Di manakah Cahaya?

      Ada ungkapan dari St.Ignatius: “finding God in all things”, atau dalam bahasa Indonesia, “Menemukan Allah dalam segala.” “Menemukan Allah?” Apakah Allah selama ini telah hilang, sehingga Ia harus dicari dan ditemukan?

Dalam segala?” Apakah selama ini kita pikir Allah hanya exist/hadir di dalam tabernakel, dan absen di tempat lain? Apakah selama ini kita pikir Allah hanya ingat orang yang suka, dan lupa orang yang nestapa? Apakah ia hanya ada ketika kita ke Gereja, dan ketika kita di pasar dan pertokoan, Ia tidak ada? Apakah ia hanya ada di biara dan melulu tidak ada di persimpangan jalan?

Tidak…tidak…ibarat sumber cahaya, Allah tak pernah redup sedikit pun memancarkan sinarnya, apalagi tiada. Jika aku mencari Allah, itu bukan karena Ia hilang, melainkan aku yang hilang arah. Aku menjadi seperti seseorang yang mencari cahaya di bawah terik mentari sambil memegang obor bernyala…dalam batin aku tanya diriku: “di manakah cahaya?”.

“The day begins, a wise man once said, when the light is strong enough for us to distinguish the face of a brother or a sister.” - Adolfo Nicolas, SJ

sunset walking” (gambar: picturinggod.ignatianspirituality.com)

The day begins, a wise man once said, when the light is strong enough for us to distinguish the face of a brother or a sister.

Adolfo Nicolas, SJ

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s