Rosario: Sekolah Maria

Ada pepatah Latin: “Per Mariam Ad Iesum”, yang artinya, “melalui Maria kita sampai kepada Yesus”. Pepatah ini mengatakan bahwa Maria adalah ‘perantara’ doa-doa kita kepada Yesus. Maria tidak layak untuk disembah, namun ia pantas untuk kita hormati. Muncul salah paham, yaitu Maria ditempatkan bukan sebagai perantara, melainkan sebagai ‘tujuan’ segala doa dan devosi kita.Akibatnya, Rosario pun dilihat sebagai alat pemujaan kepada Maria. Untuk menjernihkan pikiran dan iman kita, marilah kita melihat doa Rosario dalam terang sejarah dan terang iman Kristiani.


Rosario dalam Sejarah[1]

Rosario adalah suatu rangkaian doa beserta renungan peristiwa Alkitab, yang dilakukan dengan bantuan serangkaian biji-biji. Biji-biji tersebut membentuk karangan doa bagaikan karangan bungan mawar (Lat: rosa) dan karena itu disebut rosarium.

Mengulang doa yang sama merupakan tradisi lama dan bersifat umum. Sejak abad ke-5 para rahib di Timur Tengah mengulangi seruan ‘Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah kami!” sepanjang hari. Kebiasaan ini melanjutkan tradisi Yahudi; mirip dikr (baca: zikir) dalam kaum Sufi (mis. Menyerukan 99 nama Allah) dengan menggunakan tasbih. Di India, orang saleh memakai biji yang dirangkai untuk mengulangi mantra tertentu. Doa yang menenangkan itu diambil alih orang Budha di Tiongkok (abad ke-10) dan di Jepang. Jadi, doa-ulang bertradisi panjang di seluruh Asia.

Di kalangan Gereja Timur, Rosario terdiri atas 100 atau 107 biji dan tidak selalu berkaitan dengan Maria, melainkan sekadar rangkaian doa-doa tertentu saja. Sulit untuk memastikan kapan Rosario terbentuk. Para rahib Irlandia pada permulaan Abad Pertengahan sudah menggunakan ke-150 Mazmur untuk berdoa. Karena tidak semua orang mampu menghapalkan seluruh Kitab Mazmur, dengan beberapa Mazmur yang panjang sekali di antaranya, maka dicarilah penggantinya berupa doa yang lebih singkat dan mudah.

Di kalangan para Bruder di Perancis, yang tidak menguasai bahasa Latin, muncul kebiasaan untuk mendaraskan 50 atau 150 doa Bapa Kami untuk menggantikan Mazmur. Sejak tahun 1160-an ‘Salam Malaikat’ (Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu’; Luk 1:28) dan ‘Salam Elisabet’ (Terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu…’; Luk 1:42) digabung dan dipakai dalam perayaan Ekaristi dan selanjutnya pula dalam doa harian. Sejak abad ke-13, ucapan tersebut diakhiri dengan manambah ‘…Yesus’. Setelah ditambahkan  (abad ke-15), bagian kedua (‘Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.’) maka ‘Salam Maria’ menjadi doa alternatif untuk Bapa Kami dan termasuk dalam deretan 50-an atau 150-an.

Rosario berawal sejak Santo Dominikus dari Prusia (+1460), rahib Ordo Kartusian, menambahkan meditasi macam-macam peristiwa pada setiap sepuluh Salam Maria (1409). Sekitar tahun 1475 pater-pater Dominikan di Koeln (Jerman) menetapkan 15 peristiwa, yang dua puluh tahun kemudian dipuji oleh paus. Dengan demikian, Rosario mendapat bentuknya seperti sekarang. Rosario sebenarnya doa renungan mudah, yang dianjurkan oleh para paus agar sering didoakan dalam keluarga Katolik, khususnya selama bulan Oktober.


Rosario dalam Iman[2]

Memang jelas, doa Rosario berciri khas Maria. Tetapi pada intinya Rosario adalah doa yang Kristosentris, berpusat dan mengarah pada Kristus. Doa Rosario menampilkan saripati amanat Injil secara utuh; dengan demikian doa Rosario dapat dikatakan sebagai ringkasan seluruh Injil. Dengan doa Rosario orang Kristiani berguru di sekolah Maria: mereka dilatih untuk menatap keindahan wajah Kristus dan mengalami kedalaman kasih-nya. Kita ingat peristiwa Inkarnasi: Ketika melahirkan Dia di Betlehem, matanya menatap mesra wajah Sang Putra, saat ia “membungkusnya dengan lampin dan membaringkannya di dalam palungan.” (bdk. Luk 2:7).

“Doa kesayangan saya adalah Rosario. Suatu doa yang mengagumkan. Mengagumkan karena ksederhanaan dan kedalamannya…” demikian ungkap Paus Yohanes Paulus II. Dilatarbelakangi alunan kata-kata Salam Maria, peristiwa-peristiwa utama dalam kehidupan Yesus Kristus melintas di hadapan mata jiwa si pendoa. Peristiwa-peristiwa itu membentuk untaian lengkap: gembira, sedih, mulia, dan terang. Untaian doa yang sederhana itu mencerminkan irama hidup manusia.

Berdoa Rosario berarti kita bersama Maria, merenungkan Kristus. Dari Maria, kita belajar mengenal Kristus. Lihatlah Kristus sebagai Guru yang paling ulung, Sang Pewahyu dan sekaligus Sang Terwahyu. Yang penting bagi kita, sebagai murid-murid-Nya, bukan hanya belajar mengetahui apa yang Ia ajarkan, tetapi “belajar mengenal Dia.” Dalam hal ‘belajar mengenal Kristus’ ini, adakah guru yang lebih baik daripada Maria? Dari sudut pandang ilahi, Roh Kuduslah guru batin yang menuntun kita kepada kebenaran penuh tentang Kristus (bdk. Yoh 14:26; 15:26; 16:13). Tetapi di antara semua makhluk di bawah kolong langit ini, tidak seorang pun mengenal Kristus lebih baik daripada Maria; tak seorang pun dapat mengantar kita untuk sungguh-sungguh mengenal misteri Kristus lebih baik daripada Maria.

Doa Rosario merupakan sekolah Maria. Di dalam sekolah itu, kita belajar, bergaul akrab dengan Maria dan Yesus. Dengan merenungkan peristiwa-peristiwa Rosario, dan dengan menghayati kehidupan yang sama dalam Ekaristi Kudus, kita—sesuai dengan keterbukaan hati kita—belajar hidup dalam kesederhanaan, kemiskinan, kerendahan hati, kesabaran, dan kesempurnaan.

(sumber: turnbacktogod.com)


[1] Dirangkum dari: Adolf Heuken S.J., Ensiklopedi Gereja Jilid.7, Jakarta, Yayasan Cipta Loka Caraka, 2005, hlm. 140-143.

[2] Dirangkum dari: Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II, “Rosarium Virginis Mariae” (Rosarium Perawan Maria), tanggal 16 Oktober 2002, no.1—15.

Iklan

One thought on “Rosario: Sekolah Maria

  1. Ping-balik: Maria heuken | Selfcentered

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s