bocah dan remah (xii)

Joey mengatakan bahwa ia menulis bab ini bukan dengan tinta melainkan dengan darahnya sendiri. Bocah kurus yang makan di bawah meja bersama seekor kucing tidak berasal dari jalanan di wilayah Metropolis, Filipina. Ia bukan bocah lapar yang meraung-raung di jalanan kota pada lama hari. “Bocah di bawah meja itu tak lain adalah diriku,” demikian ungkap Joey. Bocah itu adalah simbol imajiner dari orang-orang di waktu yang lampau, yang telah mengenyangkan dirinya dengan makanan yang tidak biasa namun pada akhirnya mengalami kelaparan yang luar biasa; seseorang yang memenuhi dirinya dengan macam-macam kesenangan hanya untuk menemukan dirinya berada di bawah meja menyantap remah-remah spiritual dan merangkak menuju cahaya.

 

Bocah Sudan yang tak dikenal

Model dari lukisan Joey ini adalah seorang bocah tak dikenal dalam sebuah foto. Foto itu memenangkan penghargaan “Pulitzer Prize” pada tahun 1994 selama terjadi kelaparan di Sudan (di daerah timur laut Afrika). Gambar itu menunjukkan kelaparan yang luar biasa. Seorang bocah kelaparan sekarat tergeletak di tanah. Bocah itu berjuang untuk menuju tempat persediaan makanan di Sudan pada tahun 1993. Di belakang bocah itu tampak seekor burung pemakan bangkai mengintainya, menunggu dengan sabar sampai bocah itu mati. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi kemudian, termasuk fotografernya, Kevin Carter.

Tiga bulan kemudian, Carter ditemukan tewas di dalam mobil akibat bunuh diri dengan cara menghirup karbon-monoksida di Johannesburg, Afrika Selatan. Ia bunuh diri pada usia 33 tahun. Di sampingnya terdapat surat yang ditulisnya: “Aku sungguh-sungguh minta maaf. Getirnya kehidupan menyingkirkan sukacita sampai titik di mana sukacita tidak lagi ada.” Ia bunuh diri karena depresi. Catatan-catatannya itu merupakan litani mimpi buruk, “aku dihantui oleh ingatan-ingatan akan pembunuhan dan jasad-jasad, kemarahan dan perih…dari bocah yang terluka dan kelaparan, dari kegatalan menembaki orang-orang gila, seringkali polisi, dari para eksekutor hukuman mati…”

Ada kesamaan di antara Bocah Sudan, Kevin, dan Joey. Ketiganya sama-sama merangkak di jalannya demi mencapai sesuatu yang layak. Kevin tidak berhasil mencapai garis akhir karena ia keluar dan mengakhiri hidupnya. Bocah yang merangkak inci demi inci demi mendapatkan makanan juga tidak diketahui bagaimana nasibnya. Joey merasa dirinya seperti seorang tentara yang merangkak dengan membawa senjata berat, kelelahan, berjuang, dan berusaha untuk keluar dari lubang persembunyian menuju cahaya. Namun ia telah merangkak menuju cahaya yang salah.

 

Pengalaman hidup Joey

Sebelumnya Joey begitu produktif dan bersemangat dalam bisnisnya. Keinginannya adalah melakukan hal-hal besar. Ia mengerjakan banyak proyek dalam waktu bersamaan. Ia selalu berjuang untuk membuktikan dirinya. Segala bakat dan kemampuan terbaiknya dikerahkannya. Sampai pada suatu ketika dunia seakan-akan berhenti berputar. Ia dinyatakan mengidap suatu penyakit. Pada cakrawala tak tampak mentari. Segalanya gelap gulita.

Joey yang sebelumnya tampak kuat, kokoh, dan energik itu tertunduk lesu dengan sebotol air di tangan kanan dan segelas urine pada tangan kirinya. Muncul pertanyaan besar dalam benaknya: “mengapa aku menderita penyakit ini?”. Pelan-pelan ia berusaha menerima kenyataan itu. Madame Jean Guyon, seorang mistikus asal Perancis pernah menuliskan: “If knowing the answers to life’s questions is absolutely necessary to you, then forget the journey. You will never make it, for this is a journey of unknowables–of unanswered questions, enigmas, incomprehensibles, and most of all, things unfair.” Kata-kata itu seperti menembus dadanya dan terbenam di dalam tubuhnya.

Akhir tahun 2004, satu tahun sebelum Joey melukis “Meja Harapan”, merupakan masa kelam dalam hidup Joey. Ia merasa gelisah dengan penyakitnya. Ia pergi ke beberapa rumah sakit dan menghadap banyak dokter termasuk psikiater. Ia melakukan bimbingan dengan imam dan awam namun tetap tidak ada hasilnya. Ia kehilangan berat badan dan menarik diri. Ia merasa seolah-olah berada di dalam lubang yang begitu dalam dan gelap, dan ingin sekali keluar dari lubang itu bahkan jika harus memanjatnya dengan menggenggam seutas tali yang penuh dengan duri dan pecahan kaca.

Satu hari sesudah Natal, di salah satu masa paling sulit dalam hidupnya, ia pergi ke dukun. Sambil membersihkan rambutnya dengan minyak kelapa, dukun itu menatap Joey dan bertanya, “Apa yang kamu cemaskan?”

“Kematian”

“Sebegitu pengecutnya dirimu. Jika kamu menginginkan mati, kamu tidak akan dapat melakukan apa-apa, bahkan memasuki ruang doa ini. Kamu hanya akan mencapai tangga dan kamu akan terjatuh.”

“Kamu tahu anakku…kamu harus berdevosi kepada St. Antonius dari Padua.” kata dukun itu.

Ibu Joey lalu menanggapi, “Bukankah ia adalah Santo Pelindung bagi orang-orang yang kehilangan?”

“Benar! Bukankah kamu kehilangan dirimu?”

Kami tertawa, namun kami sadar bahwa ia benar.

Dukun itu kemudian berkata, “Sekarang aku tahu mengapa perutmu terasa sakit. Kamu mempunyai patung yang terabaikan. Carilah patung itu! Dan berilah makan.”

Joey begitu ragu namun ia ingat bahwa dua tahun sebelumnya ia membawa model meja perjamuan dari Italia yang pernah digunakannya untuk mengembangkan produk-produknya. Setelah pameran berlalu, ia melupakan model itu dan membuangnya di gudang pabriknya. “Pergilah dan berilah makan kepada sesuatu yang kamu tinggalkan dalam keadaan lapar itu!”

Seperti seorang bodoh, dengan segera ia meninggalkan tempat itu sambil meletakkan uang 500 Peso di kotak donasi. Joey pergi ke tokonya untuk menemukan meja perjamuan itu. Ia kembali membongkar gudangnya yang penuh debu, dalam keadaan kalut menemukan piring dan mengisinya dengan nasi. Ia juga meletakkan buah dan makanan lainnya. Dalam waktu singkat, ada perjamuan di meja kosong itu. Yang ia lakukan adalah hal konyol, namun saat itu ia benar-benar putus asa.

Setelah itu penyakitnya bukannya membaik, justru semakin buruk. Tidak lama setelah itu, ia harus menjalani operasi pada Januari 2005. Ia melupakan semua patung-patung itu. Selama masa penyembuhan, Joey merangkak menuju kanvas dan meraih kuas. Ia ingin menjadi produktif. Kebutuhan untuk dibutuhkan (the need to be needed) mendorongnya. Ia mulai melukis Our Lady of Mediatrix, sosok yang ditemuinya dalam mimpi ketika ia dioperasi. Ketika hampir seluruh dinding rumahnya dipenuhi lukisan, ia melihat ada ruang kosong yaitu ruang makan. Ketika ia makan bersama, ia ingat bahwa anak-anaknya pilih-pilih dalam makanan dan banyak yang tidak dihabiskan. “Ada banyak anak yang kelaparan di luar sana dan bahkan di seluruh dunia ada banyak yang menderita.” Demikian ia selalu mengingatkan anak-anaknya. Ia sadar bahwa selama ini kata-katanya tidak didengarkan oleh anak-anaknya, maka ia berpikir untuk melukis Perjamuan Terakhir di tengah-tengah lingkungan kumuh agar mereka yang lapar menjadi tampak sungguh-sungguh hidup. Tidak lama setelah lukisan itu dipajang, orang-orang datang ke rumah Joey dan ceritapun tersebar. Orang-orang mengatakan bahwa lukisan itu menyentuh banyak hati dan menyembuhkan hidup banyak orang. Ini merupakan rahmat dari Tuhan.

Joey pun terkenang akan pengalaman konyol ketika ia berjumpa dengan dukun aneh. Ia sadar bahwa Tuhan dapat menggunakan orang-orang yang aku anggap remeh. Tuhan tetap dapat memancarkan cahaya kebijaksanaan-Nya melalui riak air. Sungguh benar, bahwa ada para murid yang sungguh kelaparan sedang menantiku. Para Rasul ini adalah anak-anak jalanan.

Sungguh menyakitkan untuk mengenang pengalaman di mana Joey dinyatakan sakit. Putus asa. Kata-kata Injil terasa tumpul. Mimpi buruk yang tak kunjung usai. “Apakah kita sungguh dapat mengandalkan Allah?”

Nabi Jeremia menulis tentang semak yang menanamkan akarnya di dalam tanah yang kering. Ketika musim hujan dan musim makmur tanaman itu tumbuh, namun pada musim kemarau tanaman itu menjadi layu dan mati. “Blessed is the man who trusts in the Lord, whose confidence is in Him. He will be like a tree planted by the water that sends out its roots by the stream. It does not fear when heat comes; Its leaves are always green. It has no worries in a year of drought and never fails to bear fruit.” Tuhan menjanjikan bahwa orang akan hidup tidak hanya di saat musim semi. Melainkan ia menunjukkan suatu iman yang membantu kita menghadapi musim dingin. Musim dingin akan datang, diikuti dengan musim panas. Jika akar iman kita menghujam begitu dalam sampai pada Air Hidup, kita akan dapat bertahan di saat susah dan tumbuh di musim semi.

Rasanya hanya dalam satu kedipan mata saja hidup berubah daripada menjadi kehancuran. Ia tidak pernah merasakan kepenuhan hidup. Bersama St. Thomas, ia berseru: “Aku sungguh percaya; tolonglah aku mengatasi ketidakpercayaanku.”

Baginya, Sang Guru Agung itu menghargai iman, seberapa besar dan kecilnya, setiap orang.  Ada pribadi-pribadi yang menjadi inspirasi bagi Joey, dalam memelihara pengharapan, yaitu Nelson Mandela dan Teilhard de Chardin (seorang Jesuit, sekaligus palaeontolog asal Perancis). Dalam masa konflik di Afrika, Nelson Mandela diasingkan dan ditawan bersama tawanan-tawanan lain. Satu hal yang membuat para tawanan tetap berpengharapan adalah: mereka bernyanyi bersama ketika mereka bekerja. Lagu-lagu itu mengingatkan mereka pada keluarga, rumah, dan suku yang perlahan mulai mereka lupakan.

Teilhard menganalogikan Tuhan sebagai seorang seniman: “Seperti seorang seniman yang mampu membuat kesalahan atau ketidakmurnian pada batu menjadi berarti dengan memahatnya atau membuat patung perunggu, demikian pula untuk menghasilkan garis yang elok atau sifat yang indah, Tuhan, tanpa menghindarkan kita dari kematian parsial atau kematian akhir, yang membentuk bagian penting dalam hidup kita, mengubah itu semua dengan mengintegrasikannya dalam rencana yang lebih baik—memampukan kita untuk percaya pada-Nya dengan penuh kasih. Bukan hanya penyakit kita yang tak terhindarkan itu, namun juga kesalahan-kesalahan kita, bahkan kesalahan yang sengaja kita lakukan, dapat dirangkul dalam transformasi itu, memampukan kita selalu untuk berpaling padanya. Tidak semuanya seketika menjadi baik ketika kita mencari Allah; namun segalanya dapat menjadi baik.”

Lukisan “Meja Harapan” merupakan jalan penyembuhan menuju kepenuhan. Baginya, itu adalah rahmat Tuhan. Sebenarnya dengan melukis itu ia sedang menceritakan kenyataan hidupnya. Pengalaman sakit itu menghasilkan krisis iman. Pada saat itu, Joey membutuhkan kejelasan. “Lord, heal my woundedness and brokenness and make me whole again.” Joey berkata : “Baru saat ini aku menyadari bahwa hari di saat aku sakit merupakan hari di mana aku mulai hidup.”

 

bersambung…

 


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s