Relevansi Filsafat

Filsafat!? Entahlah itu ilmu pengetahuan atau klenik. Di perguruan tinggi yang ada di Indonesia, Filsafat tidak sepopuler di Barat (Eropa-Amerika). Mengapa demikian? Entahlah. Saya belum bisa menjawabnya sekarang. Kita bisa belajar penting atau tidaknya Filsafat dari “Westerners” (orang-orang Barat – bukan dari kulonprogo, lho)…


***

Zaman modern adalah sebuah teka-teki. Kebanyakan orang di negara-negara Barat dimanjakan oleh berbagai macam fasilitas (canggih) yang ada. Sekalipun demikian, tetap saja ada kekosongan dalam hidup mereka, selalu ada ketidakpuasan. Mereka mengalami frustrasi terus-menerus, namun tidak dapat mengenali penyebabnya. Yang mereka ketahui hanyalah: semakin memiliki banyak uang dan peralatan praktis nan canggih itu, justru mereka semakin merasa kekurangan. Kemudian mereka berusaha mencari jalan keluar untuk mengisi kekosongan itu. Beberapa beralih pada obat-obatan, alkohol, dan aliran kepercayaan (ketiganya menjadi candu). Yang lain ingin menemukan solusi dalam keluarga dan jodoh, namun gagal. Beberapa yang lain lagi beralih pada praktek psiko-terapi, aroma terapi, dukun, ponari-sweat, ramalan, dan sejenisnya.

Mereka percaya bahwa permasalahan hidup mereka dapat diatasi dengan usaha tersebut. Namun mereka tidak sadar bahwa ‘solusi’ tersebut hanya bisa bekerja untuk sementara waktu saja. ‘Solusi’ itu justru menambah masalah.

Orang-orang tidak menyadari keberadaan dan kegunaan filsafat, khususnya untuk menyikapi permasalahan yang ada, yaitu kesulitan untuk menemukan ketenangan dan mengisi kekosongan dalam hidup yang begitu ramai. Kalau pun menyadari keberadaan filsafat, mereka tetap tidak mau menggunakannya karena ada rasa takut-takut dan malas.

Sebenarnya solusi yang sebenarnya begitu dekat dengan diri kita, nggak jauh-jauh amat coy. Orang-orang Barat itu bagaikan orang yang sedang haus lalu minum dari kubangan penuh lumpur, yang letaknya di tepi sungai yang airnya melimpah, segar, bersih, dan tenang. Entah orang itu tidak menyadari keberadaan sungai itu, atau mereka tidak tahu bahwa mereka bisa meminum air sungai itu. Lumpur itu melambangkan ‘solusi-solusi semu’ tersebut. Sungai melambangkan filsafat.

Selama 2500 tahun ini, masyarakat Barat menghasilkan banyak pemikir handal, yang mempertanyakan secara mendasar tentang kehidupan dan keberadaan manusia, seperti misalnya: apa yang sungguh bermakna dalam hidup? bagaimanakah kita harus hidup?
untuk apa manusia diciptakan? bagaimana kita memahami cinta, kematian, kesedihan, harapan, kebebasan, keadilan, dan keindahan? Bagaimana cara menghargai kehidupan ini? bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan yang sejati? Pertanyaan dan pencarian akan “yang sejati” senantiasa mengusik hati. “yang sejati” dapat ditelusuri dan didalami melalui pertanyaan “mengapa?”. Hidup adalah serangkaian pertanyaan “mengapa?”. Sungguh disayangkan bahwa banyak orang sering mengajukan pertanyaan serupa kepada dirinya sendiri, namun mereka hampir tidak pernah belajar dari para filsuf untuk melihat apa yang telah dikatakan oleh para pemikir handal itu mengenai permasalahan yang ada. Ada banyak alasan untuk enggan masuk ke dalam diskusi filosofis itu, namun yang utama adalah kemalasan dan sifat takut-takut. Mencari tulisan para filsuf dan membacanya dengan penuh perhatian adalah usaha yang tampak menggelisahkan, mungkin karena usaha itu tampak terlalu sulit atau amat membutuhkan usaha keras.

Ada perbedaan antara menemukan sendiri suatu kesimpulan atau titik terang atas permasalahan, dan begitu saja menerima perkataan orang lain. Hal yang pertama itu akan bertahan lama; itu adalah milik kita sendiri dan kita berusaha untuk itu, dan itulah yang dibutuhkan. Sedangkan hal yang kedua akan mudah untuk diabaikan.

Titik kunci yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara otonomi dan heteronomi. Otonomi adalah kemampuan untuk mengandalkan diri sendiri (tidak bergantung pada yang lain) dan memotivasi diri dari dalam. Heteronomi adalah bergantung pada sesuatu atau seseorang di luar diri sendiri. Alkohol, obat bius, dukun, dll., merupakan contoh solusi eksternal. Itu justru tidak akan menyelesaikan masalah.

Dalam memanfaatkan filsafat dibutuhkan kemerdekaan, pikiran yang terbuka, dan kemandirian (otonomi). Filsafat menguji kebenaran dari berbagai macam kepercayaan untuk menemukan mana yang sejati dan mana yang palsu. Kata para filsuf, hanya melalui cara itulah manusia memperoleh pencerahan. Sapere aude! (Dare to know!) – “beranilah menggunakan pikiranmu sendiri!” – itulah semboyan dari Abad Pencerahan.

Tentu saja, tidak semua jawaban akhir bisa didapat di dalam Filsafat. Justru terkadang tujuan Filsafat bukanlah untuk menjawab pertanyaan, melainkan untuk merumuskan pertanyaan baru lagi yang lebih tajam. Belajar dari tradisi filsafat dan juga para filsuf, kita perlu berpikir dan memandang setiap permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pandangan yang luas dan mendalam terhadap suatu permasalahan.

Ketika orang-orang mengangkat kepala mereka dari kubangan lumpur itu, dan melihat sungai yang mengalir di dekatnya, mereka tetap tidak akan meminum air sungai itu, karena alasan yang sudah disebut di atas, yaitu kemalasan dan rasa taku-takut/malu-malu. Apakah sungainya terlalu dalam? Bukankah berenang di sana adalah hal yang sulit? Kalau mereka mau menerima filsafat, mereka pasti akan terkejut dan gembira. Jerih-payah kita untuk mendalami filsafat akan dilunasi oleh hasilnya.

Filsafat sangat berguna bagi kita. Itu membantu kita untuk bersikap kritis terhadap kenyataan di sekitar dan diri sendiri, menata pikiran, dan akhirnya menemukan ketenangan dan kemerdekaan dari dalam diri di tengah dunia yang hiruk-pikuk. Marcus Aurelius mengatakan bahwa yang menjadi kerinduan setiap manusia adalah kedamaian. Manusia mencari tempat menyendiri, seperti rumah di pedesaan, tepi pantai, dan pegunungan. Keinginan seperti itu adalah sesuatu yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebenarnya kita memiliki kemampuan untuk menyendiri ke dalam diri kita sendiri, ke dalam pikiran kita. Kebebasan dari segala hiruk-pikuk atau kedamaian bisa dicapai
jika kita mampu menata dengan baik dan tepat pikiran kita.

***

Ya, demikianlah penjelasan mengenai Filsafat. Jika merasa tertarik untuk mendalaminya. Bisa dicoba membaca: tulisan Grayling, ‘The Uses of Philosophy’ dalam bukunya yang berjudul The Heart of Things: Applying Philosophy 21st Century, London: Phoenix, 2005.


semoga berguna.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s