Frans van Lith: Lilin yang Terbakar Demi Allah dan Sesama

“Romo van Lith” (gambar: gsumaryono.wordpress.com)

(Tulisan ini dirangkum dari buku “Van Lith: Pembuka Pendidikan Guru di Jawa. Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia” karangan Fl. Hasto Rosariyanto SJ, hlm. 107-174)

In the midst of the Javanese we don’t have to act as rulers, or as masters, or as commanders, but as citizens among fellow citizens. We have to learn to adapt ourselves, to learn to know the language of the people and their custom; only by so doing we can make friendship with them.”—Frans. van Lith, SJ 

Pater van Lith: Diutus untuk Melayani

          Franciscus Georgius Josephus van Lith lahir pada tanggal 17 Mei 1863 di Oirschot, sebuah kota kecil antara Tilburg dan Eindhoven, di Provinsi Brabant, Belanda Selatan. Ayahnya seperti kakeknya, adalah seorang juru sita. Mengikuti kebiasaan setempat, biasanya anak laki-laki mengambil alih pekerjaan ayahnya. Hal ini tidak berlaku bagi Frans van Lith. Meneruskan pekerjaan ayahnya adalah pilihan baik, namun baginya ada pilihan yang ‘lebih’ baik lagi. Sesuai dengan semangat zamannya, ia tumbuh dengan cita-cita kebanyakan orang Brabant: menjadi guru atau imam. Kedua profesi itu merupakan figur berpendidikan baik bagi warga Brabant.

Pada tanggal 18 September 1881, Frans van Lith memilih untuk bergabung dengan kelompok religius yang didirikan oleh St. Ignatius Loyola, Bt. Petrus Faber, dan St. Fransiskus Xaverius. Ia masuk Novisiat Jesuit di Mariendaal, Grave, Brabant Utara. Setelah 13 tahun dipersiapkan dalam SJ, ia ditahbiskan 8 September 1894. Tahbisan imam, meskipun itu penting, hanyalah sarana bagi dirinya. “Dalam segala hal mencintai dan mengabdi Allah” (In all things, to love and to serve), itulah kerinduannya yang terdalam—tujuan akhirnya. Sarana dipakai sejauh menolong, dan dilepaskan jika menghalangi kedekatan dan pengabdian kepada Allah. Sikap ini yang dihayati oleh van Lith; sikap lepas-bebas.

          Verbum caro factum est. Sang Sabda menjadi daging. Cinta bukan sekadar tutur kata bijaksana melainkan laku nyata penuh ketulusan. Nadar untuk wadat, mlarat, dan taat dihayatinya sebagai cara untuk lebih mencintai dan mengikuti Kristus. Janjinya yang diucapkan dalam tahbisan suci, untuk menjadi pelayan Iman dalam Kristus, menuntut perbuatan nyata bagi sesama. Ia diutus ke wilayah tapal batas (frontier).

Pada bulan Oktober 1896, Pater van Lith sudah berada di pulau Jawa untuk melaksanakan karya misioner di tengah-tengah orang Jawa. Misi di tanah Jawa bukanlah keinginannya, melainkan kehendak superior (Pater Pimpinan) yang mengutusnya. Ini sesuatu yang berat bukan hanya bagi van Lith, melainkan juga bagi ibunya.

“Tidaklah mudah bagi ibuku untuk mengucapkan selamat jalan bagi satu-satunya anaknya lelaki. Tentu saja ia juga telah siap mempersembahkan pemberian ini”, ungkap van Lith. Orang kudus dalam tradisi mengatakan bahwa ketaatan jauh melebihi kurban bakaran. Di dalam kurban bakaran, hewan dijadikan kurban. Sedangkan di dalam ketaatan, manusia mengorbankan kehendak dirinya, demi mengikuti kehendak Allah. Jika dirumuskan dalam pertanyaan menjadi demikian, “Tuhan, apa yang Engkau inginkan untuk kuperbuat?”.

            Pada tahun 1896 itu, Pater van Lith memulai karyanya di Jawa, di antara orang-orang Jawa. Ia merasa tidak cukup hanya dengan hidup bersama dengan orang Jawa, ia perlu menjadi orang Jawa, dan berbuat sesuatu untuk orang Jawa; menjadi manusia bagi dan bersama sesama. Ia datang dengan hati yang berkobar-kobar untuk melayani orang-orang Jawa. Namun, pada awal misinya, yang dialami adalah fitnah oleh katekis yang culas, kesulitan, dan kecurigaan dari sesama rekan Jesuit. Bagi Pater van Lith, semua tampak tidak ada harapan. Suratnya yang amat kelabu (kepada Pater Provinsial van den Boogaard—Muntilan, 5 Desember 1898) melukiskan dengan amat baik situasi batinnya:

“Pekerjaan untuk penyelamatan jiwa-jiwa di Hindia merupakan sebuah salib berat bagiku. Sedikit sukses yang diwarnai dengan banyak konflik dan kesalahpahaman bisa jadi memang sorga di bumi. Segala upaya baik ditanggapi dengan tipu-daya dan kebohongan. Aku rasa perlu mendinginkan pikiran; nafsu makan dan keceriaan hilang lenyap. Sungguh sebuah beban karena aku selalu mencurigai orang. Aku tidak dapat mempercayai seorang pun karena mereka telah melecehkan aku dalam hal-hal agamawi. Aku kehilangan antusiasme dalam karyaku bahkan untuk karya apapun di Hindia ini…

Sementara orang lain dapat menemukan hiburan pada soal lain, aku tidak. Aku hanya percaya akan kematian. Seperti Yesus telah menderita, begitulah aku, dan penderitaan itu ada di sini. Dalam situasi batin begini, aku tidak bisa menulis untuk teman-temanku. Aku merasa seprti seorang eremit […]. Di sini kita harus merayu anak-anak dengan cara yang kekanak-kanakan, dan itu merendahkan aku. Aku merasa Hindia bukanlah tempatku. Bahkan segarnya buah-buahan tidak memberiku kelegaan. Suatu kali aku harus mengisahkan ini. Tentu aku juga siap menyia-nyiakan hidupku di sini, persis sepreti sebatang lilin yang terbakar demi Allah…”

Tugasnya yang dijalani dengan jerih lelah, dinilai secara prematur dan dangkal, serta semangatnya dianggap sebagai semangat yang bukan berasal dari Roh Kudus (qui zelus ex Spiritu Sancto non est), kesalahpahaman tersebar luas dan menjadi pembicaraan yang ramai. Sementara itu, ketekunan dan kesetiaannya tak banyak menjadi perhatian orang saat itu. Memang demikianlah bahwa “pohon tumbang dengan suara gemuruh, tapi seribu bunga mekar dalam keheningan.” Keutamaannya membuahkan hasil. Tumbuh minat, semangat dan panggilan untuk dibaptis dalam diri Sarikromo, setelah berjumpa dan disembuhkan oleh Bruder Kersten dan Pater van Lith. Barnabas Sarikromo kemudian dikenal sebagai katekis dan rasul awam yang gigih melayani dan mengembangkan iman umat. Perjumpaan itu berlanjut pada peristiwa pembaptisan 171 penduduk Kalibawang di Sendangsono,  pada tanggal 14 Desember 1904.

Pada tahun 1904, Superior Misi menyetujui program-program misinya, setelah ia dianggap gagal—the wrong man in the wrong place, dan dicurigai telah merusak misi di Jawa. Pater van Lith aktif menjadi pembicara dalam kongres-kongres misi yang diadakan di Belanda; menulis banyak artikel tentang isu politik di Indonesia; mengajar budaya dan bahasa Jawa kepada para Jesuit muda, baik Jawa maupun Belanda di Novisiat SJ, Ungaran; menerjemahkan doa Pater Noster ke dalam bahasa Jawa—Rama Kawula. Selain terlibat untuk Gereja Katolik, Pater van Lith juga terlibat dalam urusan politik dan pendidikan. Pada tahun 1916, ia ditunjuk menjadi anggota Komisi Pendidikan Pribumi. Pengetahuan dan minatnya akan bahasa dan budaya Jawa membawanya menjadi seorang anggota Komite Eksekutif Institut-Jawa.

Pater van Lith tidak berjuang seorang diri. Ia memiliki sahabat dalam perutusan, yang jarang disebut, tetapi mempunyai andil sangat besar, yaitu Pater Jacobus Mertens, SJ, dan Bruder Theodorus Kersten, SJ. Pater van Lith menanamkan cita-cita, visi, dan semangat berkorban; Pater Mertens (1867—1922) memiliki kemampuan tersendiri yang kurang dimiliki Pater van Lith, yaitu kemampuan untuk memahami kepribadian tiap murid, kebutuhan, dan kesulitan tiap-tiap individu, sedangkan Bruder Kersten (1872—1949) tanpa kenal lelah berkarya dalam bidang pertukangan dan pengobatan. Sumbangan Pater van Lith dan para sahabatnya itu yang paling penting dan berpengaruh adalah pendirian Kolese Xaverius di Muntilan, tempat ia berkarya mulai tahun 1897 sampai tahun 1921. Pada awal tahun 1926, kesehatan Pater van Lith terus memburuk. Sudah sekitar dua tahun ia mengalami perawatan di negeri Belanda. Kemudian ia kembali ke Indonesia, namun tidak ke Muntilan, melainkan Semarang. Pada tanggal 9 Januari 1926, Pater van Lith meninggal di RS Semarang dan dimakamkan di pemakaman Katolik (Kerkhof) Muntilan.

“…Bapaknya orang Katolik Jawa meninggal setelah menjalani karya misi yang panjang. Tentu saja ada orang-orang besar lain, hanya Allah yang tahu, yang juga telah berkarya, telah memperlihatkan diri, dan telah melibatkan dirinya dalam segala macam karya sehingga setiap orang: Katolik dan non-Katolik, Protestan dan Liberal, Muslim dan Theosofis, orang Indonesia dan Eropa, Bangsawan Jawa, penduduk sipil, penduduk desa, para ahli bahasa dan pendidik, dst., memiliki pengalaman akan simpati dan apresiasi[…]dan tentu saja sebagai promotor iman Katolik di antara orang Jawa.” demikian kenang F.X. Satiman, lulusan pertama Sekolah Muntilan yang kemudian menjadi imam pribumi pertama di Indonesia.

Pater van Lith dan Alumni

            Di balik karya-karyanya yang dikenal luas, Pater van Lith juga melakukan hal yang sangat sederhana, yang tidak kalah pentingnya bagi masa depan Gereja Katolik, yaitu kunjungan “pastoral” kepada para alumnus Muntilan. Pada zaman itu, agama Katolik merupakan sesuatu yang asing dan baru bagi orang-orang Jawa. Orang-orang Katolik dicurigai sebagai kelompok kanibal karena mereka ini “minum darah dan makan daging manusia di dalam perayaan keagamaan (Ekaristi).”

 Joesak Sastradwidja, salah seorang murid pertama Sekolah Muntilan (Kolese Xaverius) bertutur,“Saking genging sih tresna dhateng poetra, sanadiyan pakaryanipun kathah, éwa déné meksa nyelak-nyelakaken tindak nuwèni dhateng putra ingkang sumebar wau. Langkung-langkung bilih dipun aturi putra ingkang batihipun sakit sanget, tebiha, celaka, temtu dipun perlokaken rawuh.”

Didorong oleh cintanya yang besar terhadap para alumnus kendati beban kerjanya menumpuk, ia toh akan menyempatkan diri untuk mengunjungi mantan muridnya. Kalau ia mendengar bahwa ada anggota keluarganya sakit berat, entah jauh, entah dekat, ia akan langsung berangkat. Melalui kunjungan itu Pater van Lith dapat memiliki kontak langsung dengan orang-orang di desa tempat alumni tinggal. Berkat kefasihannya berbahasa Jawa, cinta yang tulus dan hormatnya yang besar terhadap penduduk, kehadirannya memberikan kesan yang mendalam terhadap penduduk pribumi.

Oleh karena itu, tatkala Superior Misi menyarankan agar ia memulihkan kesehatannya di Belanda, tahun 1921, sebagian pribumi ada yang menginterpretasikan keputusan itu sebagai hukuman karena dinilai terlalu baik terhadap orang Jawa, sebagaimana dikisahkan oleh Dwidjasastra, “Tuwan van Lith  iku sajatiné dudu walanda, wujude baé walanda, satemené jawa jekèk; yen ora, mangsa mangkonoa tindake sing lumrah, wong iku makolèhaké awaké dhéwé lan bangsané; mangka tuwan van Lith ora mangkono. Trayangé mung ngarah supaya bangsa jawa maju, lan munggah drajadé. Awit saking kebangeten anggoné ngréwangi bangsa jawa, nganti diulihaké menyang nagara walanda satahun, perlu nampani paukuman”.[1]

Untuk mempertahankan terjalinnya kontak di antara para alumnus, di setiap pesta Natal dan Paskah para alumnus mengadakan kesempatan reuni di Muntilan. Pada konteks zaman saat itu, untuk beberapa alumnus, hari-hari pesta Gerejani itu memang merupakan satu-satunya kesempatan untuk menerima sakramen. Motif utama dari reuni spontan itu tadi adalah untuk berjumpa kembali dengan bapa pendiri Kolese Xaverius; Patres van Lith dan Mertens. Setelah kepergian mereka, reuni-reuni yang spontan seperti itu mulai jarang.

          Pater van Lith mengadakan kunjungan untuk menyemangati para alumnus agar bertahan dalam iman di tengah-tengah masyarakat non-Kristen. Para alumnus sebagian besar adalah pemeluk Katolik baru. Bagi mereka, meninggalkan Muntilan berarti lepas dari lingkungan Katolik, dan masuk ke dalam suasana “real” di mana agama Katolik masih dianggap asing. Para alumnus yang juga pemeluk Katolik baru ini masih perlu belajar menjawab pelbagai pertanyaan yang tidak mudah berkaitan dengan agama baru mereka. Pater van Lith tidak mempunyai banyak waktu sedangkan para alumnus-nya itu banyak yang tinggal di tempat-tempat terpencil.

Di balik sikapnya itu, Pater van Lith mempunyai pandangan bahwa perkembangan manusia tidak hanya sebatas pada bangunan sekolah dan hanya selama masa pendidikan di Kolese Xaverius. Manusia berproses terus-menerus—continuous improvement—untuk menjadi lebih baik; tidak mandeg. Maka dari itu, pendampingan kepada para murid Sekolah Muntilan pun tetap berkelanjutan. Pater van Lith memberi perhatian secara personal (cura personalis) kepada alumni: menyapa dan mengenal keunikan mereka masing-masing. Demikian relasi interpersonal itu tetap dijaga dan dirawat di antara Pater van Lith dan alumni.

+amdg+menjelang reuni akbar sma pl vl 2009, h.s.s

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s