joyce (viii)

Pernahkah mendengar bahwa seorang bocah melahirkan anak? Demikianlah yang terjadi pada Joyce. Sekarang usianya 16 tahun. Ia melahirkan pada usia 15 tahun. Pada awalnya keluarganya mengira bahwa Joyce terkena santet. Begitu melihat perut yang besar itu, keluarganya membawa ke dukun. Saat itu usia kandungannya sudah 4 bulan. Dukun tidak bisa membantu. Baru setelah dibawa ke dokter kami tahu bahwa Joyce mengandung. Joyce tidak cerita karena malu terhadap neneknya.

Pada awalnya tentu saja Joyce dan keluarganya malu untuk keluar rumah, karena orang bergosip tentang mereka. Namun lama kelamaan mereka mulai terbiasa mendengar pembicaraan orang lain tentang mereka. Joyce berhubungan seks ketika berusia 14 tahun.

“Siapakah ayah dari anak ini?”

“Anak yang mana?”

“Maksudku anak dari Joyce.”

“Ah, binatang itu tinggal di Masbate. Joyce pada awalnya tidak berani bicara karena ia amat takut. Kakeknya kemudian memanggil polisi untuk menangkap binatang itu. Setan itu sekarang dipenjara. Ia terlibat narkotika.”

Temtem nama bayi itu. Usianya 9 bulan. Ayah dari bayi itu memang begitu sadis. Ia selalu memukul ibu dari bayi itu, Joyce. Ia memukul di wajah atau terkadang memukul rahangnya. Ia juga melempar bayi itu ke ranjangnya. Ketika masih berusia 2 bulan, bayi itu pernah digantung olehnya. Ia memegang pantat bayi itu dan hendak menjatuhkannya. Jika ia dapat berbuat seperti itu pada bayi yang tidak bersalah, tentu saja ia amat dapat melakukan tindakan kriminal. Tidak mengherankan jika sekarang ia berada di penjara.

Joey bertanya pada dirinya sendiri, perhatian apa yang dapat diberikan oleh Joyce kepada bayinya sementara dirinya sendiri membutuhkan perhatian? Ia belum bisa menghasilkan susu untuk diberikan pada bayinya. “Nemodat quod non habet” (Kamu tidak dapat memberikan apa yang tidak kamu miliki).

Bocah seusianya seharusnya bermain holahoop dengan teman-temannya di jalan. Ia memilih untuk berada di rumah sepanjang hari. Ia tidak sekolah. Ia cenderung terisolasi. Dalam arti lain, masa mudanya telah direnggut. Luka yang dialami oleh Joyce juga merupakan akibat dari kemiskinan. Di pemukiman kumuh dan pinggiran, orang tua tidak akan menginvestasikan hidup anaknya dalam pendidikan. Kadangkala kemiskinan mendesak orang tua untuk sesegera mungkin menikahkan anak-anaknya. Gadis muda di pemukiman pinggiran lebih rentan karena mereka tak berdaya. Masalah yang dihadapi oleh perempuan muda ini lebih terkait dengan masalah biologi: hubungan seksual, kehamilan, melahirkan, semuanya mempunyai resiko karena tubuh mereka tidak dipersiapkan untuk mendapatkan tekanan psikologis. Ada pula kelahiran akibat incest yang menyebabkan bayi cacat. Kadangkala bayi terlahir prematur.

Kenyataan-kenyataan semacam ini mengundang pertanyaan: mengapa hanya ada sedikit orang yang mengalami kebaikan sesuai dengan yang diharapkan Allah? Ada jurang yang menganga antara dunia ideal yang orang Kristen katakan sebagai ciptaan Allah dan dunia yang pada kenyataannya kita tempati.

Joyce mengalami kehancuran yang dalam. Ia terlukai secara fisik, psikologis, dan emosi. Rasa rendah diri yang begitu mendalam. Perlindungan adalah kata yang asing. Perlindungan terhadap anak hanyalah ilusi. Hasrat mendalam/kerinduan terdalam bagi kita yang mengalami kehancuran adalah keutuhan. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada hati yang hancur. Saat itu juga kamu merasa sendirian dan terisolasi. Kamu mencari jawaban namun tak kunjung ada. Mazmur 34.18 dan Mazmur 147.3.

 

***

 

Joey terkenang akan seorang pembimbing sekaligus sahabatnya, Fr. Chito Dajao. Fr. Chitolah yang memperkenalkan dirinya pada seni. Ia menjadi inspirasi bagi Joey untuk mengembangkan seni religius. Ketika Joey mengalami kecelakaan saat bermain bola, Fr. Chito membantu membayar biaya rumah sakit dengan menjual sebagian hasil karyanya. Dalam masa penyembuhan, Fr. Chito memberinya buku sketsa dan pensil. Ia mendukung bakat seni Joey dengan buku-buku seni dan peralatan-peralatan seni. Joey merasa bahwa Fr. Chito melakukan hal tersebut untuk menjadikan Joey sebagai asisten dalam studio lukisnya atau untuk mempersiapkan seorang seniman bagi konggregasinya.

Joey mempunyai rencana lain. Di tengah masa kursus seninya, Joey mengajukan pengunduran diri dari hidup religius, kepada pimpinannya. Beberapa bulan kemudian pengunduran dirinya diterima. Joey merasa bahwa kabar ini akan membuat Fr. Chito kecewa dan sakit hati. Joey kemudian mengembalikan semua peralatan seninya yang pernah diberikan oleh Fr. Chito. “Mengapa kamu mengembalikannya?” tanyanya. “Itu semua milikmu, aku mengembalikannya padamu bukan karena kamu adalah anggota konggregasi kami melainkan karena kamu adalah sahabatku.” Memang benar, Fr. Chito menjadi teman yang murah hati yang membimbing Joey, sampai akhir hayatnya. Seni adalah warisannya pada Joey. Setiap kali Joey menyelesaikan karya seni, ia merasa ia tersenyum bangga pada Joey dari atas sana.

Dari Fr. Chito, Joey belajar mengenali Allah: hanya jika kamu sungguh dikenali, kamu dapat sungguh dicintai. Tak ada yang dapat kusembunyikan di hadapan Allah. Allah mengenalku lebih baik daripada aku mengenali diriku. Di hadapan-Nya, aku lebih berdosa daripada yang selama ini aku sadari, dan sekaligus lebih dicintai oleh Allah.

“Adam, di manakah engkau?” Allah memanggil di tengah taman Eden. Adalah Adam yang bersembunyi dan bukan Allah. Allah mengambil inisiatif untuk mencari. Dan Yesus, melihat dosa kita bukan sebagai kecacatan, melainkan sebagai alasan baginya unyuk melakukan perjalanan dari sabda menjadi daging. Itu adalah alasan baginya untuk menyelamatkan kita.

Di dalam keluarganya, anak-anak Joey lebih dekat dengan ibunya daripada dengannya. Begitu kata “tatay (ayah)” disebutkan, Joey langsung bersiap. entahlah nama “Tatay” (yang berarti ‘ayah’) itu lebih diasosiasikan dengan ‘toilet’, daripada ‘ayah’. “Ayah, aku sudah selesai. Tolong bersihkan bokongku”, atau “Ayah, aku ngompol.” Demikianlah nama itu hanya muncul ketika anaknya selesai buang air besar atau saat menggantikan celana anaknya. Itulah tugas Joey. Saat membersihkan bokong anaknya merupakan momen yang berharga bagi Joey. Itu adalah kesempatan baginya untuk menyentuh mereka. Itu adalah kesempatan bagi mereka untuk menjadi lebih dekat dengan Joey. Membersihkan kotoran menjadi bagian dari proses untuk menjadi lebih dekat.

Mazmur 139 menunjukkan bahwa kita memiliki Allah yang mengetahui segala sesuatu: Pengetahuan Allah begitu tepat. Ia mengetahui setiap perkataan kita bahkan sebelum kita mengucapkannya. Setiap detail hidup kita, Ia kenali.

Ibarat lukisan, hidup kita hanyalah sebuah sketsa, tampak begitu kering dan tak hidup. Allah memberinya warna melalui kasih dan belarasa. Ia tinggal di dalam kita. Di sinilah kata melihat makna belarasa. Itu bukanlah gerak membungkuk dari posisi terhormat menjadi tidak terhormat. Itu bukan pula tindakan menyapa dari orang-orang di atas kepada mereka di bawah yang kurang beruntung; Itu bukan pula sikap simpati atau merasa kasihan kepada mereka yang gagal. Sebaliknya, belarasa berarti pergi berjumpa langsung dengan orang-orang dan tempat-tempat di mana penderitaan begitu hebat dan membangun rumah di sana.

Joey berharap dan ia amat yakin bahwa Joyce akan segera mendapat kesembuhan batin.

 

bersambung…

 

 

Iklan

tinay dan bonekanya (vii)

Tatapan yang gelap. Wajah pucat. Jiwa yang terluka. tidak satu kata pun dapat didengar dari mulut kecilnya, bukan karena ia malu. Ia menghisap jempolnya dan membawa sebuah boneka yang sudah usang. Ada trauma dalam diri bocah itu. Bagaimanakah stigma ini dapat dicabut sehingga orang lain dapat memandangnya karena kecantikannya dan bukan sebagai bocah yang bertahan dari pengalaman bengis yang menimpa dirinya. Joey mengaku gemetar ketika hendak menuilskan pengalaman hidup bocah ini. Sulit rasanya mengungkapkan rasa sakit dan pedih ke dalam kata-kata. Ketika seseorang terluka, saat itu kita akan melihat kapasitas bahasa yang diruntuhkan.

Nama bocah itu adalah Christina, namun tetangganya memanggilkan malaikat kecil, Tinay. Ia telah menarik dirinya dari orang lain. tak ada lagi selera bermain padanya. Ia selalu memilih sendirian dan selalu gemetar ketika melihat orang lebih tua darinya. Ibunya bekerja di luar negeri sebagai pembantu sewaan, sementara ayah tirinya pecandu obat. Ia anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak perempuannya berusia 18 tahun. ia dipaksa menikah karena ayahnya. Ayahnya adalah seorang ‘playboy’ dan pecandu. Itulah sebabnya Tinay selalu tampak sedih dan mempunyai tatapan yang kosong. Usia Tinay 5 tahun. Ia ditinggalkan jauh dari ibunya. Sementara ayahnya di penjara.

“Sungguhkah Tuhan mencintai kita? Mengapa ada orang-orang jahat yang menghancurkan masa depan seseorang dan anak-anak?” tanya bibinya sambil menatap tajam pada gambar “meja harapan”. Joey tak mampu menjawabnya karena pertanyaan yang sama juga muncul dalam benaknya. Pertanyaan ini merupakan ungkapan protes terhadap Allah yang kadang kala digambarkan sebagai Krisus yang tertidur lelap di belakang perahu ketika terjadi badai dahsyat. Di manakah Tuhan ketika kita amat membutuhkannya? Di manakah Tuhan ketika seorang ayah memperkosa putrinya di siang bolong? Kapankah kita akan dibebaskan dari kegelapan?

 

***

 

Tinay terluka dan hancur seperi bonekanya. Joey ragu apakah dalam kondisi saat ini ia dapat mengikuti pendidikan pada umumnya. Masa depannya amat suram. Joey teringat akan anaknya yang seusia dengan Tinay. Clarisse namanya. kadang-kadang, sebelum tidur Clarisse meminta ayahnya untuk menceritakan kisah horor. Bagi Joey, hal itu menyenangkan ketika bersama-sama bersembunyi di balik selimut. Dalam hidup Tinay, monster itu nyata, bukan fiksi atau topeng. Monster itu senantiasa datang bukan hanya pada malam hari, melainkan juga dalam mimpi buruk di siang hari.

Perkosaan anak-anak oleh orang tuanya amat menghancurkan masa depan anak tersebut. Penyebab pemerkosaan itu adalah karena masalah di dalam keluaga, misalnya karena orang tua mabuk. Kemiskinan dapat menekan seorang laki-laki menjadi predator bagi keluarganya. Dalam masyarakat Filipina, seorang laki-laki diharapkan oleh masyarakat untuk menjadi penyokong keluarga. Terperangkap dalam lingkaran setan kemiskinan dan tak dapat keluar seperti yang diharapkan, laki-laki FIlipina kehilangan motivasi untuk menjadi produktif dan lari pada minuman keras, judi, dan gelandangan, sebagian beralih pada kekerasan untuk kembali mendapatkan pengakuan dalam masyarakat.

Tak dapat dibayangkan bagaimana makhluk kecil seperti Tinay menghadapi badai. Ia tidak mampu melindungi dirinya sendiri. Ia akan dengan mudah diterbangkan oleh angin dan hujan. Ia tidak punya konsep mengenai kekuatan. Ia dapat dengan mudah dihempaskan oleh ombak besar. Tidak seperti anak remaja, ia begitu lemah. Ya, ada badai dalam hidup kita yang senantiasa menantang kita, namun kita diperlengkapi dengan keberanian yang cukup karena usia dan pengalaman untuk mengatasi terpaan badai. Karena kita seorang dewasa, kita diberi kemampuan untuk mengahadapi dan berdiri teguh di tengah badai dalam hidup, badai yang menerpa kita dan badai yang kita sebabkan. Badai yang demikianlah yang menerjang perahu Para Murid di danau Galilea, seperti yang dituliskan oleh Markus di dalam Injil. Dengan dikelilingi oleh pegunungan di tiga sisinya dan yang letaknya hanya sekitar 4 mil bersebarangan, Danau Galilea menjadi target utama keganasan alam. Markus bermaksud menjelaskan bahwa kekuatan Allah melampaui kekuatan alam.

Tidak ada seorang pun yang dapat lolos dari badai semacam itu. Kebaikan atau iman kita tak dapat menghindarkan kita dari pengalaman yang amat biasa dalam hidup kita itu. Peristiwa-peristiwa tragis datang dalam hidup tanpa memperhatikan siapa kita. Dan pengalaman itu kadang kala datang begitu tiba-tiba. Kita hanya dapat bertahan di tengah badai seperti itu jika kita mempunyai kepekaan yang kuat tentang siapa yang bersama kita di tengah badai. Para murid dalam ketakutannya melupakan hal itu. Kristus bersama mereka dan menuntunnya menyeberang dengan selamat. Iman mereka terbenam ketika mereka membangunkan Yesus, “Tidakkan kamu peduli bahwa kita hampir binasa?” Betapa mengerikan pertanyaan itu. Bagaimana mereka masih mempertanyakan kepedulian-Nya dalam terang semua peristiwa yang telah mereka saksikan. Ia telah menyembuhkan yang sakit, memberi makan yang lapar, dan menghibur yang bersedih. Para murid kehilangan imannya sesaat. Perkataan-Nya kemudian mengembalikan iman mereka. Kelak, Yesus akan mengutus para murid, “Pergilah ke seluruh dunia…dan lihatlah, Aku akan menyertaimu sampai pada akhir zaman.” Dengan iman yang diperbarui para murid pergi ke seluruh dunia dan mengubah dunia dengan pewartaan mereka.

C.S. Lewis menulis: “God whispers to us in our pleasures, speaks in our conscience, but shouts in our pains. It is His megaphone to rouse the deaf world.” Mungkin sebelumnya kita tuli terhadap sapaan Allah. Keadaan seperti ini membangunkan kita dan mengajak kita untuk berpikir, “Apakah aku siap menghadapi pengadilan terakhir yang akan datang?”

Joey selalu bertanya dalam hatinya, apakah aku hanya seorang pelukis atau aku juga dapat memberikan harapan bagi hidup seseorang? Apakah aku sunguh telah menjadi meja harapan bagi orang lain? Yesus menantang kita untuk menemukan Dia di dalam diri orang-orang yang kita jumpai. Dapatkah orang-orang di sekitar kita, pada gilirannya, menemukan Tuhan dalam diri kita? Atau justru mereka mencari pertolongan atau lari karena melihat badai yang lain dalam diri kita yang akan menghancurkan hidup mereka?

 

bersambung…

 

onse (vi)

Onse. Usianya, 10 tahun. Dalam bahasa Spanyol, “Onse” berarti “sebelas”. Ingusnya biasa mengalir dari kedua lubang hidung dan bentuknya menyerupai angka 11. Ketika ingusnya turun, Onse menjulurkan lidahnya ke atas untuk menyapu aliran ingus itu. Kadangkala ia menggunakan tangan kanannya untuk mengusap ingusnya lalu mengusapkannya ke mana saja ia ingini, entah ke tembok atau kepada temannya.

Onse adalah anak ke-2 dari 4 bersaudara. Yang sulung adalah putra ibunya dari suami pertamanya. Ayahnya bekerja sebagai kuli angkut pasir. Putra mereka yang bungsu dijual 3000 Peso kepada pasangan yang tidak mempunyai anak. Di samping keadaannya yang miskin, ayahnya mengkonsumsi narkoba. Ia selalu meminta uang kepada istrinya untuk melakukan perbuatan-perbuatan jahatnya itu.

Onse biasa membuat teman-temannya tertawa ketika ia berbicara karena ia gagap. Malangnya, temannya mengejek orang tuanya, terutama ibunya yang bekerja di klab malam sebagai penari bugil dan penyanyi. Mariz, ibu Onse, ibu muda yang mungil dan seksi, mempunyai tiga saudara perempuan yang bekerja di bar sebagai penghibur. Aling Binay, ibu mereka, menjual mereka ketika mereka remaja. Suaminya saat ini menyewakan Mariz untuk menari dari bar yang satu ke bar yang lainnya. Suaminya mengolok-olok Mariz. Ia mempersilakan istrinya menari dan menghibur pelanggan. Dengan cara ini ia bisa mendapatkan uang untuk membeli narkoba. Bukan masalah pula baginya ketika istrinya berjalan dengan rok mini, lalu para pemabuk di jalan bersiul kepadanya.

Onse tidak bersekolah.

“aku tidak mempunyai akta kelahiran maka aku tidak bisa sekolah.”

“ Aku ingin menjadi dokter agar aku dapat menolong orang”, Onse mengungkapkan cita-citanya dengan penuh keyakinan. Kalau Onse berbuat nakal, ayahnya akan memukulnya dengan pipa plastik.

Setelah beberapa saat berbincang, Joey kemudian menunjukkan gambar “meja harapan” itu kepada Onse. Joey lalu bertanya, “Apakah Yesus mencintai kita?”

“Ya”, jawab Ons

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena Ia yang telah menciptakan kita.”

“Apakah kamu belajar mengenai hal itu dari orang tuamu?”

Onse kemudian bercerita tentang ayahnya. “Ketika ayah dipenjara, aku selalu datang mengunjunginya. Ia dituduh merampas telepon gengggam. Namun ia sebenarnya sudah mempunyai telepon genggam. Ia dikhianati oleh temannya. Itulah sebabnya mengapa aku tidak ingin terlibat dengan geng. Aku ingin berteman dengan orang yang tidak mabuk-mabukkan, yang tidak melakukan perbuatan jahat. Ayah dipenjara selama dua minggu.”

Lanjutnya, “saudara sepupuku juga pernah dipenjara. Ia mencuri sepasang celana dari jemuran. Aku sudah mengatakan kepadanya agar tidak mencuri dan lebih baik bekerja, namun ia tidak mengikuti anjuranku. Aku sudah mengatakan pula bahwa aku akan memberikan uang dari tabunganku kepadanya agar ia tidak mencuri. Aku katakan bahwa ia akan mendapatkan hal yang lebih baik dengan bekerja daripada mencuri.”

Dalam hidupnya, Onse selalu diolok-olok oleh orang lain. Ketika ia bergabung dengan kelompok pemulung, ia merasa tidak aman karena ia pernah digigit dua anjing sekaligus di bokongnya. Pemilik rumah membiarkan anjingnya mengejarnya. Ketika berpindah dari rumah yang satu ke rumah yang lain, orang-orang selalu memandang rendah dirinya. “Orang-orang merendahkan kami, khususnya orang kaya. Mereka begitu angkuh.”

Dalam usianya itu, ia mengalami sakitnya tidak dipercaya oleh orang lain. Orang-orang dewasa bahkan menyakiti kepalanya beberapa kali. Ketika ia berhasil mengelak, mereka akan melemparnya dengan batu.

 

***

 

Dari Onse, Joey belajar memahami arti kemiskinan dari Yesus: dipandang remeh, dinilai sebagai kain lap. Seperti yang dikatakan dalam Kitab Sirach: “Manakala orang kaya tersandung, niscaya banyaklah penolongnya, dan meskipun ia mengucapkan yang bukan-bukan, namun dinyatakan benar. Tetapi manakala orang miskin tersandung, ia pasti ditegur juga dan meskipun berbicara dengan bijaksana, namun tidak diberi tempat. Bilamana orang kaya berbicara, maka semua berdiam diri serta memuji-muji  perkataannya setinggi langit. Sebaliknya, bilamana orang miskin berbicara, lalu orang berkata: ‘Siapa gerangan orang ini?’ dan kalau ia tergelincir, maka ia direbahkan sama sekali.”

Joey pernah mengalami hal yang demikian. Soerang seniman atau pelukis dipandang rendah oleh kebanyakan orang di Filipina. Seniman itu orang yang melakukan pekerjaan-pekerjaan hebat namun mendapat sedikit penghiburan. Hanya sedikit orang yang bisa menjadi seniman yang populer. Sebagian besar adalah orang-orang miskin yang dengan mudahnya dimanfaatkan oleh para pengusaha. Mereka tidak bisa menyelenggarakan pameran sendiri. Mereka selalu tergantung pada penyelenggara pameran. Keuntungan hasil pameran selalu diraup oleh sponsor.

Menjadi miskin lebih daripada tidak memiliki sesuatu. Menjadi miskin berarti dipandang remeh dan rendah. Salib bukan hanya lambang penderitaan, melainkan juga lambang kesia-siaan. Hanyalah orang-orang hina yang digantung di kayu salib. Mengikuti Kristus berarti siap untuk dianggap tidak berarti.

“Apa yang kamu lukis? Tidakkah kamu pikir bahwa itu hanya membuang-buang waktu?”

“Untuk apa kamu menulis buku?” “Akankah kita menghasilkan uang dengan ini?” “Mengapa kamu mengumpulkan anak-anak ini? Apakah kamu baru saja mengajaknya berkeliling?” Mereka akan tahu di mana kamu tinggal dan akan meminta uang lebih banyak lagi padamu.”

Joey tidak ingin anak-anaknya salah mengerti tentang dirinya. Joey tidak ingin anak-anaknya kemudian fokus pada kemiskinan dan tidak menjadi orang sukses secara finansial. Joey khawatir kalau anak-anaknya justru menjadi tidak tertarik dengan dunia bisnis. Ia bertanya dalam hati, “apakah ia sudah sungguh-sungguh memperhatikan orang miskin?”. Baginya kadangkala perbuatan amal kasih yang paling mudah untuk dilakukan adalah memberi uang kepada orang miskin. Itu amat mudah dilakukan apalagi jika kita dalam keadaan berlebih. Kita dapat tetap nyaman di ruangan kita yang ber-AC dan jauh dari kemiskinan, dengan itu saja orang lain sudah memuji kita. Di balik sikap seperti itu ada ketakukan…ketakukan untuk terlibat. Itulah yang tersulit dilakukan, terlibat.

Joey selalu menginginkan agar anak-anaknya dapat mencapai kesuksesan dalam karirnya…namun itu semua tidaklah berarti apabila hidup kita tidak dibagikan kepada orang lain, khususnya yang miskin. Joey mengenang pesan ibunya: “Hidup hanya akan berarti jika dan ketika hidup itu dibagikan kepada orang lain.”

 

bersambung…