Para Bocah Kumuh dalam Selembar Kanvas (i)

gambar: “hapag ng pag asa” (table of hope – joey a velasco – 2005)

Ribuan tahun yang lampau, di tanah yang terpisah ribuan kilometer dari Nusantara ini, terdapat kisah tentang seorang Guru Agung yang dengan rela dan jiwa besar menyongsong derita dan kematiannya. tanah itu adalah Yerusalem. Menjelang derita dan sengsaranya, Sang Guru itu memilih sebuah gubug sederhana untuk santap malam bersama para muridnya. ia tahu bahwa salah satu muridnya akan mengkhianatinya, namun ia diam, membiarkan segala sesuatunya mengalir sesuai dengan rencana Sang Pemilik Kehidupan.

Inilah alasan mengapa ia disebut sebagai Guru Agung, yaitu: dalam derita, khianat, bahkan bayang-bayang kematiannya, ia tetap membagikan kasihnya secara tulus. Pada akhirnya, kasihnya nyata dalam pengorbanan dirinya di kayu salib.

Setelah santap malam, Guru itu membasuh kaki para muridnya. Di tengah perjamuan dan pembasuhan itu, ia memberikan warisan spiritualnya. “inilah pintaku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti aku telah mengasihi kamu. tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”, Sang Guru Agung terhenti sejenak, kemudian berkata lagi, “kamu adalah sahabatku, jikalau kamu mewujudkan pintaku ini.” Demikian kata Yesus, Sang Guru Agung itu.

 

Ratusan tahun sesudah peristiwa itu, seniman terkemuka Leonardo da Vinci pernah melukiskan Yesus duduk di antara para rasulnya dalam kesempatan Perjamuan Terakhir. da Vinci memberi judul lukisan tersebut :”The Last Supper” (“Perjamuan Terakhir”). Memang, lukisan tersebut berkisah tentang saat-saat terakhir sebelum pengkhianatan Yudas, penyangkalan Petrus, sengsara hingga wafatnya Yesus. Demikian interpretasi seniman terkemuka asal Italia tersebut.

 

Saat ini, pada pintu masuk Seminari Tinggi Universitas Santo Thomas di Manila, kita akan memandang sebuah lukisan tentang Perjamuan Terakhir yang unik. Adalah seorang seniman jalanan asal Filipina, Joey A. Velasco, yang melukisnya. Ia melukiskan kisah Perjamuan Terakhir Yesus itu secara berbeda. Di sekeliling Yesus bukanlah para rasul penerus Warta Gembira, perintis gereja perdana. bukan. bukan para kudus yang selalu kita rayakan itu, melainkan Para Kumuh, bocah-bocah miskin dari kolong Metropolitan Manila. Usia mereka antara 4-14 tahun. Bersama Yesus mereka mencecap santapan perjamuan. Joey A. Velasco menamai lukisan itu “Hapag ng Pag-asa”, “The Table of Hope” (Meja Harapan).

 

Inspirasi lukisan Joey bukan berasal dari dunia idea yang abstrak, melainkan dari realitas sehari-hari di Manila. Selembar lukisannya itu merefleksikan lembaran hidup para bocah kumuh tumbal metropolitan Manila. “They Have Jesus: The Stories of the Children of Hapag”, demikian judul sebuah buku yang ditulis oleh Joey. Saya ingin membagikan isi buku itu. Selamat berefleksi. 🙂

***

 

“Aku telah melukis dengan tanganku dan aku juga melukis dengan hati”, demikian ungkap Joey. Lebih daripada seorang “artist”, Joey adalah seorang “heartist”. Ia merefleksikan pengalamannya sebagai pelukis.

Baginya, melukis dengan tangan berarti setia dengan prinsip-prinsip warna, sifat-sifat warna, coretan-coretan, terang dan gelap. Seringkali suatu karya dihasilkan dari potongan-potongan gaya dan teknik yang seorang serap dari ajaran sang guru. Pengaruh dari sang guru itu dapat diekspresikan dalam berbagai macam bentuk, seperti gambar, lukisan pemandangan alam, pemandangan laut, lukisan benda-benda mati, lukisan bunga dan tanaman, dan sebagainya. Lukisan itu diungkapkan dalam berbagai pendekatan seperti realisme (menggambarkan kenyataan yang benar-benar ada), surrealisme (berusaha membebaskan diri dari kontrol kesadaran), impresionisme (melukiskan kesan selintas dari suatu obyek), expresionisme(mengutamakan curahan batin secara bebas), kubisme (menggambarkan alam menjadi bentuk-bentuk geometris), dan abstrak(mengambil obyek dari dunia batin). Lukisan itu merupakan sinergi antara tangan dan kuas. Seorang seniman dapat mengambil jarak dari karyanya. Karya mengungkapkan diri pelukis. Dalam istilah estetika, seniman itu yang memberikan makna pada lukisannya.

 

Di lain pihak, melukis dengan hati lebih daripada itu semua. Melukis dengan hati berarti melihat beberapa hal yang tidak dapat dideteksi oleh mata telanjang. “the heart-painter” bukan hanya sekadar menatap lukisannya, namun lukisannya menatap dan berbicara kepadanya dalam tataran yang berbeda. Karya seninya yang menentukan makna diri pelukis. Hal itu terjadi secara spontan, tanpa direncanakan. Melukis dengan hati adalah sinergi antara hati dan sesuatu di balik (melampaui) kanvas tersebut. Ia tidak melukis sesuatu yang tidak dipercayainya atau sesuatu yang terpisah dari hidupnya. Ia tidak mempunyai rasa takut. Ia berhubungan bukan hanya dengan konsep-konsep dan ide-ide. Kuasnya adalah kebenaran. Ia menggosok lukisannya karena hidupnya telah disentuh oleh apa yang telah dilihatnya atau apa yang telah dilakukan terhadapnya. Ini merupakan proses “menyerap segalanya”. Melukis dengan hati juga berarti memberi kesaksian tentang apa yang dilukisnya. Ia membuktikan dirinya dengan mengalami apa yang dilukisnya. Melukis dengan hati adalah melukis dengan cara yang lebih dalam.

 
(kumpulan lukisan Joey dapat dilihat di: http://www.joeyvelasco.net/

bersambung…


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s