Fundamentalisme: Korupsi Paradigma dalam Globalisasi

Kita saat ini hidup di era kesejagadan, atau istilah kerennya, era globalisasi. Dewasa ini nyaris tidak ada seorang pun yang tidak tahu apa itu globalisasi. Maka penjelasan saya ini mungkin hanya akan menjadi usaha nguyahi segara (idiom jawa: berbagi hal kecil kepada orang yang luas wawasan dan kaya pengalaman). Meskipun demikian, saya tetap harus bicara mengenai globalisasi, karena globalisasi/modernitas adalah konteks munculnya fundamentalisme.

 

Apa itu globalisasi?

Globalisasi adalah suatu proses yang sungguh-sungguh bercakupan global, seluas globus. Ahli Geografi David Harvey menyebut globalisasi sebagai gejala “pemadatan ruang dan waktu; atau pengerutan dunia.” Teoretikus sosial Anthony Giddens menyebutnya “perentangan waktu dan ruang.” Baik mengkerut atau merentang, keduanya sama-sama ingin mengatakan bahwa di era globalisasi ini, orang-orang menjadi lebih dapat saling berhubungan–secara fisik, legal, kultural, dan psikologis—dalam “satu dunia”. Waktu dan ruang tak lagi kita alami sebatas lingkup suku atau negara, melainkan seluas bola dunia. Bukan hanya ruang dan waktu, melainkan cara kita berpikir dan merasa juga semakin merentang seluas jagad. Misalnya, bagaimana dalam hitungan detik emosi kita tidak lagi dipengaruhi hanya oleh apa yang terjadi pada lingkup kecil di Jakarta, tetapi oleh semakin banyak peristiwa yang terjadi jauh di seberang sana, seperti momen ketika penyerang Inter Milan, Diego Milito, menjebol gawang Muenchen dalam laga Final Liga Champion di stadion Bernabeu, Spanyol. Demikian pula, dalam hal kultur, ekonomi, politik, hukum, bisnis, dsb-nya, kita berpikir, merasa, dan bertindak dengan belajar dari apa yang terjadi atau dipikirkan di tempat-tempat jauh, bahkan yang tidak pernah kita lihat.

Dua wajah globalisasi

Globalisasi, di satu sisi dapat menjadi batu pijakan bagi manusia untuk semakin berkembang menjadi lebih baik. Di sisi lain, globalisasi memicu terjadinya eksploitasi manusia dan lingkungan hidup di negara miskin dan berkembang, serta membangkitkan gerakan fundamentalisme agama. Pada sisi yang kedua ini, globalisasi tidak dilihat sebagai batu pijakan, melainkan batu sandungan. Dengan kata lain, globalisasi itu membawa tuah sekaligus tulah.

Globalisasi itu membawa tuah atau berkat. Suatu Majalah dapat diterbitkan setiap bulannya, selain karena kerja keras redaktur, juga karena adanya sarana komunikasi global, yaitu internet. Para kontributor tulisan tidak perlu menggunakan merpati untuk mengirim surat, yang dalam waktu satu minggu belum tentu sampai pada tempat tujuan, mengingat tempat tujuan itu adalah sebuah kota di belahan Eropa sana. Kita dapat semakin diyakinkan—melalui ”Koin Prita”—bahwa jejaring sosial dunia maya dapat menggerakkan aksi solidaritas di seluruh Nusantara melawan ketidakadilan. Internet hanyalah salah satu percikan dari perkembangan teknologi, yang membuat hidup kita menjadi lebih efektif dan efisien.

Namun, tulah atau kutuk akibat Globalisasi pun tidak terhindarkan. Dunia pendidikan tidak luput dari pengaruh pasar bebas yang penuh persaingan. Memang, kualitas intelektual atau akademik akan terpacu dan berkembang dengan baik bagi siswa-siswa yang memang ber-IQ tinggi; para lulusannya, bila dikelola dengan baik, akan dapat dengan mudah bersaing di pasaran dunia. Namun, kompetisi dalam bidang intelektual sangat berpotensi memunculkan eksklusivitas dan marginalisasi sosial baik dalam tingkat pergaulan antarsiswa di sekolah maupun dalam masyarakat luas. Tekanan pada nilai kemenangan dan persaingan mengabaikan keutamaan manusiawi lainnya. Akibatnya, mereka yang tidak mampu menjadi frustrasi karena kemampuannya yang lain tidak diperhatikan dan dikembangkan.

Tulah lainnya. Dari terminal Bawen sampai Pasar Ungaran berjajar pabrik-pabrik; sambung-menyambung menjadi satu di bawah payung kapitalisme, sekutu globalisasi. Ada dampak baik bagi desa-desa sekitar, yaitu jalan-jalan di desa tak lagi berlumpur karena sudah diaspal; listrik dan telepon juga bisa diakses. Namun, sawah-sawah pelan-pelan terkikis oleh pembangunan pabrik. Remaja yang baru lulus SMA terpaksa harus memilih bekerja di pabrik, karena hasil bertani tak cukup untuk membiayai hidup. Cara pandang terhadap pendidikan pun berubah. Kuliah itu hasilnya tidak bisa langsung dinikmati; buku-buku tidak bisa dipakai untuk menyambung napas. Keluarga miskin mendesak anaknya untuk bekerja di pabrik, dengan begitu uang bisa didapat setiap bulannya. Sedihnya, pabrik menerapkan sistem kontrak terhadap buruhnya. Itu berarti peluang diangkat menjadi karyawan tetap sangat kecil. Demikian, deretan tulah itu masih bisa ditambah lagi hingga tak terbatas.

Tiga golongan orang

Di atas itu hanyalah potret pengalaman, memang miskin data-data statistik, namun cukup untuk digunakan sebagai dasar refleksi berikut ini. Sebagaimana lingkaran memiliki sisi cekung dan cembung, demikian juga globalisasi mempunyai sisi berkat dan sisi kutuk. Itulah ambivalensi dari globalisasi. Terhadap ambivalensi itu, muncul reaksi-reaksi yang berbeda-beda. Ada tiga golongan orang.

Orang golongan pertama adalah orang yang memuja dan memuji globalisasi. Para pemuja globalisasi pertama-tama adalah para pelaku bisnis lintas negara. Kemudian pengikut lainnya adalah orang-orang yang dikatakan sebagai the haves. Dalam rimba globalisasi berlaku hukum ‘darwinisme sosial’, survival of the fittest: yang punya uang dan properti paling banyak, ia yang exist. Buruh, alam, dan mesin itu sama; sama-sama alat produksi, demi kemuliaan pasar yang lebih besar. Credonya, “aku berbelanja, maka aku ada”, atau “aku adalah apa yang aku pakai atau miliki”. Tempat peziarahannya adalah mall dan segala macam pusat perbelanjaan dan hiburan. Setiap hari dengan penuh kesetiaan dan keyakinan mereka berarak dari etalase yang satu menuju etalase yang lain. Mereka tahu kepada siapa mereka percaya, yaitu teknologi; tak ada yang tak mungkin bagi teknologi. Bagi beberapa orang pujaannya adalah dirinya sendiri. Mereka tak kenal lelah berkicau (twitter) sepanjang hari dan jumlah temannya tak terhingga di dunia maya, namun miskin aksi dan relasi dalam dunia nyata. Dengan kacamata kudanya, mereka memandang segala sesuatu yang dilahirkan dari rahim globalisasi itu amat sangat baik adanya. Memang, globalisasi bukan hanya soal perdagangan bebas, tapi juga soal pandangan hidup yang meremehkan dari mereka yang kuat terhadap mereka yang lemah.

Orang golongan kedua adalah orang yang alergi atau lebih tepatnya takut terhadap globalisasi. Sedalam-dalamnya mereka menghirup yang tercium adalah aroma kebusukan dari globalisasi. “Adakah sesuatu yang baik yang datang dari globalisasi?” demikian tanyanya dengan sinis. Mereka disebut sebagai kelompok fundamentalis agama (ada pula fundamentalisme etnis). Mereka berjihad memerangi modernitas dan globalisasi, termasuk paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Mereka mengklaim sebagai pemilik tunggal kebenaran, dan orang lain yang berbeda pandangan dengannya adalah sesat. “Di luar agamaku, tidak ada keselamatan”, demikian ungkapan iman mereka. Kalau begitu, mereka melihat agama lebih sebagai benteng untuk berlindung dari ancaman, daripada sebagai jembatan untuk membangun komunikasi. Ada sebuah universitas di wilayah sekitar Tangerang, pihak universitas mengharuskan umat agama lain untuk mengikuti ibadat mereka, dengan ancaman drop out bagi murid yang tidak mentaati itu (ini jelas adalah kekerasan). Di Indonesia, fundamentalisme dalam Islam di antaranya, FPI, Hizbut Tahrir Indonesia, dll, yang mengusahakan berdirinya negara Islam. Di dalam Protestan dan Katolik, ada gerakan Pentakostalisme yang begitu menekankan pada bahasa roh, penyembuhan, dan “mukjizat-mukjizat” (namun kita tidak bisa sembarangan menilai macam-macam denominasi dalam Kristen atau pun gerakan karismatik Katolik yang memunyai ciri yang sama sebagai pentakostalisme). Bagi mereka, teologi disebut kredibel jika mau menerima Allah yang berkuasa mutlak. Sumber otoritas itu bagi fundamentalis Protestan: Kitab Suci, fundamentalis Katolik: ajaran para Paus pra-Konsili Vatikan II, dalam Islam: Al-Quran dan Al-Sunnah. Sikap non-komunikatif ini mengancam masa depan. Dalam perkembangan ekstrem, sikap seperti itu melahirkan intoleransi, kekerasan, bahkan terorisme. Sumbangan penting dari fundamentalisme barangkali adalah peringatan akan ciri merusak dari modernitas. Yang menjadi masalah: mereka terlalu mengekstremkan ciri merusak itu, sehingga tidak cukup obyektif melihat hal-hal konstruktif lain. Lebih dalam lagi, manusia-manusia yang termasuk dalam fundamentalis ini melihat situasi dunia yang kompleks sebagai bentuk end of the world, sebagai kekacauan yang tak teratasi. Usaha untuk membenahi dunia menjadi tidak mungkin. Yang tinggal hanyalah rasa pesismis, tidak berdaya. Helplessness ini menjadi ciri setiap gerakan fundamentalis. Untuk itu mereka menolak realitas dan begitu saja lari kepada Yang Ilahi. Secara tidak disadari, mereka mengamini apa yang dikritik oleh Karl Marx, yaitu “agama adalah candu bagi masyarakat.”

Orang golongan ketiga adalah orang yang mampu dan mau melihat kebaikan pada globalisasi, namun tetap kritis terhadap kebaikan itu. Mereka tidak mengambil sikap oposisi terhadap globalisasi, karena sadar bahwa kebaikan pada globalisasi dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Jika beragama, mereka akan bersikap inklusif, menghargai perbedaan dan mau belajar dari yang lain. Mereka tidak asing dengan jejaring sosial, namun juga tidak tuli dan tumpul hati terhadap derita sesama dalam dunia nyata. Mereka hidup di tengah dunia yang kompleks ini, namun juga mampu menemukan wajah Yang Transenden dibalik wajah muram dunia. Mereka punya logika: globalisasi adalah sesuatu yang, suka-tidak suka, pasti kita alami sepanjang hayat. Maka, persoalannya bukan ‘ada’ atau ‘tidak-adanya’ globalisasi, melainkan bagaimana globalisasi itu digunakan. Memang, bukan pertama-tama perkara pro atau contra, melainkan soal mengenali secara utuh wajah dan logika globalisasi, kemudian menggunakan globalisasi itu sebagai alat untuk berdamai kembali dengan ciptaan (lingkungan hidup), sesama, dan Allah.

 

Wabah menular: korupsi paradigma

Globalisasi biang fundamentalisme. Golongan orang pertama dan kedua, meskipun beroposisi, namun memiliki kesamaan, yaitu sama-sama jatuh pada sebuah kutub fundamentalisme. Golongan pertama, fundamentalisme pasar; golongan kedua, fundamentalisme agama. Apa yang disebut fundamentalisme itu bisa disebut juga sebagai pemikiran ideologis. Pemikiran ideologis adalah pemikiran yang berpegang pada satu teori, kutub atau satu ajaran yang dianggap sebagai kebenaran mutlak. Lalu mereka memaksakan pandangannya pada orang lain.

 Korupsi, berasal dari kata Latin: “cor”, bersama, dan “rumpere”, memecah, membuat menjadi busuk. “corruptio” berarti tindakan pembusukan yang dilakukan bersama-sama. Dalam kaitannya dengan fundamentalisme, korupsi di sini berarti pembusukan paradigma. Paradigma fundamentalis membuat sesuatu menjadi busuk, artinya merusak esensi segala sesuatu. Paradigma yang membusuk itu kemudian digunakan untuk melihat realitas. Akibatnya, tindakan dan relasi dengan dunia pun menjadi rusak. Esensi manusia: pribadi bermartabat, merdeka, dan sederajat, dirusak oleh fundamentalisme pasar menjadi sebatas alat produksi yang bisa dieksploitasi oleh pemilik uang dan kuasa. Esensi teknologi: sarana untuk membantu manusia bertumbuh menjadi lebih baik, diputarbalikkan menjadi sesuatu yang dipuja dan dipuji manusia. Fundamentalis agama merusak esensi kebenaran menjadi hanya sebatas teks pada kitab suci. Mereka merusak esensi iman menjadi sebatas sebuah pegangan yang memberikan aman, padahal iman, sebagaimana dalam panggilan Abraham (dalam agama-agama Abrahamaik), justru merupakan peziarahan, keresahan perjalanan mencari Tuhan. Allah sebagai tujuan hidup, dijadikan sarana untuk membenarkan kekerasan. Memang, di mana dua atau lebih fundamentalis berkumpul, di situ terjadi kebusukan. Dengan adanya globalisasi, daya jangkit wabah tidak hanya seluas otak, melainkan seluas bola dunia.

 

Dipanggil untuk hidup dalam tegangan

            Di era kesejagadan, kita dipanggil untuk menghidupi tegangan antara dua kutub fundamentalisme, baik pasar maupun agama. Berikut ini potret pengalaman saya hidup dalam tegangan. Tahun ini adalah tahun ke-5 saya menapaki jalan mlaratwadhat-taat, sebagai calon imam. Ungkapan ini ada benarnya:”Aku memilih menjadi calon imam supaya hati bisa damai dan tentram, terbebas dari hiruk-pikuk dunia.” Namun, itu tidak sepenuhnya benar. Panggilan imamat bukanlah ajakan untuk lari dari hiruk-pikuk dunia. Justru sebaliknya, itu adalah jalan untuk masuk ke dalam dunia, namun tidak tersesat di dalam belantara dunia ini. Kedamaian itu licin bagai belut, sekejap saja dirasa kemudian lenyap. Kalau menjadi imam karena ingin hidup damai, tenteram dan terbebas dari hiruk-pikuk dunia, maka siap-siaplah untuk kecewa, karena itu baru bisa dicapai setelah badan lebur dengan tanah. Selama hayat dikandung badan yang ditemukan melulu adalah “kegelisahan”.

Dalam pengalaman saya, kegelisahan itu nyata. Di satu sisi mempunyai keinginan pribadi berdasarkan suara hati, namun di sisi lain perlu taat kehendak pimpinan ordo. Di satu sisi berupaya hidup mengandalkan Allah, di sisi lain ditantang untuk mengandalkan segala sarana manusiawi. Di satu sisi perlu membina hidup doa tanpa putus, di sisi lain menjalani karya secara total. Di dalam masa studi filsafat ini, ada adagium: “tidak ada doa yang lebih berkenan bagi Allah, daripada belajar”. Harus bisa duduk untuk belajar secara mendalam, namun ada tanggung jawab untuk pergi merasul. Akrab dengan teknologi dan barang-barang duniawi, namun setia pada kaul kemiskinan. Menghayati kaul kemurnian, namun tetap dapat akrab dengan teman perempuan. Itulah tegangan antara dua kutub; kutub yang satu dihayati, yang lain tidak diabaikan. Itu tegangan yang saya alami. Saya masih ingusan dalam menghayati itu. Orang lain, tentu mempunyai bentuk yang lain dan khas.

Kita dipanggil untuk masuk dalam orang golongan ketiga, yaitu orang yang senantiasa seimbang. Prinsip hidup seimbang ini tidak sama dengan sikap nanggung atau suam-suam kuku. Prinsip ini juga melawan penyakit “ketidakpedulian” dan “ikut-ikutan”. Lebih mudah berpijak pada salah satu kutub dan tak acuh terhadap kutub yang lain, daripada menghidupi tegangan itu. Hidup dalam tegangan tampaknya menggelisahkan, namun itu sebenarnya bentuk kemerdekaan. Merdeka dari pandangan fundamentalis yang sempit dan busuk. ‘Keterlibatan’ di tengah dunia sangat tergantung pada ‘cara pandang’ terhadap dunia. Dunia tidak bisa begitu saja dipandang secara hitam atau putih, buruk atau baik. Baik dan buruk, keduanya tumbuh bersamaan di dunia. Begitu juga di dalam globalisasi, aspek tulah dan tuah tumbuh bersamaan, entah mana yang dominan. Di satu sisi, mereka memanfaatkan yang baik pada globalisasi, namun di sisi lain, bersikap kritis terhadap globalisasi dengan segala simbolnya.

Hidup dalam tegangan bukanlah utopia. Untuk sampai ke sana dibutuhkan: keterbukaan, kerelaan untuk menimbang dan melihat dari sudut pandang lain, dan kemauan untuk selalu belajar dari setiap pengalaman untuk menjadi lebih baik. Paradigma yang seimbang inilah paradigma yang sehat. Hanya dengan paradigma yang sehat ini korupsi paradigma bisa diatasi.

 

 

Jakarta.06.06.10

Iklan

Relevansi Filsafat

Filsafat!? Entahlah itu ilmu pengetahuan atau klenik. Di perguruan tinggi yang ada di Indonesia, Filsafat tidak sepopuler di Barat (Eropa-Amerika). Mengapa demikian? Entahlah. Saya belum bisa menjawabnya sekarang. Kita bisa belajar penting atau tidaknya Filsafat dari “Westerners” (orang-orang Barat – bukan dari kulonprogo, lho)…


***

Zaman modern adalah sebuah teka-teki. Kebanyakan orang di negara-negara Barat dimanjakan oleh berbagai macam fasilitas (canggih) yang ada. Sekalipun demikian, tetap saja ada kekosongan dalam hidup mereka, selalu ada ketidakpuasan. Mereka mengalami frustrasi terus-menerus, namun tidak dapat mengenali penyebabnya. Yang mereka ketahui hanyalah: semakin memiliki banyak uang dan peralatan praktis nan canggih itu, justru mereka semakin merasa kekurangan. Kemudian mereka berusaha mencari jalan keluar untuk mengisi kekosongan itu. Beberapa beralih pada obat-obatan, alkohol, dan aliran kepercayaan (ketiganya menjadi candu). Yang lain ingin menemukan solusi dalam keluarga dan jodoh, namun gagal. Beberapa yang lain lagi beralih pada praktek psiko-terapi, aroma terapi, dukun, ponari-sweat, ramalan, dan sejenisnya.

Mereka percaya bahwa permasalahan hidup mereka dapat diatasi dengan usaha tersebut. Namun mereka tidak sadar bahwa ‘solusi’ tersebut hanya bisa bekerja untuk sementara waktu saja. ‘Solusi’ itu justru menambah masalah.

Orang-orang tidak menyadari keberadaan dan kegunaan filsafat, khususnya untuk menyikapi permasalahan yang ada, yaitu kesulitan untuk menemukan ketenangan dan mengisi kekosongan dalam hidup yang begitu ramai. Kalau pun menyadari keberadaan filsafat, mereka tetap tidak mau menggunakannya karena ada rasa takut-takut dan malas.

Sebenarnya solusi yang sebenarnya begitu dekat dengan diri kita, nggak jauh-jauh amat coy. Orang-orang Barat itu bagaikan orang yang sedang haus lalu minum dari kubangan penuh lumpur, yang letaknya di tepi sungai yang airnya melimpah, segar, bersih, dan tenang. Entah orang itu tidak menyadari keberadaan sungai itu, atau mereka tidak tahu bahwa mereka bisa meminum air sungai itu. Lumpur itu melambangkan ‘solusi-solusi semu’ tersebut. Sungai melambangkan filsafat.

Selama 2500 tahun ini, masyarakat Barat menghasilkan banyak pemikir handal, yang mempertanyakan secara mendasar tentang kehidupan dan keberadaan manusia, seperti misalnya: apa yang sungguh bermakna dalam hidup? bagaimanakah kita harus hidup?
untuk apa manusia diciptakan? bagaimana kita memahami cinta, kematian, kesedihan, harapan, kebebasan, keadilan, dan keindahan? Bagaimana cara menghargai kehidupan ini? bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan yang sejati? Pertanyaan dan pencarian akan “yang sejati” senantiasa mengusik hati. “yang sejati” dapat ditelusuri dan didalami melalui pertanyaan “mengapa?”. Hidup adalah serangkaian pertanyaan “mengapa?”. Sungguh disayangkan bahwa banyak orang sering mengajukan pertanyaan serupa kepada dirinya sendiri, namun mereka hampir tidak pernah belajar dari para filsuf untuk melihat apa yang telah dikatakan oleh para pemikir handal itu mengenai permasalahan yang ada. Ada banyak alasan untuk enggan masuk ke dalam diskusi filosofis itu, namun yang utama adalah kemalasan dan sifat takut-takut. Mencari tulisan para filsuf dan membacanya dengan penuh perhatian adalah usaha yang tampak menggelisahkan, mungkin karena usaha itu tampak terlalu sulit atau amat membutuhkan usaha keras.

Ada perbedaan antara menemukan sendiri suatu kesimpulan atau titik terang atas permasalahan, dan begitu saja menerima perkataan orang lain. Hal yang pertama itu akan bertahan lama; itu adalah milik kita sendiri dan kita berusaha untuk itu, dan itulah yang dibutuhkan. Sedangkan hal yang kedua akan mudah untuk diabaikan.

Titik kunci yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara otonomi dan heteronomi. Otonomi adalah kemampuan untuk mengandalkan diri sendiri (tidak bergantung pada yang lain) dan memotivasi diri dari dalam. Heteronomi adalah bergantung pada sesuatu atau seseorang di luar diri sendiri. Alkohol, obat bius, dukun, dll., merupakan contoh solusi eksternal. Itu justru tidak akan menyelesaikan masalah.

Dalam memanfaatkan filsafat dibutuhkan kemerdekaan, pikiran yang terbuka, dan kemandirian (otonomi). Filsafat menguji kebenaran dari berbagai macam kepercayaan untuk menemukan mana yang sejati dan mana yang palsu. Kata para filsuf, hanya melalui cara itulah manusia memperoleh pencerahan. Sapere aude! (Dare to know!) – “beranilah menggunakan pikiranmu sendiri!” – itulah semboyan dari Abad Pencerahan.

Tentu saja, tidak semua jawaban akhir bisa didapat di dalam Filsafat. Justru terkadang tujuan Filsafat bukanlah untuk menjawab pertanyaan, melainkan untuk merumuskan pertanyaan baru lagi yang lebih tajam. Belajar dari tradisi filsafat dan juga para filsuf, kita perlu berpikir dan memandang setiap permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pandangan yang luas dan mendalam terhadap suatu permasalahan.

Ketika orang-orang mengangkat kepala mereka dari kubangan lumpur itu, dan melihat sungai yang mengalir di dekatnya, mereka tetap tidak akan meminum air sungai itu, karena alasan yang sudah disebut di atas, yaitu kemalasan dan rasa taku-takut/malu-malu. Apakah sungainya terlalu dalam? Bukankah berenang di sana adalah hal yang sulit? Kalau mereka mau menerima filsafat, mereka pasti akan terkejut dan gembira. Jerih-payah kita untuk mendalami filsafat akan dilunasi oleh hasilnya.

Filsafat sangat berguna bagi kita. Itu membantu kita untuk bersikap kritis terhadap kenyataan di sekitar dan diri sendiri, menata pikiran, dan akhirnya menemukan ketenangan dan kemerdekaan dari dalam diri di tengah dunia yang hiruk-pikuk. Marcus Aurelius mengatakan bahwa yang menjadi kerinduan setiap manusia adalah kedamaian. Manusia mencari tempat menyendiri, seperti rumah di pedesaan, tepi pantai, dan pegunungan. Keinginan seperti itu adalah sesuatu yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebenarnya kita memiliki kemampuan untuk menyendiri ke dalam diri kita sendiri, ke dalam pikiran kita. Kebebasan dari segala hiruk-pikuk atau kedamaian bisa dicapai
jika kita mampu menata dengan baik dan tepat pikiran kita.

***

Ya, demikianlah penjelasan mengenai Filsafat. Jika merasa tertarik untuk mendalaminya. Bisa dicoba membaca: tulisan Grayling, ‘The Uses of Philosophy’ dalam bukunya yang berjudul The Heart of Things: Applying Philosophy 21st Century, London: Phoenix, 2005.


semoga berguna.