akan ada orang yang mendengarkan jeritan orang-orang di bawah kolong jembatan ini. Terhadap hal itu Joey pun tak berdaya. Namun ia melihat harapan dalam wajah Dodoy. Ada kemungkinan yang tak terbatas apabila anak ini diberi kesempatan untuk hidup lebih baik.

bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s